Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Pertemuan Bisnis


__ADS_3

Selama perjalanan pulang Aidan hanya bicara sesekali, dan Adira langsung bisa menebak perubahan sikapnya itu pasti karena omongan Eron di pesta tadi.


“ Ai, jangan terlalu memikirkan ucapan Eron. Aku tidak masalah kalian ingin memanggilku apa. Yang lebih penting dari panggilan adalah perasaan kalian padaku. Jika kau memaksakan diri untuk memanggilku ibu juga akan membuatku tertekan ” ucap Adira sebelum akhirnya mengambil jalan terpisah dari Aidan karena dia harus kembali ke kamarnya bersama Zein.


Aidan hanya bisa menatap kepergian Adira, dia tidak menyangka Adira bisa membaca pikirannya. Sebenarnya sejak tadi dia memang kalut memikirkan perkataan Eron, sedangkan Aidan sendiri yang mengatakan akan menganggap Adira sebagai ibu. Tapi dia sama sekali tidak sanggup memanggilnya Ibu.


Setelah mendengarkan perkataan Adira membuat Aidan kembali bisa tenang karena memang apalah sebuah panggilan yang dipaksakan sementara di dalam hati Aidan belum bisa sepenuhnya menerima Adira sebagai ibu. Dia memutuskan untuk melakukan hal itu secara perlahan.


~


~


~


“ Hufftt ” setelah menghela napas panjang Adira merenggangkan sedikit lengannya. Dia bersenang-senang bersama Aidan dan teman-temannya, akibatnya dia jadi sedikit kelelahan. Memutuskan untuk segera mandi Adira mengambil pakaian ganti miliknya.


Ketika akan mengambil piyama kimono yang biasa dia pakai, Adira mengingat larangan Zein ia pun mengurungkan niatnya.


Tak berapa lama setelah mandi dan mengeringkan rambutnya, mata Adira semakin terasa berat karena rasa ngantuk yang menyerang. Baru saja Adira membaringkan tubuhnya dia segera terlelap.


Hampir pukul sepuluh malam Zein pulang dan masuk ke kamarnya, suasana kamar sepi seperti biasanya. Setelah menangkap sosok Adira di atas sofa, Zein segera tahu gadis itu telah terlelap tidur.


Zein yang merasa tubuhnya lengket berpikir untuk mandi. Dia mengambil pakaian untuk dia pakai nanti.


“ Hmmm ” lenguh Adira sambil berbalik ke arah lain bertepatan menghadap Zein. Sepertinya Adira hanya mengigau sebentar karena dia masih nampak nyenyak.


Zein yang menunggu reaksi selanjutnya gadis itu dan ternyata tidak ada pergerakan lagi.


“ Ternyata hanya mengigau ” simpulnya.


Tapi baru saja Zein akan memasuki kamar mandi, dia melihat gaun tidur Adira yang tersingkap mungkin karena tadi Adira bergerak.


Zein melebarkan matanya tak percaya paha putih Adira terpampang nyata, dan membuat dia semakin tak menyangka bahwa gadis itu memang seputih itu.


“ Kenapa wanita ini tidur dengan menggunakan gaun sependek ini ” rutuk Zein, lalu dia segera menarik selimut yang ada di ranjangnya dan menutupi tubuh Adira dengan selimut itu.


“ Apa dia tidak bisa memilih baju tidur yang layak untuk dipakai, waktu itu piyama kimono dan sekarang pakai gaun ” sungut Zein lalu dia meninggalkan Adira untuk pergi mandi.


Kondisi Zein juga sama dengan Adira yang merasakan kelelahan, hingga baru berbaring sebentar di ranjangnya Zein segera terlelap.

__ADS_1


~`


~`


~`


Adira mengucek-ngucek matanya setelah dia terbangun dari tidurnya. Tadi malam tidurnya sangat nyenyak. Dia lalu beranjak untuk membereskan selimut yang dia pakai.


Adira menatap bingung selimut itu.


“ Tunggu inikan selimutnya Mas Zein? ” tanyanya pada diri sendiri. Dan benar saja diranjang Zein tidak dia temukan selimut.


“ Apa semalam aku mengambil selimut Mas Zein? Atau...Mas Zein yang memakaikannya ”


“ Ehh! Kau memikirkan apa sih..untuk apa Mas Zein melakukan itu. Tapi kalau bukan Mas Zein berarti aku yang mengambil selimut ini..ahh kesalahan baru lagi ” sesal Adira.


Ketika Adira berjalan menuju kamar Lily seorang pelayan langsung menghampiri dia.


“ Permisi Nyonya saya ingin memberitahu jika Tuan besar tadi memerintahkan saya untuk mengatakan kepada Nyonya untuk menemui Tuan Besar di ruang kerjanya ” beritahu pelayan itu.


“ Ruang kerja?! ” kaget Adira.


