
“ Ya Tuhan tolong biarkan Nona A dan bayinya selamat. Aku berjanji akan memperlakukan Nona A dengan baik, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama kami akan membuat Nona A bahagia dan tidak akan membuat dia menderita jadi aku mohon jaga dia tetap sehat ” doa Aidan dengan tulus.
“ Amin ” guman Nadia pelan. Rasanya sangat mendebarkan karena mereka tidak tahu yang terjadi dalam ruangan itu dan mereka hanya bisa berharap.
~
~
~
Keringat Adira sudah mengucur deras di dahinya tapi setelah terus mengedan pun bayinya tak kunjung lahir.
Dokter menggelengkan kepala memberi kode kepada Zein bahwa cara ini tidak berhasil. Zein paham dengan maksud dokter itu.
“ Lakukan saja tindakan selanjutnya Dokter ” ucap Zein yakin.
“ Baik Pak segera siapkan pasien untuk dibawa ke ruang operasi ” perintah dokter itu kepada dokter-dokter residen lain yang akan bertugas bersama dia sebagai asisten untuk operasi itu.
Para perawat mendorong brangkar itu menuju ruang operasi, sontak saja mereka yang menunggu di luar ruangan terkejut dan segera berhambur menghampiri Adira.
“ Kenapa? Apa terjadi sesuatu? ” tanya Helena tak sabaran.
“ Adira harus di operasi ” sebuah jawaban singkat dari Zein.
“ A-aku akan baik-baik saja..” lirih Adira setelah melihat wajah cemas mereka.
“ Berjanjilah untuk kembali dengan selamat Nona A, kamu harus janji ya! ” seru Aidan serius.
Adira menganggukkan kepala pelan.
“ Maaf kami akan segera membawa pasien, harap keluarga mau menunggu dengan tenang di sini ” imbau perawat itu kemudian melanjutkan membawa Adira.
Di ruang operasi itu yang mendampingi Adira hanya ada Zein yang di izinkan dari pihak keluarga.
__ADS_1
Adira segera menjalani prosedur anestesi dengan menerima suntikan epidural sebagai bius penghilang rasa sakit. Tapi tidak membuat dia kehilangan kesadarannya.
Setelah dibaringkan kembali di ranjang operasi, jangkauan pandang Adira di halangi sebuah penutup hingga dia tidak bisa melihat saat dokter membedah perutnya. Namun, dia dapat merasakan sedikit tekanan-tekanan dari pergerakan yang di lakukan para dokter itu.
Para dokter itu bekerja dengan sangat teliti dan serius hingga rasanya di ruang operasi itu cukup mencekam. Adira terus berusaha menenangkan diri dengan mendengarkan kata-kata penguat dari Zein.
Mata Adira membulat sempurna saat telinganya menangkap suara tangisan bayi yang terdengar pelan dan lemah.
Adira melirik ke arah Zein untuk mendapat kepastian kalau yang di dengarnya tidak salah. Setelah mendapat anggukan dari Zein sebagai jawaban. Tanpa sadar air mata Adira mengalir begitu saja dengan semua rasa haru.
Seorang dokter datang dengan memegang bayi kecil dan masih berlumuran darah itu ke arah Adira dan Zein. Dokter itu menunjukkan bayi itu kepada Adira sambil tersenyum.
“ Bayinya laki-laki dan dia cukup sehat, selamat menjadi orang tua. Terima kasih juga karena Ibu sudah berjuang sangat baik ” ucap dokter itu.
Adira hanya bisa menangis dengan haru dan sesekali tersenyum ke arah bayinya. Dia belum bisa menggendong bayi itu di tangannya karena proses operasi belum selesai.
Dokter juga tidak menyarankan Zein untuk mengendong bayi nya sekarang karena secepatnya bayi mereka akan di periksa oleh dokter anak secara terpisah. Dengan cepat bayi kecil itu di serahkan ke dokter anak dan setelah pemeriksaan yang rinci bayinya harus di rawat di inkubator.
