
“ Aku bodoh makanya menikah pria bajing*n sampai dua kali. Pria yang aku harapkan menjadi suami yang baik ternyata bajing*n tak bertanggung jawab. Naasnya dia sudah lari ” tukas Adira.
Zein tidak mempercayai ucapan Adira karena dia tahu semua ucapan wanita itu kebohongan. Tapi hatinya tertohok karena tahu pria yang lari dari tanggung jawab itu adalah dia sendiri.
“ Maaf Adira, aku memang sangat jahat. Bahkan lebih jahat karena berani datang ke sini dan mengusik hidupmu lagi ”
“ Beruntunglah Mas sadar, segera tinggalkan tempat ini aku tidak mau ada gosip yang menyebar dan itu akan membuatku lebih kesusahan ” ucap Adira dingin.
“ Aku mencintaimu Adira ” tukas Zein.
Tubuh Adira menegang seketika darahnya berdesir tidak menduga pria itu akan mengatakan hal itu, untuk kedua kalinya dia mendengar ucapan itu. Saat itu Zein juga mengucapkan hal itu dengan ekspresi yang sama seperti sekarang, rasanya Adira bisa membaca kesungguhan pria itu.
“ Aku bukan orang bodoh yang akan percaya. Mas ada di sini karena berpikir anak yang ku kandung adalah anakmu. Tapi lupakan semua rasa tanggung jawab itu anak ini bukan anakmu ” Adira menepis semua perasaan yang bisa membuat dia goyah, tak peduli walaupun Zein nampak sunguh-sungguh dengan ucapannya.
Ketika dia akan berbalik masuk ke dalam rumah, dia bisa merasakan tubuhnya yang didekap erat dari belakang.
Zein memeluk Adira dan belakang, membenamkan wajahnya di ceruk leher Adira.
Menerima serangan yang tiba-tiba itu membuat Adira tidak bisa bertindak atau berpikir hingga dia hanya diam.
Terkejut karena Adira bisa merasakan di lehernya basah.
“ Apa dia menangis? ” , tanya Adira dalam hati, lalu ketika dia membalikkan wajahnya sedikit untuk melihat Zein, dan benar saja pria itu menangis dengan tetap membenamkan wajahnya dalam.
Adira sudah berusaha menahan dan menepis semua perasaannya pada pria itu. Tapi bahkan setelah waktu yang lama dia tetap lemah jika melihat pria itu secara langsung apalagi dalam keadaan seperti ini.
“ Hentikan semua ini Mas..tidak ada gunanya melakukan semua ini ” Adira hanya bisa berucap pelan rasanya dia kecewa kepada dirinya sendiri karena tetap tidak bisa menyingkirkan perasaan cintanya kepada pria itu. Hatinya tetap sakit melihat Zein sedih, dan lebih sakit karena dia tahu hubungannya dengan pria itu sudah lama berakhir.
__ADS_1
“ Setiap hari aku selalu merindukanmu, mencari ke semua tempat berharap menemukanmu. Tapi kita tidak bertemu..sampai untuk pertama kalinya aku kembali melihatmu kakiku bergerak cepat menghampirimu, rasa rindu dan sakit menyelimuti hatiku..rasanya sangat sakit bahkan ketika melihat kamu yang sedang hamil ” Zein mengucapkan itu dengan tetap memeluk Adira.
“ Hatiku sakit sekali melihat kamu yang sedang hamil..apa dia sudah menikah lagi? Siapa pria yang dia nikahi? Selama ini dia hidup bahagia kan?..semua pertanyaan itu menyerbuku tapi aku tidak punya keberanian untuk menanyakan hal itu padamu. Aku tetap diam dan menyembunyikan semuanya takut membuatmu menderita ”
“ Awalnya sulit..tapi sekarang aku bahagia di tempat ini banyak orang yang menyayangiku. Biarkan aku melanjutkan hidupku dan aku harap Mas juga dapat melakukan itu ” Adira melepaskan tangan Zein yang mendekapnya, berbalik menghadap pria itu.
“ Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang Mas ” ucap Adira lembut.
“ Tapi aku kembali berharap setelah mengetahui anak yang kamu kandung adalah anakku, aku berharap dengan alasan itu kamu bisa kembali ke sisiku. Aku sangat merindukanmu, anak-anak juga begitu mereka sangat merindukanmu ” ungkap Zein.
