Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Momentum


__ADS_3

Dengan langkah pelan dan menyeret kakinya susah payah akhirnya Adira dapat mendekati Zein. Lalu dengan satu gerakan pasti dia menangkap tangan Zein yang akan melayangkan tinjunya kembali kepada Derril.


“ Jangan mengotori tanganmu karena orang jahat seperti dia Mas..” pinta Adira dengan tulus.


Tapi itu tidak cukup untuk menyurutkan amarah Zein, dia cepat menepis tangan Adira dan kembali melayangkan tinjunya ke wajah Derril. Lalu Zein berdiri dan menginjak kuat lengan Derril.


Krak!!


“ Akh! ” pekik Helena mendengar suara tulang Derril yang sepertinya patah karena injakan Zein di lengan pria itu.


“ Mas aku mohon...hentikan semua ini aku mau pulang...” Adira memeluk tubuh Zein dari belakang berharap Zein menghentikan semua itu, karena kalau tidak berhenti Zein akan benar-benar membunuh Derril.


Napas Zein yang perlahan mulai terdengar tenang, matanya turun menatap tangan Adira yang melingkar di pinggangnya gemetaran. Dia akhirnya tersadar jika tindakannya telah membuat Adira ketakutan.


“ Ayo pulang ” ucap Zein menarik pelan tangan Adira agar wanita itu berdiri di hadapannya, dia merengkuh wajah Adira dengan kedua tangannya dengan perasaan ingin melindungi Adira sebesar mungkin.


“ Kamu berdarah Mas..” lirih Adira melihat darah yang mengalir dari pelipis Zein.


“ Mari kita pulang semua akan baik-baik saja ” Zein mengangkat tubuh Adira ringan, dia mengendong Adira dengan gaya bridal style. Walaupun ragu apakah Zein akan kuat menggendong dia sedangkan pria itu terluka. Tapi Adira juga tidak ingin menolak karena rasanya dia akan segera ambruk jika Zein tidak mengangkat tubuhnya. Adira hanya mengeratkan tangannya yang di kalungkan di leher Zein.


Dengan satu perintah Noah menyerahkan Derril kepada anak buahnya karena pria itu sudah tidak menemukan kesempatan lain lagi. Takdirnya akan benar-benar berakhir membusuk di balik jeruji besi karena yang dilawannya adalah keluarga Brown.


Helena tetap berjalan beriringan dengan Noah dibelakang Adira dan Zein. Namun karena rasanya Helena masih belum bisa mengendalikan perasaannya sepanjang jalan dia terus menangis tanpa mengeluarkan suara, air matanya terus mengucur sementara dia berusaha menutupi wajahnya agar tidak mendapat perhatian Noah.


Tentu saja Noah menyadari hal itu, tapi dia berpikir setelah membiarkan wanita itu menangis sebentar maka nantinya Helena akan dapat tenang. Tidak dia sangka tangisan wanita itu malah semakin menjadi.


“ Daddy berangkat saja duluan dengan helikopter yang sudah di siapkan. Kami akan segera menyusul nanti ” ucap Noah pada Zein yang hanya mendapat sebuah anggukkan dari Zein sebagai jawaban.


“ Berhenti di sini ” Noah menahan tangan Helena sebentar lalu segera melepaskan tangannya.


“ Hmm..ke-kenapa kita tidak..pulang bersama mereka..” Helena yang berusaha agar isakannya tidak terdengar.


“ Ambil waktu sebentar tenangkan dirimu ” ucap Noah singkat seperti dirinya yang biasa tak suka banyak bicara.


Helena menengadahkan wajahnya ke atas berusaha menahan air matanya yang ingin terjatuh.


“ A-aku baik-baik saja...ayo kita lanjutkan lagi ” dia terus mengipasi wajahnya.

__ADS_1


Noah menyerahkan sebuah sapu tangan ke arah Helena.


“ Hiksss...uwaaaa...hikss..arghhh...uwaa...” seolah pertahanannya runtuh setelah melihat sapu tangan yang diberikan Noah. Helena mendudukkan tubuhnya berjongkok sembari menyembunyikan wajahnya dari Noah. Dia terus menangis memeluk lututnya erat layaknya seorang anak kecil.


Noah tidak mengatakan apa pun dia hanya terus berdiri di samping Helena bersabar menunggu wanita itu sampai tenang.


