
Dengan pelan dia membukakan pintu pagar mansion itu yang kebetulan tidak terkunci, lalu melangkah bersama Lily.
“ Mas Zein ” panggilnya begitu dia benar-benar sudah masuk ke pekarangan mansion tua.
Namun tidak kunjung ada jawaban dari panggilannya. Beberapa kali Adira juga mengetuk pintu tapi memang tidak mendapat balasan.
“ Daddy mungkin masih belum pulang dan pasti masih mencari Lily ” ucap Lily risau
“ Bisa jadi, tapi Lily tidak perlu khawatir sebentar lagi Daddy pasti pulang ”
Walaupun sebenarnya Adira juga khawatir jika Zein masih terus mencari ke sana kemari sedangkan Lily ada bersamanya.
“ Mama apa tidak bisa kita telpon Daddy saja? ”
“ Oh astaga.. ” Adira menepuk keningnya pelan merasa dirinya cukup bodoh karena baru menyadari bahwa mudah saja dia bisa menelpon Zein untuk memberitahu Lily ada bersamanya, tapi dia baru ingat cara itu setelah mendengar ucapan Lily.
Dengan cepat dia menghubungi Zein berharap pria itu menerima telponnya.
“ Halo Mas ”
“ Halo Adira ada apa? Kalau ada yang ingin kamu bicarakan bisa kita bicara lain waktu saja. Saat ini aku sedang tidak bisa bicara ”
Dari jawaban panjang dan cepat itu saja Adira sudah bisa mendengar nada risau dan panik dari Zein.
“ Tunggu dulu Mas jangan menutup telponnya, Lily ada bersamaku. Sekarang kami ada di mansion karena aku pikir Mas sudah pulang makanya aku bawa Lily ke sini ”
“ Ya Tuhan untunglah aku tidak tahu lagi bagaimana aku sudah mencari Lily ke sana kemari tadi ”
Zein nampaknya sudah bisa bernafas lega.
“ Iya Mas ” Adira menjawab singkat untuk mengonfirmasi kembali bahwa Zein tidak perlu mencari lagi.
“ Aku akan segera ke sana, tolong jaga Lily sebentar Adira. Aku akan segera ke sampai di sana ”
__ADS_1
“ Iya Mas ” kemudian Adira menutup panggilan itu.
“ Kita tunggu sebentar Daddy akan segera pulang ya ” ucap Adira pada Lily dan bisa melihat reaksi senang yang ditunjukkan anak itu.
“ Mama..apa Mama senang bertemu sama Lily lagi? ” pertanyaan Lily yang walaupun diucapkan perlahan tapi mampu membuat jantung Adira seperti menerima sebuah kejutan besar.
Dalam pikirannya dipehuhi kebingungan apa yang harus dijawabnya pada gadis kecil itu, dia tidak ingin memberikan harapan palsu atau pun kata-kata manis yang membuat anak itu berharap lebih padanya.
“ Lily.. begini Lily sendiri tahu situasinya bagaimana, Mama Adira sama Daddy sudah berpisah. Jadi...” lidah Adira benar-benar terasa keluh untuk melanjutkan ucapannya.
“ Jadi Lily tidak boleh lagi memanggil aku Mama..karena Lily ingatkan waktu itu saat Lily bilang kalau Daddy sudah mengatakan aku hanya di kontrak. Ka-karena masa kontraknya sudah habis jadi aku bukan Mamanya Lily lagi ” untuk pertama kalinya Adira harus menegaskan batasan itu pada Lily, dimana dia berharap Lily berhenti memanggilnya Mama dengan begitu mungkin akan lebih mempermudah situasi.
Lily terdiam tak menanggapi ucapan Adira.
“ Maaf ya Lily karena masalah orang dewasa, Lily harus berada di situasi yang tidak menyenangkan ini. Tapi..aku tidak bisa jadi Mama nya Lily lagi ”
“ Apa itu karena Mama Adira akan segera punya adek bayi? Jadi Lily ngak bisa jadi anaknya Mama lagi? ”
“ Tapi kalau Mama ngak bisa jadi Mamanya Lily lagi, kenapa adek bayinya bisa? Lily tahu sekarang Mama sedang mengandung adek bayi, Daddy sama Kak Noah yang bilang. Lily sedih ngak bisa manggil Mama lagi, tapi adek bayi bisa. Apa karena Lily tidak dilahirkan sama Mama Adira? ”
Adira sampai tercengang tak bisa berkata-kata mendengar ucapan Lily, bagaimana bisa anak itu menyimpulkan seperti itu. Apa yang Adira katakan malah membuat semua masalahnya menjadi bertambah rumit?
