Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Tidak Semua Yang Terjadi Mengakibatkan Hal Buruk


__ADS_3

Tentu saja itu memberikan keyakinan lebih pada Zein bahwa anak yang dikandung Adira adalah anaknya.


“ Aku akan mengatakan kebenarannya sekarang padamu walaupun sebenarnya kamu pasti sudah mengetahui hal ini. Saat di malam orang tua mu menjebak kita, sebenarnya saat itu aku tidak melakukan apa pun padamu. Tapi aku berbohong dengan mengakui telah menidur* mu saat itu di depan banyak orang ” ungkap Zein serius.


“ Aku tidak tahu dengan alasan apa aku sampai berbohong seperti itu, tapi saat itu yang ada dipikiran masalah ini baru akan selesai jika aku memutuskan menikah denganmu karena dibantah bagaimana pun orang-orang tidak akan percaya melihat situasinya yang menyudutkan kita saat itu ”


“ Apa gunanya menyesali itu sekarang Mas..masalah yang ditimbulkan karena keputusan itu juga sudah berlalu. Semuanya hanya tinggal masa lalu menyesali pun tak mengubah apa pun ”


“ Benar...tapi aku terus berpikir apa kalau waktu itu aku tidak menikah denganmu kamu akan bahagia. Tidak perlu mengalami semua penderitaan ini ”


“ Tidak..jika bukan Mas tak lama setelahnya orang tuaku pasti mencari orang lain untuk menikah denganku. Karena....niat mereka memang ingin menjualku tak peduli bagaimana pun keadaannya ”


“ Harusnya saat itu aku melakukan hal lain untuk menyelamatkan dari orang tuamu, aku jelas bisa melakukan sesuatu untuk menjauhkanmu dari mereka ”


“ Memangnya saat itu Mas siapa..kita bahkan tak saling mengenal tentu saja itu hal yang tidak mungkin ”


“ Tapi aku yang bukan siapa-siapa ini memutuskan untuk menikah denganmu padahal jelas kita tidak saling mengenal saat itu ”


“ Anggap saja itu kesalahan Mas, kalau bukan karena menikah dengan Mas mungkin aku masih tetap harus hidup dalam kekangan orang tuaku atau bahkan hidup jadi istri muda pria tua ”


“ Banyak sekali kesalahan yang aku lakukan dan itu semua penyebab penderitaanmu ” Zein menggusar rambutnya kasar.


Adira merasa dirinya aneh karena ketika melihat pria itu dengan raut wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah yang besar itu hatinya juga ikut merasakan sakit. Hingga dalam pikirannya dia ingin menenangkan Zein dengan cara apa pun.


“ Tidak semua yang terjadi selalu mengakibatkan hal buruk Mas..aku masih bisa menjalani kehidupan seperti sekarang merupakan bukti bahwa semuanya tidak buruk. Yang aku sesalkan harusnya Mas dan anak-anak bisa hidup bahagia? ”


Zein menggelengkan kepalanya pelan tidak membenarkan ucapan Adira.


“ Harusnya Mas menjalani kehidupan yang baik, tapi Mas kenapa malah melakukan semua hal yang buruk untuk kesehatanmu. Bukannya aku sudah pernah melarang Mas untuk merokok, lalu mengapa Mas malah selalu minum alkohol. Karena itu kondisi kesehatanmu juga semakin menurun ” Adira mengucapkan semua hal itu dengan penuh penekanan.


“ Tidak mungkin anak-anak bisa tenang jika melihat Mas melakukan semua hal itu yang sama saja seperti membunuh diri sendiri secara perlahan ”


“ Aku tidak bisa melupakanmu..setelah kamu pergi rasanya ada lubang besar yang kosong. Semakin hari semakin besar hingga rasanya untuk bernapas saja sesak. Aku menipu diri dengan mengatakan akan baik-baik saja tanpamu, nyatanya aku bahkan tidak bisa memejamkan mata karena selalu merindukanmu. Kembali dalam keadaan mabuk ke ranjang adalah satu-satunya cara aku agar bisa tidur ”

__ADS_1


“ Kalau Mas terus melakukan hal itu bagaimana kalau kondisi kesehatan Mas memburuk..harusnya ingat umur Mas juga tidak muda lagi sampai masih merasa hebat bisa bertahan jika terus minum-minum dan merokok ”


“ Pfttt..ah sudah lama rasanya tidak mendengar omelan ini ” Zein tertawa ringan.


“ Omelan? Aku memperingatkan Mas, kalau tidak mau dengar ya sudah tanggung saja akibatnya nanti ” Adira menunjukkan ekspresi kesal yang dibuat-buat.


