
“ Terima kasih kamu bahkan sudah berusaha tidak ingin membuatku merasa bersalah, sekarang aku sangat tahu betapa tidak bertanggung jawabnya aku ” ucap Zein lembut dan dalam kemudian dia menjauhkan tubuhnya dari Adira, rasanya sekarang dia ingin pergi menjauh sejenak dari wanita itu dan menghirup udara segar setidaknya untuk menenangkan hatinya.
“ Mas....”
Berusaha mencegah Zein pergi, dengan keadaannya sekarang Adira hanya bisa meraih ujung lengan kemeja Zein. Menggenggam erat sebisanya agar Zein setidaknya mendengarkan dia bicara.
Zein merasakan Adira yang menarik lengan kemejanya dengan perlahan Zein berbalik melepaskan tangan Adira perlahan, dapat dilihatnya ekspresi menolak dari Adira. Lalu diletakkannya dengan lembut tangan Adira di sisi ranjang itu.
“ Jangan banyak bergerak nanti infusnya naik, aku hanya akan pergi mencari udara segar sebentar ” ucap Zein.
“ Aku tidak mengizinkan Mas pergi..Se-setidaknya dengarkan aku bicara setelah itu kalau Mas memutuskan untuk pergi silakan..”
Ekspresi memelas yang ditunjukkan Adira membuat Zein mau tidak mau bertahan di sana.
“ Waktu itu harusnya aku pergi dengan Lily ke perkemahan, Mas masih ingat saat itu kan ”
Zein menganggukkan kepala cepat karena dia sendiri yang mengizinkan Adira dan Lily pergi saat itu.
“ Ternyata perkemahannya harus dibatalkan karena kemacetan parah akibat kecelakaan yang terjadi saat itu. Aku dan Lily kembali ke rumah, tak lama setelah menidurkan Lily aku kembali ke kamar dan akhirnya juga terlelap tidur.”
__ADS_1
Zein mencoba mengingat apa saja yang dia lakukan hari itu, dan ingatan saat dia mulai minum-minum sekilas mulai muncul.
“ Lalu tiba-tiba saat subuh Mas pulang...dalam keadaan sangat mabuk. Mas terus meracau kalau aku yang saat itu ada di sana hanya halusinasi saja. Berapa kali pun aku mencoba menyadarkan Mas tapi ternyata pengaruh alkohol cukup kuat ”
Adira menggigit bibirnya kuat seolah kejadian selanjutnya setelah itu sulit dikatakan.
“ Lalu akhirnya Mas melakukan itu..dalam keadaan tidak sadar sama sekali ”
Tiba-tiba kepala Zein rasanya seolah berdenyut ingatan tentang malam itu sedikit demi sedikit muncul bagai siluet bayangan tak terlalu jelas. Namun di ingatannya mulai tergambar bagaimana saat itu Adira berusaha berontak dibawah kukungannya sementara dia terus menggagahi wanita itu.
“ Aku sengaja tidak mengungkit hal itu pada Mas karena saat itu aku sudah siap untuk perpisahan kita, aku juga tidak menduga akan hamil. Aku tahu kehamilan itu hanya akibat dari kesalahan itu..tapi aku tidak ingin membunuh anakku. Bagiku tidak masalah walaupun awalnya kesalahan namun bayi ini tidak bersalah dan dia adalah hadiah yang diberikan Tuhan untukku ”
Adira menatap tak percaya Zein yang saat ini hanya bisa tertunduk di hadapannya.
“ Kamu sudah berusaha menghentikan ku..tapi aku tetap melakukan hal bejat itu padamu. Seandainya saat itu aku tersadar semua tidak akan jadi seperti ini ”
“ Mas berhenti mengatakan semua yang Mas lakukan adalah hal bejat ” suara Adira sedikit meninggi.
“ Memang saat itu memaksaku, memang saat itu sangat menyakitkan bagiku. Itu pertama kalinya bagiku tapi Mas melakukan itu saat tidak sadar itu sangat menyakitkan bagiku. Tidak hanya fisik tapi hatiku juga sakit. Tapi...saat sebagian diriku ingin berontak sebagian diriku yang lain menikmati sentuhanmu yang lembut ”
__ADS_1
“ Kepalaku rasanya ingin meledak saat itu..semuanya di penuhi pertanyaan apa karena dia tidak sadar makanya melakukan ini dengan sangat lembut? Aku berontak tapi Mas melakukannya dengan sangat berhati-hati seolah aku adalah sebuah barang yang dapat pecah kapan saja..begitu lembut sampai aku tidak ingin berontak lagi. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu adalah hal yang wajar atau tidak, karena hanya itu pengalaman yang aku punya tidur bersama lelaki. Bagiku saat itu menerima perlakuan lembut darimu membuat logikaku lenyap sama sekali..” mengucapkan semua hal itu Adira menarik napas dalam sejenak. Sementara Zein terus menatap Adira.
