Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Lily Gak Mau Mama Kesakitan


__ADS_3

Helena kembali ke rumah masih dengan perasaan dongkol dan khawatir, dia tidak ingin memberitahu Adira bahwa mantan suaminya datang mencarinya.


Helena menatap lama Adira yang sedang duduk bersantai di depannya.


“ Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada yang salah? ” Adira menyadari tatapan berbeda Helena.


“ Hah?” Helena sedikit terkejut.


“ Ahh..tidak aku hanya sedang melamun saja tadi ” dia berusaha bersikap normal kembali.


Adira hanya tersenyum kecil mendengar itu.


“ Dira bagaimana kalau kita pindah dari desa ini? ” tanya Helena serius.


“ Pindah? Untuk apa? Maksudmu kita harus meninggalkan peternakan yang sudah kita besarkan bersama, kamu aneh sekali di sini kan sudah banyak kenangan untuk apa pindah ” Adira langsung menolak ide itu.


“ Masalahnya mantan suamimu sudah mengetahui tempat ini..aku tidak mau jika kau yang tidak ingin terlibat dengan masa lalu lagi. Malah harus kembali terseret ke dalamnya. Dari tindakan mantan suaminya aku menduga dia sudah tahu janin yang dikandung Adira adalah anaknya ” , ucap Helena dalam hati.


“ Tidak...aku pikir ada beberapa desa lain tidak terlalu jauh dari sini. Tempatnya juga sangat bagus untuk peternakan, lagian kalau memang mau pindah kita tinggal memulai bisnis barukan ”


“ Helen disini sudah cukup baik bisnis kita berjalan dengan lancar, para tetangga yang baik. Tempat yang aman apa lagi yang kurang. Aku takut jika kita pindah meninggalkan semua ini, padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di tempat baru ” Adira menjelaskan hal itu secara rinci.


“ Kamu benar, lupakan tentang ide itu aku hanya sedikit melantur tadi ” ucap Helena singkat.


Helena sudah berkeliling hampir ke seluruh penjuru desa untuk memperingatkan warga desa itu jika ada orang asing yang mencari dia dan Adira agar tidak sembarangan memberikan informasi. Tapi Helena juga tidak bisa tenang karena dia tahu mantan suami Adira juga bukan orang biasa.


~


~


~


Zein kembali ke rumahnya setelah beberapa hari perjalanan bisnis itu.


“ Lily ada dimana? ” tanyanya pada pelayan.


“ Nona Muda sedang bermain dikamarnya Tuan ” jawab pelayan itu menundukkan kepala sopan.


“ Siapa yang menemaninya di sana? ” Zein bertanya lagi.

__ADS_1


“ Nona Muda tidak ingin ada orang lain yang menemani, jadi Nona Muda bermain sendiri Tuan ”


Zein hanya dapat menghela napas berat mendengar hal itu, dia tahu putri bungsunya itu terlalu penyendiri dan juga tidak bisa dekat dengan orang lain.


“ Lily ” sapa Zein kemudian meraih tubuh kecil putrinya dan menggendong Lily karena dia merindukan Lily selama dalam perjalanan bisnis.


Dia melihat dimeja belajar alat-alat lukis dan juga sebuah kertas yang berisi lukisan yang nampak masih belum selesai. Sepertinya Lily hanya melukis sendirian di kamarnya.


“ Selamat datang Daddy ” balas Lily lembut mencium pipi Zein.


“ Kamu sedang apa? Tadi pelayan bilang kamu sedang bermain ”


“ Lily memang bermain tadi, tapi karena mulai bosan makanya Lily melukis saja ” jawab Lily polos.


“ Kamu mau Daddy panggilkan pelayan untuk menemanimu bermain ” Zein menawarkan tapi dengan cepat Lily menolak.


“ Tidak ada diantara pelayan itu yang bisa kamu sukai untuk diajak bermain? ”


Lagi-lagi dan lagi Lily menggelengkan kepalanya cepat.


“ Lily senang bermain sendiri Daddy ” ungkap Lily.


“ Apa Adira tidak pernah merindukan Lily? Bagaimana reaksinya jika seandainya dia bertemu lagi dengan Lily. Apa dia benar-benar telah melupakan semuanya? ”


“ Ya sudah bagaimana kalau melukisnya lanjutkan nanti, sekarang temani Daddy bekerja dulu ”


“ Oke Daddy ” jawab Lily riang.


