
“ Akhh...” ringis Adira merasakan nyeri tidak hanya di pantatnya tapi juga pinggangnya.
“ Adira! ”
Adira mengangkat kepalanya mendengar seseorang yang berteriak memanggil namanya. Seketika dia melihat orang itu matanya membulat sempurna seakan tak percaya dengan yang dilihatnya.
“ Adira! ”
Suara yang kembali memanggilnya itu menyadarkan Adira dari rasa terkejutnya. Dia bergerak gugup dan terburu-buru tanpa berhati-hati yang membuat ketika dia akan bangkit berdiri tubuhnya malah tidak seimbang dan dia kembali terjatuh.
“ Arghhh...sa-sakit..” pekiknya karena rasa sakitnya bertambah lebih banyak sekarang.
“ Pegang tanganku ” sebuah perintah yang dilontarkan pada Adira yang membuat dia hanya bisa mengikuti dan menggenggam erat tangan pria itu agar dia bisa berdiri dengan bertopang pada tangan kokoh itu.
Ketika dia sudah berdiri dengan cepat Adira melepaskan genggamannya dari tangan pria itu dan menjauhkan tubuhnya.
“ Adira..kamu baik-baik saja ” nada ragu terdengar jelas dari suaranya.
Adira menatap pria itu perasaannya kacau juga panik di saat bersamaan bagaimana dia bisa bertemu pria itu di sini. Seseorang yang selalu dia doakan agar tidak pernah bertemu lagi, tapi malah ditakdirkan dengan pertemuan seperti ini. Sekarang di depan matanya Zein mantan suaminya berdiri dan masih nampak memperhatikan gerakan Adira siaga seolah takut wanita itu kembali terjatuh.
Adira masih merasakan nyeri dan sakit di bagian pinggangnya hingga tak bisa menyembunyikan tangannya yang sibuk mengusap-usap pinggangnya itu.
“ Kamu harus ke rumah sakit sekarang, keadaanmu sepertinya tidak baik ” tukas Zein cepat, tapi Adira segera menggelengkan kepalanya cepat.
Tidak mungkin dia pergi dengan pria itu, lalu Adira juga tidak habis pikir mengapa Zein bisa setenang itu dan tak sedikit pun nampak terkejut melihat keadaan Adira.
Adira ingin bicara tetapi rasanya lidahnya keluh sehingga tak dapat di gerakkan untuk mengucapkan satu kata pun.
“ Kita harus pergi ke rumah sakit Adira secepatnya! ” panik Zein melihat Adira yang masih tetap diam saja. Hingga dia mencoba mendekat ke arah Adira tapi wanita itu secepatnya menjauh.
Adira menggelengkan kepala menolak ajakan pria itu, dia nyakin semuanya baik-baik saja dan dia tidak butuh bantuan pria itu lagi.
__ADS_1
“ Adira kau berdarah! ” Zein tidak bisa menutupi kepanikannya melihat darah segar yang mengalir di sela kaki Adira.
Adira melihat ke arah tubuhnya, sekarang dia baru menyadari aliran darah yang terasa mengalir dari paha sampai ke ujung kakinya, wajahnya seketika pucat.
Pandangannya juga seketika buram karena rasa ketakutan dan terkejut melihat darah yang mengalir dari tubuhnya.
“ Adira! ” Zein menangkap tubuh Adira cepat sebelum wanita itu benar-benar jatuh. Sekarang Adira nampak tak sadarkan diri berapa kali pun Zein mencoba berbicara pada Adira tapi Adira tidak mengeluarkan jawaban apa pun walaupun dia tidak pingsan sepenuhnya.
Zein mengangkat tubuh Adira cepat menggendong Adira.
Zein melajukan mobilnya secepatnya menuju rumah sakit, secepat kilat dia tiba di sana Zein bisa melihat Adira yang sesekali masih meringis kesakitan.
Kembali membopong tubuh Adira dalam pelukannya dia membawa wanita itu masuk ke dalam rumah sakit. Staf rumah sakit bergerak cepat melihat ada seorang yang membutuhkan pertolongan segera.
“ Harap tunggu di luar Pak kami akan segera memeriksa Ibu itu ” ucap seorang perawat mencegah Zein masuk ke dalam ruang gawat darurat itu.
Zein menunggu dengan khawatir berulang kali dia mondar-mandir di ruang tunggu itu, menanyakan keadaan Adira kepada perawat yang keluar masuk ke ruangan itu.
“ Apa bapak adalah suaminya? ” tanya dokter itu.
“ Bukan ” jawab Zein singkat.