“ Apa karena pria ini sangat berpengalaman sebab itu tubuhku tidak bisa menolak? Apa dia juga selalu selembut ini kepada istri pertamanya atau bahkan wanita lain? Atau apakah dia membayangkan aku sebagai wanita lain? Pertanyaan itu memenuhi kepalaku sangking bingung dan canggungnya aku saat itu, tapi..saat itu Mas terus memanggil namaku seolah tidak pernah puas menyebutkannya. Entah mengapa mendengar itu hatiku dipenuhi rasa bahagia karena setidaknya kamu tidak membayangkan aku sebagai wanita lain.”
“ Bahkan di setiap desa.han napas Mas selalu memanggil namaku seakan tidak menginginkan aku pergi, terutama saat..Mas berulang kali mengucapkan mencintaiku saat itu Mas tidak tahu apa yang aku rasakan. Aku terus goyah padahal itu hanya pengakuan tidak sadar oleh Mas, tapi aku terhipnotis merasa bahwa memang benar kamu mengharapkan aku. Bagaimana aku harus menolak pria ini jika seperti ini? Apakah dia benar-benar mencintaiku? Semua perasaan itu menyerangku di saat bersamaan ”
“ Tapi tak lama aku segera tersadar bahwa kamu sangat mabuk saat itu, tidak mungkin hal itu benar. Aku tidak berani mengatakan kejadian itu padamu karena didalam diriku sudah muncul rasa takut terlebih dahulu kamu akan menganggap semua yang kamu lakukan padaku hanya kesalahan saat mabuk saja tapi...aku ingin terus membohongi diriku bahwa memang setidaknya walaupun bohong saat itu aku benar-benar berpikir bahwa kamu memang mencintaiku..aku ingin menyimpan kata-kata yang kamu ucapkan asal saat mabuk itu Mas..”
Zein langsung bergerak cepat memeluk Adira, mendekap erat wanita itu seolah dia menemukan sebagian kenangan yang hilang dari dirinya. Tubuh Adira hanya diam menegang dalam pelukan Zein.
“ Aku memang mabuk saat itu, rasa frustasi mengingat saat kamu selalu mengucapkan sudah siap berpisah begitu kesepakatan itu berakhir membuatku begitu tersiksa. Dengan perasaan walaupun kembali dalam keadaan mabuk kamu tidak akan ada di kamar karena pergi bersama Lily. Saat itu aku minum untuk menghilangkan rasa sakit yang aneh di hatiku setiap mengingatmu. Sebentar saja berpisah denganmu rasanya waktu berjalan lambat dan aku selalu mengingat bayanganmu. Karena itu saat aku melihat sosokmu yang tertidur lelap di ranjang aku pikir itu hanya halusinasiku semata. Saat itu aku sangat-sangat merindukanmu Adira, aku ingin mencegah kamu pergi tapi tidak tahu cara untuk mencegahmu ”
“ Aku sangat ingin memilikimu seutuhnya di sisiku tapi entah mengapa kenyataan saat itu terasa sangat menentang kita. Dalam pikiran yang ku lihat saat itu adalah halusinasi aku ingin memilikimu seutuhnya walaupun dalam bayanganku karena itu aku melakukannya padamu. Saat aku mengucapkan mencintaimu, itu semua bukan karena aku tidak sadar Adira. Tapi karena memang itu perasaanku yang terdalam yang hanya bisa aku ungkapkan saat itu. Aku mencintaimu..bahkan sampai saat ini aku masih sangat mencintaimu ”
Jantung Adira berdetak tak menentu mendengar ucapan Zein tapi dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
“ Aku baru sadar setelah kamu pergi bahwa aku sangat mencintaimu bahkan terlampau besar sampai aku tidak tahu harus bagaimana lagi merindukanmu..”
**Terima kasih atas dukungannya teman-teman😄 Mohon bantuannya untuk memberikan hadiah dan vote untuk meningkatkan performa novel ini ya☺
__ADS_1
Happy Reading😘**