“ Kalau Lily dilahirkan sama Mama Adira pasti Lily bisa punya Mama lagi, tapi sekarang Lily ngak punya Mama lagi karena Mommy yang melahirkan Lily sudah meninggal ”
“ Lily..jangan bicara begitu Nak, biar pun Mommy sudah meninggal tapi Mommy tetap Mamanya Lily. Aku sudah pernah bilang sama Lily kan kalau Mommy pasti selalu mengawasi Lily dari atas. Jadi jangan bilang seperti itu lagi ”
“ Tapi Lily lebih suka punya Mama Adira dari pada hanya diawasi dari atas sama Mommy ” lirih Lily, yang entah mengapa mampu menusuk dalam ke hati Adira.
Ini yang dia takutkan ketika akan bertemu dengan Lily, dia akan bisa melihat lagi bagaimana gadis kecil yang haus kasih sayang seorang Ibu itu harus kehilangan lagi. Itu memberikan pukulan yang besar bagi batin Adira.
Adira tidak tahu harus mengucapkan apa untuk menentang atau memberikan kata-kata yang bisa mengubah pikiran anak itu. Dia menekuk lututnya perlahan dengan bertumpu pada lututnya akhirnya Adira dapat sejajar dengan tubuh Lily, walaupun dengan posisi yang tidak nyaman untuknya dia mendekap pelan tubuh Lily. Memeluk gadis itu, dia mengingat kembali hari-hari yang dia habiskan menangis merindukan gadis kecil itu.
Tapi sekarang begitu bertemu langsung dengan Lily, Adira bahkan merasa tidak layak menangis di depan Lily. Sementara karena tindakannya lah harus kembali mengulang rasa trauma anak itu kehilangan Ibu untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Dia sangat-sangat merindukan Lily, sangat rindu hingga rasanya dia tidak ingin melepaskan anak itu dari pelukannya.
“ Adira ”
Suara baritton yang memanggil itu membuat Adira menoleh dan melihat Zein yang sudah berjalan cepat menghampiri mereka.
Perlahan Adira melepas pelukannya dan berusaha berdiri, dia merasakan tangan Zein yang sudah merangkul bahunya hingga dengan bantuan tenaga pria itu dia dapat berdiri dengan tidak kesusahan.
“ Maka-
Belum sempat Adira menyelesaikan ucapan terima kasihnya pada Zein, dia sudah terdiam melihat tindakan pria itu.
Zein dengan cekatan menepuk-nepuk pelan lutut Adira membersihkan bekas debu yang tertempel disana setelah Adira tadi menggunakan lututnya sebagai tumpuan.
“ Makasih sudah menjaga dan mengantarkan Lily kemari, maaf sudah terus merepotkanmu. Aku juga sangat ceroboh tadi sampai bisa membiarkan Lily terpisah dariku padahal tempat ini masih asing baginya ”
Adira masih belum bisa menangkap semua kata-kata yang diucapkan Zein karena tubuhnya masih membeku akibat tindakan Zein tadi, dan betapa pria itu masih nampak biasa saja.
“ Lily maaf ya Daddy tidak sengaja tadi, tapi lain kali kalau ingin pergi Lily harus izin dulu sama Daddy ya. Daddy takut sekali tadi ” Zein langsung mengendong Lily setelah mengucapkan kata-kata itu, nampak Lily yang membalas kata-kata Daddy nya dengan anggukan pelan.
“ Ayo masuk ” ajak Zein pada Adira begitu membukakan pintu mansion itu.
“ Ya? ah..tidak Mas aku akan langsung pulang saja. Lagian sudah terlalu lama pergi sepertinya Helena sudah mencariku ” tolak Adira cepat dan segera menjauh untuk melangkah pergi.
Tapi dengan cepat juga Zein menahan tangan Adira.
“ Aku mohon setidaknya sebagai rasa terima kasih karena sudah menolong anakku tadi, biarkan aku menjamu mu walau hanya secangkir teh. Aku mohon sebentar saja ”
**Semoga suka sama ceritanya 😄
Jangan lupa like, komen, dan kasih vote sama novel ini ya teman-teman makasih banyak atas dukungannya 😁
Happy Reading 😘**
__ADS_1