Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Perlakuan Baik dan Perhatian


__ADS_3

Menjelang malam hari Adira membuka matanya, ketika melihat sekeliling dia bisa melihat Zein yang nampaknya sedang berbincang-bincang dengan Lily.


Adira ingin menegakkan tubuhnya setidaknya sedikit dia mencoba menopang tubuhnya dengan siku.


“ Awww..” ringisnya tak di sangka bahkan rasa sakit pada tangannya akan langsung terasa walau digerakkan sedikit saja.


Zein terkejut mendengar suara ringisan Adira secepatnya dia menuju ranjang. Meraih pundak Adira dan membantu dia menegakkan tubuhnya.


“ Makasih Mas ” ucap Adira setelah rasanya tubuhnya sudah dalam posisi yang nyaman.


“ Apa kau tidak bisa meminta tolong terlebih dahulu, sesusah itu hanya untuk mengatakan kau butuh bantuan ” keluh Zein karena merasa Adira sama sekali tidak mau menerima bantuannya.


“ Aku hanya tidak ingin menganggu tadi Mas sama Lily lagi asik mengobrol ”


“ Lain kali jangan melakukan hal itu lagi kalau masih sakit minta bantuan saja ”


Lily berjalan pelan menghampiri Adira, pipi anak itu sudah dibanjiri air mata. Adira terkejut sekaligus ikut merasa sedih melihat tangisan Lily.


“ Lily...jangan nangis Nak ” ucap Adira sendu.


“ Hikss...Mama...kenapa Mama sakit hikss Lily sedih kalau Mama sakit ” Lily menangis tersedu-sedu. Membuka lengannya sedikit mengiring Lily ke pelukannya, Adira memeluk Lily mengelus punggung gadis kecil itu untuk menenangkannya.


“ Lily sayang Mama Adira masih sakit jangan dipeluk dulu ” larang Zein takut Lily membuat Adira kesakitan, perkataan Zein itu malah membuat Lily semakin menangis kencang.


Adira menatap Zein dan menggelengkan kepala melarang Zein untuk mengatakan hal itu lagi.


“ Mama baik-baik saja Lily jangan nangis lagi atau Mama juga akan menangis ” bujuk Adira.


“ Hiks..Ma, Lily janji gak akan nakal Mama gak boleh sakit hiks ”


“ Siapa bilang Lily nakal...Lily putri yang paling baik yang Mama punya ” Adira mengusap air mata di wajah Lily dengan lengan bajunya.

__ADS_1


“ Udah ya Mama akan senang kalau Lily tersenyum tapi kalau Lily nangis Mama malah lebih sedih, jadi Lily harus tersenyum ” Adira tahu anak itu masih belum terlalu mengerti kejadian yang menimpa Adira, dia pasti berpikir karena dia nakal maka Adira akan sakit.


Perlahan tangis Lily mereda dia mulai nampak lebih tenang.


“ Tadi Lily jalan-jalan sama Kak Nadiakan, bagaimana jalan-jalannya? ” Adira mencoba mengalihkan perhatian Lily dan berusaha tidak menunjukkan rasa sakitnya.


“ Kami pergi ke taman bermain, Mama tahu Kak Nadia menemani aku bermain seluncuran lalu membelikan es krim juga ” cerita Lily masih dengan suara parau khas habis menangis.


“ Woww itu pasti sangat menyenangkan ” Adira tersenyum lalu terus mendengarkan Lily yang melanjutkan ceritanya.


Zein mendekatkan kursi rias Adira ke ranjang dan mendudukkan Lily di kursi itu. Dengan begitu Zein lebih tenang jadi mereka berdua bisa bercerita tanpa perlu takut Lily akan tanpa sengaja menyentuh luka Adira.


Sesekali Zein juga ikut tertawa mendengarkan anak gadis kecilnya itu berceloteh seakan tak kenal lelah. Dia kagum bagaimana Adira bisa membuat Lily yang biasanya tidak akan mau bicara banyak pada orang lain menjadi mau bercerita panjang lebar dan sangat antusias.


Sewaktu Adira masih tertidur Zein berusaha menjelaskan keadaan Adira pada Lily, tapi Lily sangat sedih tidak peduli apa yang dikatakan Zein anak itu tetap bersedih. Dan itu terbukti bagaimana Lily menangis setelah Adira bangun.


Tapi sekarang Lily malah sudah tertawa menceritakan perjalanannya tadi.


Cukup lama mereka berdua bercerita sampai akhirnya Zein membujuk Lily untuk kembali dan tidur di kamarnya. Untungnya setelah diberi pengertian Lily menurut.


