Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Bukti Terakhir


__ADS_3

“ Adira membunuh Mommy?! ” pekik Nadia semakin tak mengerti akan situasi itu.


“ Benar wanita itu yang merencanakannya, aku tahu pria bisa saja tergoda pada wanita lain bahkan saat dia masih memiliki istri. Tapi wanita penggoda tidak tahu diri itu menjadi serakah dan ingin menjadi satu-satunya karena itu dia membunuh putriku ”


Kepala Nadia serasa berputar-putar mendengar kata membunuh itu berulang kali, dia tidak menyangka hal yang awalnya seperti bualan akibat depresi Neneknya saat ini terasa nyata dan masuk akal untuk di percaya.


“ Ke-kenapa Daddy bisa mengkhianati Mommy..hikss..apa salah Mommy sampai harus menerima itu semua akhh!!! ” Nadia berteriak marah perasaannya hancur seketika, menerima fakta Daddynya menikah lagi sudah sanggup membuatnya merasakan kesedihan yang mendalam. Apalagi setelah mendengar jika Daddynya berselingkuh dari Mommy nya.


“ Kenapa Mommy harus dikorbankan untuk hubungan mereka?! Aku akan menghabisi wanita itu sekarang juga!! ”


Glory segera menahan cucunya yang nampak menggila karena amarahnya itu.


“ Nadia! Dengarkan Nenek tenangkan dirimu! ” tegas Glory mengenggam erat kedua bahu Nadia agar gadis itu mendengarkan dia.


“ Saat ini kita tidak tahu apa Daddy mu berpihak pada wanita itu! Wanita yang sanggup membunuh Mommy mu bukan berarti tak sanggup melukai kalian jika merasa dirinya terancam. Nenek tidak mau ada sesuatu yang terjadi pada kalian! ” suara Glory keras seolah ingin gadis itu mendengarkan dia sepenuhnya


“ Lalu aku harus membiarkan wanita yang telah membunuh Mommy hidup tenang di rumah kami?! Tidak Nek aku akan membunuh wanita itu ”


“ Nadia! Jangan bertindak gegabah yang membuat kita tidak akan bisa membalas wanita itu. Malah membiarkan dia lolos dengan mudah. Semuanya butuh rencana, karena itu Nenek memberitahu hal ini padamu. Ikuti perkataan Nenek maka semua akan berjalan lancar. Akan aku pastikan wanita itu menderita ” rahang Glory mengeras dengan kemarahannya.


Sedikit demi sedikit Nadia mulai tenang.


“ Aku tidak akan tahan untuk tidak menghabisi wanita itu begitu aku melihatnya Nek ” tukas Nadia masih dengan sisa kemarahannya.


“ Tahan dirimu untuk saat ini saja. Hanya sampai Nenek mengumpulkan bukti terakhir yang membuat kita bisa langsung berhasil mengirim dia ke penjara ” Glory menyakinkan Nadia atas rencananya.


“ Tapi berapa lama lagi Nek, karena wanita itu sangat berbahaya. Apalagi saat ini dia dekat dengan Lily aku tidak mau Lily dalam bahaya ” risau Nadia membayangkan hal-hal terburuk yang akan Adira lakukan pada adik kecilnya itu.


“ Segera...begitu Nenek mendapatkan bukti terakhir, maka saat itu rencana kita akan di jalankan ” seringai Glory puas.


~


~


~

__ADS_1


Zein kembali ke kamarnya seperti biasa, walaupun Adira berbaring di sampingnya tapi sama sekali tidak ada interaksi antara mereka. Adira tetap berbaring dalam diam seperti biasa tak menghiraukan keberadaan Zein. Tak peduli apa yang dilakukan pria itu, dia sama sekali tidak bertanya atau bicara apa pun.


Sejujurnya Zein merasakan perasaan aneh yang membuat dia tersiksa setiap kali melihat diamnya wanita itu padanya. Sepertinya peringatan Zein waktu itu benar-benar melukai Adira sampai Adira benar-benar menjauh dari anak-anak sesuai perintah Zein.


Makin hari Adira semakin dingin kepada Zein, tidak pernah sekalipun dia bicara terlebih dahulu kepada Zein.


“ Nadia menginap di rumah ibu mertuaku. Sudah lama dia tidak mengunjungi Neneknya ” ucap Zein tahu Adira masih belum tidur dan wanita itu pasti bertanya-tanya Nadia pergi ke mana dan tapi tentu saja tidak akan mau menanyakan hal itu pada Zein.


Adira membuka matanya sebentar setelah mendengar ucapan Zein, kemudian dia kembali berpura-pura tertidur pulas.


