Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Melanjutkan Hidup


__ADS_3

Enam bulan kemudian...


“ Kamu nyakin akan mengantarkan ini semua sendiri? Biar aku mengantarkanmu kalau sudah kembali dari peternakan ” bujuk Helena lagi tidak tega Adira yang sudah menginjak usia kandungan tujuh bulan itu harus pergi membawa keranjang penuh susu itu sendirian.


“ Tidak masalah aku akan pergi sendiri saja, nanti kalau menunggu kamu pulang. Kita bisa terlambat lagi seperti kemarin. Aku tidak mau sampai di sana saat kantor pengiriman sudah tutup, nanti pesanan susunya malah lebih terlambat ” jelas Adira karena selama enam bulan yang lalu usaha pemerahan susu milik Helena berkembang pesat sampai mereka sudah melakukan pengiriman susu murni ke kota, untuk selanjutnya di kirim ke daerah pedesaan lain.


“ Tapi aku gak tega membiarkan kamu pergi sendiri, nanti kalau terjadi sesuatu bagaimana ” Helena masih sama cemasnya, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan memerah susu di peternakan begitu saja.


“ Tenang saja lagian aku hanya membawa ini, nanti setelah sampai di kereta maka tidak akan terlalu berat lagi ” balas Adira tenang.


Helena mengatupkan mulutnya masih tidak rela tapi tak bisa berbuat apa pun.


“ Tahan sebentar lagi ya nanti kalau aku sudah menemukan orang yang mau bekerja untuk mengantarkan susu kamu tidak perlu melakukan pekerjaan ini lagi ”


“ Iyaa aku tahu itu ” Adira hanya bisa tersenyum melihat betapa sahabatnya itu bersungguh-sungguh dengan janjinya. Tapi memang bukan karena keinginan Helena membiarkan Adira masih mengerjakan pekerjaan itu, hanya saja sampai saat ini mereka belum menemukan orang yang mau bekerja mengantarkan susu-susu itu.


Helena mengangkat keranjang susu itu ke atas delman yang akan mengantarkan Adira ke stasiun kereta. Adira naik dengan sedikit usaha karena harus menaiki kursi penumpang delman yang lumayan tinggi.


“ Pak nanti sampai di stasiun tolong bantu mengangkatkan keranjang susunya, aku akan memberi bayaran lebih ” ucap Helena kepada kusir delman itu.


“ Oke kalau gitu aman ” jawab si kusir cepat.


Adira melambaikan tangan kepada Helena karena delman itu sudah mulai melaju. Desa itu memang tidak ada kendaraan seperti angkot atau becak yang bisa mengantarkan menuju stasiun, karena desa itu memang masih benar-benar desa yang murni dari hiruk pikuk kota.


Bahkan warga sekitar juga hanya beberapa orang yang memiliki sepeda motor. Biasanya para warga di sini akan mengendarai gerobak yang diikatkan pada kerbau atau sapi milik mereka.


Setelah hampir setengah jam perjalanan Adira akhirnya tiba di stasiun. Kusir itu bergerak cepat membantu Adira turun kemudian membawakan keranjang susu itu.


“ Letakkan di sini saja Pak, kereta masih akan datang setelah 10 menit lagi. Biar aku saja yang membawanya nanti ” Adira tidak ingin merepotkan kusir itu sampai harus menunggu kedatangan keretanya.


“ Gak papa Neng, biar bapak saja yang angkat nanti mana tega bapak kasih Neng ngangkat keranjang berat ini. Udah santai aja kita tunggu keretanya datang ” balas kusir itu lembut dengan logatnya yang khas.


“ Aduh...aku malah merepotkan bapak ” Adira merasa tidak enak.


“ Tidak repot sama sekali..” kusir itu menjawab dengan tersenyum kepada Adira.

__ADS_1


Adira bersyukur setidaknya begitu kereta keberangkatannya tiba kusir itu mengangkatkan keranjang itu dan mencarikan tempat duduk yang nyaman untuknya.


“ Makasih banyak Pak ” ucap Adira tulus pada kusir itu.


“ Iya hati-hati ya Neng ” balas si kusir kemudian turun dari kereta itu.


Adira menikmati perjalanan itu dengan memandang ke arah luar jendela kereta, sebenarnya akhir-akhir ini karena pesanan susu ke kota meningkat dia menjadi sering bolak-balik ke kota.


Setelah tiba di stasiun kota tujuannya Adira mengangkat keranjang itu walaupun sedikit bersusah payah karena perutnya yang membesar sedikit mengurangi ruang gerak Adira.


