
“ Menguntit? Sebenarnya apa maksudnya? ” Zein mengedikkan bahu tak mengerti maksud tuduhan tiba-tiba Adira.
Bahkan setelah pindah ke desa baru ini pertama kali dia bertemu lagi dengan Adira, entah karena alasan apa Adira tiba-tiba menuduhnya begitu.
~
~
~
“ Benar-benar gila...aku memang sudah berniat tidak akan lari lagi dari masa lalu. Tapi kalau sudah seperti ini, apa aku sanggup bertahan? Selain itu Helena pasti tidak akan diam saja mengetahui hal ini ” berulang kali sudah Adira mengeluh dan menghela napas tak tahu bagaimana dia harus bertindak menghadapi tindakan nekat Zein.
Adira menatap perutnya dan memberikan elusan lembut.
“ Maaf ya..kamu jadi mendengar kata-kata yang tidak baik, Mama harap nanti kamu mengerti aku melakukan semua ini bukan karena ingin kamu tidak memiliki sosok Ayah. Tapi kita harus berkorban untuk saudaramu yang lain, Mama tidak mungkin egois memaksa bersama dengan Ayahmu sementara anak-anak itu menderita. Mama minta maaf yaa...” membelai perutnya dengan lembut karena Adira yang bisa merasakan pergerakan dan bagaimana janinnya bertumbuh.
Setidaknya semua perasaan yang kadang dirasakannya seperti tersalur juga kepada bayinya. Itu yang membuat dia terkadang takut tapi juga lebih kuat karena berusaha bertahan demi janinnya.
~
~
~
“ Lily sudah lama menunggu ya, tunggu Daddy panaskan susunya sebentar baru nanti Lily minum ” Zein sudah tiba di mansion, dia mengelus rambut Lily sebentar sebelum berlalu ke dapur.
Lily sedang asik menyusun puzzle ketika Zein datang.
Karena di mansion itu Zein tidak mempekerjakan pelayan satu pun, karena itu dia melakukan semuanya sendiri. Sebenarnya dua hari yang lalu Noah dan Aidan juga sempat menginap di mansion tapi setelahnya mereka langsung pulang karena Aidan yang masih harus sekolah dan Noah yang menangani semua urusan perusahaan.
Setelah Zein memutuskan tinggal di desa, otomatis semua pekerjaan beralih kepada Noah.
Lily sudah lulus TK dan sedang masa liburan karena itu dia ikut tinggal di desa itu bersama Zein. Namun bukan usaha yang mudah untuk menyakinkan Lily bahwa niat Zein menemui Adira bukan ingin menyakiti wanita itu.
Setelah usaha yang panjang barulah Zein berhasil membujuk Lily.
“ Ini minum susunya Daddy sudah buat susu hangat khusus untuk putri Lily ” Zein menaruh gelas itu dengan menawan di samping Lily.
__ADS_1
“ Lily gak sabar mau minum ” seru Lily lalu gadis kecil itu meneguk susu itu dengan sangat menikmati.
“ Enak! Itu karena susu ini dari sapi milik Mama kan, Daddy ” Lily mengucapkan itu dengan tersenyum ceria.
“ Benar karena sapinya di besarkan dengan baik oleh Mama Adira ”
“ Hmm..tapi Daddy apa Mama mau bertemu sama Lily? Daddy sudah kasih tahu sama Mama kalau kali ini Lily juga ikut ”
Zein merasa bersalah karena sempat menjanjikan akan membawa Lily bertemu Adira, karena itu sekarang anak kecil itu sangat antusias. Tapi dia harus apa bahkan Adira tidak menanyakan tentang Lily.
“ Untuk hari ini Mama Adira katanya belum bisa, mungkin lain kali Mama Adira akan datang menemui Lily ”
Nampak perkataan Zein tidak sesuai harapannya, Lily langsung berubah murung dan cemberut.
“ Jangan merajuk seperti itu, Lily kan anak baik jadi harus bersabar sampai Mama Adira juga siap untuk bertemu sama Lily. Mungkin karena terlalu rindu jadi Mama Adira ragu untuk datang ”
Lily menganggukkan kepalanya walaupun masih nampak murung.
