
Tidak seperti dugaan Adira ternyata pemeriksaan yang dilakukan dokter itu tak memakan terlalu banyak waktu seperti saat mereka di rumah sakit dimana harus banyak melewati proses pemeriksaan yang panjang dan lumayan memakan banyak waktu. Hari itu dokter hanya melakukan kontrol berat badan kepada bayinya dan memeriksa seberapa jauh pemulihan luka operasi Adira setelah itu dokter itu pergi.
Adira memiliki banyak waktu bersantai dengan menikmati waktu menonton drama yang akhir-akhir ini dia sukai di kamarnya. Sementara saat itu Nadia sedang mengerjakan perbaikan naskah drama yang akan segera dia tampilkan. Dan tak terasa ternyata hari yang tadinya pagi sudah berganti sore hari.
Mematikan TV di depannya Adira meregangkan otot sebentar karena lama hanya dalam posisi duduk.
“ Nad, aku akan mandi dulu. Tolong jaga adikmu sebentar ya ”
Nadia menjawab cepat dan kembali fokus ke laptopnya lagi. Adira melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, meskipun belum bisa melakukan hal-hal berat tapi untuk hal-hal kecil Adira bisa melakukannya sendiri.
~
~
~
Kritt!!!
Nadia menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka dan menunjukkan sosok Aidan.
“ Nad, Nona A dimana? ”
Nadia sudah menduga Noah akan menanyakan hal itu dia menunjuk ke arah pintu kamar mandi, Aidan manggut-manggut tanda mengerti.
“ Eitss..jangan ganggu adik bayinya dia sedang tidur. Kalau terbangun nanti terus nangis Nona A sedang mandi, jangan menyusahkan Kak Aidan ” Nadia menekankan hal itu dengan nada mengancam melihat Aidan yang mendekati box bayi.
“ Iya, aku kan cuma mau melihat saja. Wow..setiap hari aku selalu kaget melihat perubahan adik bayi. Lihat saja hari ini dia bahkan tidur begitu imutnya aduh..aku ingin menggigit pipinya ”
“ Hmm tadi katanya cuma mau lihat. Nanti kalau Nona A marah baru tahu rasa ”
Aidan memanyunkan bibirnya tahu perkataan Nadia benar dan dia akhirnya memutuskan untuk pergi dari kamar itu. Membuka pintu pelan dan keluar, Nadia melirik ke arah Noah dan tertawa kecil melihat itu.
Kritt!!
Tak berapa lama suara pintu kembali terdengar.
“ Kak Aidan...” desis Nadia kesal karena merasa Aidan masih dengan sikap jahilnya. Padahal Nadia sudah memperingatkan untuk tidak berisik.
“ Aidan? Apa ada masalah dengan Aidan? ”
__ADS_1
“ Oh ternyata Daddy, bukan Dad tadi aku pikir yang masuk kak Aidan lagi. Soalnya dia baru saja datang ke sini tadi. Rapatnya sudah selesai? ”
Zein menganggukkan kepala, Nadia memberitahu Daddy nya Adira sedang mandi setelah melihat gelagat Daddy nya yang kecarian.
“ Bagaimana pemeriksaan dokternya tadi? ” tanya Zein.
“ Semuanya baik-baik saja, Dad. Dokter bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan apalagi katanya itu hanya kontrol kesehatan saja. Untuk jadwal pemeriksaan berikutnya dokter itu bilang akan menghubungi Daddy lagi. ”
“ Baguslah kalau begitu. Kamu sedang mengerjakan sesuatu ”
“ Hanya memperbaiki naskah untuk drama nanti. Daddy mau coba lihat ”
Zein mendekat dan membaca seksama naskah yang ditampilkan di laptop Nadia.
“ Kerja bagus naskahnya sangat menarik, setelah membacanya Daddy tidak sabar melihat dramanya nanti ” Zein mengelus kepala Nadia sebentar.
“ Makasih Daddy ” Nadia tersenyum puas mendengar pujian Daddynya.
“ Daddy bilang tidak sabar melihat dramanya, apa jangan-jangan Daddy mau datang menonton musikalku. Ah..Nadia tidak boleh terlalu banyak mengharap ”
“ Bagaimana dengan perkembangan universitas yang ingin kamu tuju, sudah yakin ingin mengambil jurusan seni ” lanjut Zein.
