
“ Aku tidak tahu dengan pikiran kalian semua, Mommy sudah meninggalkan kita aku mohon kalian untuk merelakan hal itu. Karena Adira tidak merebut tempat itu dari Mommy, tempat itu memang sudah kosong saat dia hadir. Jika Daddy mencintai Adira sebagai istrimu, itu bukan pengkhianatan pada Mommy karena wanita itu memang layak dicintai karena Daddy sudah menikahinya, sekarang aku tanya lagi sebenarnya karena alasan apa Daddy ingin Adira kembali ke rumah ini? ” Aidan bertanya dengan penuh penekanan.
Zein menatap bergantian Aidan, Noah, dan Nadia. Nadia masih terus menunduk tak sanggup menatap anggota keluarganya itu.
“ Aku...merindukan dia ” jawab Zein berat.
“ Semua sudah jelas sekarang untuk perasaan Daddy akui itu pada Adira bukan pada kami, karena yang pantas mendengarnya juga dia bukan kami ” Aidan menghela napas berat.
“ Tapi membawa Adira kembali ke rumah ini aku juga tidak bisa langsung setuju, Kak Noah, Nadia, Aku maupun Daddy bisa saja menyakiti dia lagi. Adira juga belum tentu bisa memaafkan kesalahan kita yang dulu ” lanjut Aidan.
“ A-aku berjanji tidak akan menganggu atau menyakiti Adira lagi ” Nadia buka suara.
Dia berdiri dengan lemah dari sofa itu.
“ Yang aku lakukan benar-benar kejam..aku sangat jahat sampai mengakibatkan Adira yang tidak bersalah pergi dari rumah kita..sedangkan dia sangat baik, aku jahat sekali membiarkan dia yang sedang hamil mengalami ini semua...aku akan memohon maaf padanya..” ucap Nadia dengan sungguh-sungguh.
Mereka semua bisa membaca ketulusan dan penyesalan yang besar dari Nadia.
“ Itu semua juga karena kesalahanku, aku akan minta maaf dan memohon agar Adira mau kembali ke rumah kita lagi ” ucap Noah datar.
“ Tidak..tidak percuma saja jika kalian yang memohon kepadanya agar dia kembali, itu tidak akan berhasil yang harus membawa Adira kembali adalah Daddy ” Aidan melihat Zein menunggu jawaban dari Daddy nya.
“ Benar, untuk urusan membawa Adira kembali adalah tanggung jawabku. Terima kasih untuk pengertian kalian Daddy tidak menyangka sangat berbeda rasanya jika kita saling berbagi masalah dan saling bercerita. Andai saja dulu sebelum membawa Adira masuk ke rumah ini aku membicarakannya terlebih dahulu kepada kalian, meminta pengertian kalian semua pasti tidak akan berakhir seperti ini ” ucap Zein.
“ Kami juga bersalah karena selalu diam tak mau menanyakan atau mencoba mengerti mengapa Daddy menikah dengan Adira. Kami egois tidak memikirkan kebahagiaan Daddy ” balas Aidan.
“ Aku tidak menyangka anak-anakku sudah tumbuh dewasa ” mata Zein berkaca-kaca tidak menyangka ketenangan yang dicarinya bisa dia dapatkan dari anak-anaknya. Aidan menenangkan dia dengan sangat baik.
Aidan mendekat lalu memeluk Daddy nya itu.
“ Aku merindukan saat-saat kita seperti ini Daddy ” Aidan memeluk Zein dengan erat menyandarkan kepalanya di bahu Zein, rasanya tembok pembatas yang masing-masing mereka bangun terasa runtuh saat itu juga dimana mereka sudah tidak takut untuk menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
Zein membuka tangannya mengajak Noah dan Aidan ke pelukannya.
__ADS_1
Nadia segera berhambur ke pelukan Zein, sementara Noah berjalan perlahan lalu memeluk erat keluarganya itu.
“ Aku menyayangi kalian semua..maaf karena keegoisanku membuat keluarga kita menderita ” lirih Nadia.
“ Menyadari kesalahan yang kita lakukan adalah bentuk kedewasaan yang paling besar. Daddy senang kamu sudah dewasa ” Zein mengelus pelan rambut Nadia.
“ Nona A aku akan membawamu kembali, karena keluarga ini..oh tidak kami membutuhkanmu ” , batin Noah.
~
~
~
Di hari yang cerah Zein kembali ke desa tempat Adira tinggal, tidak peduli dengan lama dan kesulitan yang dia tempuh untuk sampai di sana.
