Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
S2 Helena Noah


__ADS_3

Mendengar itu semburat merah muda langsung menghiasi pipi Helena tanpa dia sadari.


“ Selamat pagi ” ucap Noah kemudian melangkah santai masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Helena yang memanas karena kelakuannya.


Helena meraba pipinya yang memanas ingin menetralkan dirinya lagi.


“ Aneh sekali ada yang salah denganku, bisa-bisanya aku tersipu karena ucapannya ” guman Helena pelan.


Helena beranjak dari ranjang merapikan selimut dan juga bantal yang sedikit berantakan. Setelahnya dia menuju ke dapur ingin melihat bahan makanan yang mungkin bisa dia masak untuk sarapan.


Setelah memeriksa kulkas dan laci-laci lain yang ada di dapur tak ada bahan makanan sama sekali di sana.


“ Apa yang ku harapkan, apartemen ini kan baru di tinggali tentu saja belum ada yang bisa di masak ” Helena berucap sendiri merasa sedikit kecewa karena akhirnya dia tidak bisa memasak.


Bukan karena Helena ingin menunjukkan pada Noah bahwa dia bisa melaksanakan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dengan baik, tapi memasak sudah menjadi kebiasaan yang selama ini selalu dilakukannya sendiri. Sebab itu tidak bisa melakukannya hari ini dia merasa sedikit kecewa.


Noah keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya. Sudut bibirnya terangkat kecil melihat ranjang yang sudah rapi, sejujurnya dia tidak pernah mengharapkan Helena akan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Noah sama sekali tak berniat memaksa Helena tapi melihat betapa Helena begitu teliti merapikan tempat tidur itu, memberi perasaan bangga karena seakan mendapatkan wanita yang dapat melaksanakan tanggung jawab dengan baik.


Sekarang Noah sudah dalam tampilan rapi siap menuju perusahaan miliknya.


“ Kau sedang apa? ” tanya Noah begitu dia melihat Helena yang nampak serius di dapur itu.


“ Ah...ini aku hanya sedang memeriksa peralatan masak tapi ternyata tidak ada peralatan masak di sini juga tidak ada bahan makanan ” Helena menjawab sembari menunjukkan panci kecil yang hanya ada satu itu di apartemen.


“ Aku hanya singgah sesekali ke apartemen ini ”


Itu menjawab mengapa tidak ada peralatan masak dan bahan makanan yang bisa ditemukan di apartemen.


“ Ohh ” Helena mengangguk paham.


“ Lagian kau juga tidak perlu memasak untuk makanan tinggal pesan saja. Aku juga biasanya akan makan di kantor ”


Mendengar penjelasan Noah justru membuat Helena merasa tidak senang.


“ Begini aku terbiasa memasak dan memakan masakanku sendiri itu lebih nyaman untukku. Tidak masalahkan kalau aku membeli peralatan masak dan memasak sendiri? ” bujuk Helena.

__ADS_1


“ Bukannya itu akan merepotkan ”


Helena langsung terdiam mendengar jawaban dingin Noah.


Padahal maksud sebenarnya Noah mengatakan itu adalah karena dia khawatir Helena akan kelelahan karena sebentar lagi Helena akan disibukkan dengan urusan peternakan.


Bagi Noah memesan makanan akan lebih efisien dari pada memasak. Tapi dia tidak menyangka akan melihat wajah sedih yang ditunjukkan Helena karena dia mengatakan itu.


“ Buat daftar yang kau butuhkan lalu berikan padaku, nanti aku akan tugaskan seseorang untuk mencarinya ” ucap Noah kemudian berharap Helena tidak bersedih lagi karena masalah itu.


“ Aku rasa tidak perlu kau benar akan merepotkan jika aku memasak ”


“ Apartemen ini kan miliknya bagaimana aku memaksa mengubah kebiasaan yang dia miliki. Bisa saja dia memang tidak suka jika ada yang memasak di apartemennya ”


“ Aku tunggu daftar barang bersama dengan pakaian yang kau butuhkan, sebaiknya buat secara rinci ukuran dan jenis pakaian yang kau inginkan. Jangan sampai lewat jam 12 siang nanti ” tegas Noah.


