
Seminggu sudah semenjak Adira tinggal di desa ini, desa yang damai dimana para tetangga menyapa dengan ramah dan saling membantu satu sama lain.
Hanya saja ada juga sedikit gangguan kedatangan Adira di desa itu menyebar dengan cepat, terutama karena dia adalah gadis muda cantik dan belum memiliki pasangan maka para pria di desa itu mulai berlomba-lomba untuk mendekati Adira.
“ Dia yang ke berapa? ” tunjuk Helena ke arah seorang pria yang memasuki pekarangan rumah, sementara dia dan Adira sedang merapikan tanaman di halaman.
“ Kalau tidak salah yang ke sembilan ” balas Adira pelan.
“ Kalian sedang menanam bunga? ” ucap pria itu bertanya seolah sedang basa-basi mencari topik percakapan.
“ Aduh..kenapa kau setiap hari datang ke sini Danang ” Helena mendesis kesal karena sejujurnya dia tidak suka jika duda yang sudah 5 kali bercerai itu mendekati Adira.
“ Astaga Helen kau selalu seperti ini, kali ini aku datang bukan untuk melihatmu, tapi untuk melihat Adira. Dek Adira kamu sehat? ” Danang tersenyum menggoda ke arah Adira.
Adira mengeryitkan dahinya sebenarnya dia sudah merasa tidak nyaman dengan kedatangan para pria itu.
“ Baik, tapi kalau boleh tahu kedatangannya ke sini mau apa? ” Adira tidak ingin terlalu bersikap ramah kepada para pria itu seolah memberi harapan.
“ Abang cuma rindu aja pengen sama dek Adira ” ucap Danang tertawa kecil.
Hampir saja Helena muntah mendengar jawaban pria itu.
“ Aku sudah punya suami, tidak wajar seorang pria merindukan istri orang lain ” sinis Adira karena pria ini tidak mau menyerah berapa kalipun Adira bilang bahwa dia sudah punya suami.
“ Dek Adira..Dek Adira kalo adek punya suami lalu mana suamimu? Setiap hari kamu sama Helen aja ” bantah Danang lagi dan lagi.
“ Hei! Kau ini sebenarnya apa kan sudah dia bilang suaminya bekerja di luar negeri. Karena tidak ingin tinggal sendiri makanya dia datang ke sini. Lagian istri orang lagi hamil juga mau diembat! ” rutuk Helena.
“ Dek Adira hamil?! ” kaget Danang.
“ Iya masih gak percaya dia punya suami. Jadi lebih baik kau cari sasaran lain saja, lagian istri yang kelima juga belum resmi bercerai sudah kelayapan nyari wanita lain ” Helena bicara terang-terangan tanpa di tahan sama sekali.
“ Ahh..sudahlah kalau begitu lagian kenapa pula kau tidak bilang dari kemarin kau lagi hamil. Buang-buang waktu saja ” sarkas Danang langsung berubah kasar lalu pergi dengan merutuki dari rumah itu.
“ Apa sebaiknya ku bunuh saja pria sial*n itu?! Pantas saja semua istrinya minta cerai!! ” Helena sangat marah mendengar pria itu malah menghina Adira.
__ADS_1
“ Sudahlah Helen lagian bagus juga dengan begini dia tidak akan datang lagi ” ucap Adira tenang.
“ Wahh..ternyata sikap mengalahmu masih belum berubah, hilangkan kebiasaan itu aku marah kalau kau terus begitu ” Helena geleng-geleng kepala mendengar ucapan Adira.
Helena tidak menyangka karena cara didikan orang tua Adira yang selalu meminta gadis itu yang mengalah dan berkorban untuk saudara tirinya sikap Adira malah jadi seperti ini.
“ Helen..maaf ya suasana yang dulunya tenang malah jadi rumit begini, aku pikir dengan mengatakan sudah punya suami dan sedang hamil para pria itu tidak akan datang lagi. Tapi ada juga yang tak mau menyerah ” Adira merasa bersalah dan menyesal sudah memberikan masalah pada Helena.
“ Namanya juga hidup tentu akan menjumpai masalah, tidak peduli kapan dan apa sebabnya masalah pasti ada. Hanya bagaimana kita menjalani itu, dan aku tahu kau dan aku sudah terlalu berpengalaman untuk menghadapi masalah ” tutur Helena.
“ Aku terkadang bingung dengan takdir kapan kita bisa bahagia? ” Adira menanyakan pertanyaan itu pada dirinya sendiri.
“ Bahagia itu tidak memiliki takaran, tergantung bagaimana kamu merasakannya. Dari pada itu sepertinya kamu harus belajar cara menghadapi para pria itu dengan kasar ” tegas Helena menyeringai tajam.
