
Adira menggelengkan kepala pelan.
“ Jangan biarkan dia tahu tentang anakku Helen..aku tidak mau..” pinta Adira sendu.
Helena tidak bisa langsung menjawab karena ini bukan hanya masalah mantan suami Adira tapi juga masalah kesehatan sahabatnya itu. Dia tidak akan berani mengambil resiko jika menyangkut keselamatan Adira.
“ Aku tidak bisa mengatakan ini jika dokter Derril...ada di sini jadi aku mohon tolong bantu aku Helen..” Adira hanya bisa berucap lemah.
“ Aku akan pastikan pria itu tidak mengetahui hal ini, tapi aku tidak bisa menjanjikan akan bisa membawamu pulang. Karena kesehatanmu belum pulih Dira..coba pikirkan jika terjadi sesuatu denganmu dan bayinya apa menurutmu aku akan bisa memaafkan diriku atas kesalahan itu? Tidak Dira sampai kapan pun keselamatanmu yang lebih utama ” Helena menegaskan hal itu lagi.
“ Lalu bagaimana jika Mas Zein mengetahui tentang kehamilanku..aku tidak ingin terlibat dengan pria itu lagi, aku hanya ingin seperti ini tidak lebih ”
Helena juga merasa frustasi tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“ Tenanglah..aku akan menjamin dia tidak akan bisa menganggumu lagi, tetap kuat Adira ini demi bayimu jangan lemah seperti ini ”
Tangis Adira mulai sedikit reda dia mengatur pernapasannya tenang seperti semula. Berusaha mengikuti arahan Helena untuk dia menenangkan dirinya. Dan itu memang terbukti lebih baik karena ketegangan tubuhnya perlahan mulai hilang.
~
~
~
“ Permisi dokter ” Derril mengetuk ruangan dokter itu dengan sopan.
“ Masuklah ” Dokter yang ada di ruangan itu memberi izin pada Derril.
“ Ada keperluan apa Pak? ” tanya Dokter itu pada Derril.
Sesaat Derril terdiam tak mendengarkan dengan baik ucapan dokter itu karena dia fokus melihat pria yang tadi katanya telah menolong Adira itu juga berada di ruangan dokter itu.
“ Urusanku sudah selesai terima kasih penjelasannya ” ucap Zein lalu beranjak dari kursi itu tanpa bicara apa pun melewati Derril yang masih berdiri di samping pintu itu.
Derril menatap dengan jelas ekspresi datar dari pria itu, dia sangat penasaran siapa sebenarnya pria itu? Dan apa yang dia lakukan di ruangan dokter? Apa dia juga menanyakan kondisi Adira?
__ADS_1
Pertanyaan itu memenuhi benak Derril.
“ Pak ada perlu apa? ” ulang dokter itu karena tak kunjung dapat jawaban dari Derril.
“ Oh..aku ingin menanyakan keadaan pasien yang bernama Adira dokter ” jawab Derril tersadar.
“ Baiklah silakan duduk Pak, dan kalau boleh saya tahu Anda punya hubungan apa dengan pasien? ” tanya dokter itu serius.
Derril duduk dengan tenang sesuai arahan dokter itu.
“ Dia adalah pasienku, lebih tepatnya karena untuk pemeriksaan ibu hamil setiap bulannya aku yang memeriksa dia. Aku dokter di puskesmas desa yang sama dengan Adira tinggal ” jelas Derril.
Dokter yang ada di depannya manggut-manggut mengerti maksud Derril.
“ Ternyata Anda juga seorang dokter, kalau begitu saya tidak perlu menjelaskan pun pasti Anda juga sudah tahu kondisi pasien ” balas dokter itu santai.
“ Sedikit, tapi ada juga beberapa yang kurang puas menurutku. Apa Anda bisa memberikan informasi pasien kepada sembarang orang? ” Derril bertanya penuh penekanan.
“ Tapi orang itu yang membawa pasien kemari, juga merupakan kenalan pasien. Tentu saja saya mengatakan informasi itu padanya ” Dokter itu menjawab nyakin karena tahu arah pembicaraan Derril.
“ Maaf tapi sebagai sesama dokter harusnya Anda tidak meragukan saya seperti ini. Karena orang itu memang kenalan pasien, jika tidak percaya coba tanyakan pada pasien atau bapak yang tadi karena dia bisa menunjukkan bukti bawa dia kenalan pasien ” jelas dokter itu santai membalas sindiran Derril dengan halus.
