Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Pria Itu Memang Harus Mati


__ADS_3

“ Bagus jadilah gadis penurut ” Derril mendekati Adira berniat membelai wajah wanita itu tapi belum sempat tangannya menyentuh Adira. Tubuhnya dengan cepat terpental setelah mendapatkan sebuah tendangan keras dari arah samping ke tubuhnya.


“ Akhh!! ” pekik Adira terkejut.


“ Cihh!! ” desis Derril dengan kesal dia berusaha bangkit berdiri.


Zein mendekat dengan cepat belum sempat tubuh Derril seimbang dia segera melayangkan bogem mentah ke wajah Derril sampai pria itu kembali tersungkur.


“ Siapa kau bajing*n!! ”


“ Berani sekali kau menyentuhnya! Tangan mana yang kau pakai untuk menyentuhnya!! ” tak peduli hal lain Zein menginjakkan kakinya kuat ke lengan Derril.


“ Akhh...” Derril menjerit kesakitan.


“ Berani sekali kau menyentuh istriku!! Aku akan membunuhmu!! ”


Bugh!! Bruk!!! Bugh!! Bugh!!!


Dalam waktu sebentar saja wajah Derril sudah babak belur sampai rasanya dia belum sempat bernapas tapi Zein terus melancarkan tinjunya dengan mulus di wajah Derril.


“ Hukh!! ” batak Derril begitu tinju Zein mendarat di perutnya. Memberi dia rasa sakit luar biasa sampai dia memundurkan tubuhnya lemah berusaha menjauh dari Zein.


“ Mas berhenti! Dia bisa mati..” jerit Adira tak ingin Zein di kuasai amarahnya karena dia nyakin mantan suaminya itu bisa saja membunuh Derril di situ saat itu juga.


Mendengar jeritan Adira sejenak kesadaran Zein kembali, dia mengingat yang lebih penting dari pria itu adalah Adira dan anaknya. Dengan cepat Zein berdiri bergerak menghampiri Adira mencoba melepaskan tali yang mengikat Adira.


“ Aku akan segera membalaskan perlakuannya padamu, aku akan membuat dia menerima siksaan yang seribu kali lebih menyakitkan dari pada ini ” geram Zein merasakan amarah besar setelah dia melihat bekas ikatan tali yang memerah di tangan Adira.


“ Jangan Mas...kita serahkan dia ke polisi. Aku baik-baik saja, jangan sampai Mas melakukan kejahatan karena pria jahat itu ”


“ Berengs*k itu tidak layak mendapatkan pengampunan itu ”


Adira menggelengkan kepala tidak menyetujui perkataan Zein. Begitu Adira melihat ke depan dia segera berteriak keras.

__ADS_1


“ Mas!!! ”


Prangg!!!


Suara keras vas yang di pecahkan Derril ke kepala Zein terdengar sangat kuat.


“ Hah..bajing*n tengik dia bahkan tak membiarkan aku membalas..langkahi dulu mayatku baru kau mengoceh ingin menghabisiku sial*n!! ” dengan gontai Derril menendang kuat tubuh Zein.


“ Akhh!! Mas!! Aku mohon hentikan jangan lakukan itu..hikss..aku mohon ”


“ Aku terlalu baik padamu kan! Kau pikir aku tidak tahu siapa bajing*n ini, dia mantan suamimu karena itu kau memberinya tatapan penuh cinta. Dasar wanita murahan!! ”


Tubuh Adira bergetar hebat mendengar bentakan Derril juga tatapan menyeramkan pria itu.


Derril berjalan dengan lunglai ke arah Adira dia memungut tali yang tadi sudah di lepas Zein dari tangan Adira. Dia menyeringai menyeramkan menatap Adira.


Adira menggelengkan kepala cepat tahu jika pria itu berniat jahat padanya.


“ Kau milikku! Aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu! ”


“ To-tolong..a-aku...” ucap Adira tersengal sembari dia memegangi lehernya yang semakin tercekik dan membuat dia tak dapat bernapas.


“ Kamu cantik sekali! Hahahahahaha benar-benar cantik! ” Derril tertawa kesetanan melihat Adira yang merontah berusaha melepaskan tali itu dari lehernya.


Rasanya Adira tak sanggup lagi matanya memerah menahan sakit dengan air mata yang tertahan di sana.


