
“ Mas Zein mencariku?! ” Adira tercengang dan tanpa mendengarkan jawaban pelayan itu Adira segera menuju kamarnya.
“ Tapi Tuan besar sudah pulang dan menunggu Anda di-
Pelayan itu sontak berhenti bicara karena Adira sudah melesat pergi sebelum dia sempat memberitahu jika Zein sedang menunggu dia di kamar.
Adira segera berganti pakaian tidak ingin siapa pun curiga setelah menyadari perbedaan gaya berpakaian Adira yang tak seperti biasanya.
“ Aku masih menduga, tak disangka hal yang aku takutkan malah terjadi. Aku harus bilang pergi kemana jika Mas Zein bertanya nanti ” Adira mondar-mandir dikamar itu mencoba mencari alasan yang tepat.
“ Coba pikirkan Adira masih ada waktu sebelum Mas Zein kembali. Aku akan katakan-
“ Kau akan katakan apa? ” Zein yang datang tiba-tiba dari arah belakang Adira.
Adira segera berbalik ketika melihat sosok Zein dari pantulan kaca riasnya.
“ Mas?! ” kagetnya sembari dia segera menaikkan resleting gaunnya yang masih terbuka, tapi karena terburu-buru Adira malah membuat rambutnya terbelit resleting bajunya.
“ Akh!! ” ringisnya setelah merasakan kulit kepalanya tertarik.
“ Aduh! Rambutku tersangkut?! ” panik Adira bingung bagaimana cara dia akan melepaskan rambutnya dari resleting itu.
Zein melangkah ke belakang Adira, menahan tangan Adira agar dia bisa melihat jelas seberapa parah rambut Adira tersangkut.
“ Tahan sebentar ” ucap Zein sembari mencoba pelan-pelan melepaskan rambut Adira yang tersangkut itu.
Sesekali Adira meringis kesakitan saat tak sengaja Zein membuat rambutnya tertarik. Setelah bersusah payah akhirnya rambut Adira terlepas, lalu Zein menarik resleting gaun Adira takutnya gadis itu malah membuat rambutnya tersangkut lagi.
Adira mencoba meraba resleting nya dan merasa tenang karena sudah tidak ada rambut yang tersangkut.
“ Makasih Mas ” ucapnya enggan.
“ Kau akan katakan apa tadi? ” Zein bertanya lagi dengan serius.
Adira tertegun karena ternyata Zein masih belum teralihkan dari hal itu.
“ Aku tidak ingin mengatakan apa-apa Mas ” Adira menjawab tanpa berani menatap Zein.
__ADS_1
“ Dari ekspresinya nampaknya mood gadis ini jauh lebih baik dari pada saat semalam aku tanpa sengaja menciumnya. Aku pikir dia tidak akan mau bicara padaku lagi ”, batin Zein.
“ Pelayan berkata kau sudah pergi sejak tadi pagi dan baru kembali sekarang. Kau pergi ke mana? ” tanya Zein sedikit melunak karena dia lebih tenang awalnya dia pikir Adira pergi dari rumah karena sangat marah pada Zein.
“ Jika aku bilang...Mas pasti akan sangat marah padaku ” lirih Adira.
Zein menatap Adira tajam, jika begitu berarti gadis itu pergi untuk melakukan hal yang membuat Zein marah.
“ Katakan kau pergi darimana tadi? ” Zein mengulang pertanyaannya kali ini lebih tegas.
Adira menggigit bibirnya takut setelah Zein tahu maka Zein akan menghukumnya sama seperti saat dia pergi ke sekolah Aidan.
Adira malah menjawab Zein dengan menggelengkan kepala tak ingin memberitahu kepada Zein.
“ Sebaiknya katakan saja selagi aku masih bertanya karena jika aku sampai tahu setelah menyelidiki hal ini. Maka aku tidak akan berbuat baik padamu ” Zein mengatakan hal itu tanpa pikir panjang yang membuat nyali Adira makin menciut.
“ Aku akan menghitung satu sampai tiga jika kau tidak katakan juga maka aku anggap kesempatanmu habis ”
“ Satu ” Zein mulai berhitung.
“ Dua ”
Benar saja ketika Adira mengangkat kepala untuk melihat reaksi pria itu, dilihatnya raut marah yang nampak nyata di wajah Zein.
“ Aku mohon jangan hukum aku Mas ” mohon Adira sungguh-sungguh.