“ Bukti apa maksud dokter? ” tanya Derril penasaran.
“ Saya tidak bisa memberitahu hal itu pada Anda karena termasuk pelanggaran kode etik ” Dokter itu tersenyum miring seolah sukses memberi pukulan telak pada Derril.
Derril berdehem kesal dokter itu malah membalas seperti itu.
“ Lalu apa pasien bisa beri izin agar dipulangkan hari ini? ” tanya Derril lagi.
“ Tanpa saya jawab pun seharusnya Anda tahu jawaban saya, karena Anda mengatakan Anda juga seorang dokter ” jawab dokter itu dengan tatapan serius pada Derril.
“ Justru karena itu aku akan menjamin menjaga keselamatannya dalam perjalanan pulang nanti, lagian pasien sendiri yang meminta untuk dipulangkan ” jelas Derril.
“ Saat ini dia adalah pasien saya, dan saya harap Anda tidak melanggar wewenang saya karena semuanya juga punya batasannya. Saat di sini sayalah dokternya bukan Anda. Dan saya bilang pasien tidak bisa pulang karena bagi saya hidup pasien saya tidak hanya sebatas kata-kata keselamatannya akan di jaga ” ekspresi dokter itu sudah sangat serius menunjukkan ketidaksenangan nya Derril yang walaupun seorang dokter tapi malah melakukan hal yang melanggar kode etik seorang dokter.
__ADS_1
Dimana bagi Dokter itu Derril lebih mementingkan urusan yang tidak penting dan mengambil resiko terhadap nyawa pasiennya, dan sebagai seorang dokter dia tidak akan mengizinkan hal bodoh itu.
“ Bertemu dengan dokter yang terlalu taat ternyata menyebalkan sekali ” rutuk Derril karena usahanya tidak berpengaruh kepada dokter itu.
Dokter itu hanya tersenyum dan membiarkan Derril pergi dari ruangannya dengan tenang.
~
~
~
“ Apa yang telah aku lakukan? Ingatan apa yang aku lupakan? Bagaimana semua bisa terjadi seperti ini? ” Zein mengusar rambutnya kasar merutuki dirinya sendiri di dalam mobil.
Dia bahkan sampai tidak bisa berkata-kata saat dia kembali menanyakan kondisi Adira pada dokter. Dokter itu membuatnya menyadari kejanggalan.
“ Anda nyakin jika kandungan Adira sudah hampir tujuh bulan? Coba periksa lagi siapa tahu ada kesalahan di sana ” Zein bertanya masih belum bisa mempercayai hal itu.
“ Benar Pak usia kandungan pasien memang hampir tujuh bulan ” ulang dokter itu lagi.
“ Periksa lagi jika ada kesalahan dalam pemeriksaan ini, Anda pikir bagaimana pengaruhnya pada orang lain? Periksa lagi berapa tepatnya usia kandungan Adira ”
Dokter itu menghela napas berat baru kali ini dia bertemu dengan seorang yang sangat keras kepala sudah berapa kali dia bilang bahwa usia kandungan pasien itu hampir tujuh bulan.
“ Kalau begitu Anda saja yang jadi dokter menggantikan saya, jika pemeriksaannya salah maka tidak masalah bagi saya meskipun harus mengundurkan diri dari sini ” tegas dokter itu.
Bahkan setelah mendengar ucapan dokter itu Zein masih tidak bisa percaya karena dia benar-benar tidak mengingat sama sekali.
Karena jika berdasarkan usia kandungan itu berarti Adira sudah hamil bahkan sebelum bercerai dengan Zein, tapi Zein tidak tahu kapan dia pernah menghabiskan malam bersama wanita itu.
Seberapa keras pun dia mencoba tapi ingatan tentang itu tidak muncul sama sekali.
“ Jika Adira hamil anakku, lalu apa yang selama ini aku lakukan? Bagaimana bisa aku membiarkan gadis itu melalui ini semua sendiri? Aku harus bertanggung jawab pada Adira tidak peduli dia akan menerima atau tidak tapi anak itu tetaplah darah dagingku ” Zein menyakinkan dirinya.
Happy Reading😘
__ADS_1