“ Benarkah? Lalu apa bapak mengenal Ibu itu karena saya akan memberitahukan kondisi pasien kepada pihak keluarga atau seseorang yang mengenal pasien ” jelas dokter itu profesional menjalankan tugasnya.
“ Saya mengenal dia ” ungkap Zein.
“ Baiklah kalau begitu saya akan katakan pada bapak saja, pasien mengalami solusio plasenta atau plasenta yang keluar tiba-tiba dari rahim. Oleh karena itu terjadi pendarahan hal ini bisa terjadi akibat kecelakaan seperti terjatuh. Apalagi saat ini usia kandungan pasien hampir tujuh bulan. Resiko pendarahan ini terjadi memang besar apalagi jika pasien benar mengalami kecelakaan ”
“ Dia terjatuh sampai tubuhnya terbentur ke lantai tadi ” Zein memberitahu hal yang dia lihat di alami Adira.
“ Berarti benar sesuai penyebab yang saya katakan, untungnya kondisi ibu dan janinnya sehat. Pendarahan yang terjadi juga ringan tapi ini juga bukan hal yang bisa dianggap remeh dalam keadaan terburuk Solusio plasenta bisa membunuh ibu dan janin sekaligus. Karena itu untuk saat ini pasien harus di rawat. Masalah administrasi rumah sakit akan dijelaskan oleh dokter residan ” dokter itu menjelaskan lalu mengarahkan Zein untuk menyelesaikan administrasi dengan dokter residen.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan itu semua Zein masuk ke kamar rawat Adira, dia sudah di pindahkan dari ruang gawat darurat menuju ruang rawat. Zein meletakkan tas tangan dan beberapa plastik yang berisi belanjaan Adira yang sempat tertinggal di mobil tadi.
Zein menatap wanita itu yang terbaring masih tak sadarkan diri, dengan enggan dan gugup Zein mencoba melihat beberapa isi belanjaan itu. Tangan Zein menyentuh lembut baju-baju bayi itu.
Sejujurnya dia sangat terkejut juga terguncang mengetahui wanita yang selama ini dia rindukan akan hadir dalam kondisi hamil. Dimana Zein nyakin Adira tidak akan bisa dia miliki lagi.
Lebih dari pada itu tapi Zein tidak bisa menunjukkan keterkejutan nya atau pun berani bertanya pada Adira siapa pria yang menjadi pendamping wanita itu sekarang.
“ Kamu pasti menjalani kehidupan yang bahagiakan selama ini? Tidak ada yang berubah wajahmu masih sama cantiknya seperti waktu itu, bahkan lebih cantik lagi hingga dari jarak jauh saja aku bisa langsung melihatmu. Bahkan saat ini juga kamu sangat cantik, aku sangat bodoh bukan masih belum bisa berpaling darimu. Setiap hari yang berlalu tanpamu hanya menjadi hari-hari dimana aku semakin merindukanmu ” Zein mengucapkan kata-kata itu di samping Adira yang masih belum sadarkan diri.
Tiba-tiba Zein mendengar suara dering ponsel yang berasal dari tas tangan Adira, dia mengambil ponsel itu dan menjawab panggilan telpon itu.
“ Halo Dira kenapa kamu belum pulang? Semua baik-baik saja kan? ” ucap suara di seberang.
“ Ini suara laki-laki..apa orang ini suaminya? Haruskah aku memberitahu keberadaan Adira padanya. Tapi aku tidak ingin Adira dibawa pergi olehnya, aku egois sekali sekarang dia istri orang lain ” , batin Zein.
“ Saat ini Adira berada di rumah sakit ” Zein memberitahukan alamat rumah sakit tempat Adira dirawat.
“ Apa?! Mengapa Adira bisa berada di rumah sakit?! Lalu ini siapa?! Mengapa ponsel Adira ada pada Anda?! ”
Zein semakin nyakin pria ini adalah suami Adira setelah mendengar semua pertanyaan yang dilontarkan dengan sangat panik dan khawatir itu.
“ Tadi dia terjatuh sampai akhirnya harus di bawa ke rumah sakit, segeralah datang ke sini ” balas Zein seadanya lalu memutus panggilan itu secepatnya ada rasa sakit yang dalam harus membiarkan wanita yang dulunya miliknya, dimana sekarang wanita itu menjadi milik orang lain dan Zein harus menahan diri untuk tetap membiarkan pria yang sekarang menjadi suami Adira itu datang.
“ Kita bertemu di waktu yang sangat terlambat ” guman Zein sendu.
**Sekali lagi maaf teman-teman author terlambat banget up nya🙏🏻
Semoga suka sama jalan cerita novel ini jangan lupa untuk terus berikan dukungan dengan memberi hadiah dan vote😊
Happy Reading😘**
__ADS_1