Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Piyama Kimono


__ADS_3

“ Apa yang ku pikirkan ” ucap Zein tersadar karena pikirannya.


Zein segera melangkah kembali ke ranjangnya, merasa dia hampir saja melakukan hal gila.


~


~


~


Adira melenguh sebentar, membuka matanya perlahan menatap redup cahaya matahari yang lembut memasuki kamar melalui celah-celah jendela.


Setelah mendudukkan tubuhnya Adira mencoba melihat sudah pukul berapa saat ini.


“ Sudah jam enam pagi ” ucapnya pada diri sendiri.


Adira bangkit bermaksud membereskan selimut yang dia pakai untuk tidur semalam. Lalu lanjut dengan membereskan tempat tidur Zein.


Adira melangkah pelan menuju ranjang Zein, sampai akhirnya dia menangkap sosok yang nampak familiar itu.


Hampir saja Adira berteriak untungnya dia segera menahan diri. Bagaimana tidak untuk pertama kalinya Adira melihat Zein masih tertidur lelap padahal ini sudah jam enam pagi. Biasanya Zein tidak akan terlihat lagi di kamar. Biasanya setiap pagi dia akan bangun tepat pukul lima pagi, setelah mandi dia akan menikmati sarapannya di ruang kerjanya sembari memeriksa pekerjaan yang akan dia lakukan hari itu.


Oleh karena itu Adira dan Zein sangat jarang berpapasan saat pagi hari. Tapi hari ini untuk pertama kalinya Zein masih tidur dengan pulas di ranjangnya.


“ Aku tidak sedang bermimpikan..ini memang sudah pagikan. Lalu kenapa Mas Zein masih tertidur? ”


“ Apa dia akan marah jika aku membangunkannya, karena tidak biasanya Mas Zein masih tidur jika sudah jam segini. Jangan-jangan dia sedang sakit ” panik Adira, dengan perasaan ragu dia mencoba untuk memastikan keadaan Zein dengan menyentuh dahinya.


Tapi belum sempat melakukannya Adira dengan cepat menarik lagi tangannya.


“ Jangan Adira nanti jika dia terbangun, lalu memarahimu. Akibatnya akan parah ada pepatah yang bilang jangan membangunkan kerbau yang tertidur, benarkan kerbau ahh..entah apa pun itu siapa peduli” ungkap Adira cermat.


Menunggu sejenak Adira berdiri sambil mondar-mandir di samping ranjang itu. Akhirnya pertahanan diri Adira runtuh dia tidak tahan lagi.


Dengan perlahan dia menyentuh dahi Zein.


“ Suhu tubuhnya tidak panas ” ucap Adira nyakin. Baru saja dia berniat menarik tangannya kembali tiba-tiba Zein meraih tangannya, membuat Adira yang sedang dalam posisi kurang seimbang segera terjatuh dan menimpa dada bidang Zein.


Mata Zein membulat sempurna melihat Adira yang berada di atas tubuhnya. Sementara itu Adira masih mengeluh kesakitan karena tubuhnya yang terjatuh. Barulah setelah dia mengangkat kepala dan melihat tatapan Zein padanya. Yang membuat dia menelan salivanya karena rasa takut yang tiba-tiba menjalar.

__ADS_1


“ Ma-Mas a-aku tidak bermaksud...” ucap Adira terbata.


Zein meraih kedua pundak Adira untuk membuat wanita itu menjauh dari atas tubuhnya, tapi hal itu malah memperburuk suasana. Adira saat itu hanya memakai sebuah piyama kimono berbahan satin. Zein yang meraih bahu Adira tanpa sengaja membuat piyama itu tersingkap hingga hampir setengah tubuh bagian atas Adira terbuka.


Adira melirik ke arah bahunya merasakan tubuhnya yang tersingkap. Zein tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


“ Mas lepaskan aku ” Adira segera menekankan tangannya kuat mendorong Zein menjauh, membenarkan posisi bajunya dan berdiri dari ranjang itu.


Zein yang melihat reaksi Adira tahu bahwa gadis itu pasti menganggapnya mes*m tapi jujur saja Zein sama sekali tak bermaksud melakukan hal itu. Kejadian itu murni kecelakaan.


“ Jangan berpikir yang aneh! Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Tadi itu tidak sengaja ” ucap Zein membela diri.


Adira masih memegangi bajunya dan memperat ikatan piyama kimono itu.


“ Lagipula untuk apa kau berada di ranjangku ” Zein mencoba menyadarkan Adira bahwa itu tidak murni salahnya tapi Adira yang tiba-tiba berada di dekat ranjangnya bahkan sampai menyentuh Zein.