“ Aku sudah menjawab mereka dengan kasar, aku bahkan tidak mau menanggapi mereka dengan halus ” bela Adira.
“ Iya tapi kau tidak pernah memaki mereka, harusnya tanpa segan-segan maki saja jika perkataannya sudah keterlaluan ”
“ Tidak ahh..bukan berarti dengan memaki mereka akan menyerahkan kalau masalahnya tanpa besar bagaimana ” Adira membayangkan andai saja dia memaki para pria itu dan membuat mereka mengamuk bukannya dia sendiri yang rugi.
“ Hei memaki itu juga butuh teknik agar tanpa perlu mengulanginya lawan bicara kita akan langsung ciut, coba katakan bajing*n!! ” Helena berteriak kasar di bagian kata makian itu.
Helena menghela napas pasrah mendengar makian gadis itu yang terdengar sangat lembut.
“ Jangan seperti itu dengarkan aku buat ekspresi wajah marah dan sinis lalu suara yang lantang dan nyakin, terutama pengucapannya harus bisa menusuk hati. Dengar ini..Bajing*n!! Sial*n!! Ber*ngs*k!! ” Helena memaki dengan lancarnya.
Sampai Adira serasa ingin menutup telinga mendengar semua makian itu.
“ Seperti itu sekarang coba lagi, kumpulkan semua emosi marah dan rasa muak, kesal kepada pria-pria itu lalu ucapkan sekaligus ” Helena menyakinkan Adira.
Adira merasa tegang seolah dia sedang berada dalam sebuah ujian resmi, apalagi melihat wajah penuh semangat dan teliti dari Helena.
“ Hmm..Bajing*n! ” Adira sampai melotot mengucapkan kata itu.
“ Aku tidak menyangka kau seburuk ini, harusnya mudah saja mengatakan sial*n dunia ini! Mati saja! Terkutuk kalian semua! Bukan malah kau seperti manusia yang memaki agar orang itu tenang, kata bajing*n yang kau ucapkan hanya seperti kata biasa ” protes Helena.
__ADS_1
“ Sudahlah lagian..untuk apa sih aku harus belajar memaki seperti itu. Tidak baik juga itukan kata-kata kasar ”
“ Kasar tapi bermakna ” lontar Helena layaknya pahlawan yang mempertahankan prinsipnya.
Adira menggelengkan kepala tak mengerti dengan sahabatnya itu. Adira mengambil alat pembersih rumputnya berniat masuk ke dalam rumah.
“ Adira pria ke sepuluh datang ” ucap Helena yang membuat Adira langsung menoleh ke arah pagar, dan seorang pria tegap dan gagah memasuki pekarangan rumah itu.
“ Kau lihat saat-saat seperti inilah makian sangat penting untuk di gunakan ” bisik Helena kepada Adira.
Adira masih menatap tajam kedatangan pria itu.
“ Hi..Helen, Adira aku datang ke sini-
“ Pergi saja bajing*n!! ” pekik Adira kuat.
Sangking terkejutnya mendengar umpatan sahabatnya itu Helena sampai menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
Pria itu juga sama tercengang nya tak menyangka belum berbuat apa-apa gadis itu sudah memakinya.
“ A-aku hanya ingin memberikan jadwal pemeriksaan ibu hamil dari puskesmas ” Pria itu terbata-bata.
“ Apa? ” tanya Adira heran.
“ Hahahahahaha ” tawa Helena pecah tak tahan lagi dengan suasana yang dia saksikan. Adira memandang sinis kepada Helena yang malah tertawa saat keadaan sudah seperti ini.
“ Ini jadwalnya maaf kalau aku sudah membuatmu marah ” pria itu menyerahkan sebuah buku kecil kepada Adira.
“ Ti-tidak begitu Dok-Dokter ” Adira kesulitan untuk mengucapkan kata-kata nya.
“ Maaf, Dok. Tadi itu Adira hanya sedang terbawa suasana, sejak pagi sudah ada sembilan orang pria yang datang mengganggu. Aku mengajari dia untuk memaki tak di sangka malah seperti ini hahahaha ” Helena tertawa dengan puasnya.
Pria itu menunjukkan ekspresi bingung dan heran, sementara Adira sudah menunduk malu.
“ Ohh..karena hal itu tapi Adira memang tidak memaki aku kan? ” tanya Dokter itu tersenyum lembut bermaksud menggoda Adira dengan candaan kecil.
__ADS_1
Jangan lupa untuk memberikan hadiah dan Vote untuk novel ini😄
Happy Reading😘