“ Baiklah, lagian memang menurutmu aku sudah tua ya? ” tanya Zein dengan nada menggoda.


“ Hah? Malah bertanya hal yang sudah jelas, umur Mas udah 43 tidak tua dari mananya ” balas Adira mengejek.


“ Bukannya kamu yang kelewat muda ini yang menikah denganku makanya aku jadi terlalu nampak tua”


“ Ya sudah siapa suruh mau menikahi gadis yang baru berusia 18 tahun, mana dibuat hamil lagi ” dengan tidak sadarnya Adira malah keceplosan.


Sesaat suasana menjadi diam dengan Adira yang dapat merasakan tatapan dalam Zein kepadanya. Adira segera memalingkan wajahnya berharap Zein tidak mengungkit hal yang baru didengarnya. Dia juga merutuki diri sendiri dalam hati karena bisa-bisanya malah membuka rahasia itu sendiri.


“ Adira..” panggil Zein lembut setelah beberapa lama terdiam.


“ Adira..bukannya ini waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya ”


“ Me-menjelaskan apa? ” jawab Adira kemudian gugup tanpa menoleh ke arah Zein.


“ Lihat ke arahku ketika kamu berbicara ”


Sebuah kalimat itu saja membuat Adira segera membalikkan tubuhnya menghadap Zein, entah mengapa sisi dominan Zein selalu berpengaruh dan membuat Adira mau tidak mau menurut pada pria itu.


Zein beranjak dari kursinya layaknya sebuah efek slow motion dia mendekat perlahan ke arah Adira, membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Adira.


Adira hanya bisa membuka matanya lebar-lebar tak percaya sekarang pria itu sangat dekat dengan dirinya. Saat seperti ini rasanya otak Adira berhenti bekerja hingga dia tidak bisa melakukan apa pun untuk mendorong Zein menjauh.


Sebuah tiupan lembut napas Zein menyapu wajah Adira dan sedikit memberinya kesadaran namun juga rasa waspada yang tinggi karena keberadaan Zein selalu membuat dirinya tidak tenang.


“ Adira..”

__ADS_1


Lagi dan lagi mendengar pria itu menyebut namanya membuat dada Adira naik turun tak menentu.


“ Ceritakan padaku kapan kita melakukannya, bantu aku mengingat juga kejadian saat itu. ”


Adira menutup matanya menggelengkan kepala pelan menolak ucapan Zein.


“ Apakah saat itu aku memaksamu? Apa saat melakukannya aku sangat menyakitimu? Beritahu aku Adira..agar setidaknya aku ingat perbuatan bejat yang aku lakukan ”


“ Mas..” desis Adira dengan perasaan campur aduk tak menentu.


“ Setidaknya saat itu aku adalah istrimu..kamu hanya mengambil apa yang menjadi hakmu itu saja ”


“ Tapi pastinya aku meminta itu secara paksa karena itu kamu bahkan tidak dapat menceritakan hal itu ”


Adira kembali menggelengkan kepala berharap Zein tidak terlalu merasa bersalah padanya.


“ Tidak..” jawab Adira pelan


“ Kalau itu tidak benar mengapa kamu bahkan tidak bisa menatap mataku, lihat aku Adira dan katakan lagi itu tidak benar ”


Adira membuka matanya perlahan menatap dengan ragu bola mata biru kehijauan milik pria itu, cukup lama tapi entah mengapa rasanya lidahnya keluh dan tak mampu untuk mengucapkan kata tidak supaya menyakinkan pria itu.


Zein menunggu Adira bicara tapi yang dilihatnya adalah mata Adira yang mulai berembun dengan air mata tertahan di sana. Sekarang dia tahu sebesar apa rasa trauma yang dia tinggalkan pada wanita itu. Namun Zein merasa dirinya sangat bodoh bahkan sampai saat itu dia tidak mengingat kejadian yang mengakibatkan trauma bagi Adira itu sama sekali? Seolah sekeras apa pun dia mencoba ingatan itu tidak pernah muncul.


“ Terima kasih kamu bahkan sudah berusaha tidak ingin membuatku merasa bersalah, sekarang aku sangat tahu betapa tidak bertanggung jawabnya aku ” ucap Zein lembut dan dalam kemudian dia menjauhkan tubuhnya dari Adira, rasanya sekarang dia ingin pergi menjauh sejenak dari wanita itu dan menghirup udara segar setidaknya untuk menenangkan hatinya.


“ Mas....”


**Mohon bantuannya teman-teman untuk memberikan hadiah dan vote untuk meningkatkan performa novel ini😄


Terima kasih banyak atas dukungan teman-teman 😃


Happy Reading 😘**

__ADS_1


__ADS_2