
Happy reading !!
##
Malam ini Aku tengah menonton acara TV di ruang keluarga, di temani oleh Papa dan juga Vino. Sedangkan Mama sedang sibuk di dapur, katanya sih ingin menyiapkan kue Brownies hasil cooking trialnya siang tadi.
“Papa tahu nggak? Tadi Mbak Adel di apelin lho sama cowoknya,” ujar Vino. Memecah keheningan di antara kami.
Papa hanya menoleh sekilas ke arah Vino, lalu kembali fokus menatap layar televisi.
“Apaan sih, Vin? Orang Bos gue kok. Bukanya lo udah kenalan sendiri tadi,” sahutku cepat dan kesal.
Vino berdecak. “Udah deh, Mbak. Ngaku aja kalau kalian itu ada apa-apanya. Gue nggak percaya kalau hubungan kalian cuma sekedar Bos dan anak buah. Orang yang lagi jatuh cinta itu kelihatan. Nggak bisa nutupin perasaannya,” ujarnya sok dewasa
“Buseeet, tahu apa lo tentang jatuh cinta? Sikat gigi aja masih pakai odol rasa buah. Nggak usah sok ngomongin cinta.” Ketusku sambil melempar bantal ke muka Vino.
Vino melotot. Memeluk bantal yang kulempar sambil menatap Papa. “Tuh, Pa ... Lihat sendiri, kan? Mbak Adel itu lagi jatuh cinta. Bawaannya sensi terus. Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh, Mbak. Mana pakai nuduh gue yang nggak-nggak lagi. Mana ada gue pakai odol begituan.”
Papa hanya bisa menghela nafas. Tampaknya niat ingin menonton TV-nya benar-benar terganggu olehku dan juga Vino.
“Adelia, udah dong ngalah saja sama yang kecil.” Vino langsung tersenyum mengejek ke arahku saat mendengar pembelaan dari Papa. “Memangnya pasta gigi kodomo pemberian Papa sudah habis, Vin?” Papa kembali bersuara dan saat itu juga ekspresi wajah Vino langsung berubah kecut.
Hahaha ... sumpah aku langsung tertawa puas. Papa tahu sekali bagaimana cara meninggikan seseorang, lalu kemudian Papa juga yang akan menjatuhkannya hingga dasar bumi.
“Ih, Papa kok begitu sih?!” Vino memanyunkan bibirnya dan Papa hanya tersenyum.
“Makan tuh kodomo,” ujarku sambil terkekeh.
Beberapa menit saat aku berhasil meredakan tawa, saat itu juga Mama keluar dari dapur dengan membawa sepiring Brownies. Asal kalian tahu, Mama ku ini orangnya suka sekali cooking trial makanan. Bahkan makanan yang belum pernah Mama makan pun, Mama tetap berkeinginan untuk membuatnya. Ya, kalau hasilnya enak tidak masalah, cuman masalahnya dari berbagai macam cooking trial Mama hanya ada beberapa yang berhasil. Dan sisanya you know lah ... Amburadul alias gagal.
Dan yang akan terkena imbas untuk masakan gagalnya itu jelas saja Aku, Vino dan Papa.
Sebenarnya masakan mama itu enak banget, sumpah. Cuma kebanyakan gaya saja sok-sokan kepengen nyoba resep ini-itu yang jatuhnya bikin Aku, Papa dan juga Vino suka males nyobain resep baru Mama.
“Nih, cobain Browniesnya sudah jadi.” Kata Mama sambil senyum puas saat menghidangkan Brownies coklatnya. “Mama udah potongin juga sesuai porsi, jadi jangan pada rakus.”
Eh, belum juga makan udah di katain rakus aja. Aku langsung mengambil sepotong kue Brownies itu di ikuti Vino dan juga Papa. Kaloau di lihat dari tampilannya sih sepertinya enak banget. Apalagi Mama menambah hiasan toping yang sangat lengkap dan menggugah selera.
“Ehem ...” Aku berdehem. “Kelihatannya enak nih,” ujarku sambil melirik ke arah Papa dan Vino.
__ADS_1
Mama tersenyum. “Di cobain dulu, Del. Awas ya, kalau sampai enak jangan di habisin.”
Seyakin itu kah Mama? Aku jadi semakin tak sabar untuk mencoba Brownis ini.