“ Be-benar Nyonya ” jawab si pelayan gugup mengira Adira marah kepadanya.


“ Nona Muda sudah diantarkan oleh supir sejak tadi Nyonya ”


Adira melirik jam tangan miliknya, ini masih belum terlambat dan seharusnya Zein sudah berangkat bekerja lalu mengapa dia masih berada di ruang kerja.


“ Baiklah ” ucap Adira pada pelayan itu.


“ Saya permisi Nyonya ” pelayan itu berlalu pergi.


“ Tidak mungkin hanya karena selimut Mas Zein sampai semarah itukan? Ini pertama kalinya aku disuruh ke ruang kerjanya. Apa jangan-jangan aku akan kena hukum lagi ” Adira bergidik ngeri, tapi dia juga tidak berani membuang waktu Zein dan segera menuju ruang kerjanya.


Setelah beberapa kali ketukan akhirnya Adira mendengar suara sahutan Zein yang mengizinkan dia untuk masuk.



Adira takjub melihat ruang kerja Zein, awalnya dia menduga ruang kerja itu akan nampak seperti sebuah ruangan yang menyeramkan dengan nuansa gelap mencekam layaknya sebuah ruangan penghakiman.

__ADS_1


Tapi segera dugaannya itu terpatahkan ketika dia masuk dan melihat sendiri ruangan dengan gaya klasik didominasi furnitur kayu dan sangat cerah.


Setelah beberapa rak buka yang berada tepat di dekat Zein, masih ada beberapa rak di sisi lain ruang kerja itu yang nampak seperti perpustakaan karena banyaknya buku.


“ Duduklah ” perintah Zein.


“ Ahh..aku hampir lupa bukan ruangan yang membuat tempat ini sebagai tempat paling menyeramkan di rumah ini, tapi orang yang menempati ruangan itu ” , batin Adira saat dia duduk di kursi yang tepat berhadapan dengan Zein.


“ Ada apa ya Mas? Tadi seorang pelayan menyampaikan kalau Mas ingin bertemu denganku ” ungkap Adira berusaha tetap tenang.


Zein meletakkan pulpen yang dipegangnya, kemudian mengangkat kepala dan bertatapan dengan Adira.


“ Bersiaplah nanti sore kau harus ikut ke sebuah acara pertemuan bisnis denganku ” ucap Zein yang sukses membuat Adira tak paham dengan maksud ucapannya.


“ Tapi bukannya waktu itu Mas Zein bilang aku tidak perlu ikut ke acara yang melibatkan bisnis ” protes Adira mengingatkan kembali saat Zein menegaskan sebuah larangan untuk Adira jangan terlibat dalam dunia pekerjaannya, dan itu juga ditambahkan langsung dalam poin kesepakatan mereka.


Zein meremas tangannya kesal. Adira yang melihat itu langsung merinding.


“ Aku juga tidak mau hal seperti ini terjadi, sayangnya Malik bajing*n bermulut besar itu berkoar-koar ke sana kemari menyebarkan rumor.” Zein sampai memaki sangking kesalnya.


“ Malik siapa? ” tanya Adira makin tak mengerti.


“ Kalau tidak salah nama anaknya Kevin dia berteman dengan Aidan. Dia mengatakan saat rapat disiplin kalian bertemu, itu salahmu juga terlibat dengan urusan sekolah Aidan. Tanpa tahu masalah yang akan timbul. Si Malik itu menyebar rumor yang membuat namaku buruk, aku tak ingin nama baikku rusak. Karena itu juga akibat dari perbuatanmu kau harus tanggung jawab ” tegas Zein.


“ A-aku harus melakukan apa? ”


“ Cukup ikut denganku di acara itu tanpa protes apa pun maka masalahnya selesai, setelah itu orang-orang tidak akan percaya lagi dengan rumor yang diucapkan bajing*n itu ” Zein mengertakkan rahangnya.


“ Sepertinya ini masalah serius, separah apa rumor itu sampai bisa membuat Mas Zein semarah ini bahkan sampai harus membawaku ke acara bisnisnya ”


“ Baik Mas, tapi aku belum pernah mengikuti acara seperti itu. A-aku takut malah membuat kesalahan dan mempermalukan Mas di sana ” ungkap Adira tidak nyakin dia berguna jika diikutkan dalam urusan itu.


Zein membuang napasnya kasar mendengar penuturan Adira.


“ Benar juga gadis ini belum pernah menghadiri acara yang seperti itu, tapi untuk mengajarinya pun sudah tidak ada waktu lagi ”


“ Selama kau menuruti perkataanku semua akan baik-baik saja ”


Adira mengigit bibirnya gugup mendengar ucapan Zein, itu sama saja seperti sebuah perintah yang mengekang Adira harus berbuat layaknya boneka.

__ADS_1


“ Iya Mas ” jawab Adira.


Happy Reading😘


__ADS_2