Hal ini terlalu menakutkan bagi Helena seolah trauma yang selama ini dia simpan kembali terulang, bedanya kali ini yang mengalami hal itu Adira. Seorang sahabat yang sudah dia anggap lebih dari saudara satu-satunya yang bisa dia sebut keluarga. Melihat Adira mengalami semua kejadian itu memberikan rasa sakit yang luar biasa bagi Helena tapi dia juga tidak punya keberanian menangis di depan Adira.


Karena dibandingkan yang dia rasakan tentunya Adira lebih banyak menderita. Itu yang dirasakan Helena karena itu dia berusaha menahan diri di depan Adira walaupun sebenarnya hal itu sangat sulit.


Suara isakannya mulai memelan setelah beberapa saat berlalu.


“ Mana sapu tangannya..” suaranya terdengar serak karena menangis, dia mengulurkan tangannya meminta kepada Noah tanpa mengangkat kepalanya tidak ingin Noah melihat wajahnya yang sembab.


Tanpa bicara Noah memberikan sapu tangan itu ke tangan Helena.


Helena membersihkan sisa air matanya dengan sapu tangan itu dan juga mengenduskan cairan hidungnya tanpa peduli pendapat Noah yang penting dia ingin merasa tenang.


“ Nanti aku akan cuci lalu kembalikan ”


Noah hanya menganggukkan kepala. Sementara Helena masih setia berjongkok dengan kepala tertunduk.


“ Noah kemana Ayahmu membawa Adira? ” tanya Helena kemudian.


“ Kota X dia akan lebih aman di sana karena kawasan itu ada dibawah pengawasan keluarga kami ” jawab Noah sekenanya.


“ Aku ingin menyusul Adira ke sana..”


“ Hmmm..”


“ Tapi sebelum itu berapa usiamu? ”


“ 19 tahun ” Helena menjawab jujur.


“ Baru 19 tahun tapi kau memanggilku dengan tidak sopan selama ini ”


Helena mengeryitkan alisnya tak paham maksud Noah.

__ADS_1


“ Aku 26 tahun harusnya kau lebih sopan lagi ”


“ Hah? Jadi maksudmu aku harus memanggilmu dengan sebutan kakak atau pak atau tuan maksudmu? ” rutuk Helena tak mau terima dengan usulan Noah.


“ Kalau kau paham dengan etika sopan santun ” balas Noah dengan santainya.


“ Bikin kesal saja, aku tidak mau memangnya kenapa kalau aku tidak memanggilmu dengan sopan. Tidak ada aturan yang mewajibkan aku harus bersikap sopan padamu ”


Noah hanya mengedikkan bahu seolah tidak peduli dengan alasan Helena. Melihat itu tentu saja Helena merasa kesal.


“ Biar aku kasih tahu kalau saja nanti Adira menikah lagi dengan Ayahmu kau yang malah seharusnya bersikap lebih sopan padaku. Karena aku ini saudara dan keluarga satu-satunya Adira jadi tentu saja kalian harus memanggilku Bibi ” tegas Helena.


“ Lagian tahunya bikin orang kesal saja apa kalian ini kena sindrom gila hormat, kalau umurku lebih mudah juga kau bukan kakakku sampai aku harus memanggil kakak. Kau juga bukan bosku sampai aku harus memanggil Pak atau Tuan begitu ”


Walaupun Helena sudah mengomel seperti itu ekspresi Noah tetap datar tak mengubris sama sekali.


Lama mereka berdua terdiam, sementara Helena sibuk membersihkan wajahnya. Dia juga berdiri mencoba merapikan penampilannya.


“ Sudah selesai? ” tanya Noah serius.


“ Selesai apa? ”


“ Sudah selesai menangisnya ”


“ Apa sih dia ahli sekali membuat orang tidak nyaman? Seharusnya tidak perlu menanyakan hal itu rasanya malu sekali ”, batin Helena.


“ Hmm..” Helena terbatuk kecil membuang wajahnya ke arah lain sebentar mengendalikan ekspresinya.


“ Ya sudah sebaiknya kita segera pergi menyusul Adira ” ucap Helena berpura-pura tenang.


“ Baguslah setidaknya kita tidak akan kehilangan momentum penting ” Noah melanjutkan langkahnya.


Dengan sedikit berlari Helena menyusul Noah.


“ Momentum apa maksudmu? ” tanya Helena penasaran.


“ Oh Adira akan segera melahirkan bayinya ” jawab Noah santai.

__ADS_1


“ Apa?!! ”


Happy Reading😘


__ADS_2