Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Mengapa Dia Mengikuti Aku?


__ADS_3

~ Kediaman Keluarga Brown ~


“ Aku tidak menyangka Lily tahu kami pergi menemui Nona A ” ucap Noah sembari dia mengambil kembali berkas yang sebelumnya dia serahkan pada Zein.


“ Tidak baik juga berbohong padanya, anak kecil seperti Lily pada dasarnya masih polos dan tidak berbohong. Untuk apa kita orang dewasa mengajarkan cara berbohong padanya ”


Zein meraih gelas kecil yang berada di meja kerjanya, menuangkan kembali minuman keras ke dalam gelas itu dan meneguknya tanpa bersisa.


“ Alkohol tidak akan membuat perasaan Daddy lebih baik. Itu hanya akan memperburuk kesehatan ”


“ Aku sudah mengurangi minum alkohol ” Zein sudah berulang kali mendengarkan peringatan dari putranya itu.


“ Baguslah kalau begitu karena Daddy yang lebih tahu mana yang baik dan buruk ” Noah membungkukkan tubuhnya mendekat ke arah meja kerja Daddynya, dan meraih dua botol minuman yang tersimpan di laci itu.


Dia lalu melangkah keluar dari kamar tanpa menunggu reaksi selanjutnya dari Daddynya itu.


“ Huftt...anak itu tidak berubah sama sekali. Sikap tegasnya itu bahkan tidak goyah walau dihadapanku sekali pun ”


Zein tahu tindakan Noah itu karena putranya itu tahu bahwa Zein tidak mengurangi jumlah minuman keras yang dia minum setiap malamnya. Di bandingkan dulu kondisi tubuh Zein benar-benar menurun beberapa bulan terakhir.


Itu karena gaya hidupnya yang berubah drastis, dia hampir tidak bisa tidur setiap malam. Menghabiskan hari-hari dengan merokok dan minuman keras tentu saja kesehatannya menurun.


Seperti yang pernah dikatakan Noah pada Adira bahwa kondisi Daddynya benar-benar kacau sampai Zein sendiri yang menghancurkan tubuhnya.


~


~


~


“ Sudah berapa botol yang Daddy minum? ” risau Aidan menatap botol minuman yang dipegang Noah.


Noah dengan tenang memasukkan kembali botol-botol itu ke rak minuman.


“ Setidaknya mungkin malam ini tidak terlalu parah ”


Mendengar jawaban Kakaknya, Aidan paham maksud Noah mengatakan tidak terlalu parah karena Noah sendiri sudah mengeluarkan minuman itu dari ruang kerja Daddynya.


Tapi entah itu bermanfaat atau tidak karena Daddynya punya kaki dan bisa melangkah mengambil lagi minuman itu.


“ Lucu sekali rasanya kita hanya bisa terus seperti ini dan membiarkan Daddy terpuruk seperti itu ” Aidan meluapkan sedikit kekesalannya.


“ Aku juga tidak punya cara lain lagi, kamu juga tidurlah ” Noah menepuk pelan pundak Aidan sebelum meninggalkan adiknya itu dan menuju ruang kerja miliknya.

__ADS_1


“ Daddy juga kenapa malah jadi pria pengecut seperti ini, harusnya kalau ada pria lain yang mendekati Nona A. Maka Daddy harus lebih semangat lagi memperjuangkan nya, ini tidak malah terpuruk di lubang yang dia gali sendiri ” sesal Aidan dengan lesu.


~`


~`


~`


Seminggu berlalu begitu saja semuanya berjalan lancar dan kembali normal seperti biasanya. Adira juga merasa tenang karena Zein dan anak-anak tidak pernah datang lagi, mungkin memang mereka sudah mengerti dengan perkataan Adira yang melarang mereka untuk datang.


Karena itu pagi ini ketika matahari bahkan masih malu-malu menampakkan sinarnya, Adira keluar rumah untuk jalan-jalan pagi sedikit mengolahragakan tubuhnya.


Dia sudah berjalan lumayan jauh dari rumah, jalanan desa juga sepi karena terlalu pagi untuk orang-orang mulai beraktivitas.


Adira menghentikan langkahnya memutar lehernya sedikit untuk melihat ke belakang.


“ Aneh...aku pikir ada orang lain di belakangku tadi ”


Adira merasakan kehadiran orang lain yang seakan cukup dekat di belakangnya tadi. Tapi begitu dia mencoba melihat ke belakang tidak ada siapa pun.


Berusaha mengabaikan hal itu dengan anggapan mungkin hanya halusinasi yang berlebih dan melanjutkan langkahnya lagi.


