Menjadi Ibu Sambung

Menjadi Ibu Sambung
Kakak-kakak Pergi Menemui Mama Adira


__ADS_3

Tapi Zein bisa merasakan cairan hangat yang mengalir membasahi lengannya. Zein hanya diam tidak mempertanyakan hal itu hanya mengerti seberapa pendiam dan dinginnya Noah tapi anak itu juga bisa menangis.


“ Tidurlah dewi mimpi akan sedih kalau kita terlambat ” ucap Zein setelah sekian lama dia kembali mengulang perkataan yang selalu dia katakan sebagai pengantar tidur untuk anak-anaknya.


~


~


~


Helena membuka tirai jendela kamar Adira karena wanita itu masih belum bangun sedangkan matahari mulai pamer dengan sinarnya.


“ Eughh...” Adira melenguh pelan sembari menutupi matanya yang serasa silau tiba-tiba terkena sinar matahari.


“ Sebaiknya kamu bangun atau kita akan terlambat untuk pemeriksaan bulanan ” Helena terpaksa segera menarik selimut dari tubuh Adira karena melihat sahabatnya itu yang masih enggan untuk bangun.


Adira langsung memaksa matanya terbuka lebar, dia juga baru ingat kalau mereka harus pergi ke puskesmas untuk pemeriksaan.


Setelah mendudukkan tubuhnya perlahan Adira mulai turun dari ranjang.


“ Maaf ya sepertinya aku suka bicara keterlaluan akhir-akhir ini ” lirih Helena, Adira sedikit menoleh menghadap sahabatnya itu.


“ Aku yang harusnya minta maaf karena selalu mendatangkan masalah yang merepotkan, aku juga tahu itu karena kamu ingin melindungi akukan ”


“ Benar dan aku sangat takut ada orang lain yang kembali menyakitimu tidak peduli siapa pun itu ”


Helena menekankan setiap kata itu agar Adira tahu betapa dia tidak ingin wanita itu kembali larut dalam kesedihan.


“ Makasih banyak Helen, tapi aku janji tidak akan kembali terjebak dalam masa lalu. Ketika masa lalu itu kembali muncul dari pada menghindar aku akan memilih menghadapinya ”


Helena menganggukkan kepala pelan mengerti tekad Adira untuk tidak lari dari bayang-bayang masa lalunya.


“ Aku tunggu di meja makan, kita harus sarapan dulu baru pergi ”


“ Iya ” jawab Adira lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi karena dia masih harus membersihkan diri terlebih dahulu.

__ADS_1


~


~


~


Aidan dan Nadia berjalan beriringan memasuki rumah dengan langkah lesu karena kelelahan. Untuk pertama kalinya mereka mengalami perjalanan jauh yang tidak di lengkapi dengan fasilitas yang nyaman seperti biasanya.


Sementara Noah dan Zein berjalan di belakang kedua orang itu.


Mereka meninggalkan hotel saat masih subuh agar dapat tiba di rumah secepatnya.


“ Lily pasti sedih di tinggal sendiri semalaman, sebaiknya kalian jelaskan padanya agar dia sedikit terhibur ” ucap pada ke tiga anaknya.


Noah menghela napas pelan melihat Daddy nya yang sudah melanjutkan langkahnya dan tentu saja Daddy nya itu akan menuju ruang kerja.


“ Kak menurut Kakak kenapa Daddy gak marah? Aku lebih takut karena Daddy sama sekali gak mengungkit tentang kita yang menemui Nona A ” tutur Nadia sendu pada Noah.


“ Menurutku Daddy menyadari sesuatu bahwa memberi hukuman saat marah itu bukan hal yang baik, terutama sepertinya Daddy tidak marah pada kita ” Noah menjelaskan situasi yang dia pahami.


“ Apa itu akan lebih memperburuk situasi? ” risau Nadia.


“ Bisa buruk kalau Daddy malah berpikir untuk menyerah mendapatkan Nona A kembali dan bisa baik jika Daddy semakin bertekad untuk membawa Nona A kembali di dorong rasa cemburu ” Aidan mengatakan itu sambil memegang dagu layaknya seorang ahli yang sedang berpikir.


Noah manggut-manggut mendengar perkataan Aidan karena secara tidak langsung benar juga, karena seseorang biasanya akan lebih bersemangat jika memiliki saingan.


