Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Bantuan Noah


__ADS_3

Pagi itu Zein terbangun setelah aroma lembut beraroma manis seperti buah atau mungkin madu yang tercium di hidungnya.


Menyesap lagi aroma itu Zein membuka matanya dan menyadari ternyata aroma itu berasal dari rambut hitam milik Adira yang sedang tertidur lelap dalam dekapannya.


Degg! Deg! Deg!


Jantung Zein berdebar kencang merasakan tubuh Adira yang menempel ditubuhnya dan lengan Adira yang memeluknya. Tak bisa bergerak takut membangunkan gadis itu Zein melirik pelan ke arah jam yang masih menunjukkan pukul 5 pagi.


“ Ini masih terlalu pagi, aku tidak bisa membiarkan dia terbangun ” , batin Zein.


Dia memilih diam ditatapnya wajah teduh Adira yang sedang terlelap. Bulu mata panjang Adira masih sama cantiknya seperti pertama kali Zein melihatnya.


“ Eghh...” lenguh Adira yang membuat Zein seketika menahan napas, tangannya bergerak sedikit meraba perut Zein sebentar lalu gadis itu kembali terlelap.


Dengan napas berat Zein berusaha menahan diri walaupun sebagian dirinya berdesir menerima sentuhan Adira.


Cukup lama Zein hanya menatap wajah Adira yang sedang tertidur tapi ditatap berapa lama pun tidak ada rasa bosan pada Zein, dia malah menginginkan lebih dari sekadar melihat namun jika bisa dia ingin menyentuh wajah Adira membelai lembut pipi gadis itu.


Perlahan mata Adira mulai mengerjap ketika dia akhirnya membuka mata pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan Zein dan manik mata yang menatapnya dalam.


Panik dan malu Adira ingin segera memundurkan tubuhnya menjauh dari Zein, tapi belum sempat menjauh Zein menahan pinggang Adira agar tidak menjauh darinya.


“ Jangan bergerak tiba-tiba seperti itu kau akan kesakitan nanti ” ucap Zein tepat didepan wajah Adira, hembusan napas pria itu lembut membelai wajahnya.


Tubuh Adira membeku menyadari betapa dia sangat dekat dengan Zein.


“ Tidurmu nyenyak ” ucap Zein santai, sementara mata Adira membulat sempurna karena Zein masih tidak melonggarkan dekapannya.


“ Jangan menatapku seperti itu ” Zein tersenyum sekilas melihat tatapan terkejut Adira yang nampak menggemaskan itu.


Adira segera mengalihkan pandangannya.


“ Bisa Mas melepaskan aku..rasanya sedikit sesak ” Adira terpaksa berbohong agar Zein melepaskan dekapannya.


Bukan melepaskan Adira, Zein malah melonggarkan sedikit dekapannya karena Adira mengeluh merasa sesak.


“ Jika langsung aku lepaskan dapat aku pastikan kau akan langsung mundur menjauh tanpa pikir panjang. Aku tidak suka kau seperti itu karena tidak memikirkan keselamatanmu ” jelas Zein, lalu perlahan dia membantu Adira menegakkan tubuhnya.


“ Terasa nyaman? ” tanya Zein memastikan.


“ Sudah Mas ” jawab Adira cepat. Lalu Zein bangkit dari ranjang itu, dia memutuskan untuk segera mandi.

__ADS_1


Zein keluar dari walk in closet setelah berpakaian lengkap. Dia sudah menggunakan kemeja dan jasnya.


“ Aku harus menghadiri rapat penting, sebentar lagi pelayan akan datang untuk membantumu berganti pakaian ”


Adira menganggukkan kepala. Zein menghela napas karena gadis itu bahkan sangat penurut, apa dia bahkan tidak mengeluh pada Zein siapa yang akan membantunya jika Zein pergi ke kantor.


“ Setelah pertemuan itu selesai aku akan segera kembali ”


“ Tidak perlu mengkhawatirkan aku Mas, nanti aku akan minta bantuan pelayan jika membutuhkan sesuatu ”


“ Justru karena aku tidak ada aku semakin nyakin kau tidak akan meminta bantuan pada siapa pun.” Karena memang kalau bukan Zein yang bergerak membantu Adira sendiri sama sekali gadis itu tidak pernah minta bantuan pada siapa pun.