“ Kalau kau tidak ingin dihukum mengapa menentang perkataanku? ”
Kaki Adira serasa lemas merasakan kembali nada tajam Zein sama seperti Zein menghukum dia saat ikut campur urusan sekolah Aidan.
“ Aku hanya pergi untuk melihat penampilan musikal Nadia...aku sama sekali tidak muncul di sana sebagai orang tua Nadia, bahkan Nadia sendiri tidak tahu aku pergi ke sana Mas ” Adira meremas jari-jarinya kuat.
“ Kenapa tiba-tiba kau pergi melihat penampilan musikal Nadia? ” Zein mendekat kepada Adira yang membuat gadis itu semakin gemetar.
“ Karena tidak ada...tidak ada seorang pun keluarganya yang melihat penampilannya Mas ”
Zein tidak menduga itu yang akan menjadi alasan Adira.
__ADS_1
“ Kau merasa sebagai keluarganya? ” tanya Zein ingin memastikan perasaan dan pandangan Adira tentang anak-anaknya.
“ Iya Mas ” jawab Adira cepat.
“ Maaf karena ke lewat batas...tapi aku menganggap Nadia keluargaku. Bahkan bagiku dia...putriku ” ucap Adira berat karena tahu Zein akan menganggap perkataannya ini sebagai bualan.
“ Kau menganggap Nadia putrimu? ” tanya Zein tak percaya karena selama ini tahu bagaimana hubungan Adira dan Nadia tidak baik-baik saja. Nadia sangat jelas menunjukkan tidak menyukai Adira, tapi mengapa Adira bisa menganggap Nadia putrinya.
“ I-itu karena aku menikah dengan Mas, ketika aku memasuki rumah ini dan mengetahui Mas memiliki empat anak. Entah mengapa aku langsung menganggap diriku ibu mereka, maafkan aku Mas. Aku tahu ini sangat tidak tahu diri aku benar-benar minta maaf ” Adira berulang kali meminta maaf.
Zein tidak tahu harus marah atau bagaimana menanggapi ucapan Adira tadi.
“ Ikutlah denganku ” ucap Zein pada Adira, kemudian perlahan Adira mengekor Zein dari belakang. Dengan cepat Zein menarik sebuah kertas dari laci.
“ Ini surat kesepakatan kita waktu itu kau ingat ” ucap Zein penuh penekanan sembari menunjukkan surat itu pada Adira.
Adira menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“ Kau sendiri yang mengusulkan setelah enam bulan akan pergi dari rumah ini ” lanjut Zein lagi.
“ Ternyata karena aku mengatakan menganggap Nadia putriku Mas Zein berpikir aku akan goyah dan malah membatalkan kesepakatan itu ”
“ Tenang saja Mas ini semua hanya perasaanku, setelah genap enam bulan aku akan langsung pergi ” Adira menjanjikan hal itu lagi.
“ Kau nyakin akan bisa pergi begitu saja bahkan jika anak-anak sudah dekat dan menganggap mu sebagai ibu? ” tanya Zein lagi.
“ Aku akan tetap pergi walau begitu Mas. Aku berjanji tidak akan membatalkan kesepakatan itu ” Adira pikir Zein takut dia tidak akan menjalankan kesepakatan itu, sementara Zein berpikir Adira yang dengan mudahnya akan meninggalkan anak-anaknya setelah kesepakatan itu berakhir. Tanpa pikir panjang bagaimana nantinya perasaan anak-anaknya jika akhirnya Adira juga akan pergi.
Berapa kali lagi anak-anaknya harus kehilangan sosok ibu mereka. Itu yang dikhawatirkan oleh Zein.
“ Adira ” panggil Zein intens.
Adira langsung menatap ke arah Zein karena jika Zein memanggilnya langsung dengan namanya maka sudah dapat dipastikan hal yang akan di katakan pria itu sangat serius.
“ Tidak perlu berusaha mendekati anak-anak ku dan bersikap seperti ibu bagi mereka. Karena nantinya kau juga akan pergi ” ucapan Zein itu bagaikan sebuah pisau yang menancap dalam di hati Adira. Dia berpikir setelah semua usahanya Zein akan melihat ketulusan dari Adira, tapi ternyata Adira salah semua masih sama seperti saat Zein menegaskan batasan kalau Adira bukan ibu dari anak-anaknya.
Jangan lupa like, komen, kasih hadiah sama vote untuk novel ini ya. Terima kasih banyak atas bantuannya teman-teman😁
__ADS_1
Happy Reading😘