
“ Kami akan berusaha menyelesaikan nya dengan cepat Nyonya terima kasih atas pengertiannya ”
“ Baiklah ” balas Adira mengikuti langkah pelayan yang mengantarkan dia ke ruangan sebelah.
Dalam pikiran Adira dia menduga mungkin Zein dan orang-orang lain yang ikut untuk acara makan malam itu juga di alihkan ke ruangan yang lain sama seperti dia. Merasa sangat segan Adira akhirnya duduk di kursi yang di sediakan di ruangan itu.
Memandang sekelilingnya membuat Adira merasa tidak nyaman dan tidak enakan karena nampaknya ruangan itu pasti sudah di reservasi oleh orang lain atau lebih tepatnya sepasang kekasih yang berniat makan malam romantis. Melihat campaign yang di tata di atas meja di sajikan di dua gelas dan taburan bunga yang memenuhi karpet yang dia lewati tadi.
“ Maaf tapi apa tidak masalah aku menunggu di sini, nampaknya ruangan ini sudah di siapkan untuk orang lain. Apalagi sepertinya aku sudah merusak taburan bunga yang ada di sana ” Adira menunjukkan karpet yang dia lalui tadi kepada pelayan.
“ Tidak masalah Nyonya dengan hormat saya mohon undur diri Nyonya ”
“ Beritahu aku jika ruangan nya sudah bisa di pakai ”
Pelayan itu menjawab cepat dan setelah membungkuk hormat dia meninggalkan Adira sendiri di ruangan itu. Adira berusaha menelpon Zein untuk mengetahui dimana keberadaan pria itu tapi ternyata panggilannya tidak mendapat jawaban.
“ Hah..” Adira menghela napas panjang menyerah menghubungi Zein dan pasrah menunggu di ruangan itu.
Adira mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja untuk menghilangkan kebosanan. Tiba-tiba seluruh lampu di ruangan itu padam.
“ Astaga! Apa ini karena mereka sedang memperbaiki sesuatu ya makanya lampu padam ”
Adira menyalakan senter hpnya, mencoba beranjak pelan dari kursi di tengah ruangan gelap takut menabrak sesuatu.
“ Permisi apa ada orang di luar? ” seru Adira kuat.
“ Permisi apa ada orang di luar? Hah kenapa tidak ada yang menjawab. Lampunya juga masih belum menyala ” panik Adira sembari dia mulai melangkah untuk keluar dari ruangan itu.
*Tak!
Tak!
Tak!
Tak*!
__ADS_1
Suara lampu-lampu kecil di sekeliling karpet ruangan itu mulai menyala satu persatu secara bergiliran. Adira memejamkan matanya sedikit terkejut ketika cahaya yang tiba-tiba bersinar.
“ Untunglah..lampunya sudah menyala ”
Adira berguman pelan sementara dia mulai menajamkan penglihatan karena lampu yang menyala masih yang ada di sekitar karpet seolah di rancang untuk menyambut kedatangan seseorang. Perlahan Adira mulai menangkap sosok seseorang yang mulai berjalan melewati karpet itu mendekat ke arahnya.
Belum hilang rasa terkejutnya yang tadi, tiba-tiba kelopak bunga jatuh menghujani dia dengan lembut lalu di lanjutkan dengan suara instrumen musik yang romantis yang sepertinya berasal dari piano dan biola yang dimainkan.
“ Apa ini? ”
“ Jangan-jangan orang yang mereservasi ruangan ini malah salah orang. Ya ampun bagaimana ini ” panik Adira mengingat dirinya bukanlah orang yang seharusnya berada di ruangan itu. Bagaimana jika orang yang berjalan di karpet itu ternyata salah orang.
“ Maaf Tuan tapi sepertinya-
Mulut Adira seketika bungkam begitu wajah orang yang ada di depannya sudah terpampang jelas di depan matanya. Tanpa bisa bicara apa pun matanya melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Alunan musik yang sempurna seakan membuat waktu terasa berjalan lambat , jantung Adira berdebar keras semakin lama semakin keras hingga rasanya ingin meledak saat itu juga.
Hembusan napas yang kuat dan tertahan karena sekarang sosok itu sudah berdiri tepat di depannya dengan jarak yang tak sampai satu langkah itu. Begitu gagah dan sempurna membuat Adira tidak tahu harus bereaksi seperti apa, lalu lambat laun instrumen musik itu berhenti berbunyi.