Adira menggelengkan kepala pelan.
“ Aku sudah mengatakan semuanya, jangan pernah kembali ke sini lagi Mas. Dengan alasan apa pun aku tidak bisa kembali lagi, hubungan kita sudah lama berakhir. Bahkan jika diingat lagi hubungan itu tidak pernah dimulai, tapi sudah berakhir. Aku akan menghargai kalau Mas mau mengerti dan pergi dengan baik-baik ” ucap Adira lalu dia segera masuk ke dalam rumah, dia segera mengunci pintu itu dengan baik tak peduli bahkan jika Zein masih berada di sana.
Adira menjatuhkan tubuhnya pelan bersandar pada pintu itu. Tenaganya serasa habis terkuras karena harus berpura-pura kuat di depan Zein.
Zein menatap pintu rumah yang tertutup itu dengan nanar. Hatinya sedih sekaligus lega karena bisa mengungkapkan semua perasaan yang dia pendam selama ini kepada Adira.
“ Aku akan berjuang sampai kamu benar-benar menerima aku kembali Adira ” ucap Zein nyakin.
~
~
~
Helena bisa memperhatikan perubahan sikap Adira akhir-akhir ini, karena Adira cenderung lebih pendiam dan suka melamun. Dia ingin tahu apa penyebab Adira seperti itu tapi dia sama sekali tidak mengetahuinya. Helena juga sudah mencoba menanyakan pada Adira tapi wanita itu selalu bilang baik-baik saja.
__ADS_1
“ Kamu suka pergi ke danau kan, apa sebaiknya akhir pekan ini kita pergi ke danau? ” Helena berusaha menawarkan hal-hal yang bisa membuat Adira senang.
“ Ahh..tidak perlu minggu inikan peternakan sedang sibuk sekali lebih baik kita selesaikan pekerjaan dulu ” jawab Adira.
“ Haiss...aku rasanya kesal sekali ini seperti aku orang gagal yang harus membiarkan wanita hamil ini hanya memikirkan pekerjaan terus-menerus. Padahal aku pikir jika peternakan lebih besar maka kita akan punya lebih banyak waktu bersantai, tapi yang ada kita malah tambah sibuk sampai kau sendiri juga masih harus mengurus pekerjaan saat hamil seperti ini ” sesal Helena.
“ Kenapa tiba-tiba mengatakan hal yang seperti itu, aku memang suka mengerjakan pekerjaan ini. Lagian itu juga bukan hal yang sulit ” Adira tidak tahu mengapa tiba-tiba Helena berpikir seperti itu.
“ Karena akhir-akhir ini aku lihat kamu sangat pendiam juga sering melamun, jujurlah apa ada sesuatu yang menganggumu? ” tanya Helena serius.
Adira tidak mungkin memberitahu Helena tentang kedatangan Zein beberapa hari yang lalu, Bisa-bisa sahabatnya itu akan menggila.
“ Entahlah...mungkin bawaan bayinya ” alasan Adira.
“ Hei! Jangan gunakan keponakanku sebagai alasan seperti itu. Aku nyakin keponakanku bukan anak yang pendiam dia pasti anak yang ceria..dasar kau ini ” omel Helena.
Adira tertawa karena sikap posesif Helena terhadap anaknya ternyata masih tidak berubah sedikit pun. Bahkan jika ada orang yang mengatakan sesuatu tentang anak yang dikandung Adira dialah yang pertama maju membantah semua ucapan itu.
“ Aku takut nanti kamu menyesal saat ternyata sikap anakku malah pendiam bahkan terkesan dingin nanti ” ucap Adira tertawa geli.
“ Kenapa kamu nyakin seperti itu? Kamu kan orang yang ceria tentu saja anakmu ceria. Apalagi aku sudah sering menyanyikan lagu yang bahagia untuk keponakanku ” bantah Helena.
Adira hanya tersenyum.
” Habisnya aku mengenal sifat Mas Zein yang pendiam dan dingin. Juga bisa melihat sifat itu menurun kepada anak-anaknya, bisa juga anakku nanti mirip seperti dia ” , batin Adira.
Happy Reading😘
__ADS_1