“ Lily memang putri kecilnya Daddy ” Zein memberikan pujian itu karena melihat sikap Lily yang pengertian.
~
~
~
“ Eh..permisi sebentar ini kalau tidak salah penghuni baru yang tinggal di mansion ya? ” seorang pria yang merupakan penduduk desa itu menghentikan perjalanan Zein dengan niat berkenalan dengan orang yang di bicarakan semua orang di desa itu.
Pria itu berdecak kagum karena ternyata benar rumor yang mengatakan ketampanan orang itu sangat luar biasa.
“ Maaf saya tidak ingin putri saya di sentuh sembarangan ” Zein langsung menahan kuat tangan pria itu yang tadinya ingin bergerak membelai pipi Lily.
“ Maaf..maaf Pak, karena putri bapak sangat cantik rasanya tangan saya tergerak sendiri ingin memastikan apa yang saya lihat ini nyata atau tidak. Maaf Pak kalau tindakan saya sudah keterlaluan ”
“ Baiklah saya maafkan ” Zein melepaskan tangan pria itu, lalu dengan canggung pria itu mohon diri.
Zein menghela napas panjang, benar-benar ketika mereka keluar akan menjadi pusat perhatian semua orang di desa itu. Zein tahu alasannya itu karena wajah blasteran mereka yang dianggap unik dan menarik oleh orang-orang di sana.
__ADS_1
Ketika Zein menggerakkan tangannya ingin meraih tangan Lily untuk mengandengnya, ternyata Lily sudah menghilang dari tempat tadi dia berdiri.
“ Lily! ” panggil Zein tidak menyangka saat perhatiannya teralih sebentar karena pria tadi. Dia jadi berpisah dengan Lily dan tidak tahu kemana putri kecilnya itu pergi. Zein akhirnya segera mencari dengan panik.
~`
~`
~`
“ Rumahmu dimana? Kamu tersesat ya kasihan sekali. Padahal kamu masih kecil ” ucap Lily lembut sambil mengelus kelinci kecil itu di pangkuannya. Lily dengan nyaman mendudukkan tubuhnya di atas rerumputan, tanpa ingat Daddynya.
Tadi ketika Daddynya berbicara dengan pria itu, Lily melihat kelinci kecil itu melompat karena baru pertama kalinya melihat kelinci secara langsung. Lily tanpa pikir panjang langsung berlari mengejar kelinci itu sampai dia berada di tempat itu sekarang.
“ Lily janji akan membawamu ikut juga agar kamu punya rumah...aduh Lily lupa Daddy pasti lagi nyariin Lily sekarang ” Lily menepuk keningnya cepat setelah teringat dengan Daddynya yang dia tinggalkan begitu saja.
“ Kita harus cepat kembali ke tempat Daddy ” berusaha bangkit berdiri sambil membawa kelinci itu dalam dekapannya.
“ Hei anak kecil! Kau mau bawa kemana kelinci itu! ”
Lily seketika kembali terduduk karena terkejut dengan kehadiran wanita yang datang dengan rambut penuh dengan gulungan alat pengkriting rambut, dan juga wajahnya bagian pipi sepertinya di olesi sejenis masker berwarna hitam.
Untuk pertama kalinya Lily melihat penampilan orang yang seperti itu, hingga dia meringkuk ketakutan apalagi suara wanita itu sangat lantang.
“ Aku tanya mau kau bawa kemana kelinci itu? ” tanya wanita itu lagi.
Sementara Lily mulai berkaca-kaca ketakutan karena tidak familiar dengan situasi itu.
“ Daddy..” lirih Lily pelan.
“ Kau bilang apa? Bicara yang jelas, sini berikan kelincinya itu peliharaanku. Aku tidak bisa memberikannya padamu, walaupun dengan alasan kasihan pada anak kecil. Tetap juga kalau mau punya ya beli ”
Lily tidak peduli yang dikatakan wanita itu, tapi dia tetap memeluk kelinci itu erat.
“ Waduh kamu bisa membunuhnya kalau seperti itu?! Dia tidak bisa bernapas! ” wanita itu segera merampas kelinci itu dari tangan Lily.
**Mohon bantuannya untuk like, komen, dan berikan hadiah untuk novel ini. Terima kasih teman-teman 😊
__ADS_1
Happy Reading😘**