“ Tapi aku benar-benar tidak membutuhkan peralatan masak lagi ”


“ Pengantaran makanan akan tiba sekitar 15 menit lagi, kalau kau ingin pergi dari apartemen kau harus memberitahu padaku terlebih dahulu karena kau masih baru di kota ini tidak baik berkeliaran sembarangan. Aku sudah menyimpan nomorku ke ponselmu kau bisa memeriksanya ”


Noah menjelaskan panjang lebar mengabaikan penolakan Helena.


“ Begini tempat peternakan itu-


“ Sebaiknya tanyakan tentang itu besok setelah berada di sana, ya sudah karena ku rasa semua sudah cukup jelas aku akan pergi ” Noah mengenakan jasnya dan melangkah keluar dari apartemen itu, dengan Helena yang mengikuti dirinya dari belakang.


“ Sampai jumpa nanti ” ujar Helena pelan lalu melambaikan tangannya canggung.


Noah berbalik sebentar lalu membalas lambaian wanita itu walaupun sangat singkat.


Helena kembali menutup pintu setelah tak melihat sosok Noah lagi.


“ Aku tidak bisa menebak apa yang sebenarnya diinginkan atau yang sedang dipikirkan pria itu. Wajahnya selalu datar tanpa ekspresi, dia juga tidak suka bertele-tele. Atau dia hanya seorang yang kurang peka ” Helena mencoba menebak-nebak, dia teringat kembali ucapan Aidan yang mengatakan dia harus banyak bersabar karena sifat Noah yang sangat dingin.


Helena membenarkan hal itu Noah memang sangat dingin sampai terkadang Helena merasa sedikit tidak nyaman untuk membicarakan sesuatu dengan Noah. Helena justru takut jika tanggapan Noah tidak sesuai harapannya.

__ADS_1


Sementara Helena yang selama ini sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri, untuk meminta bantuan pada Noah merupakan sesuatu yang sangat berat untuknya.


~


~


~


Noah masih sibuk dengan berkas-berkas dihadapannya dan dengan laptop. Dia memperhatikan ponselnya beberapa kali tapi ponsel itu masih belum berbunyi yang menandakan Helena belum mengirim daftar itu padanya.


Pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang.


“ Masuklah ” ucap Noah memberi izin.


“ Permisi Bos ini sudah waktunya menghadiri rapat dengan pihak dari perusahaan S ”


Noah melirik jam tangannya dan ternyata sudah hampir pukul 11. Dia menutup laptopnya dan beranjak dari kursinya.


“ Masih ada laporan yang perlu di periksa? ” tanya Noah pada John yang adalah asisten pribadi kepercayaannya. Sejak dia bekerja sebagai Direktur Utama di GC perusahaan milik Daddynya, John sudah menjadi asisten pribadi yang dia percaya karena itu setelah dia mendirikan perusahaan pun John tetap bekerja bersamanya.


“ Saya menerima laporan ini dari Bella Bos, dia mengatakan ada yang harus diperiksa oleh Anda. Saya juga sudah memeriksa lagi ternyata memang ada beberapa poin yang kurang tepat dari rapat sebelumnya ”


Noah menerima berkas itu dan membacanya sekilas sambil mereka melangkah cepat.


“ Selamat siang Pak, Bapak sudah di tunggu di ruang rapat ” Bella berdiri menyambut Noah yang keluar dari ruangan itu, lalu mengikuti langkah dua pria itu dari samping. Bella sendiri bekerja sebagai sekretaris Noah.


Noah tidak membalas sapaan Bella dan itu bukan hal baru jika CEO mereka itu memang sudah terkenal dengan sifat dingin dan tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang lain.


Begitu tiba di ruangan rapat para karyawan yang berada di ruangan itu berdiri menyambut kedatangan Noah, setelah Noah duduk dan John memberi isyarat agar orang-orang itu duduk kembali.


Noah menyilangkan tangan di dada bersamaan dengan para karyawan yang mulai menjelaskan laporannya di rapat itu, sementara Noah sedari tadi masih menatap ponselnya dengan serius.


“ Bisa-bisanya wanita itu masih tidak mengirimkan pesan apa pun sampai sekarang padahal aku sudah menegaskan padanya hah..lucu sekali ”


**Mohon Bantuannya untuk vote dan hadiah untuk novel ini teman-teman 🙏🏻

__ADS_1


Untuk sedikit pemberitahuan author up sekitar jam 7 malam ya teman-teman supaya teman-teman bisa baca habis berbuka puasa, jadi tetap aman🤫


Happy Reading😘**


__ADS_2