Semakin lama Adira semakin mempercepat langkah kakinya, karena dia benar-benar di ikuti oleh seseorang.


“ Siapa itu?..mengapa dia mengikuti aku? ”


Sosok itu benar-benar tidak bisa terlihat jelas karena saat itu pepohonan masih nampak gelap.


Yang pasti Adira nyakin ada orang mengikutinya.


Napas Adira terdengar kuat karena dia yang sudah ngos-ngosan harus berjalan secepat itu di kondisinya yang sedang hamil besar.


“ Arghhh!!! ” Adira berteriak kencang sembari berontak dengan tangannya.


“ Adira ada apa?! Ini aku Derril ”


Adira menghentikan perlawanannya sebelumnya dia sangat ketakutan sampai menutupi matanya, ketika melihat dengan jelas ternyata orang yang dia serang tadi adalah Derril.


Dia mengusap wajahnya kasar karena keringat dan rasa takut yang tadi masih membuat dirinya gemetaran.


“ Kamu pucat, apa kamu baik-baik saja? ” Derril menunjukkan rasa khawatirnya.


Adira masih berusaha mengatur napasnya, dia melihat lagi ke belakang memastikan apa orang yang mengikutinya tadi masih ada.

__ADS_1


Sosok itu tidak ada lagi di sana bahkan keberadaannya sudah tidak terasa lagi oleh Adira.


“ Apa dia segera menghilang setelah aku bertemu Dokter Derril? Tapi bagaimana seseorang bergerak secepat itu? ” Adira di penuhi pertanyaan dan juga ketakutan baru kali ini dia mengalami hal yang seperti itu.


“ Adira ada apa? Apa ada orang yang menganggumu? ”


Adira menatap Derril, bingung apakah dia harus memberitahu kejadian tadi pada pria di depannya atau tidak.


“ Tidak, Dok..aku hanya sedikit lelah karena berjalan terlalu jauh mungkin ” Adira memilih tidak memberitahu hal itu karena bahkan dia tidak tahu siapa orang iseng yang telah mengikutinya, entah orang itu berusaha menakut-nakuti Adira atau berniat jahat. Jika mengatakan hal itu pada Derril hanya akan menimbulkan kekacauan karena Derril akan menunjukkan rasa khawatir berlebih dan mencurigai semua orang, dia tidak mengharapkan itu.


“ Seharusnya jangan memaksakan diri, apa kamu istirahat dulu sebentar. Kita bisa pergi ke rumahku ”


Melihat sekeliling Adira tahu tempat ini juga masih jauh dari rumah Derril, hampir sama jauhnya jika kembali ke rumah.


“ Tidak perlu, Dok. Aku akan pulang ke rumah saja ” tolak Adira karena selain jauh dia juga tidak ingin menambah hutang budinya pada pria itu.


“ Tapi perjalanan ke rumahmu masih jauh ”


“ Aku rasa jarak dari sini ke rumah Dokter hampir sama dengan jarak rumahku, hmm..tidak apa-apa mungkin lain kali. Aku akan pulang naik delman saja ” kebetulan sekali sebuah delman nampak mulai mendekat ke arah mereka.


Adira melambaikan tangan agar kusir delman itu berhenti.


“ Aku duluan, Dok. Oh..iya Dokter sedang apa berada di sini? ” Adira baru sadar mengapa tiba-tiba Derril ada di sana sedangkan jelas jarak tempat itu jauh dari rumahnya.


“ Itu aku di panggil karena katanya ada yang ingin melahirkan, tapi ternyata belum waktunya. Tadi aku dalam perjalanan pulang ”


Adira menganggukkan kepalanya menerima jawaban Derril karena memang itu pasti benar.


Dengan bantuan kusir delman itu Adira naik dan duduk dengan nyaman.


“ Mari dokter ” ucap kusir delman itu sembari menjalankan delman itu.


Derril memang dokter yang terkenal dan paling diandalkan di desa itu apalagi karena sikapnya yang terkenal sangat ramah dan baik pada setiap orang.


Adira melambaikan tangannya ke arah Derril dan segera mendapatkan balasan dari pria itu.


Setelah delman itu menjauh Derril mengepal tangannya kuat.


“ Sayang sekali ” gumannya tajam dengan ekspresi kecewa.


**Jangan lupa untuk tetap memberikan like, komen, dan hadiah untuk novel ini agar performanya naik. Terimakasih untuk dukungannya teman-teman ☺


Happy Reading😘**

__ADS_1


__ADS_2