Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Perasaan Itu Akan Hilang Seiring Waktu


__ADS_3

Saat semua anggota keluarga Brown berkumpul di meja makan itu untuk menyantap makan malam mereka bersama, tetapi semua hanya diam.


Jika Adira masih berada di rumah itu maka setidaknya dia akan berbicara dengan Lily atau sesekali dengan Aidan. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda Lily bahkan hanya diam menyantap makanannya.


Suasana yang dingin, dan tak ada kehangatan keluarga di sana.


“ Daddy setelah pengumuman kelulusan keluar aku akan melanjutkan kuliah di luar negeri ” Aidan membuka suara memecah keheningan itu.


Nadia terkejut mendengar niat Kakaknya itu karena dia tahu Aidan tidak pernah berniat untuk kuliah di luar negeri.


“ Kelulusan kaliankan masih enam bulan lagi saat kau sudah nyakin nanti baru tanyakan lagi ” jawab Zein datar.


Aidan mengenggam sendok yang ada di tangannya kuat, dia merasa sangat marah karena bagaimana pun dia berusaha bicara dengan keluarganya bahkan tidak ada seorang pun yang menganggapi itu.


“ Lily sudah selesai makan Daddy ” ucap Lily lembut.


“ Baiklah kalau Lily mau kembali ke kamar silakan saja ” balas Zein, Lily melangkah pelan dari kursinya kemudian pergi ke kamarnya.


Zein hanya membiarkan gadis kecil itu pergi begitu saja, bagi Aidan itu menunjukkan betapa Daddy nya bahkan tidak peduli jika saja hanya mencoba menyembunyikan rasa rindunya pada Adira sama seperti Aidan sendiri.


“ Aku sudah selesai ” Aidan merasa tidak berselera lagi, lalu dia segera beranjak pergi dari sana tanpa bicara apa pun lagi.


“ Daddy apa tidak masalah membiarkan Kak Aidan pergi ke luar negeri? ” tanya Nadia begitu Aidan pergi dari sana.


“ Kalau itu yang dia inginkan ”


Nadia terdiam sejenak menerima jawaban dingin Daddy nya itu. Dia masih jelas merasakan kemarahan setiap orang kepadanya karena bagi mereka dia penyebab kepergian Adira.


“ Kenapa...kalian semua bersikap dingin dan mengabaikan aku? Bu-bukan aku yang menyebabkan dia pergi ” Nadia mengucapkan kata-kata itu dengan sendu juga rasanya sulit hingga dia terbata-bata.


Noah meletakkan peralatan makannya memandang ke arah Nadia yang menundukkan kepala seakan ingin menangis.


“ Nadia hentikan semua drama ini, Kakak semakin merasa muak ” tukas Noah lalu meninggalkan meja makan itu tanpa sekali pun peduli tanggapan Zein atas kata-katanya.


“ Tapi aku tidak berbohong kalian semua memang mengabaikan aku..aku sudah bilang itu bukan salahku, Nenek yang mengatakan Adira yang membunuh Mommy..” Nadia menangis sendu.

__ADS_1


Zein memijit pelipisnya pelan tak bisa berbuat apa-apa melihat betapa kacaunya keadaan di rumah ini. Bagaikan sebuah bangunan yang pondasinya runtuh secara perlahan itulah keadaan keluarganya saat ini.


“ Itu pilihannya untuk pergi dari rumah ini...hiks.. hiks lagian bukan hanya aku yang jahat..Daddy juga memukulnya waktu itu karena itu dia pergi lalu kenapa hanya aku yang di salahkan..hiks..hiks ” isak Nadia tanpa peduli mau Daddynya marah, tapi dia merasa di perlakukan tidak adil.


“ Daddy tidak marah padamu, aku hanya merasa malu sampai tidak bisa mengatakan apa pun kepada kalian karena memang karena perbuatanku yang membuat dia pergi dari sini.” ucap Zein tenang.


“ Jika kau menangis di sini karena rasa penyesalan atas perbuatanmu padanya sudah terlambat, itu juga yang aku rasakan ingin sekali rasanya mengucapkan maaf kepada orang yang kita sakiti tetapi semuanya sudah terlambat dan orang itu tak akan kembali seberapa banyak pun di tangisi ”


Nadia memandang Zein dengan mata yang masih dialiri air mata yang masih terus mengalir.


“ Akan bagus jika kalian bisa mengatakan bahwa kalian merindukan dan merasakan kehilangan, dari pada menangis seperti ini ” Zein berkata serius kemudian dia meninggalkan Nadia sendiri di sana.