“ Tentu saja kamu bebas memilih ingin melakukan apa pun yang kamu suka, selama itu untuk tujuan yang baik. Daddy akan carikan tempat akademik akting yang mungkin bisa kamu ikuti sampingan selama kuliah nanti ”
“ Makasih Daddy ” Nadia senang karena ternyata Daddynya juga mendukung keinginannya apalagi mengikuti akademik akting memang sesuatu yang dibutuhkan Nadia.
Berbeda dengan Adira yang membuka pintu kamar mandi dengan pelan, melangkah sedikit canggung begitu melihat Zein yang sudah berada di kamarnya. Apalagi nampak sedang berbincang serius dengan Nadia.
Dengan sedikit membatuk sengaja agar kedua orang itu melihat keberadaannya Adira melangkah menuju meja riasnya. Setidaknya untuk menyisir dan memakai krim wajahnya.
“ Nona A sudah selesai mandi rupanya ” seru Nadia begitu melihat Adira.
“ Iya, tidak perlu merasa terganggu lanjutkan saja pembicaraan kalian ”
“ Kami hanya membicarakan tentang universitas dan jurusan yang akan Nadia ikuti. Bagaimana harimu? ” Zein melangkah mendekat ke arah Adira dan bersandar santai ke meja rias wanita itu hingga dia tepat di depan Adira.
“ Baik semuanya berjalan lancar, Nadia juga banyak membantu aku juga jadi bisa punya banyak waktu bersantai ”
“ Aku tidak melakukan apa-apa kok ” balas Nadia salah tingkah karena Adira memujinya.
__ADS_1
“ Mas sendiri bagaimana urusan di kantor berjalan baik ”
Zein mengangguk sembari mengerutkan keningnya.
“ Lancar walau sedikit memakan waktu. Noah menangani semua dengan baik ”
“ Karena kita semua sudah berkumpul mari makan bersama. Kebetulan Noah juga ikut pulang bersamaku tadi ”
“ Yang benar Dad? Wah..ayo kalau begitu. Nona A aku kembali ke kamarku dulu ya setelah mandi aku akan segera turun ke meja makan ” tanpa menunggu jawaban Nadia membereskan laptopnya dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Adira tak bisa menahan untuk tidak tertawa melihat semangat gadis itu. Begitu juga Zein yang menunjukkan keterkejutan melihat Nadia yang begitu semangat.
“ Kak Aidan berhenti bermain game kalau sudah mandi segera turun ke meja makan. Daddy bilang kita makan malam bersama ” cerocos Nadia begitu dia membuka pintu kamar Aidan tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kemudian ditutup dengan begitu cepat karena Nadia yang kembali melanjutkan langkahnya dia hanya ingin memberitahu kakaknya itu saja.
“ Apa? ” Aidan yang masih belum mencerna informasi itu. Tapi setelah berpikir sedikit lama dia akhirnya segera mematikan gamenya dan berlari ke kamar mandi.
~
~
~
Dengan cepat mereka semua sudah berkumpul di meja makan itu duduk di kursinya masing-masing. Aura semangat yang menggebu-gebu memancar kuat dari Aidan dan Nadia, Lily yang ceria dan Noah yang selalu tenang tak terpengaruh dengan sekitarnya seperti biasa.
Mereka menyantap makanan itu dengan sedikit perbincangan ringan di sela-sela makan.
“ Daddy kapan akan memberikan sebuah nama pada adik bayi. Memanggil adik bayi memang sangat bagus, tapi tidak mungkinkan kita terus memanggilnya begitu ” saran Aidan.
Noah segera membenarkan hal itu, Adira juga nampak mulai memikirkan hal itu.
“ Benar juga padahal sudah lewat hampir 2 minggu setelah dia di lahirkan ” tutur Zein.
“ Mas sudah punya nama yang dipikirkan untuk nya ”
“ Kamu yang harus memberi dia nama ” tukas Zein pasti setelah berpikir sejenak.
“ Aku? ” mata Adira sedikit membulat tak percaya.
Happy Reading 😘
__ADS_1