
“ Hai Adira ” Derril menyapa dengan riang melewati Zein dan anak-anaknya yang sedang berdiri di depan pintu itu, dengan berani dan santai Derril langsung mendekat ke arah Adira.
“ Kalian kedatangan banyak tamu hari ini? ” tanya Derril sambil mengalihkan pandangan kepada ke empat orang itu.
Saat mata Zein bertemu dengan mata Derril sudah jelas terbersit kilatan permusuhan yang tajam antara keduanya.
Zein bahkan tidak menyembunyikan ekspresi tidak suka pada pria yang baru dia temui itu. Baginya tindakan pria itu terlalu berlebihan dan kelewat batas.
“ Tidak bisa di sebut tamu juga ” sahut Helena dengan gampangnya.
“ Mereka sudah akan pergi ” Adira mengucapkan itu sambil memberi isyarat pada Zein untuk segera pergi dari rumah itu.
“ Ohh..begitu, untunglah karena tidak baik juga jika ada yang bertamu sampai malamkan. Apalagi aku melihat mereka masih nampak asing ” Derril menyakinkan Adira bahwa sudah benar membiarkan mereka pergi.
Zein tidak tahu mengapa rasanya dia tidak rela meninggalkan Adira saat ada pria itu bersamanya, tapi dengan berat dia melangkahkan kaki menuju mobilnya.
“ Kami pamit pulang Nona A ” Aidan mendekat sedikit kepada Adira.
“ Iya aku harap perjalanannya lancar ” balas Adira.
“ Satu pelukan perpisahan..aku mohon ” mengeluarkan semua kemampuannya untuk membuat Adira merasa luluh melihat keimutannya Aidan merentangkan tangannya bersiap dengan postur ingin memeluk Adira.
“ Astaga..anak ini tidak berubah sama sekali ” walaupun terdengar seperti kesal tapi Adira mendekat dan memeluk Aidan.
Aidan memanfaatkan kesempatan itu dan menepis Derril menjauh seolah dia tak sengaja melakukan itu.
“ Apa tidak bisa pria ini menjauh? Daddy saja masih belum bisa dekat dengan Nona A. Malah muncul lagi jadi saingan” , rutuk Aidan dalam hati.
Adira menepuk-nepuk pelan punggung Aidan lalu melepaskan pelukannya.
“ Apa seharusnya tadi kita juga minta pelukan perpisahan pada Adira? ” ungkap Noah setelah melihat adiknya itu selalu selangkah lebih bisa untuk mendekati Adira.
__ADS_1
“ Kalau Kakak yang minta peluk dia tidak akan mau ” Nadia hanya menjawab seadanya saja.
Lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil menyusul Daddynya.
Noah bisa melihat Daddynya yang hanya diam di kursi kemudi dan menatap lurus ke depan. Tanpa ekspresi sedikit pun, dia sendiri bingung untuk bisa membaca jalan pikiran Daddynya.
Noah sudah mengatakan akan pulang menggunakan mobilnya sendiri, tapi Zein melarang dan memerintahkan agar mobil itu di jemput oleh anak buahnya saja.
Aidan melambai untuk yang terakhir kalinya pada Adira sebelum akhirnya dia benar-benar masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Zein.
Adira melambaikan tangannya sebagai balasan. Dan tanpa menoleh sedikit pun pada Adira Zein melajukan mobil itu.
Derril terdiam membeku setelah melihat Adira dipeluk pria lain. Yang nampaknya masih muda atau bahkan seumuran dengan Adira, sementara selama ini sekeras apa pun Derril berusaha mendekati Adira bahkan untuk menyentuh seujung jarinya saja Derril tidak pernah tapi pria tadi dengan mudahnya berpelukan dengan Adira.
Derril langsung diserbu beribu pertanyaan dan rasa penasaran siapa pria itu? Dan apa hubungannya dengan Adira sampai mereka bisa berpelukan seperti itu?
“ Oh..iya ada apa dokter datang ke sini? Inikan sudah malam hari ” ungkap Adira mencoba bicara dengan Derril mengabaikan pemandangan tadi yang harus dilihat pria itu.
Derril menatap Adira dalam dan jelas dari tatapannya dia ingin wanita itu segera mengatakan siapa pria tadi.
Adira yang merasa dilihati seperti itu tidak nyaman dan sedikit membuang wajahnya ke lain arah.