Hal yang bisa dilakukan Zein untuk tidak membuat putri kecilnya yang tentu masih dalam tahap pertumbuhan mental itu terus-menerus menutup diri dan kesepian hanya dengan mengajak Lily selalu berada di dekatnya.


Zein mendekatkan kursi kecil yang ukurannya sudah disesuaikan untuk Lily ke arah meja kerjanya.


Dia mendudukkan Lily di sana, lalu dia juga duduk di kursi kerjanya.


Lily yang sudah terbiasa dan tahu apa yang akan dia lakukan bersama Daddy nya itu langsung sigap dan tidak perlu banyak bertanya.


Dia mendekatkan stempel ke arahnya lalu fokus menuangkan tinta stempel itu.


Zein akan memberikan berkas yang telah selesai dia periksa dan tanda tangani untuk di stempel oleh Lily, karena dia tahu untuk pekerjaan seperti itu Lily tentu sangat mampu.

__ADS_1


Lily juga nampak bersemangat membubuhkan stempel itu di berkas-berkas itu.


“ Daddy kata bu guru sebentar lagi Lily akan masuk ke sekolah dasar, tapi Lily gak mau kalau bukan bu guru yang mengajari. Kata bu guru nanti di sana Lily akan punya guru baru ” Lily bercerita kepada Daddynya itu dengan lembut.


“ Karena Lily sudah besar dan memang harus masuk sekolah dasar, nanti di sana juga akan bertemu guru-guru baru yang sama baiknya juga dengan gurumu ”


“ Daddy bisa gak Lily tidak masuk sekolah dasar ” pinta Lily.


Zein tersenyum lembut ke arah Lily.


“ Nanti Daddy temani Lily ke sekolah yang baru, kalau misalnya Lily tidak suka baru Daddy akan carikan sekolah lain ” Zein menyakinkan Lily.


“ Tapi kalau misalnya semuanya Lily tidak suka harus bagaimana Daddy? ” Lily menundukkan kepalanya lesu.


“ Kalau perlu Daddy bangun sekolah khusus untuk Lily dan membawa semua guru yang kamu suka untuk mengajar di sana, kenapa putri kecil Daddy ini harus bersedih ” Zein menepuk-nepuk kepala Lily.


Seketika mata Lily berbinar mendengar itu.


“ Daddy memang yang terbaik ” Lily mengacungkan kedua jempolnya kepada Zein.


Zein meraih tangan putrinya itu menyeka lembut jari-jari Lily dengan sapu tangan miliknya, karena tinta stempel yang menempel di sana.


“ Apa Lily senang sekarang? ” tanya Zein serius kepada Lily.


“ Tentu saja Daddy ” bagi Lily menjawab pertanyaan itu cukup mudah.


“ Lily tidak pernah merindukan Mama Adira? ” akhirnya Zein menanyakan pertanyaan itu setelah begitu lama waktu berlalu, dan dia tidak sekalipun pernah mengungkit tentang Adira pada anak-anak nya. Apalagi dengan Lily.


Ekspresi Lily berubah seketika, gadis kecil itu sedih tapi tidak ingin menunjukkan hal itu.


“ Tidak karena sekarang Mama Adira bukan Mamanya Lily lagi, waktu itukan Daddy sudah bilang kalau Mama Adira itu hanya di kontrak untuk tinggal dengan kita ” ungkap Lily.


“ Lily memang tidak menginginkan Mama Adira tinggal dengan kita lagi? ”


“ Lily gak mau Daddy, kalau Mama Adira hanya akan tinggal sebentar dengan kita lalu pergi lagi Lily tidak mau Mama Adira datang ” walaupun mengatakan itu nampaknya apa yang sebenarnya diinginkan Lily berbeda, karena dia menangis saat mengatakan hal itu.


Zein memapah Lily ke pangkuannya menyeka air mata diwajahnya.


“ Kalau Mama Adira harus tinggal dengan kita karena kontrak lagi nanti Mama Adira akan sakit, Mama Adira sakit sampai tidak bisa bernapas dan terus menangis karena dia kesakitan ” tutur Lily.

__ADS_1


“ Daddy jangan bawa Mama Adira ke rumah lagi, Lily gak mau Mama kesakitan ” lanjut Lily dengan wajah memohon pada Zein.


Happy Reading 😘


__ADS_2