
“ Jangan merasa bersalah untuk itu aku sampai sekarang baik-baik saja, justru jika Anda merasa berutang nyawa padaku maka teruslah hidup. Mari kita bertemu lagi di keadaan dan kesempatan yang lebih baik ” ungkap Adira melepaskan pelukannya lembut.
“ Aku akan pergi sekarang terima kasih sudah mau bertemu denganku ” ucap Adira sopan berpamitan walaupun dia tahu untuk saat ini Glory masih belum bisa membalas salamnya karena wanita itu masih terus menangis.
“ Biarkan aku mengantarmu ” cegah Scarlet.
“ Kakak lebih dibutuhkan di sini, aku bisa kembali sendiri. Sampai jumpa lagi Kak terima kasih atas bantuannya ” ucap Adira tersenyum.
“ Adira...tidak peduli situasinya tapi bolehkah aku menganggapmu sebagai adikku? ” tanya Scarlet merasakan ucapan Adira yang terdengar seperti seseorang yang berpamitan pergi dan tidak akan bertemu lagi.
“ Baiklah sekali lagi terima kasih Kak ” jawab Adira setelah terdiam beberapa saat.
Adira kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu karena dia harus menghadapi hal lain yang lebih besar yang menjadi penentu jalan hidupnya.
~
~
~
Adira berjalan memasuki ruangan persidangan itu, dapat dilihatnya Nadia, Aidan, Noah, dan juga Lily duduk di kursi bersamaan dengan orang-orang yang ingin menyaksikan sidang itu. Sejujurnya Adira juga merasa terkejut melihat kehadiran anak-anak itu tapi tidak ada pilihan untuk mundur lagi.
Saat dia duduk di kursi di dampingi pengacaranya, dia merasakan tatapan lurus Zein yang duduk di seberang.
Persidangan itu dimulai dengan hakim yang mulai membacakan proses kasus perceraian itu, dan beberapa pertanyaan yang dilontarkan pergantian kepada Adira dan Zein.
“ Untuk yang terakhir saya akan bertanya kepada Ibu Adira sebagai orang yang mengajukan gugatan, apa alasan Ibu menggugat suami Anda? ” hakim itu bertanya serius.
Adira menarik napas sejenak.
“ Karena saya merasa tidak pantas menjadi istri yang baik untuk suami saya. Saya dipenuhi kekurangan yang membuat suami dan keluar saya menderita, untuk itu saya memutuskan mengakhiri pernikahan ini ” jawab Adira tenang, dia menatap sekilas pada Zein dimana pria itu tidak menunjukkan ekspresi apa pun hanya tetap diam tapi tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Adira.
Hakim itu menganggukkan kepala menerima jawaban Adira setelah mempertimbangkan keputusan yang tepat untuk kasus ini hakim memanggil mereka berdua untuk duduk di kursi yang telah di sediakan tepat di depan hakim.
__ADS_1
Adira dan Zein duduk di jarak yang begitu dekat tapi mereka masing-masing tahu bahwa semua akan berakhir saat hakim mengetuk palu mengesahkan perceraian mereka.
“ Sesuai dengan permintaan Ibu Adira sebagai penggugat, beliau menolak pengajuan dana warisan dari Bapak Zein selaku tergugat. Juga dengan pengajuan jadwal bergantian mengasuh anak, Ibu Adira juga menolak untuk menerima hak itu ”
Zein memandang Adira tak percaya bahwa gadis itu bahkan menolak pembagian jadwal untuk menemui anak-anak.
“ Karena masing-masing pihak telah memutuskan menjalani proses sidang ini dengan baik maka tidak ada lagi hal yang perlu di perdebatkan lebih jauh. Untuk itu saya selaku hakim ketua atas persidangan ini dengan ini meresmikan saudara Zein Brown dan saudari Adira resmi bercerai ” ucap hakim itu keras lalu mengetukkan palu sebanyak tiga kali.
Tidak tahu yang dirasakannya Zein seketika merasakan kekosongan yang besar seakan ada sesuatu yang hilang dari hatinya.
Semua hadirin di perintahkan untuk berdiri dan memberikan hormat kepada hakim, maka sidang itu resmi selesai.
Adira berbalik menghadap Zein yang berada di sampingnya.
“ Semua sudah berakhir..ini hari terakhir aku akan melihat pria ini. Memandang lagi matanya yang terasa bersinar itu. Aku akan menyimpan momen ini di kepalaku sehingga aku bisa mengatakan pada anakku nanti bagaimana sosok ayahnya. Meskipun dia tidak mengetahui keberadaan anak ini, aku berjanji membesarkannya dengan baik. Anakku terima kasih sudah hadir tak peduli bagaimana hal itu terjadi tapi aku tetap akan menerima kehadiranmu ”
“ Terima kasih untuk semuanya Mas ” ucap Adira sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda perpisahan yang baik dengan pria itu.
