
“ Huftt...” Adira menghela napas melihat pria itu sangat mendalami peran sebagai orang asing dihadapannya.
“ Maaf Adira aku hanya bercanda ” ucap Zein tertawa kecil.
“ Dia nampak santai sekali bahkan bisa tertawa seperti itu apa dengan melakukan hal ini bebannya berkurang? ”
“ Baiklah aku pamit pulang dulu Mas ” Adira bangkit dari duduknya. Yang membuat Zein juga refleks berdiri mengikuti langkah Adira.
“ Biar aku antar ”
“ Tidak perlu Mas, tolong jangan berlebihan aku tidak bisa lebih dari ini ”
Zein hanya menatap dalam wajah Adira yang sangat serius saat ini.
“ Aku takut terjadi sesuatu padamu, apalagi waktu itu kamu sempat mengungkit tentang penguntit. Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian ”
“ Apa benar bukan Mas yang ada dibalik peristiwa penguntit itu? ”
“ Tidak Adira aku sendiri merasa khawatir mendengar ada kejadian seperti itu ”
Adira mencoba membaca ekspresi Zein dan tidak melihat kebohongan di sana. Dia hanya dapat menghela napas panjang dan menggusar rambutnya.
“ Aku juga tidak tahu sebenarnya orang itu mau berniat apa, tapi aku nyakin ada yang mengikuti ku saat itu. Karena kedatangan Mas yang tiba-tiba pindah ke desa ini aku sempat berpikir itu mungkin ulah Mas ”
“ Kamu tidak perlu takut aku akan pastikan tidak akan terjadi hal seperti itu lagi, sekarang aku juga sedang mencari siapa pelaku dibalik semua ini. Karena itu aku mengatakan kamu sebaiknya tidak pulang sendiri ”
Adira hanya menggigit bibirnya pelan mendengarkan penjelasan Zein, tapi perasaannya sama sekali tidak tenang. Tapi dia juga tidak ingin terus bergantung pada pria itu.
“ A-aku akan pergi sendiri, aku bisa menelpon Helena untuk datang ke sini menjemputku ” Adira bergerak cepat mengambil ponselnya.
“ Kenapa harus menunggu dia, aku bisa mengantarmu sekarang ” cegat Zein.
“ Mas...tolong ya aku tidak ingin mengucapkan kata-kata yang mungkin akan menyakitimu. Tetaplah seperti ini, kita bisa bertemu di desa ini tapi itu hanya kebetulan bukan karena sebuah perencanaan.”
Akhirnya Zein memundurkan tubuhnya tidak bisa menolak lagi permintaan wanita itu.
Setelah hampir 15 menit Helena tiba di depan mansion, membunyikan klaksonnya sekali sebagai tanda memanggil untuk Adira.
“ Helen sudah datang, aku pergi dulu Mas. Dadah Lily ” Adira melambai kecil pada Lily dan dengan cepat dibalas gadis kecil itu.
__ADS_1
Adira berjalan keluar dari pekarangan mansion dan langsung mendapati Helena yang menunggu di depan pagar.
“ Helen ” panggil Adira.
“ Kenapa kamu bisa berada di mansion tua ini? ” reaksi pertama yang bisa ditunjukkan Helena.
“ Nanti saja aku ceritakan di rumah, sebaiknya kita langsung pulang saja sekarang ” balas Adira, jika sudah begitu Helena sudah tahu kalau kemungkinan besar sahabatnya itu tidak dalam mood yang baik.
~•
~•
~•
“ Masuk lah lebih dulu aku masukkan motor ini ke gudang dulu ” ucap Helena begitu mereka tiba di depan rumah.
Adira melangkahkan kakinya perlahan menaiki anak tangga untuk sampai di depan pintu rumahnya. Mata Adira seketika tertuju pada sebuah kotak yang diikat dengan pita layaknya sebuah hadiah tergeletak di depan pintu.
“ Kotak apa ini? ” guman Adira bertanya-tanya, mengatur posisi tubuhnya untuk menunduk dia meraih kotak itu dengan susah payah.
“ Ada apa? ” tanya Helena ketika dia sudah berada tepat disamping Adira juga.
“ Ini aku menemukannya di depan pintu, apa ini punyamu? ”
“ Iya juga sih ” Adira memeriksa sekeliling kotak itu tapi tidak menemukan kartu ucapan atau alamat yang mungkin menjelaskan asal kotak itu.
“ Buka saja lihat apa isinya ” ucap Helena yang juga penasaran dengan isi kotak itu.