“ Aku baru kembali dari kota, karena kebetulan lewat sini aku ingin memberikan ini ” Derril menyodorkan paper bag kecil pada Adira.
Karena sepertinya Adira tidak fokus dia baru tahu kalau sejak tadi Derril memegangi paper bag.
Adira menerima paper bag itu.
“ Dokter baik sekali, bahkan setiap kembali dari kota selalu memberikan kami oleh-oleh ” Adira memang sedikit merasa segan dan tidak enak jika terus menerima hadiah seperti ini setiap Derril kembali dari kota baik itu untuk urusan kerja atau apa pun.
“ Aku hanya memberikannya untukmu ” ungkap Derril sedikit bertambah kesal karena selama ini Adira menganggap hadiah-hadiah yang diberikan bisa di bagi pada orang lain. Walau sebenarnya orang yang Adira bagi itu sudah pasti hanya Helena.
__ADS_1
“ Kalau dokter bilang seperti itu aku jadi semakin merasa tidak enak, aku tidak nyaman rasanya jika terus menerima hal-hal seperti ini ”
Derril menghela napasnya mencoba menetralkan perasaannya yang sedikit terasa kacau.
“ Semuanya aku beli karena mengingatmu, lagian itu bukan seberapa. Apa lagi ini hanya biji bunga, aku kasih karena aku pikir akan bagus jika bunga itu tumbuh dihalaman ini. Jangan merasa terbebani ” ucap Derril lembut.
Adira memang tidak bisa memungkiri setiap yang diberikan oleh Derril selalu saja benda-benda atau hal yang memang dia sukai. Bukan sesuatu yang mahal hanya hal sederhana seperti biji bunga, tapi Adira senang karena pria itu mengetahui kesukaan Adira terhadap sesuatu yang sederhana seperti itu.
“ Terima kasih dokter aku akan tanam sampai bunganya tumbuh ” Adira mengucapkan itu sambil tersenyum kecil.
Derril merasa senang karena Adira akhirnya bisa melepaskan rasa terbebani karena menerima hadiah darinya.
“ Baiklah saat bunganya mekar nanti mungkin aku akan minta beberapa. Akan aku taruh di vas puskesmas ”
Adira menganggukkan kepala setuju dengan ide yang dikatakan Derril.
“ Hmm..Dira aku boleh tanya siapa pria tadi, tapi kalau kamu tidak mau jawab juga tidak masalah. Hanya aku sedikit penasaran ” Derril berhati-hati takutnya Adira akan marah karena dia bersikap lancang menanyakan hal itu.
“ Hanya kenalanku waktu tinggal di kota X dulu, mereka kebetulan ada urusan di sekitar sini. Makanya mampir sebentar ” jawab Adira.
Derril jelas menunjukkan keraguan atas jawaban Adira.
“ Helena bicara begitu karena dia tidak terlalu menyukai mereka, tapi itu bukan hal yang perlu di pikirkan “ Adira bisa membaca keraguan itu.
“ Aku hanya terkejut karena kamu sepertinya terlihat dekat dengan pria itu, bahkan sampai mau berpelukan dengannya. Padahal selama ini aku tahu kamu tidak suka hal-hal seperti itu..ahh aku sudah sangat lancang ya ” Derril gugup karena Adira seperti tidak bereaksi sama sekali.
“ Benar juga ya..aku memang tidak suka pada hal-hal seperti itu. Tapi anak itu sangat berbeda dia bisa membujuk orang lain dengan sangat baik, sampai aku bahkan tidak bisa menolak apa permintaannya ” Adira tertawa mengingat dirinya yang ternyata masih tidak tega jika Aidan menunjukkan ekspresi memelas yang handal.
“ Anak itu? Anak apa maksudnya? Bukannya pria tadi nampak seumuran dengannya. Apa Adira punya kebiasaan unik menyebut orang yang akrab dengannya dengan sebutan anak ” , batin Derril merasakan aneh dan juga sedikit geli mendengar Adira menyebut pria itu sebagai anak itu.
“ Aku juga tidak masalah jika kamu suka menyebutku dengan sebutan anak itu..aku rasa tidak buruk juga ” Derril mengaruk kepalanya pelan sembari tertawa kecil.
__ADS_1
Happy Reading😘