Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Mendalami Peran


__ADS_3

“ Aku mohon setidaknya sebagai rasa terima kasih karena sudah menolong anakku tadi, biarkan aku menjamu mu walau hanya secangkir teh. Aku mohon sebentar saja ”


Adira merasa sedikit asing mendengarkan pria itu mengucapkan kata anakku, seolah menegaskan bahwa Adira memang sudah tidak punya hubungan dengan mereka. Tapi bukankah seharusnya dia senang mendengar itu lalu mengapa ada rasa sakit yang muncul dihatinya.


“ Tidak Mas akan sangat tidak baik jika ada yang lihat dan malah menimbulkan rumor. Lebih baik aku segera pulang ”


“ Lily masuk duluan ya, lalu cuci tangan terlebih dahulu ” Zein menurunkan Lily dan membiarkan anak itu masuk meninggalkan mereka berdua di sana.


“ Kenapa kamu langsung mengkhawatirkan rumor yang diciptakan orang lain? ”


Adira menghela napas pelan mendengar ucapan Zein padanya, pria itu tidak tahu saja yang dia alami. Bahkan ketika dia diam saja pun orang lain terus membicarakan hal buruk tentangnya.


“ Karena Mas tidak tahu seberapa banyak dan buruk rumor tentangku menyebar di desa ini, aku akan pergi tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya kebetulan saja bertemu dengan Lily ”


“ Adira..” Zein memanggil namanya dengan mendesis pelan, meraih tangan wanita itu dan berbisik pelan.


“ Bukankah sebagai sesama orang asing yang baru mengenal kamu terlalu nampak canggung. Apa salahnya menyambut undangan untuk singgah sebentar ke rumahku? Karena aku tidak mungkin bisa tenang sebelum menunjukkan tindakan yang benar-benar berterima kasih kepada orang yang telah menyelamatkan anakku biar pun dia orang asingkan. Jika orang lain menciptakan rumor tentang itu, bukannya kamu bisa menjawab dengan mudah, itu karena aku telah menolong anaknya begitu saja ”


Ucapan panjang lebar yang disampaikan tepat disamping telinganya itu benar-benar seperti sebuah sindiran dan juga mengandung tantangan bagi Adira.


“ Apa maksudnya aku yang tidak bisa bersikap normal? Dia pikir aku tidak bisa memperlakukan dia benar-benar seperti orang asing. Baiklah mari ikuti permainanmu ”


“ Baiklah, mungkin untuk satu cangkir teh saja ” balas Adira dengan nada sedikit kesal.


“ Silakan masuk ” sambut Zein cepat dengan senyuman kecil yang nampak terukir diwajahnya walaupun hanya sesaat.


Adira melangkah pelan mengikuti pria itu dari belakang. Matanya menelusuri sekitarnya dan tidak bisa menutupi kekaguman yang dilihatnya, bagian dalam mansion itu nampak sangat mewah dan juga di isi dengan berbagai furnitur dan barang-barang elektronik. Sangat jauh dari bayangan ketika melihat bagian depan mansion yang memang sudah nampak tua, sesuai namanya. Semua orang pasti berpikir didalam mansion itu juga nampak barang-barang yang sudah klasik atau terkesan lama.


Tapi semua penampakan bagian dalam mansion itu sangat modern jauh berbeda dengan tampak luarnya.


“ Adira, duduklah di sini ” Zein menggeser sebuah kursi dan mempersilahkan Adira untuk duduk.


Dengan perlahan Adira duduk tanpa perlu membalas ucapan Zein.

__ADS_1


“ Lily juga kemari dan duduk di samping Mama Adira ” Zein mengangkat tubuh Lily dan mendudukkan Lily di kursi tepat di sebelah Adira.


“ Mas.. ” desis Adira berbisik pelan ke arah Zein.


“ Ada apa? ” Zein membalas dengan berucap pelan juga pada Adira.


“ Apa Mas tidak akan menjelaskan pada Lily bahwa aku bukan Mamanya lagi? Apa lagi masih memanggil aku Mama Adira di depannya, bagaimana nanti saat dia memanggilku begitu di depan orang lain ” ucap Adira penuh penekanan.


“ Oh..baiklah ” dengan santainya Zein menanggapi hal itu.


“ Lily duduklah dengan tenang di samping Nona Adira ya dan mulai sekarang Lily harus ingat tidak boleh memanggil Nona Adira Mama ”


Kedua bola mata Adira melebar melihat betapa frontal dan tanpa perhitungan bagaimana nanti perasaan Lily, Zein langsung mengucapkan hal itu begitu saja. Dan apa bagi pria itu masuk akal menyebut Nona Adira di depan anak itu?