Zein meraih tangan Adira dan menarik pelan tubuh Adira hingga tak punya pilihan Adira harus memeluk pria itu.
Adira membiarkan Zein memeluknya lalu perlahan dia melepaskan pelukan pria itu.
“ Tidak masalah Mas anggap ini sebagai pelukan perpisahan ” balas Adira kemudian dia melangkah menjauh meninggalkan Zein. Karena dia juga harus mengucapkan perpisahan kepada anak-anak yang sedang berdiri dengan kepala tertunduk seolah tak dapat memandang ke arah Adira lagi.
Pertama Adira menghampiri Aidan.
“ Terima kasih untuk semuanya Aidan, aku yang awalnya merasa sangat kesepian perlahan merasa lebih baik dengan kau yang mau berbincang atau bahkan menjahiliku. Maaf aku sudah membuat kalian bersedih ” ucap Adira perlahan.
“ Harusnya aku yang minta maaf karena tidak bisa menghargai usahamu ” Aidan berucap sendu menahan air matanya untuk tidak jatuh.
Adira memeluk sebentar anak itu.
“ Itu bukan salahmu..” lirih Adira.
__ADS_1
Kemudian Adira menghampiri Nadia. Dia menyodorkan tangannya untuk berjabatan dengan gadis itu. Walaupun sedikit lama akhirnya Nadia menyambut uluran tangan Adira.
“ Maaf karena selama ini sudah membuatmu menderita aku harap setelah ini semuanya akan lebih baik ” tutur Adira lembut. Nadia menatap Adira sebenarnya dia sangat ingin mengucapkan permintaan maaf tapi mulutnya terasa sangat berat hingga dia hanya diam membeku.
Adira berhenti sebentar di depan Noah dan mengulurkan tangannya.
“ Hanya berjabat tangan aku mohon ” ucap Adira karena Noah tak kunjung menerima uluran tangannya. Setelah Adira berkata begitu Noah membalas uluran tangan Adira.
“ Aku minta maaf Noah..semoga kalian semua selalu berbahagia ” Adira melepaskan tangannya.
“ Kau juga temuilah pria yang baik dan jalani hidupmu dengan baik ” ucap Noah cepat dan dingin.
Adira tersenyum singkat mendengar ucapan Noah lalu dia menganggukkan kepala sebagai jawaban.
Hingga tiba saatnya Adira harus mengucapkan perpisahan pada Lily gadis kecil yang selama ini selalu menyayangi Adira dengan tulus itu.
Adira menundukkan tubuhnya sejajar dengan Lily lalu memeluk gadis kecil itu.
“ Mama terima kasih sudah menemani Lily, Lily sangat bahagia selama Mama ada bersama Lily. Tapi Lily juga tahu Mama tidak bisa selamanya ada di rumah ” tutur Lily lembut.
Adira tidak menyangka anak itu sudah mengerti bahwa Adira akan segera pergi.
“ Maafkan Mama Lily..Mama tidak bisa menepati janji Mama sama Lily ”
“ Jangan sedih Mama..Lily yang meminta untuk Daddy membawakan Mama saat Daddy pergi bekerja dulu. Lalu Daddy membawa Mama sesuai permintaan Lily tapi Daddy juga sudah bilang kalau kontrak pinjaman Mama sudah habis maka Lily harus membiarkan Mama pergi ”
Adira hanya bisa menahan air mata mendengar ucapan Lily, dia tidak menyangka sejak awal Zein sudah mengatakan hal itu pada gadis kecil ini tapi Lily masih tetap memperlakukan dan menyayangi Adira dengan tulus.
“ Karena sekarang kontrak pinjaman Mama sudah habis makanya Mama harus pergi. Lily tahu itu karena itu Lily sedih. Tapi Lily gak melarang Mama pergi. Sampai jumpa Mama semoga selalu senang dan jangan menangis karena kesakitan lagi ” Lily kembali memeluk Adira, Adira membalas pelukan anak itu dengan erat.
“ Bahkan sampai akhir gadis kecil ini selalu saja membuatku merasa tenang..apa dia seorang malaikat yang dikirim Tuhan untuk menenangkan aku ” , batin Adira.
“ Sampai jumpa Lily Mama berdoa agar Lily selalu bahagia ” ucap Adira lembut.
__ADS_1
**Mohon bantuannya untuk memberikan hadiah dan vote untuk novel ini agar performanya naik😁
Happy Reading😘**