
“ Ohh..karena hal itu tapi Adira memang tidak memaki aku kan? ” tanya Dokter itu tersenyum lembut bermaksud menggoda Adira dengan candaan kecil.
“ Te-tentu saja tidak Dok ” Adira melambaikan tangannya di depan dadanya.
“ Baguslah aku senang mendengar itu ” Dokter itu tersenyum puas.
Dokter itu bernama Derril, dokter yang di tugaskan dari kota untuk menjadi dokter di puskesmas desa itu.
Adira sudah bertemu dokter itu sebanyak dua kali karena saat dia mengikuti jadwal rutin pemeriksaan kehamilan bersama para wanita hamil lainnya.
“ Maaf, Dok aku tidak bermaksud kasar ” ucap Adira masih merasa segan telah memaki pria itu tanpa sebab.
Helena masih nampak tertawa kecil.
“ Lihat saja nanti Helen aku akan membalasmu ” , batin Adira karena dia saja sudah terlalu malu saat itu.
“ Jangan dipikirkan aku tak masalah untuk itu, tapi jangan belajar memaki begitu kamukan sedang hamil sifat dan perilaku Ibu juga mempengaruhi perkembangan janin ” jelas Derril.
“ Astaga aku lupa...Helen! Ini salahmu kenapa juga kau mengajari yang tidak benar begitu ” kesal Adira.
Helena juga baru mengingat sahabatnya itu sedang hamil.
“ Keponakanku tolong tutup telingamu jangan dengarkan makian Mamamu tadi. Jauh-jauh pengaruh buruk ” ucap Helena mengelus-elus perut Adira.
“ Dasar harusnya aku tidak mendengarkan mu tadi ” Adira hanya dapat menghela napas melihat tingkah sahabatnya itu.
Derril tertawa pelan melihat perilaku Adira dan Helena.
“ Jika butuh bantuan jangan segan untuk meminta padaku, apalagi untuk menangani para pria itu ” Derril menawarkan diri sebagai bantuan pada Adira.
“ Terima kasih, Dok. Tapi aku baik-baik saja ” balas Adira.
“ Baiklah kalau begitu sampai jumpa lain Adira, Dadah Helen ” Derril melambai kecil.
“ Iya hati-hati Pak Dokter ” jawab Helen cepat. Adira juga melambaikan tangan sebagai balasan untuk Derril.
__ADS_1
“ Pak Dokter itu orang baik, dia sudah bekerja di desa ini selama 2 tahun, masih lajang juga tidak pernah berpacaran padahal banyak gadis desa yang mengejarnya karena ketampanannya ” tukas Helena begitu Derril sudah tak nampak lagi oleh pandangan mereka.
“ Apa niatmu mengatakan hal itu? ” tanya Adira curiga dengan niat tersembunyi Helena.
“ Kalau dia menyukaimu sepertinya akan bagus karena dia pasti mau menerima kau dan anakmu, apalagi dia itu pria baik ”
“ Helen..hentikan mengatakan hal seperti itu. Aku tidak berniat untuk menikah lagi jadi tidak perlu menawarkan hal-hal itu padaku ” tukas Adira lalu melangkah memasuki rumah.
“ Kau tetap tidak mau kalau Dokter itu menyukaimu? ”
“ Tidak mau ” jawab Adira cepat dan tetap melanjutkan langkahnya.
“ Nanti menyesal loh! Aku nyakin dokter itu pasti lebih tampan dari mantan suamimu ”
Adira tertawa kecil mendengar itu, jika melihat dari wajahnya menurut Adira, Derril memang tampan wajah ketampanan khas asia dengan wajah lembut yang berkharisma.
“ Tapi Mas Zein masih lebih tampan dari Dokter itu, kalau saja Helen bertemu dengan Mas Zein. Pasti dia tidak menyangka pria itu sudah berusia 40 tahun lebih ” guman Adira tersenyum kecil.
~
~
~
Sudah seminggu sejak kepergian Adira, jauh dari yang dibayangkan penghuni rumah itu di mana mereka menduga Lily yang sudah sangat dekat dengan Adira akan menangis dan meminta untuk bertemu dengan gadis itu.
Tapi Lily tetap tenang tak pernah sekali pun mengungkit tentang Adira kepada siapa pun, gadis kecil itu hanya menjalani hari-harinya seperti biasa seakan melupakan Adira pernah hadir di rumah itu.
Sama seperti diamnya Lily, mereka semua juga diam tak ada yang berani mengungkit tentang Adira. Tapi bedanya mereka semua kehilangan dan tak mampu menjalani hari-harinya seperti biasa tapi tidak ada yang mau mengakui rasa kehilangan itu.