“ Huffttt..” hela Adira menyeka keringatnya ketika akhirnya dia bisa turun dengan selamat dari kereta itu.


Lalu Adira menaiki ojek menuju kantor pengiriman, setibanya di sana dia tinggal menyelesaikan beberapa berkas pengiriman alamat tujuan, setelah menyerahkan susu-susu itu maka pekerjaannya sudah selesai.


Karena sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu bagi Adira itu bukan lagi pekerjaan yang sulit untuk dilakukan.


Tiba-tiba ponsel Adira berdering, dia segera meraih ponsel itu dari tas tangannya lalu setelah mengetahui nama yang tertera di sana, dia menjawab panggilan itu.


“ Halo dokter Derril ” sapa Adira pertama.


“ Tidak, Dok ”


“ Baguslah aku dengar dari Helena sekarang kamu lagi di kota, apa pengiriman susunya sudah selesai. Bagaimana jika aku menjemputmu dengan motor? ” tawar Derril.


“ Tidak perlu, Dok. Aku bisa pulang sendiri lagian pekerjaannya sudah selesai. Aku akan segera pulang setelah ini ” tolak Adira halus.


“ Hmm..baiklah kalau begitu, kamu hati-hati ya dalam perjalanan. Kalau terjadi sesuatu kamu langsung kabari aku akan ke sana secepatnya ”


“ Iya dokter terima kasih untuk tawarannya ” Adira menjawab kemudian panggilan itu diakhiri oleh Derril.


Adira sebenarnya bisa menyadari perlakuan dan sikap Derril yang berbeda kepadanya. Tapi dia tidak ingin seakan-akan memberi harapan untuk pria itu karena saat itu hatinya belum siap untuk memulai atau menerima cinta yang baru.


Fokus Adira saat ini adalah anak yang dikandungnya, waktu sudah berlalu tidak sama seperti saat itu Adira tidak lagi menangisi masa lalunya. Dia hanya memilih untuk terus melanjutkan hidup.


Baginya saat ini sudah cukup dia bisa hidup dengan baik dan bahagia dengan Helena sembari menantikan kelahiran anaknya.

__ADS_1


Adira memutuskan untuk berkeliling di sekitar kota sebentar, karena dia pikir ingin membeli beberapa kebutuhan untuk persiapan melahirnya.


Adira berjalan di mengelilingi pusat perbelanjaan, mencari barang yang dia inginkan.


“ Ini manis sekali ” guman Adira pelan memegang sebuah topi bayi di tangannya.


“ Aku beli saja nanti aku akan tunjukkan pada Helena, dia pasti suka melihat ini ” girang Adira memutuskan untuk membeli topi itu, lalu dia juga mengambil beberapa baju bayi, sarung tangan bayi dan beberapa popok kain untuk bayi.


“ Usia kandungan ibu sudah berapa bulan? ” tanya kasir itu pada Adira saat dia menyerahkan belanjaannya.


“ hampir genap tujuh bulan ” jawab Adira.


“ Tinggal dua bulan lagi bayinya akan segera lahir, ibu tidak ingin membeli gurita kain sekalian? ” kasir itu menunjuk ke arah gurita kain itu berada.


Adira melihat sambil mempertimbangkan lagi.


“ Ibu juga perlu membeli perlengkapan untuk ibu sendiri bukan hanya untuk bayinya, mengikat perut dengan gurita saat baru melahirkan akan membantu pemulihan ” jelas kasir itu.


Sejujurnya Adira kurang tahu tentang itu, tapi dia akhirnya menyetujui perkataan kasir itu dan membeli dua buah gurita kain itu.


“ Terima kasih sudah belanja di sini bu ” ucap kasir itu menyerahkan belanjaan Adira setelah dia selesai membayar semua belanjaan itu.


Adira berjalan sebentar ke arah pusat makanan karena dia merasa lapar.


“ Aku sebaiknya makan apa ya? ” tanya Adira berbicara sendiri.


Karena terlalu fokus dengan menu yang tertera di depannya Adira tidak terlalu memperhatikan saat beberapa orang tiba-tiba lewat bersamaan, hingga membuat posisi Adira goyah dan dia akhirnya terjatuh membuat tubuhnya terbentur sedikit keras ke lantai itu.


“ Akhh...” ringis Adira merasakan nyeri tidak hanya di pantatnya tapi juga pinggangnya.


“ Adira! ”


Adira mengangkat kepalanya mendengar seseorang yang berteriak memanggil namanya. Seketika dia melihat orang itu matanya membulat sempurna seakan tak percaya dengan yang dilihatnya.


Happy Reading 😘

__ADS_1


__ADS_2