Nadia menangis sejadi-jadinya entah mengapa seakan dia baru sadar bahwa ada sebuah perasaan rindu dan kehilangan yang tidak bisa dia sembunyikan. Sejak kepergian Adira dia benar-benar merasakan kekosongan itu yang semakin terasa semakin lama. Tapi dia sendiri juga tidak tahu apa yang membuatnya merindukan wanita itu. Sementara selama ini dia mengharapkan Adira pergi dari rumah itu.


~


~


~


Helena menatap Adira yang sedang makan malam sambil mengeryitkan dahinya berpikir.


“ Aku sedang berpikir kau ini benar sedang hamil atau tidak sih? ” bingung Helena.


“ Hamil waktu periksa dokter Derril bilang usianya sudah 3 minggu ” jawab Adira santai masih fokus menyantap makanannya.


“ Aku masih belum percaya selera makanmu tidak berpengaruh sama sekali, Si Tuti aja tetangga samping itu waktu hamil muda sampai gak bisa makan bawaannya mual aja ”


Adira hanya membalas dengan menggedikkan bahunya, pertanda dia tidak tahu menahu tentang hal itu.


“ Kau memang sama sekali tidak merasa mual? ” tanya Helena lagi.


“ Iya Helen aku gak mual, memangnya kamu mau aku tersiksa gak bisa makan karena mual ”


“ Bukan begitu aku hanya ingin mengajakmu periksa lagi, takutnya pemeriksaan yang waktu itu salah. Saat kau pergi ke dokter nanti tanyakan pada dokter kenapa kau bisa tidak mual ”

__ADS_1


“ Memangnya ibu hamil muda harus mual ya? ” tanya Adira mulai ragu karena dia memang belum merasakan morning sickness sama sekali.


“ Tidak tahu aku kan belum pernah hamil ” jawab Helen santai.


“ Lalu kenapa kau seolah nyakin kalau semua ibu hamil mual, dasar bikin khawatir saja ”


“ Bukannya bagus kalau sesekali kamu mual, misalnya nanti aku bisa bantu beliin kamu buah yang asam-asam, atau memijat tengkukmu ketika kamu muntah. Itu pasti menyenangkan seperti merasakan hal baru ”


Adira berdecik bingung dengan pikiran sahabatnya itu.


“ Dari mana kau tahu hal-hal seperti itu? ” Adira bertanya menyindir.


“ Dari novel kamu kan tahu biasanya kalau pemeran utama wanitanya sedang hamil, lalu muntah si laki-laki pasti akan langsung lari memijat tengkuk wanita itu sambil menahan rambutnya atau membelikan apa pun yang wanita mau ” Helena bercerita sambil tersenyum puas membayangkan betapa romantisnya adegan itu.


“ Kau menyukai kisah-kisah klise seperti itu ” ucap Adira melihat ekspresi Helena yang tersenyum malu-malu.


“ Tentu saja, bayangkan saja jika saat wanita hamil lalu suaminya mengurus wanita itu dengan sangat baik, bahkan sampai-


Helena menghentikan ucapannya melihat perubahan raut wajah Adira.


“ Maaf ya Dira aku suka bicara asal tapi berpikir terlebih dahulu ” sesal Helena tahu bahwa perkataannya tadi pasti membuat Adira sedih karena bagaimana pun sahabatnya itu sudah berpisah dari suaminya. Jangankan mengurus mengetahui kehamilannya saja suaminya tidak.


“ Ahh..tidak apa-apa kok aku saja mungkin yang terlalu sensitif tentang topik itu sampai....” bibir Adira bergetar dia segera mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


“ A-aku..merindukan mereka..harusnya aku tidak menyimpan perasaan ini, ta-tapi aku merindukan Lily..Aidan...Aidan..Noah..hikss ” isak Adira, Helena segera menghampiri sahabatnya itu. Dia memeluk Adira dan menepuk-nepuk punggung Adira untuk menenangkan dia.


“ Kamu juga merindukan suamimu..aku tahu itu tapi tenang saja Adira semua perasaan itu akan hilang seiring waktu ” ucap Helena menenangkan Adira.


“ A-aku..hiks..merindukan mereka..hiks..hikss..”


“ Tidak apa menangislah karena sekarang masih terlalu cepat, tapi setelah waktu berlalu kamu jangan menangisi masa lalu lagi. Hari ini menangislah sepuasnya karena perasaan rindu itu wajar karena mereka pernah ada dalam hidupmu ”


Adira menangis dalam dekapan Helena, karena dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan semua emosi campur aduk yang menyerangnya hingga dia menjadi sensitif tentang itu.


**Maaf teman-teman up nya terlambat sekali🙏🏻

__ADS_1


Semoga suka dengan bab ini, author bersyukur banget hari ini novel ini sudah lulus kontrak makasih banyak atas dukungannya 😄


Happy Reading😘**


__ADS_2