“ Pak kami sudah menerima laporan terbaru mengenai kondisi bayi Anda dari dokter anak, sangat disayangkan kami harus memberitahu bayinya harus di rawat dalam tabung inkubator beberapa hari ke depan karena dia terlahir dengan paru-paru yang lemah. Kami akan terus memantau keadaan bayi Anda Pak ” lapor dokter itu kepada Zein dengan suara yang hampir berbisik tidak ingin hal itu di dengar oleh Ibu si bayi yang juga masih dalam keadaan belum pulih.
~
~
~
“ Bayinya sudah lahir!! ” seru mereka bersamaan begitu dokter memberitahu bahwa bayi Adira sudah lahir.
“ Bagaimana keadaan Ibunya? ” Noah bertanya pada dokter itu.
“ Ibunya juga sehat sekarang masih dalam tahap pemulihan dan di rawat secara intensif. Sehingga kami belum bisa mengizinkan keluarga untuk masuk ke ruang rawat. ”
“ Bayinya juga harus di rawat dalam tabung inkubator, jadi keluarga hanya di perbolehkan melihat dari luar ruangan rawat bayi ” lanjut dokter itu.
__ADS_1
“ Apa bayinya baik-baik saja? Mengapa harus di rawat dalam inkubator? ” Helena merasa sedih mendengar kabar itu.
“ Bayi pasien terlahir dengan paru-paru yang lemah, banyak kasus kelahiran seperti itu yang juga terjadi pada bayi lain. Setelah menerima perawatan intensif dalam waktu dekat keadaan bayinya pasti pulih ”
Mereka semua menganggukkan kepala pelan mengerti dengan penjelasan dokter itu.
“ Kak maksud Pak dokter itu adik kita sakit..” sendu Lily, Lily memang sudah tiba di rumah sakit beberapa saat begitu Adira masuk ke ruang operasi. Dengan sangat terpaksa gadis kecil itu harus datang bersama supir karena keadaan yang tiba-tiba genting, mereka tidak punya cukup waktu untuk menjemput Lily ke desa.
“ Iya Lily makanya kita harus berdoa semoga adik bayi segera sehat dan kita bisa pulang ke rumah ya ” ucap Nadia menenangkan Lily.
“ Oh..iya Dok kami lupa menanyakan apa jenis kelamin adik bayi itu? ” Aidan menatap dokter itu dengan serius dan berdebar tak sabar mendengarkan jawaban dokter itu.
“ Bayinya laki-laki ”
“ Yeah!! Got it!! ” seru Aidan senang lalu segera memeluk Noah seolah keduanya sedang merayakan kemenangan.
“ Akhirnya aku punya adik laki-laki ”
Aidan terus bersorak kegirangan.
“ Ya..sayang sekali ya Ly, sepertinya impian kita untuk punya adik perempuan gagal deh ” Nadia mengerucutkan bibirnya karena dia memang berharap jika adiknya yang dilahirkan Adira perempuan begitu juga Lily.
“ Iya Kak nanti kita jadi gak bisa main boneka sama-sama. Tapi gak papa adik laki-laki juga baik nanti Lily ajarin naik sepeda ”
“ Benar adik laki-laki juga baik kan ” balas Nadia tersenyum.
“ Tentu saja sangat baik dan sudah pasti dia itu akan masuk tim kami, iya kan Kak? ” Aidan merangkul Noah dengan bangganya.
“ Iya ” jawab Noah singkat tapi bisa terlihat jelas ekspresi senang dan bangga di wajahnya.
“ Sebuah keluarga besar ya, memang sangat bagus jika sudah memiliki kakak-kakak yang sudah dewasa. Pasti nanti bayinya benar-benar dimanja dan di sayang oleh kakak-kakak nya. Selamat ya untuk keluarga kalian ”
Helena menganggukkan kepala dan tersenyum canggung setelah mendengar perkataan dokter itu dan menatap kepergian dokter itu dengan perasaan aneh. Karena Helena sendiri tidak bisa menjabarkan bisa disebut apa orang-orang di depannya. Bisakah mereka disebut keluarga oleh anaknya Adira nanti karena Adira sudah bercerai dengan Zein.
__ADS_1
Itu benar-benar membuat Helena bingung, dia berharap segera ada penyelesaian untuk masalah keluarga itu.
Happy Reading 😘