Adira bergerak pelan membuka kotak pengikat kotak itu.
“ Arghh!!!!!!! ” pekiknya histeris dan sontak melemparkan kotak itu jauh darinya.
“ Dira!! ” panik Helena tak kalah terkejut, dia segera menarik Adira ke arahnya.
Adira menutupi matanya dengan kedua tangannya yang masih gemetaran.
“ Tidak apa-apa...tenangkan dirimu Dira. Itu bukan apa-apa jangan takut ” Helena mengucapkan itu sembari menenangkan dirinya juga.
Perlahan dia bergerak menundukkan tubuhnya memungut kotak yang jatuh itu, bisa-bisanya kotak yang nampak biasa saja diluarnya tapi berisi sesuatu yang sangat mengerikan.
__ADS_1
Boneka bayi yang terbuat dari bahan silikon yang tadinya ada di dalam kotak itu sungguh mengerikan, di penuhi lumuran darah dan kondisi kepala boneka juga sengaja di copotkan. Helena bergidik ngeri sembari memungut kembali boneka dan kotak itu, dari sana dia menemukan sebuah kertas yang juga sudah di penuhi noda darah.
“ Ada sebuah surat di sini ” lonjak Helena begitu melihat itu.
Adira menoleh ke arah Helena dan walaupun tidak terlalu dekat, dia langsung bisa membaca tulisan yang tertera di sana.
*Bersiaplah bayimu akan mati
Tubuh Adira bergetar hebat setelah melihat itu, rasanya matanya memanas dengan air mata yang siap jatuh kapan pun.
Helena segera memasukkan kembali isi kotak itu, dan membersihkan lantai rumahnya yang terkena tetesan darah yang tidak diketahui entah itu darah hewan atau buruknya darah manusia.
Tapi Helena tidak membuang kotak itu melainkan dia simpan ke dalam sebuah peti di gudang. Karena menurutnya kotak itu merupakan bukti dari teror ancaman itu.
“ Kita masuk ke dalam rumah.. ayo Dira ”
Helena dengan sabar memapah Adira pelan sampai mereka tiba di ranjang milik Adira.
“ Si-siapa yang melakukan itu? Ke-kenapa dia..dia mengancam ingin membunuh anakku...Helen aku harus bagaimana? ” Adira sudah terisak seluruh tubuhnya gemetaran.
Helena tidak habis pikir siapa yang telah berniat jahat melakukan itu, andai saja rumah mereka memiliki CCTV mungkin mudah menemukan pelakunya. Tapi di rumah itu bahkan tidak ada satu pun.
“ Apa jangan-jangan ini juga berhubungan dengan orang aneh yang kau bilang pernah menguntitmu itu Dira? ”
Sebuah terkaan yang juga langsung membuat Adira membulatkan matanya sempurna.
“ Bagaimana jika orang itu masih terus mengawasiku? Di-dia ingin membunuh anakku Helen..kita harus melaporkan dia ke polisi sekarang juga ayo kita laporkan sekarang juga ”
“ Dira..Dira tenangkan dirimu jangan bertindak gegabah seperti itu, jika kita melaporkan orang itu saat ini juga belum tentu polisi mampu menangani kasus ini. Yang lebih buruk bagaimana nantinya jika pelaku itu malah merasa terancam dan berbuat hal yang lebih buruk. Kita harus mengambil keputusan dengan tenang..”
“ Aku tidak bisa tenang Helen..itu darah dia ingin membunuh anakku..kau liat ancaman itukan”
“ Iya aku tahu, tapi kalau kau seperti ini rencana pelaku untuk memberi teror tentu saja berhasil. Bisa saja pelaku itu mengharapkan kau menderita sendiri karena panik dan ketakutan. Ingat kondisi mu kau harus bisa mengendalikan emosi, kita pasti akan menangkap pelaku itu. Kita akan menyeretnya ke polisi tapi kita harus berhati-hati Dira. Lihat aku dan tenangkan dirimu...” bujukkan lembut Helena sepertinya mulai bekerja.
Perlahan napas Adira mulai tenang tubuhnya juga tidak gemetaran seperti sebelumnya.
“ Percaya padaku kita akan memastikan pelaku itu tertangkap” Helena menggenggam erat kedua tangan Adira menyakinkan wanita itu.
**Jangan lupa berikan like, komen, hadiah dan terutama vote untuk novel ini ya teman-teman agar performanya meningkat😊
__ADS_1
Terima kasih banyak teman-teman 😁
Happy Reading😘**