Adira hanya bisa terdiam mendengar itu dia takut dianggap merepotkan oleh mereka makanya Adira tidak berani untuk minta bantuan. Dia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri, bahkan ketika dulu dia sakit Adira harus mengurus dirinya sendiri.


Dengan sedikit berat Zein meninggalkan Adira karena pertemuannya kali ini sangat penting.


~


~


~


Mereka juga menggantikan pakaian Adira.


“ Nyonya mohon tunggu sebentar lagi saya akan bawakan makanan ” ucap pelayan itu saat akan keluar dari kamar itu.


Adira tahu sekarang dia hanya bisa meminta bantuan pada para pelayan karena Aidan maupun Nadia pasti sedang sekolah begitu juga si kecil Lily.


Terdengar suara ketukan pintu.


“ Masuklah ” ucap Adira memberi izin karena tahu itu pasti pelayan yang membawakan makanannya.


Jauh dari dugaannya malah Noah yang datang membawa nampan makanan Adira.


“ Noah... ” lirih Adira kaget.


Noah hanya melangkah mendekati Adira, dia mendekatkan kursi rias itu sedikit ke arah Adira.


“ Aku datang untuk membantumu makan ” ucap Noah dingin.


“ Ti-tidak perlu..aku bisa sendiri berikan nampannya aku akan makan sendiri ” tolak Adira dan dengan tenang tanpa menjawab Noah menyerahkan nampan itu pada Adira sesuai permintaannya.

__ADS_1


Adira dengan sedikit kesusahan meletakkan nampan makanan itu dipahanya.


“ Terima kasih sudah mengantarkan makanan untukku ” Adira menunggu Noah pergi karena pasti anak itu hanya ingin mengantarkan makanannya.


“ Daddy memberi perintah agar aku memastikan kau makan dengan selamat ” tukas Zein dingin seolah tahu Adira sedang menunggunya keluar.


“ Ti-tidak usah sampai seperti itu..aku akan segera makan ” Adira merasa tidak enak.


Tapi Noah tetap diam di tempatnya. Akhirnya Adira mulai memakan makanannya walaupun harus dengan lambat karena dia berusaha untuk tidak membuat tangannya kesakitan.


“ Kenapa Mas sampai harus menyuruh Noah ke sini, aku merasa tidak nyaman ”


Setelah Adira menyelesaikan makannya Noah mengambil nampan makanan itu lalu memberikan obat untuk diminum oleh Adira.


“ Terima kasih Noah ” ucap Adira tapi tetap tidak ditanggapi oleh Noah. Wajah Noah tetap datar tanpa ekspresi.


“ Aku akan segera pergi, ada lagi hal lain yang kau butuhkan? ” tanya Noah pada Adira.


“ Tidak terima kasih sudah membantuku ”


Noah membawa nampan makanan itu bersamanya dan keluar dari kamar Adira.


“ Huffttt ” Adira menghela napas panjang Noah sama sekali tidak berubah dia masih sama saja sangat dingin dan pendiam.


Bahkan aura Noah terasa lebih menakutkan bagi Adira daripada Zein karena Noah yang sama sekali tidak tertebak. Dia bicara hanya seperlunya dan ekspresi datar yang selalu tergambar di wajahnya membuat Adira tak dapat menebak kira-kira apa yang dipikirkan Noah.


“ Daddy Nona Adira sudah selesai makan ” lapor Noah kepada Zein, karena Zein sedari tadi sudah berulang kali menelpon dan meminta Noah agar menjaga Adira selagi Zein tidak ada di rumah.


“ Kamu masih menjaganya kan? ” tanya Zein memastikan kembali.


“ Nona A bilang tidak butuh bantuan lain ” jawab Noah singkat.


Zein membuang napas panjang mendengar jawaban anak sulungnya itu, dia dapat menduga Noah akan bersikap seperti itu. Tapi tidak menyangka Noah akan percaya begitu saja saat Adira bilang tidak butuh bantuan apa pun. Harusnya Noah menjaga Adira walau sebentar saja.


“ Ya sudah terima kasih untuk bantuannya ” ucap Zein pasrah, Noah tak menjawab apa pun dan mengakhiri panggilan itu.


“ Sikap dingin anak ini tidak berubah sedikit pun ”


Zein sampai geleng-geleng kepala.


Happy Reading😘

__ADS_1


__ADS_2