“ Kita akan bicarakan hal itu lain kali ” ucap Aidan memberi kode pada Nadia dan Noah untuk diam karena nampak Lily yang sedang berjalan menuju ke arah mereka.


“ Baru saja Kakak akan pergi ke kamar Lily, Kakak kangen sekali sama adikku yang imut ini ” Nadia mendekat dan menundukkan tubuhnya mengelus lembut kepala Lily.


“ Maaf ya Lily kami ada pekerjaan jadi terpaksa Lily gak bisa ikut. Lily jangan sedih lagi ya Kakak gak maksud ninggalin Lily ”


Mereka berusaha menghibur Lily seperti yang dikatakan Daddy nya tadi.


“ Kakak-kakak pergi menemui Mama Adira ” ucap Lily mengangkat kepalanya menatap Noah kakak sulungnya.

__ADS_1


JEDARrr!!!


Layaknya sambaran petir di siang bolong mereka terkejut dan tidak bisa berkutik setelah mendengar ucapan Lily. Mereka saling memandangi satu dengan yang lain seolah berdebat siapa yang akan menjelaskan pada Lily.


“ Daddy tidak bilang tadi kalau Lily sudah tahu kami pergi kemana. Padahal sudah berbohong sampai sejauh ini ” , batin Nadia bingung.


“ Lily sudah tahu rupanya, maaf ya Kakak sudah berbohong ” Noah buka suara, Aidan memandang kakak sulungnya itu intens dari semua kata mengapa kakaknya itu hanya bisa mengucapkan kalimat sesingkat itu.


“ Lily begini kakak bukannya tidak mau membawa Lily, tapi tempatnya jauh sekali ” Aidan berusaha menyakinkan Lily bahwa mereka sama sekali tidak berniat membawa Lily bertemu Adira.


Lily menggelengkan kepalanya cepat, wajah gadis itu berubah merah padam dengan air mata tertahan.


“ Lily maaf ya kakak janji akan bawa Lily ketemu Mama Adira ” Nadia bergerak ingin memeluk Lily tapi gadis kecil itu segera menjauh, padahal Nadia panik karena Lily nampaknya ingin menangis dan dia tidak menyangka adiknya akan sesedih itu.


“ Lily sudah bilang jangan ganggu Mama Adira lagi! Kenapa Kakak-kakak pergi ke sana!? ” pekik Lily sekuat tenaga mengeluarkan suara terkuatnya mengimbangi orang-orang dewasa di depannya.


“ Lily..” guman Nadia karena bagaimana pun perkataan Lily lebih menusuk dirinya.


“ Lily sayang maaf ya kakak tidak bermaksud menyakiti Mama Adira lagi, kami hanya mau Mama Adira kembali bersama kita lagi ” Aidan menggenggam tangan Lily menjelaskan lembut pada adiknya itu.


“ Gak mau! Lily gak mau Mama Adira! Lily sudah bilang sama kakak Lily gak mau Mama Adira kembali ke rumah kita! ” Lily berontak dengan tubuh kecilnya menepis genggaman Aidan. Gadis kecil itu sudah menangis tersedu-sedu.


“ Lily gak rindu sama Mama Adira? Kenapa..berkata seperti itu ” Aidan menggigit bibirnya keluh tak menduga reaksi Lily akan seperti ini.


“ Kalau di rumah kita Mama Adira selalu menangis..hiks..hikss..kata Mama dadanya sakit gak bisa napas..hikss..Mama Adira menangis karena sakit sekali ” Lily terisak sembari terus menolak rangkulan Aidan.


Aidan mengusap wajahnya kasar, Lily yang paling dekat dengan Adira tentu saja gadis kecil itu lebih sering melihat betapa menderitanya Adira dulu harus tinggal di rumah ini.


“ Kakak janji Mama Adira gak akan sakit lagi, kita semua yang akan menyembuhkan dia ” ungkap Noah lembut namun jelas terdengar sendu, dia mendekati Lily memeluk gadis kecil itu dan segera mengangkat tubuh Lily ke dalam dekapannya.


Noah menepuk-nepuk pelan punggung Lily menenangkan anak kecil yang masih menangis terisak dalam pelukannya.


**Maaf banget baru bisa up🙏🏻🙏🏻


Happy Reading😘**

__ADS_1


__ADS_2