“ Tapi Daddy....” lirih Lily tidak terima dengan ucapan Daddy nya.


“ Sssttt ” Zein menempelkan jari telunjuknya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Lily.


Dan benar saja Lily langsung diam, dan ekspresi wajahnya juga seketika berubah ceria.


“ Sekarang kamu bisa tenang, aku bisa janjikan Lily tidak akan memanggilmu Mama lagi ”


Adira ingin bertanya bagaimana Lily bisa tenang saat Zein yang mengucapkan hal itu, sementara tadi saat dia menjelaskan panjang lebar pada Lily anak itu nampak tidak mau. Tapi Adira mengurungkan niat itu karena dia tidak ingin berkesan plin plan, dia sendiri yang tadi menyuruh Zein untuk membuat Lily berhenti memanggilnya Mama.


“ Setelah ku pikir kembali tidak terlalu baik meminum teh apalagi yang mengandung kafein saat hamil, jadi aku pikir jus kiwi lebih baik ” Zein menyajikan segelas jus kiwi itu dihadapan Adira bersamaan dengan sepiring biskuit.


“ Lalu ini coklat dingin dan cemilan untuk Lily ”


“ Makasih Daddy ”


Zein mengelus pelan rambut putrinya itu. Dia membuatkan secangkir kopi untuknya.


“ Permisi sebentar ya ” Zein menunduk dan bergerak akan membuka sepatu yang dikenakan Adira.

__ADS_1


Tapi sekarang dengan cepat dan refleks Adira menjauhkan kakinya.


“ Mas mau melakukan apa? ” tanya Adira terkejut dan bingung.


“ Tenanglah kemarikan kakimu ” Zein meraih kaki Adira lembut dan melepaskan kedua sepatu Adira.


“ Maaf Mas harusnya aku membuka sepatu terlebih dahulu tadi sebelum masuk, tapi aku lupa. Harusnya bilang saja aku bisa melepasnya sendiri ”


“ Bukan karena masalah itu, tapi kamu pasti kesakitan memakai sepatu ini kaki sampai memerah. Aku tahu kamu pasti kesulitan untuk memasang dan melepas sepatu , jadi biar aku saja ” Zein juga memasangkan sandal rumah ke kaki Adira.


“ Bagaimana jauh lebih nyaman kan? ”


Adira mengangguk pelan, memang setelah dilihatnya ternyata kakinya nampak lecet karena sepatunya sendiri. Salahnya sendiri tadi karena terburu-buru akhirnya tidak memakai sepatu yang pas dengan ukuran kakinya.


“ Untuk mengurangi bengkak sama kram kakimu coba oleskan dengan minyak zaitun sembari di pijit pelan, itu bisa mengurangi bengkaknya ”


“ Mengapa dia bisa mengerti dengan baik halal seperti itu? Apa dia mempelajarinya atau memang dia hanya jenius dalam segala hal? ”


“ Tidak perlu merasa heran seperti itu, sekadar info saja aku sudah pernah merawat Ibu hamil sebanyak tiga kali ” ungkap Zein seolah tahu apa isi pikiran Adira.


Merasa kikuk karena pikirannya terbaca oleh Zein, Adira segera mengambil gelas jus di depannya dan menyesap pelan jus itu.


“ Habiskan saja minuman ini lalu segera pulang. Memangnya wajar aku bisa tiba-tiba duduk di ruang tamu mansion ini bersama Mas Zein ”


“ Aku tidak melihat keberadaan Aidan dan Nadia, apa mereka tidak ikut pindah bersama Mas? ” tanya Adira karena tak bisa membohongi diri sendiri dia memang penasaran ingin tahu dimana anak-anak itu.


“ Aku tidak menyangka kamu langsung mengenali anak-anakku, padahal kami baru pindah ke sini. Walaupun terkejut karena hal itu tapi aku akan beritahu mereka sekarang tidak bisa pindah ke sini karena masih sekolah ”


“ Huftt...” Adira menghela napas melihat pria itu sangat mendalami peran sebagai orang asing dihadapannya.


“ Maaf Adira aku hanya bercanda ” ucap Zein tertawa kecil.


Jangan lupa untuk like, komentar, dan kasih hadiah sama vote terus novel ini untuk meningkatkan performanya teman-teman, makasih banyak atas dukungannya 😁

__ADS_1


Happy Reading😘


__ADS_2