Melihat wanita itu sama sekali tidak mengeluarkan tanggapan Zein memilih diam dan berbaring membelakangi Adira.


Jarak yang terasa semakin jauh yang bahkan dulunya jarak itu belum mendekat namun malah terasa semakin jauh dan dalam jurang pemisah diantara mereka.


Pagi itu Adira bangun menyiapkan keperluan Lily karena hari ini Lily akan ikut ke perkemahan sekolah, begitu juga dengan Adira sebagai orang tua yang akan mendampingi Lily karena mereka akan menginap untuk satu hari di perkemahan.


“ Lily berpamitanlah pada Daddy ” bisik Adira pelan begitu dia keluar dari kamar Lily dan masih mendapati Zein di meja makan.


Lily berlari kecil menuju ke arah Zein.


Zein sudah tahu tentang acara perkemahan itu, dia sendiri yang menandatangani surat persetujuan orang tua.


“ Baiklah tapi Lily harus janji akan bersikap baik dan menurut kepada Mama Adira ” balas Zein mengelus lembut rambut Lily.


“ Kalau begitu sampai jumpa Daddy ” seru Lily kemudian kembali kepada Adira, dia menggandeng tangan Adira karena mereka akan segera pergi.


Adira melewati Zein tanpa memandang atau bicara apa pun pada pria itu. Zein hanya bisa menatap sosok Adira yang semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya tak terlihat lagi.


~


~


~


Zein merasa sangat kalut hingga begitu hari mulai sore dia tidak kembali ke rumah, melainkan pergi ke sebuah bar terkenal di kota itu. Dia menikmati minuman keras yang selama ini tidak disentuh karena tak ingin Adira merasa terganggu dengan aroma alkohol.

__ADS_1


Zein menertawakan dirinya sendiri karena masih memikirkan bahwa wanita itu pasti tidak suka jika dia kembali ke rumah dengan aroma alkohol yang menyengat. Bisa-bisa Adira menegurnya seperti dengan aroma rokok waktu itu.


Yang membuat Zein sampai sekarang berhenti merokok. Hari ini dia memutuskan untuk minum sampai dia merasa puas dan tenang karena hari ini Adira tidak ada di rumah.


Tidak akan ada yang terganggu walaupun Zein kembali ke kamarnya dengan aroma alkohol yang memenuhi ruangan itu dalam sekejap.


Zein meneguk minuman itu berulang kali sampai dia benar-benar mabuk saat itu.


Pukul 12 malam dia baru kembali ke rumahnya, sangat lewat dari waktu dia biasanya sudah tidur. Lampu di setiap sudut rumah juga sudah di padamkan.


Zein berjalan tertatih dan oleng memasuki kamarnya. Saat dia masuk kamar itu hanya diterangi cahaya redup lampu tidur.


Zein terduduk setengah sadar di sisi ranjang.


“ Hmm...dia bahkan masih menganggu ku dengan datang ke dunia imajinasiku. Dasar wanita ini selalu bisa membuatku merasa tak tenang ” ucap Zein tertawa tak jelas karena dia melihat sosok Adira yang berbaring seperti biasanya padahal dia tahu saat ini wanita itu tidak ada di rumah. Dan sosok ini hanya bayangan yang selalu mengusik Zein selama ini.


“ Kali ini karena sudah datang lagi...kenapa hanya diam dan berbaring seperti itu ” Zein meraih tubuh Adira cepat.


“ Hmm? Rasanya kau benar-benar nyata..bagaimana ini aku bahkan sampai hampir percaya kau bisa di sentuh ” oceh Zein sedikit tak jelas.


Mata Adira membulat sempurna begitu dia menyadari tubuhnya berada dalam dekapan Zein.


“ Oh..tatapan mata ini kau memang selalu bisa mengangguku seperti biasanya. Lalu kau akan menunjukkan senyum mu lagikan, aku tak tahu kenapa kau terus datang ke pikiranku setiap hari ”


“ Mas?! ” pekik Adira tertahan.


“ Sekarang bahkan kau sudah menambahkan efek suara. Benar-benar gadis penganggu ” Zein tertawa lagi lalu semakin mendekap tubuh Adira yang dianggap sebagai imajinasi itu.


“ Mas lepaskan aku! ” ronta Adira.


**Maaf karena hari ini author terlambat up ya teman-teman🙏🏻


Semoga teman-teman suka dengan novel ini, jangan lupa untuk berikan dukungan berupa like, komen, hadiah dan vote. Karena dukungan teman-teman sangat dibutuhkan agar peforma novel ini meningkat😁


Happy Reading😘**

__ADS_1


__ADS_2