Yang pasti dia sudah meneguhkan hatinya untuk tidak goyah. Karena itu saat ini dia sudah memasuki halaman rumah yang dia tahu sebagai rumah Adira.
Adira merapikan rambutnya lagi dia akan memeriksa daftar pengiriman susu ke gudang penyimpanan susu yang akan dikirimkan. Mereka sekarang sudah memiliki pekerja sebanyak 4 orang untuk mengangkut dan membawa susu ke kota untuk di kirim.
Dia membuka pintu keluar dari rumah dengan memegang satu buku yang tidak terlalu besar.
“ Hufff...” lega Adira karena dia berhasil menuruni lima anak tangga rumah itu, dulu itu bukan hal yang sulit tapi setelah perutnya membesar hal semudah itu menjadi kesulitan yang harus Adira lalui.
Tubuh Adira membeku setelah dia akhirnya melihat Zein yang sedang berdiri di depan rumahnya.
Dia segera berbalik ingin masuk kembali ke dalam rumah secepatnya.
“ Adira! Hati-hati ” Zein memegang kedua bahu Adira karena melihat wanita itu yang tergesa-gesa menaiki tangga walaupun dia nampak kesulitan.
Adira menepis Zein dan melanjutkan langkahnya lagi. Zein tidak menyerah dan tetap berada di samping wanita itu.
“ Adira aku mohon tunggu sebentar aku ingin bicara denganmu, tolong beri aku kesempatan ” mohon Zein menahan tangan Adira yang akan membuka pintu untuk masuk kembali ke rumah.
__ADS_1
Adira menatap Zein marah tidak tahu tapi sekarang secara tiba-tiba ada amarah yang besar memenuhi hatinya jika melihat pria itu.
“ Tidak ada hal yang perlu kita bicarakan Mas! Tolong tinggalkan tempat ini! ” sinis Adira mengusir Zein.
“ Banyak hal yang harus kita bicarakan agar kesalahpahaman ini terluruskan Adira aku mohon dengarkan aku terlebih dahulu ” pinta Zein lagi.
Adira berdecik kesal melihat tekad pria itu.
“ Mas mau bilang apa pun sekarang! Itu tidak akan mengubah apa pun! ”
“ Benar tidak akan mengubah apa pun tapi setidaknya kebenaran yang selama ini tersembunyi dari kita akan terungkap. Sekarang aku tahu anak yang kamu kandung adalah anakku dan-
“ Anakmu?! Mas dengar dari siapa hal itu?! Aku sudah menikah lagi sebulan setelah kita bercerai dan ini anakku dengan suamiku! ” Adira tidak membiarkan Zein melanjutkan ucapannya.
“ Kamu punya alasan untuk menyembunyikan hal itu dariku aku mengerti semua itu..maaf karena bahkan sampai hari ini aku tidak tahu kapan aku melakukan hal itu padamu, tapi aku tahu anak itu adalah anak kita ”
Adira tertawa cengah.
“ Itu benar-benar ironi, Mas membicarakan hal itu seolah Mas benar-benar nyakin anak ini adalah anakmu. Aku tegaskan lagi anak ini bukan anakmu! ”
“ Usia kandungan mu tidak bisa kamu ubah atau bohongi Adira, kamu sudah hamil sebulan sebelum kita bercerai ” ucap Zein menyakinkan Adira.
“ Ohh..karena hal itu baiklah karena disembunyikan juga tidak ada gunanya ” ungkap Adira tenang.
Zein merasa senang akhirnya Adira mau mengakui hal itu.
“ Aku sudah berhubungan dengan pria lain yaitu suamiku saat kita masih menikah. Setelah mengetahui kehamilanku makanya aku sangat nyakin untuk bercerai darimu ” lanjut Adira yang langsung menghempas jauh rasa senang Zein yang tadi.
“ Kamu tidak perlu berbohong sampai sejauh ini, aku benar-benar menyesal melupakan kejadian itu tapi jika kamu memberitahu padaku mungkin aku bisa mengingatnya. Aku tidak akan percaya dengan omong kosong yang mengatakan kamu berhubungan dengan pria lain, juga suami yang kamu sebut dari tadi. Jika benar lalu dimana pria itu? ” Zein menekankan hal itu pada Adira.
Ekspresi Adira tidak berubah wajahnya tetap penuh kemarahan namun sikapnya tenang.
“ Aku bodoh makanya menikah pria bajing*n sampai dua kali. Pria yang aku harapkan menjadi suami yang baik ternyata bajing*n tak bertanggung jawab. Naasnya dia sudah lari ” tukas Adira.
__ADS_1
Maaf ya teman-teman karena author tidak up kemarin🙏🏻
Happy Reading 😘