Zein mulai bergerak dia sudah mendapatkan kesadarannya kembali. Pemandangan yang dilihatnya pertama kali setelah mengangkat kepala adalah Adira yang berusaha melepaskan diri.


“ Kau sudah sadar! Lihatlah hahahahaaha Adira hanya milikku hanya aku yang bisa menentukan hidup dan matinya ” sorak Derril seolah memperoleh kemenangan lebih setelah berhasil menunjukkan pada Zein bagaimana dia menyiksa Adira.


“ Berengs*k gila!!! ” bentak Zein dia berdiri dengan cepat.


“ Kalau kau mendekat maka aku akan memberikan kematian yang cepat kepadanya! Kau pikir hanya kau yang sakit melihat dia seperti ini. Aku juga! Hatiku sakit melihat sayangku mati seperti ini tapi ini pilihannya karena ini lebih baik untuknya benarkan sayang ”

__ADS_1


Zein ingin bergerak tapi dia tidak ingin pria itu semakin mencekik Adira karena dia tahu pria itu bisa saja berbuat gila. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan Adira terus seperti itu.


Brakk!!!


Suara tendagan keras tepat mengenai tubuh Derril sampai akhirnya dia ambruk dan tangannya terlepas dari tali yang dia lilitkan ke leher Adira.


“ Akh!! Bajing*n mana lagi yang berani menendangku!” pekik Derril.


Yang memberikan tendangan pada Derril adalah Noah yang datang di waktu yang tepat dari arah belakang, hingga Derril tidak menyangka akan mendapat serangan tiba-tiba itu.


Noah meraih kerah baju Derril menghajar pria itu dengan tinjunya dan dengan tenaga penuh mendorong tubuh Derril sampai terbentur ke dinding itu dengan keras. Hingga pria itu menjauh dari sekitar Adira.


“ Dira..Adira ” isak Helena sembari cepat menghampiri Adira. Adira belum sanggup bicara dia masih terus menghirup udara berusaha memulihkan pernapasannya.


“ Hikss..ya Tuhan apa yang dilakukan pria jahat itu..hikss..Adira..” Helena melepaskan tali yang melilit leher Adira mengelus pelan bekas tali yang memerah di sana, dia juga dengan cepat melepaskan kaki Adira.


“ Ayo kita pergi dari sini Dira..kamu harus menyelamatkan diri..ayo kamu masih bisa berdiri..” ajak Helena dengan suaranya yang sudah parau karena menangis. Adira mengangguk pelan, lalu meraih tangan Helena untuk membantunya berdiri. Kakinya gemetaran setelah akhirnya berdiri setelah hampir seharian terikat di kursi itu.


Zein melangkah ke arah Noah, dia meraih bagi anaknya itu memberi peringatan untuk menyingkir. Setelah Noah menyingkir tanpa bicara apa pun Zein menghajar Derril habis-habisan bahkan sampai Derril benar-benar telah kehilangan kesadarannya, tapi seakan tidak pernah puas Zein terus menghabisi pria itu.


“ Noah hentikan Ayahmu atau tidak pria itu bisa mati ” ucap Helena memperingatkan setelah melihat Derril yang sudah terkapar lemah di sana.


“ Pria itu memang harus mati ”


Helena menutup mulutnya dengan tangannya terkejut mendengar jawaban Noah, bagaimana bisa dengan santainya pria itu malah memberikan jawaban tersebut sedangkan dia sudah ketakutan Zein akan membunuh Derril.


Adira juga sangat khawatir apa yang ditakutkan Helena benar-benar terjadi. Dia berusaha berdiri tanpa bantuan Helena.


“ Dira..” lirih Helena siaga takut tiba-tiba Adira terjatuh karena Adira melepaskan pegangannya dari tangannya.


Adira memberikan isyarat dengan tangan pada Helena untuk tidak perlu membantunya lagi karena dia sudah sanggup berdiri.


Dengan langkah pelan dan menyeret kakinya susah payah akhirnya Adira dapat mendekati Zein. Lalu dengan satu gerakan pasti dia menangkap tangan Zein yang akan melayangkan tinjunya kembali kepada Derril.

__ADS_1


“ Jangan mengotori tanganmu karena orang jahat seperti dia Mas..” pinta Adira dengan tulus.


Happy Reading 😘


__ADS_2