
Adira duduk dengan meremas jemarinya sedari tadi.
“ Kamu sangat gugup ya ” ucapan Helena yang terdengar seperti sebuah pertanyaan.
Adira menggeleng pelan, bukan karena menunggu pemeriksaan yang membuat dia gugup duduk di kursi tunggu puskesmas desa ini.
“ Adira wahh lama tidak jumpa ” seru seorang wanita yang juga dengan gerakan kaku karena sedang hamil besar dan segera duduk di samping Adira.
“ Ini yang membuatku terganggu dan ingin segera pemeriksaan ini cepat berakhir ” , lesu Adira dalam hati.
“ Ahh..iya bu ” jawab Adira singkat tahu orang di sampingnya itu akan segera melontarkan ucapan-ucapan yang terkesan menilai dan tentunya menyudutkan untuk Adira.
“ Aku penasaran sekali loh kenapa suamimu belum datang juga padahal hamilmu sudah sebesar ini ” ucap wanita itu santai dengan mata menatap nanar.
“ Aku sudah menduga akhirnya dia mengeluarkan kata-kata ini lagi ”
“ Ehh..iya loh Dira suruhlah suamimu datang, masa sampai melahirkan pun suamimu tidur tidak datang? ” seorang wanita lain mulai menyahut, dengan maksud yang sama.
Gosip memang dimulai saat seseorang mulai menyindir topik itu, lalu akan ada beberapa orang lain yang bergabung untuk menjatuhkan orang yang tersandung gosip itu.
“ Suami saya terikat kontrak kerja di luar negeri, tidak mungkin aku memaksa dia meninggalkan pekerjaan ” jawab Adira menegaskan kembali.
“ Iya kami tahu kamu sudah bilang itu beberapa kali, tapi masa tidak ada liburnya. Selama kamu tinggal di sini suamimu memang tidak pernah munculkan ”
Adira menggertakkan giginya menahan amarah, kata-kata itu memang sudah keterlaluan. Tapi jika dia menunjukkan kemarahan di sini maka tujuan wanita-wanita licik itu akan tercapai.
“ Ibu-ibu mudah bilang begitu karena tidak tahu ongkos pulang dari luar negeri mahal, lagian suamiku bisa memenuhi semua kebutuhanku di sini saja sudah cukup. Dari pada aku harus memaksa dia tinggal bersama tapi biaya hidup kami kurang ” dengan sengaja Adira menyelipkan sindiran di akhir agar wanita-wanita itu sadar diri sedikit.
Mereka juga hidup bersama suaminya, tapi tidak menjalani kehidupan yang lebih baik dari Adira.
“ Gaji di luar negeri memang besar, tapi istri butuh sosok suami dan anak butuh sosok ayah. Kamu akan segera mengetahui itu nanti, uang bukan segalanya ”
Kepala Adira serasa panas mendengar perkataan itu, tidak peduli bagaimana dia berbohong tapi benar dia tidak akan bisa memberikan sosok ayah untuk anaknya. Hal itu benar-benar menusuk hatinya.
“ Uang bukan segalanya, tapi tanpa uang bisa serasa mati. Bercinta sepuasnya gak akan membuat kita kenyang ibu-ibu hahahahaha ” Helena mengucapkan itu sambil tertawa remeh di depan para wanita itu.
“ Dasar Helen..kau harus mengubah cara bicaramu yang kasar itu ” tegur wanita itu lagi karena tidak suka dengan Helena yang menghina mereka secara terang-terangan.
“ Benar ucapanmu tadi sangat frontal ” protes yang lain, yang dibalas bisikan-bisikan yang setuju.
“ Bicaraku yang kasar yang menganggu untuk kalian atau karena kata-kataku tadi benar. Lagian kalau tidak ingin di senggol jangan menyenggol duluan ” balas Helena santai lalu memberikan nomor antrian yang tadi dia ambil setelah mendaftarkan Adira.
__ADS_1
Wanita-wanita itu terdiam, sambil sesekali berbisik-bisik membicarakan Helena dan Adira.
“ Aku benar-benar tidak nyaman dengan mereka ” bisik Adira pelan pada Helena.
“ Jangan tanya aku bahkan tidak tahan jika lama-lama mendengarkan gosip-gosip itu, mereka memang kurang kerjaan ” Helena melanjutkan omelannya tentang wanita-wanita itu walaupun di ucapkan dengan pelan.
Sampai tiba saat nomor antrian Adira di panggil, Adira lalu berdiri dan melangkah masuk ke ruang pemeriksaan.
“ Hai ” sapa Derril dengan mata berbinar melihat ternyata pasien yang masuk ke ruangannya adalah Adira.
Adira membalas dengan senyuman lembut.
“ Kalau aku tahu kamu mengantri pasti aku panggil duluan tadi ”
“ Mana boleh seperti itu, Dok. Itu namanya nepotisme ”
“ Hahahaha...aku tidak pernah menang berdebat denganmu ”
Perawat yang ada di ruangan itu terpana melihat perubahan sikap dokter Derril, yang biasanya nampak ramah tapi tidak akan sampai terlalu menunjukkan ekspresi sekasual ini di depan pasien.