“ A-aku hanya memastikan keadaan Mas..karena Mas tidak biasanya bangun terlambat ”


Zein melirik jam yang ada di meja, dia kemudian menghela napas kasar dan mengusap wajahnya.


Ini semua karena semalam dia tidak bisa tidur setelah subuh baru dia bisa tidur tentu saja dia akan bangun terlambat.


“ Mas memang lagi sakit? ” tanya Adira.


Zein menggelengkan kepala.


“ Pergilah kerjakan saja pekerjaanmu ”


“ Baik Mas ” jawab Adira.


“ Oh iya satu hal lagi ” ucap Zein.


Adira berhenti dan menantikan apa yang akan dikatakan Zein.


“ Jangan pernah pakai baju tidur kimono ” lanjut Zein.


Adira bingung dan tak mengerti dengan larangan Zein. Tapi dia memilih untuk tidak membantah dan mengiyakan saja.


“ Setelah cahaya bulan tadi malam, sekarang piyama kimono. Bisa-bisanya hal-hal seperti itu membuatku merasa tersiksa ” geram Zein marah pada dirinya sendiri, dia tidak bisa membohongi dirinya karena tadi saat melihat tubuh bagian atas Adira yang terbuka dan hampir memperlihatkan separuh belahan dada Adira. Pemandangan itu membuat Zein menelan salivanya kuat.

__ADS_1


Padahal gadis itu sudah pernah polos tanpa satupun benang yang melekat ditubuhnya, berbaring di samping Zein. Tapi tidak sedikit pun Zein merasa tergoda untuk menyentuh Adira saat itu.


Lalu beberapa saat yang lalu hanya melihat sedikit bagian tubuh Adira hampir saja dia menarik gadis itu dan menindih tubuhnya.


“ Aku harus mengendalikan diriku, dia bukanlah wanita yang akan tetap berada di sampingku. Bagaimana pun dia akan segera pergi setelah kesepakatan itu berlalu ” Zein mengingatkan dirinya sendiri.


~


~


~


Sore hari itu Adira sedang membereskan beberapa mainan di kamar Lily, karena mereka habis bermain tadi.


Samar-samar dia mendengar suara seperti orang yang sedang berdebat dari luar.


“ Itu siapa? Seperti dua orang yang sedang bertengkar ” ucap Adira penasaran, lalu segera menyimpan mainan itu dan menuju keluar kamar.


Dia akhirnya dapat mendengar jelas suara itu berasal dari kamar Nadia. Perlahan Adira menuju kamar itu dan suara perdebatan itu makin terdengar jelas, ternyata itu Nadia dan Aidan.


“ Ahh..mereka mungkin hanya sedang bercanda saja ” Adira menyimpulkan karena merasa dua saudara kembar itu berdebat seperti itu sebagai candaan.


“ Hiks...hiks..lalu aku harus bagaimana? Ini semua salahmu hiks..hiks ” suara tangis Nadia terdengar jelas, sontak Adira terkejut dan segera membuka pintu kamar itu tanpa izin dan benar saja di sana nampak Nadia yang meringkuk menangis di samping ranjang dan Aidan yang kebingungan sambil memegangi sebuah gaun di tangannya.


“ Ada apa? ” tanya Adira khawatir.


Aidan menunjukkan ekspresi kebingungan dan juga penyesalan pada Adira.


“ Kau bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi? ” tanya Adira lagi pada Aidan soalnya Nadia sedari tadi masih terus terisak.


“ Tadi aku tanpa sengaja merusak gaun yang akan dipakai Nadia untuk drama musikalnya besok ” ucap Aidan menyesal.


“ Tidak sengaja apanya? Hiks..kau..kau memaksa untuk memakai gaun itu makanya bisa robek..sudah aku bilang gaunnya akan rusak hiks..hiks ” bentak Nadia masih tidak terima Aidan mengaku tidak bersalah.


“ Aku hanya bercanda, tidak ku sangka bajunya akan langsung robek bahkan aku belum sempat memakainya, salahmu juga kenapa langsung berusaha merebut gaun itu ” bantah Aidan.


“ Jadi sekarang kau bilang itu salahku! Hiks..aku tidak akan bisa tampil untuk musikal lagi! ”


**Halo teman-teman readers semua kalau author boleh minta tolong untuk bantu like, komen, dan jika berkenan memberi hadiah agar rating novel ini naik dan bisa lulus kontrak 🙏🏻

__ADS_1


Happy Reading😘**


__ADS_2