Lampu-lampu lain di ruangan itu juga mulai menyala lagi satu persatu dan dengan satu lampu sorot besar yang bersinar di atas kedua orang itu membuat mereka menjadi spot utama di ruangan itu.
Dengan jelas Adira menangkap namanya yang di panggil dengan begitu lembut itu. Membuat dia terhipnotis hingga tak ingin mengalihkan pandangan dari sosok di depannya.
“ Mas..”
Zein tersenyum menundukkan tubuhnya dengan menekuk lututnya, layaknya seorang pangeran yang melamar seorang putri. Zein menyodorkan tangannya ke arah Adira yang ada di depannya dengan sebuah kotak berisi cincin.
“ Butuh waktu yang sangat lama dan banyak jalan yang menyakitkan untuk kita bertemu, bersama dan juga adanya perpisahan. Saat-saat bersamamu adalah waktu yang paling membahagiakan untukku. Kamu meminta waktu untuk memikirkan kembali,dan kita sudah melalui masa itu. Tidak ingin terburu-buru tapi tidak siap juga untuk menunda terlalu lama. Adira hari ini dengan segenap jiwaku aku akan menanyakan kembali apakah kamu mau menikah kembali denganku? ”
Air mata menggenang di pelupuk mata Adira tidak pernah dia membayangkan akan mendapat lamaran seromantis ini dari Zein dan apakah dulu dia pernah memimpikan hal ini sekalipun dia tidak tahu. Hari ini Zein berlutut di depannya mengajukan pertanyaan yang selama tiga bulan ini jawabannya sudah di siapkan Adira dengan matang.
Rasanya begitu membahagiakan dan juga mengharukan mengingat apa yang sudah mereka lalui hingga sampai ke tahap ini. Ingatan bagaimana Zein memberikan semua perhatian dan memperlakukan dia dengan penuh kasih sayang tiga bulan kembali teringat.
“ Mas terima kasih sudah mau menunggu saat aku pergi dulu dan saat aku meminta Mas untuk memberiku waktu terima kasih sudah menungguku selama ini. Aku sangat ingin menghabiskan sisa hidupku selamanya dengan Mas, aku mau menikah kembali dengan Mas ” jawab Adira tersenyum bahagia dengan air mata kebahagiaan yang menjatuhi pipinya.
__ADS_1
“ Terima kasih Adira ” Zein memasangkan cincin itu di jari tengah Adira mengecup punggung tangan Adira lembut dan langsung memeluk Adira erat.
“ Aku sangat mencintaimu Adira ”
“ Katakan lagi ” pinta Adira.
“ Aku sangat mencintaimu ”
“ Lagi ”
“ Aku sangat mencintaimu sangat sangat mencintaimu ”
“ Lagi..” seakan Adira tidak ada puasnya ingin mendengar kata itu.
“ Aku sangat mencintaimu Adira hanya kamu sangat mencintaimu ” Zein mengecup pucuk kepala Adira mesra.
Adira mengeratkan pelukannya memandang kembali cincin yang melingkar di jarinya.
“ Mas kenapa memasang cincinnya di jari tengah? ” tanya Adira bingung karena seharusnya itu di pasang di jari manis selayaknya cincin lamaran lainnya.
Zein melonggarkan pelukannya menarik tubuh Adira lembut agar mereka saling bertatapan sementara tangannya masih merengkuh tubuh Adira.
“ Karena cincin yang ini memang tempatnya di jari tengah. Aku akan pasangkan cincin di jari manismu saat kita menikah nanti ”
Adira terkejut mendengar itu tapi dia juga sangat bahagia.
“ Aku akan menunggu saat itu Mas ” ucap Adira tersenyum.
Zein merengkuh lembut wajah Adira dan mencium wanita itu intens. Ciuman yang lembut tidak terburu-buru dan dilakukan dengan sangat romantis. Adira menutup matanya merasakan ciuman Zein mengeratkan pegangannya kepada pria itu.
“ Aku mencintaimu ” ucap Zein dengan jarak yang begitu dekat di wajah Adira.
“ Aku juga sangat mencintaimu Mas ” tak menunggu waktu lama Zein kembali Adira begitu mendengar pengakuan cinta yang diucapkan oleh wanita itu kepadanya. Kali ini Zein mencium Adira lebih dalam..menuntut dan penuh gairah.
Malam itu akan menjadi malam penuh cinta untuk mereka.
__ADS_1
**Untuk yang jomblo tentu itu malam yang membuat iri dan yang sudah menikah silakan di cium pasangannya 😅😅
Happy Reading😘**