Dokter Derril yang dihadapannya sekarang malah tertawa dan bercanda dengan santai dengan wanita yang adalah pasiennya saat ini.
“ Kamu akan tetap melamun di sini ” suara Derril sedikit meninggi.
“ Hah? Oh..maaf Dok. Saya kurang fokus tadi Dokter bilang apa? ” perawat itu tersadar dari lamunannya.
Derril menggelengkan kepala pelan, dia memang bukan dokter yang menyukai jika stafnya tidak fokus saat sedang bertugas.
“ Bawakan jarum suntik vitamin B nya, kalau kamu tidak bisa fokus minta yang lain untuk menggantikanmu ”
Perawat itu langsung bergerak cepat begitu Derril mengulang kembali perintahnya.
Adira merasa sedikit takjub karena jarang bisa melihat Derril yang bersikap tegas dan profesional dalam bekerja, apalagi saat Derril benar-benar menegaskan jika perawat itu harus bisa fokus.
“ Permisi sebentar ya aku akan menyuntik ini tidak akan terlalu sakit ” suara Derril kembali melembut sembari dia menyingkap sedikit lengan baju Adira, menyeka lengan Adira yang akan di suntik dengan alkohol dan sesuai yang dikatakan Derril suntikan itu tidak terlalu sakit.
“ Selesai ” Derril mengungkapkan itu seakan memberi pujian pada Adira.
“ Terima kasih Dok ”
“ Sama-sama, tapi dalam beberapa hari kamu mungkin merasakan kram dan sedikit linu di bagian kaki. Bahkan bisa saja sedikit membengkak karena efek dari suntikan itu, jangan terlalu khawatir itu wajar ”
__ADS_1
Adira menganggukkan kepala pelan, dia sudah pernah menerima suntikan vitamin B sebelumnya jadi sudah sedikit mengetahui efek yang akan ditimbulkan.
Dia bangkit perlahan dari kursi dan melangkah bermaksud meninggalkan ruang pemeriksaan itu, tapi segera tangannya di raih oleh Derril.
“ Hmm..apa ada hal lain yang masih harus di periksa Dok? ” ungkap Adira terkejut karena tiba-tiba Derril menggenggam tangannya.
“ Tidak..biar aku antar sampai luar ” gelagat Derril menunjukkan kegugupan nya.
“ Aduh merepotkan Dokter saja, aku bisa sendiri Dokter ”
“ Adira ini juga demi kebaikanmu, sehabis menerima suntikan tubuh bisa bereaksi. Aku ingin memastikan kamu keluar dengan aman ” Derril berusaha mencari alasan setelah mendapat penolakan halus itu.
“ Ohh..baiklah aku jadi banyak berutang budi pada Dokter ”
“ Itukan sudah tugasku, jangan jadikan beban pikiran ”
Derril melangkah dengan semangat menuntun Adira dengan lembut, menyesuaikan dengan gerak Adira yang juga tidak secepat dirinya.
“ Wah Dokter baik sekali sampai harus diantar keluar ” seru seorang wanita langsung agar kehadiran Adira menarik semua perhatian orang-orang yang ada di ruang tunggu itu.
Helena langsung mengambil langkah cepat menghampiri Adira tak ingin kerumunan nyinyir itu mendekati sahabatnya terlebih dahulu.
“ Itulah makanya kami selalu bilang harusnya Adira datang bersama suaminya, kalau kondisi fisiknya seperti ini ”
“ Di sini tidak ada tertulis aturan pemeriksaan harus di datangi bersama suami. Jadi hentikan memberikan ultimatum seperti itu ” tegas Derril kepada para wanita itu.
“ Kalau begitu terima kasih banyak, Dok. Aku akan segera pulang ” ucap Adira pelan, lalu segera meraih ajakan tangan Helena dan berjalan beriringan bersama.
Derril memberikan tatapan tajam kepada para wanita yang tadi menyindir Adira, dia menghela napas panjang karena merasa jengkel dan segera masuk kembali ke ruang pemeriksaan.
“ Wanita itu pintar sekali meraih batu pijakan ” lontar seorang wanita dengan segaja sedikit keras agar dapat terdengar oleh Adira.
“ Yang penting itu tidak merugikan kalian sama sekali. Lain kali tolong jaga ucapan aku diam bukan berarti aku akan membiarkan kalian mengucapkan omong kosong apa saja tentangku ” Adira berbalik menatap tajam kumpulan itu.
“ Sudahlah anggap saja lalat penganggu yang suka berdengung ke sana kemari. Nyatanya cuma bisa bawa penyakit ” Helena mengajak Adira segera pergi dari sana.
Wanita-wanita itu masih menatap tidak suka ke arah mereka, tapi tidak berani bicara lagi. Karena memang bagaimana pun kita berbuat mau baik atau jahat, jika pada dasarnya mereka sudah benci. Maka akan tetap benci dan itu di dasari rasa iri.
**Jangan lupa untuk tetap like, komen, dan berikan hadiah agar performa novel ini meningkat, maaf karena udah lama gak update teman-teman🙏🏻
Happy Reading 😘**
__ADS_1