“ Kau makan dulu ” ucap Zein mendekat ke arah Adira.


Adira menjawab dengan anggukan, menahan sakit dia mengangkat tangannya untuk menerima nampan itu dari Zein. Tapi Zein tak menghiraukan hal itu dia malah duduk di kursi rias itu tepat disebelah Adira.


“ Tanganmu masih sakit bagaimana kau bisa memegang nampan ini ”


Adira sebenarnya membenarkan ucapan Zein.


“ Buka mulutmu ” ucap Zein sembari menyodorkan makanan di sendok itu.


Adira mengernyit dahinya canggung karena Zein sampai menyuapi dia.

__ADS_1


“ Tanganku pegal cepat buka mulutmu ” ulang Zein kali ini sedikit tegas. Adira membuka mulutnya, memperhatikan Zein dengan telaten memisahkan duri ikan itu dari dagingnya dan menaruh itu di nasi yang akan disuapkan pada Adira.


“ Ikan ini mengandung banyak kolagen, katanya itu bagus untuk penyembuhan luka ” jelas Zein. Adira menerima suapan demi suapan yang diberikan Zein tanpa protes. Tanpa ragu Zein mengusap sudut bibir Adira yang terkena sedikit saus ikan itu.


Adira terkejut dengan tindakan Zein sampai tubuhnya seketika membeku, ketika wajah Zein sangat dekat dengan wajahnya fokus menatap bibir Adira.


Pria itu nampak sangat tenang dan tidak ada rasa ragu atau gugup sama sekali di ekspresinya.


“ Kau masih mau makan lagi? ” tanya Zein karena makanan di piring itu sudah habis.


“ Ehh..tidak Mas ” Adira menjawab dengan sedikit terbata.


“ Minumlah dan ini obatmu ”


Adira meraih gelas yang dipegang Zein, tapi Zein sama sekali tidak melepaskan gelas itu melainkan menuntun Adira untuk minum lalu menyodorkan obat yang akan ditelan Adira dengan tangannya sendiri.


Perhatian dan perlakuan ini membuat Adira salah tingkah dan bingung di waktu yang bersamaan. Apa wajar Zein sampai memperlakukan dia seperti ini? Atau itu hanya karena rasa simpatinya kepada orang yang sedang sakit? Hati Adira bertanya-tanya.


“ Apa kebetulan kau memiliki musuh atau pernah terlibat masalah dengan seseorang yang membuat orang itu membencimu? ” tanya Zein sembari merapikan peralatan makan itu dan meletakkan di atas meja menunggu saat dia akan memanggil pelayan untuk membawanya.


“ Tidak Mas aku tidak pernah punya masalah seperti itu ” jawab Adira jujur, karena selama hidupnya masalah paling besar yang terjadi adalah saat dia harus menikah dengan Zein pria yang baru dia temui untuk pertama kalinya tapi hanya dalam hitungan jam sudah menjadi suaminya.


Zein masih nampak tidak tenang mendengar jawaban Adira dia sedikit kurang nyakin. Jika bukan musuh atau seseorang yang membenci Adira lalu siapa? Apa itu musuh Zein? Lalu mengapa Adira harusnya jika itu musuh Zein orang itu dapat langsung menyerang Zein.


“ Ada apa Mas? Apa ada seseorang yang menganggu? Itu bukan orang tuakukan, mereka tidak kembali dan menganggu Mas kan? ” ungkap Adira panik jika ternyata maksud perkataan Zein adalah karena dia kembali mendapatkan gangguan dan teror dari orang tuanya.


“ Kau berpikir terlalu jauh. Aku tidak pernah mengatakan hal mengenai orang tuamu ” bantah Zein tak menyangka Adira akan menduga seperti itu.


“ Aku takut Mas Zein didatangi oleh orang tuaku, bisa saja mereka masih merasa kurang puas dan memanfaatkan Mas untuk mendapatkan uang. Jika bukan karena itu mengapa Mas menanyakan tentang musuhku ” Adira menjelaskan kekhawatiran dan juga sebagian dari rasa takutnya selama ini.


“ Itu hanya pertanyaan biasa ” elak Zein karena menurutnya tidak baik memberitahu motif penyerangan itu pada Adira.

__ADS_1


“ Hmm...baguslah. Aku harap jika suatu saat nanti orang tuaku tiba-tiba datang dan meminta uang dari Mas, tolong jangan menuruti keinginan mereka ” pinta Adira.


Happy Reading😘


__ADS_2