Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Bulan Madu


__ADS_3

Akhirnya Adira bisa bernapas lega saat mereka sudah kembali pulang ke mansion. Tapi belum sempat Adira memasuki kamarnya di langsung di cegat oleh Aidan dan Nadia.


“ Ada apa? Kenapa kalian berlari tiba-tiba seperti itu? ” tanya Adira bingung.


“ Eitss....jadi Mama mau kembali ke kamar begitu saja ” halang Nadia.


“ Tentu saja aku mau ke kamar untuk istirahat lumayan melelahkan setelah acara tadi, sebaiknya juga istirahat sana ke kamar kalian ”


“ Mana boleh begitu Mama sama Daddy sudah harus berangkat bulan madu bersama dong ”


Aidan dan Nadia serentak mengandeng tangan Adira membawanya pergi begitu saja.


“ Bu-bulan madu apa maksud kalian? ”


Tapi Adira yang kebingungan tak di hiraukan oleh kedua orang itu mereka malah bergerak lebih cepat.


Ketika sampai di depan pintu Adira dapat melihat Zein yang sudah berdiri menunggu di depan pintu dengan sebuah koper di sampingnya.


“ Ini sebenarnya ada apa sih Mas? ” ujar Adira begitu lengannya di lepas oleh Aidan dan Nadia.


“ Aku sudah menunggumu kalau begitu ayo kita pergi ” ajak Zein dengan santainya, Adira langsung memundurkan tubuh menjauh.


“ Tunggu sebentar maksud Mas kita akan pergi bulan madu, lalu nanti Ziel bagaimana? ”


Adira menunggu jawaban dari orang-orang itu.


“ Kami akan menjaga Ziel selama Daddy dan Mama pergi ”


Adira geleng-geleng kepala mendengar perkataan yang diucapkan begitu santai oleh Aidan.


“ Bagaimana mungkin aku meninggalkan bayi yang baru berusia tiga bulan itu. Bukannya tidak percaya kepada kalian tapi kalian kan tahu sendiri Ziel masih butuh ASI jadi tidak mungkin meninggalkan dia ”


“ Tapi sebelumnya kamu kan sudah punya banyak persediaan ASI itu cukup bahkan sampai kalian pulang nanti ” tambah Helena yang tiba-tiba nimbrung di tengah-tengah mereka.


Adira mendekat ke arah Zein.


“ Apa ini tujuan Mas makanya menyuruh aku memompa ASI banyak-banyak beberapa hari ini ” bisiknya pelan.


“ Iya karena memang kita juga butuh waktu menghabiskan waktu berdua ”

__ADS_1


Adira tetap tak goyah dan tetap menolak gagasan itu.


“ Kenapa Dira? Pergilah hanya seminggu saja aku akan menjamin Ziel akan aman, lalu kamu kan bisa menelpon setiap hari kemari untuk melihat keadaan Ziel. Jadi pergi saja ya..” bujuk Helena.


“ Gak gitu Helen bagaimana nanti kalau Ziel rewel biasanya anak bayi itu tidak bisa jauh dari ibunya ”


“ Itu mungkin biasa kalau untuk bayi lain, tapi kamu kan tahu sendiri betapa Ziel itu bukan bayi yang rewel karena di tinggal. Dia malah cukup tenang asal di beri ASI yang cukup terus waktu tidurnya tidak terganggu. Aku akan menjaga dan mengurus semua keperluan Ziel selama kamu pergi jadi jangan khawatir kamu pergi ya kasihan loh suamimu sudah merencanakan hal ini dari jauh-jauh hari ”


“ Mas Zein pasti mengerti dengan baik alasan kenapa aku menolak untuk pergi..”


“ Oh gitu ” Helena manggut-manggut lalu menunjuk ke arah Zein.


“ Kamu tidak lihat ekspresi kecewa yang begitu jelas dari wajahnya. Pergilah ini juga demi kebaikan kalian berdua, pasangan itu juga butuh waktu berdua agar memperkuat keharmonisan kalian ”


Adira memang merasakan juga kekecewaan yang di tunjukkan Zein dan anak-anak. Itu membuatnya tidak tega. Akhirnya dengan tidak enak hati dia menyetujui untuk pergi.


Tanpa perlu menyiapkan apa pun karena semua keperluannya sudah di siapkan oleh mereka. Adira dan Zein berpamitan sebentar, Adira mencium lembut pipi Ziel yang sedang tertidur di stroller itu.


