Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Selera Humor Yang Bagus


__ADS_3

Adira mempersiapkan gaun dan berdandan sendiri tanpa ada seorang pun yang membantunya. Sejujurnya Adira sangat bingung dan tidak tahu harus berdandan seperti apa. Tapi setelah banyak mencari informasi dari internet dia memutuskan untuk melakukannya sendiri.


Karena untuk meminta bantuan pun dia tidak punya seseorang yang dapat di percaya, sedangkan Zein sendiri tidak mengungkit tentang bagaimana Adira harus tampil di acara itu.


“ Kita akan berangkat sekarang ” ucap Zein begitu masuk ke dalam kamar itu tanpa pemberitahuan sebelumnya.


“ Iya Mas ” jawab Adira cepat begitu melihat Zein yang juga telah siap untuk berangkat.


Zein terdiam melihat Adira dari ujung kaki sampai kepala.



Adira yang merasa sedikit canggung karena Zein melihatnya sampai seperti itu.


“ Apa penampilanku buruk Mas? ” risau Adira.


Sementara Zein masih tercengang tidak menyangka gadis yang biasa ini selalu dilihatnya tampil casual, bisa berdandan seperti itu. Penampilan Adira sangat cantik, belahan gaun itu memamerkan kulit putih memberikan kesan seksi layaknya wanita dewasa tapi tak membuat Adira kehilangan kesan polosnya.


“ A-aku akan ganti baju kalau begitu ” Adira memutuskan karena Zein hanya diam tak menanggapi ucapannya.


“ Tidak perlu ” larang Zein cepat.


“ Aku tidak masalah jika harus ganti pakaian lagi Mas dari pada membuat Mas malu ”


“ Aku sudah bilang tidak perlu, penampilanmu sudah cocok ” tukas Zein tak ingin memuji berlebihan padahal sebenarnya dia merasa kagum melihat kecantikan Adira dalam balutan gaun hitam yang sukses menampilkan lekuk tubuh indah milik Adira.


Zein segera melanjutkan langkahnya sementara Adira mengikuti dari belakang, Adira memutuskan untuk percaya saja dengan yang dikatakan Zein lagipula Adira memang sudah nyaman dengan gaun dan dandanannya.


“ Masuklah ” Zein membukakan pintu mobil untuk Adira.


“ Makasih Mas ” ucap Adira tak terlalu menganggap hal itu spesial karena mungkin Zein hanya bermurah hati membantunya membukakan pintu mobil karena kebetulan Adira masih harus memegang tas tangannya.


Karena menurut Zein acara bisnis yang akan mereka hadiri bersifat privasi makanya dia yang menyetir sendiri. Selama dalam perjalanan Zein memberitahu apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan Adira. Sementara Adira hanya menjawab ketika dia memang dibutuhkan.


Ketika mereka sudah sampai Zein juga segera membukakan pintu untuk Adira, dan sebelum melanjutkan langkahnya Zein menyodorkan lengannya. Mengetahui tujuan hal itu Adira mengaitkan lengannya bergandengan dengan Zein.

__ADS_1


“ Huftt..”


“ Huftt ”


Berulang kali Adira menghela napas untuk mengurangi tekanan gugup dan sedikit takut yang dirasakannya.


“ Santai saja ” ucap Zein, dan itu bukan kalimat penenang melainkan kalimat perintah. Adira segera mengatur sikapnya lagi.


Begitu mereka tiba diruangan yang juga sudah dipenuhi pengusaha-pengusaha lain yang kebanyakan datang berpasangan. Serentak para pengusaha itu berdiri menyambut kedatangan Zein.


“ Selamat datang Zein ” seru Malik, ya setidaknya Adira langsung tahu jika orang itu Malik yang membuat Zein marah karena Adira sendiri sudah pernah bertemu dengan pria itu saat rapat disiplin.


“ Terima kasih, Mal. Kau memang selalu bersemangat ” balas Zein walaupun nampak jelas ketidaksukaannya.


Zein mengarahkan Adira untuk mendekat ke arah kursi mereka, semua tamu duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang besar.


“ Sebelumnya aku akan memperkenalkan istriku pada kalian semua dan aku harap kalian dapat membuatnya nyaman karena ini pertama kalinya dia ada aku bawa ke acara seperti ini ” ucap Zein seakan memberikan peringatan kepada orang-orang yang ada di sana.


“ Salam kenal semua Adira Brown ” Adira memperkenalkan dirinya seperti yang telah diajarkan Zein.


“ Duduklah sayang ” ucap Zein lembut sembari merangkul pundak Adira mesra.