Nadia berjalan lesu juga nampak sedih memasuki rumah, dia baru selesai dari penampilan musikalnya.
“ Nona Nadia apakah ada buket bunga yang harus kami simpan? ” tanya seorang pelayan kepada Nadia karena biasanya setelah kembali dari musikal Nadia akan memerintahkan mereka untuk menyimpan buket bunga yang dia bawa ke ruangan tempat Nadia mengumpulkan buket-buket bunga yang di awetkan selama ini.
Nadia nampak semakin sedih dan kecewa mendengar pertanyaan pelayan itu. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia tidak mendapat buket bunga satu pun.
__ADS_1
“ Tidak ada ” jawabnya singkat lalu melanjutkan langkahnya ingin secepatnya memasuki kamarnya.
Saat akan masuk ke kamar dia sempat berpapasan dengan Aidan, tapi saudara kembarnya itu sama sekali tidak menoleh atau berniat bicara dengannya. Nadia tahu Aidan masih sangat marah pada Nadia semenjak kejadian Nadia yang melaporkan Adira.
“ Kak kamu akan mendiami aku seperti ini?! ” rutuk Nadia tidak tahan dengan sikap Aidan di tambah lagi saat ini dia sedang merasa marah dan kecewa.
“ Memangnya sejak kapan kita pernah bicara, apa waktu kau melakukan itu kau bertanya padaku? Apa kau pernah menceritakan perbuatanmu padaku? ”
Nadia merasa tertohok mendengar perkataan Aidan.
“ Tidak bisa Kakak melupakan hal itu, berapa kali lagi aku harus minta maaf ” sendu Nadia.
“ Untuk apa kau minta maaf padaku, bukan aku yang kau laporkan dengan asal ke polisi. Juga lihatlah semua anggota keluarga ini memang tidak butuh saling bicara. Jadi mari tetap diam seperti biasa ” Aidan berlalu meninggalkan Nadia dengan dingin tak peduli pada perasaan adiknya itu.
Nadia berlari masuk ke kamarnya menjatuhkan dirinya ke atas ranjang. Membenamkan kepalanya lama di sana dan menangis.
“ Ke-kenapa hanya aku yang di salahkan? Mereka juga sama tidak pedulinya kepada Nona A, lalu kenapa kepergian Nona A hanya jadi kesalahanku ” tangis Nadia.
Dia membuka pelan laci yang ada di samping ranjangnya, mengeluarkan beberapa tumpukan kertas pesan yang dia dapat dari buket bunga yang selalu diberikan orang yang mengaku penggemar Nadia.
Nadia membaca satu persatu lagi setiap pesan itu yang sselalu berisi kata-kata penyemangat.
“ Kenapa dia tidak pernah datang lagi? Apa dia mulai bosan dengan penampilanku? ” Nadia bertanya-tanya karena sudah dua kali pertunjukan musikalnya tapi dia tidak lagi menerima buket bunga rahasia itu.
Nadia kembali menjadi satu-satunya pemeran yang tidak mendapatkan buket bunga. Dia hanya berdiri diam dan pura-pura tersenyum menyapa penonton. Sementara pemeran yang lain mendapatkan buket bunga dari orang tua atau keluarganya.
“ Aku bahkan tidak mengenalnya bagaimana aku bisa menanyakan kenapa dia tidak datang melihat musikalku lagi ” sesal Nadia, dia merasakan sedih dan kecewa yang besar setelah kembali merasakan kesepian seolah memang benar tidak ada seorang pun yang menantikan penampilannya.
Sementara itu Aidan hanya menyibukkan diri dengan bermain game di kamarnya, dia melewati hari-harinya seperti itu. Mencoba melupakan Adira walaupun dia merindukan sosok Adira yang seperti ibu baginya. Saat dia hanya bermain game seperti ini Adira pasti akan mengomelinya atau jika dia ada pertandingan game maka Adira akan mendukung dia.
Tapi Aidan berusaha menutupi perasaannya itu karena takut hanya dia yang merasakan rindu kepada Adira di rumah ini.
“ Nona A pasti sudah bahagia sekarang, berada di rumah ini pasti sangat menyiksa. Sementara kami semua berbuat jahat padanya. Tapi aku merindukan Nona A, andai saja aku tahu dia ada dimana aku akan melihatnya setidaknya walaupun dari jauh ” Aidan berguman sedih.
Author akan usahain up satu bab lagi🙏🏻
__ADS_1
Happy Reading😘