“ Kalau begitu kami pergi dulu, kalian janji ya akan menjaga Ziel dengan baik. Aku akan telepon tiap hari ” ucap Adira.


“ Tenang saja Mama kami akan menjaga adik Ziel dengan baik ”


Noah menganggukkan kepala pelan.


Zein membukakan pintu mobil untuk Adira, lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil itu. Zein yang mengendarai mobil itu sendiri, Adira melambai sebentar begitu mobil itu sudah melaju pergi.


“ Ayo dong sayang jangan murung begitu anak-anak pasti baik-baik saja ” pinta Zein, Adira melirik ke arah Zein dengan sedikit malas.


“ Janji ya kita hanya pergi seminggu aku tetap tidak tenang pergi lama-lama Mas ”


“ Iya hanya seminggu tapi kamu juga harus janji dalam seminggu ini kamu harus berbahagia dan fokus pada bulan madu kita ” Zein tersenyum nakal.


“ Ihh..aku geli tahu Mas pakai bulan maduan segala, seperti kita memang pasangan baru menikah saja. Anak saja udah 5 ” Adira mengedikkan bahunya.


Zein hanya tertawa mendengar ocehan istrinya itu. Tanpa terasa mereka tiba di bandara dengan menaiki pesawat pribadinya mereka segera menuju Negara S destinasi bulan madu yang sudah di pilih sendiri oleh Zein.


Karena memang kelelahan Adira hanya tertidur selama dalam penerbangan. Sampai mereka tiba pun Adira masih tertidur.


“ Sayang..”

__ADS_1


“ Sayang apa kita akan bulan madu di pesawat ini saja, kamu masih belum bangun ”


Zein asik memainkan ujung rambut Adira yang dia pilin menggunakan jarinya.


“ Ehmm..apa sih Mas? ” lenguh Adira masih setengah sadar dan enggan untuk membuka matanya.


Cup!


Zein mencium pipi Adira tidak tahan melihat betapa menggemaskan istrinya itu.


“ Jahil sekali ih..”


Adira mengusap pipinya sambil menegakkan kepalanya menatap Zein.


“ Kamu pasti kelelahan sekali ya, kasihan nya istriku sekarang kita lanjutkan ke penginapan aku akan memberikan banyak waktu istirahat untuk istriku yang cantik ini ”


Adira menganggukkan kepalanya, masih dengan keadaan setengah mengantuk dia turun dari pesawat bersama Zein dan melanjutkan perjalanan mereka.


Adira mengusap-usap pelan matanya untuk menghilangkan kantuknya. Dia memperhatikan jalanan dari balik jendela, sambil sesekali memandangi Zein yang fokus mengemudi.


Sedikit mengesankan bagi Adira karena bahkan saat mereka sudah di luar negeri pun Zein tetap percaya diri mengendarai mobil itu sendiri layaknya sudah familiar dengan tempat itu.


“ Wah..pegunungan di sini bagus sekali ” pujian itu meluncur begitu saja ketika mata Adira menyaksikan pengunungan hijau yang mereka lewati nampak sangat hijau berpadu dengan warna putih salju yang menghiasi puncak pengunungan itu.


Musim di negara S memang di waktu pergantian musim dingin menuju musim panas, tidak di sangka saat itu akan nampak pemandangan yang sangat indah itu.


“ Kamu suka? ”


“ Suka sekali Mas ini menyegarkan sekali walaupun sudah lama tinggal di desa bersama Helena, rasanya di sini lebih menyegarkan. Coba lihat sungai itu Mas ya ampun bagusnya ”


Zein tersenyum melihat istrinya menikmati perjalanan itu, dia sebenarnya juga takut Adira tidak akan menikmati waktu bulan madu mereka karena khawatir terhadap anak-anak.


Tapi sepertinya Zein tidak perlu khawatir tentang hal itu lagi. Hingga dia yakin membawa Adira bulan madu adalah pilihan yang tepat karena dia juga ingin membawa Adira liburan memberikan lebih banyak waktu untuk Adira bersantai.


Zein meraih tangan Adira dengan sebelah tangannya dan tak henti-henti menciumi punggung tangan Adira.


Adira yang melihat itu hanya menanggapi dengan senyuman dia sangat bahagia bisa merasakan cinta yang begitu besar dari suaminya.


Jangan lupa untuk like, komen, hadiah dan terus vote novel ini teman-teman terima kasih banyak 😁

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2