Jangan tanya apa Adira terkejut dengan panggilan sayang itu, karena dia sudah terkejut dari awal saat Zein mengatakan hal itu padanya di perjalanan tadi. Jadi saat di acara ini Adira berusaha mengikuti rencana.


Malik kesal melihat interaksi antara Zein dan Adira, karena dari tatapan orang-orang di sana kepada Malik seakan menuntut penjelasan dan membenarkan bahwa Malik telah berbohong mengenai cerita yang dia katakan tentang Zein.


“ Aku tidak menyangka Nyonya Brown sangat muda, aku jadi iri kepada Zein ” tukas Malik tak ingin hal ini berlalu dengan mudah untuk Zein.


“ Terima kasih atas pujiannya Tuan Malik ” balas Adira elegan.


“ Biasanya yang muda memang bisa menyalurkan energi yang lebih ” ucap seorang lainnya tertawa nampaknya dia berada di pihak yang sama dengan Malik.


Rahang Zein langsung mengeras mendengar olok-olokan itu. Dengan sigap Adira meraih tangan Zein memberi kode agar tidak terpancing dengan ucapan orang itu.


“ Benar yang dikatakan Mas Zein saat berada di sini kita tidak akan tahu yang mana musuh yang mana teman ”

__ADS_1


“ Baguslah jika Anda berpikir seperti itu berarti kami nampak seperti pasangan yang berenergi. Saya sendiri juga senang jika bisa saling berbagi energi positif dengan suami saya. Karena entah mengapa rasanya disekitar sini banyak energi negatif ” sindiran lembut Adira dia lakukan dengan halus, dan tepat sasaran hingga orang itu langsung terdiam.


“ Ahh..Nyonya Brown pasti sedikit terkejut orang-orang ini memang suka bercanda seperti itu Nyonya ” ucap yang lain seakan berusaha jadi penengah.


“ Hmm...Tuan sedari tadi aku lihat Anda kurang berenergi apa itu karena istri Anda sudah terlalu tua? ” tutur Adira.


Seketika suasana di sana berubah semakin menegangkan.


“ Apa maksud Anda Nyonya Brown? ” pria itu mulai kesal.


“ Ups..” Adira menutup mulutnya dengan jemarinya lembut.


“ Aku bercanda ” lirihnya polos.


Semua yang ada di sana hanya bisa diam, tak bisa bicara untuk sekadar menegur Adira karena jelas tadi mereka bilang itu bentuk candaan.


“ Hahahahaa ” tawa Zein puas.


“ Bukankah istriku punya selera humor yang bagus ” puji Zein lalu mengecup telapak tangan Adira mesra. Zein tersenyum miring melihat reaksi para pengusaha yang ada di sana.


Malik sendiri tidak berani berkutik lagi sekarang para pengusaha lain akan balik menyerangnya karena dianggap sebagai penyebar rumor palsu. Bahkan sampai acara pertemuan bisnis yang hanya dilalui dengan makan malam bersama dan beberapa perbincangan bisnis itu berakhir, Malik tidak mengatakan sepatah katapun lagi.


Adira sedari tadi merasakan tatapan tajam dari seorang wanita paruh baya kepadanya, melihat sesekali sepertinya wanita itu datang sendiri ke acara itu. Anehnya wanita itu hanya diam tapi terus menatap Adira dengan tatapan sinis seolah benar-benar membenci Adira.


Padahal seingat Adira ini baru pertama dia bertemu dengan wanita itu. Setelah acara selesai para pengusaha itu satu persatu beranjak pergi dari tempat itu.


“ Pedofil yang menyimpan gadis muda tanpa status katamu! Jelas tadi dia memperkenalkan diri sebagai Nyonya Brown! Bikin malu saja ” kesal pengusaha itu pada Malik ketika mereka sudah berada di luar.


“ Aku harusnya tahu tidak boleh percaya kepada mulut besar ” rutuk yang lainnya lagi. Begitu juga dengan para pengusaha lainnya yang membuat Malik cepat-cepat meninggalkan tempat itu.


“ Aku tidak tahu Zein kau akan mempermalukan aku seperti ini ” ucap wanita paruh baya itu sinis tepat di hadapan Zein dan Adira, sebelum pergi pun wanita itu masih menatap Adira dengan tatapan bermusuhan.


“Mas kalau boleh tahu siapa wanita tadi? ” tanya Adira karena dia juga penasaran mengapa wanita yang bahkan tidak dikenalnya itu bisa membencinya secara tiba-tiba.


Happy Reading 😘

__ADS_1


__ADS_2