Aku mulai menggigit sedikit ujung kuenya, lalu tersenyum ke arah Papa dan juga Vino. Hm ... ternyata masih sama seperti biasanya. Seperti ada yang aneh dalam brownies buatan Mama ini.
“Kok kayak aneh ya rasanya?” Aku dan Papa seketika langsung menatap ke arah Vino. Please, Vino untuk kali ini mulut kampretmu jangan lah rese. Marilah kali ini kita selamatkan perut kita dari cooking trial nya Mama.
“Ah, orang enak gini kok. Iya kan, Pa?” Aku tersenyum ke arah Papa, berharap Papa bisa membantuku.
“Iya enak, saking enaknya sampai bikin Papa eneg.” Aku sedikit melotot ke arah Papa. Tumben sekali Papa langsung berani berkata jujur dengan hasil masakan Mama.
“Maksudnya apa ya, Pa?” Tanya Mama cepat.
“Enggak, maksud Papa kayaknya ini kemanisan deh, Ma. Kalau buat Papa jangan manis-manis, ya. Eneg rasanya,” Ujar Papa. Yang tentunya langsung membuat nafasku sedikit terasa lega.
“Oh, Iya deh. Maaf ya, Mama lupa.” Mama kembali tersenyum.
“Beneran.” Vino kembali berbicara. “Ini kayak aneh gitu rasanya,” ujarnya sambil menggigit brownies yang ada di tangannya. “Masa cuma Vino sih yang ngerasa aneh.”
“Masa sih, Vin? Orang Papa sama Mbak Adel aja bilang enak kok,” Mama mulai menatap curiga ke arahku dan Papa.
“Enggak, Ma, ini tuh gosong,” Ujar Vino dengan polosnya.
what the faakk!!
Vino kampret!! kenapa sih mulutnya harus sejujur itu? Kayaknya besok-besok mulutnya harus di training dulu deh, biar nggak ngesel-ngeselin amat.
***
Pagi harinya saat aku hendak berangkat ke kantor, aku di kejutkan dengan kehadiran Vino yang tiba-tiba saja langsung masuk ke dalam mobil Papa. Biasanya kalau Papa sedang tidak bekerja ke luar kota, aku memang kadang suka memakai mobil Papa saat ingin berangkat ke kantor.
“Eh, mau ngapain lo?! Kalau mau minta uang saku jangan sama gue,” Omelku yang membuat Vino langsung menyengir.
Cuma Vino nih, orang yang di marahin tapi malah nyengir.
“Cewek emang suka begitu, ya. Selalu menyimpulkan hal yang belum tentu benar,” ujarnya jemawa.
__ADS_1
Aku memutar bola mata jengah. Apa coba maksud perkataan Vino barusan? Bocah itu tidak salah sarapan kan tadi?
“Terus mau ngapain?” tanyaku dengan nada mengalah.
Vino lagi-lagi kembali menyengir. “Mau nebeng, Mbak. Motor Vino bannya kempe,” ujarnya kemudian.
“Kenapa ngak naik ojek aja, sih? Gue nanti bisa telat kalau harus nganter lo duluan.”
Jarak kantorku dan kampus Vino memanglah tidak terlalu jauh. Tapi jika di jalanan nanti macet, bisa benar-benar terlambat ke kantor dong aku.
“Nggak mungkin telat. Masih pagi ini kok,” ujar Vino sambil memperlihatkan layar ponsel, dimana jam tertera di sana. “Boleh ya mbak, please.”
“Nggak boleh!” tolakku cepat.
“Mbak cantik, deh.” Vino masih berusaha merayuku.
“Udah dari dulu.” Jawabku sombong.
“Mbak Adel baik deh, nanti Vino doain biar jadian sama, Mas Sam.” Aku langsung melotot setelah mendengar ucapan adik semprulku ini. “Gue jamin, doa gue itu manjur loh, Mbak.”
“Ngaca lo! Dosa lo itu banyak, manjur darimana nya coba?” Aku menatap heran ke arah Vino.
Sumpah demi apapun aku dan Vino itu memiliki perbedaan usia yang cukup jauh. Tapi kenapa ini bocah ini selalu bikin rese? Berasa nggak ada harga dirinya banget aku jadi Kakak, kalau adikku saja seperti itu. Lagian juga Vino itu sudah besar sudah kuliah. Kenapa sifat bocahnya belum hilang sih? Dan yang bikin tambah kesal aku selalu ikutan jadi bocah kalau berdebat dengan dirinya.
“Dua rius, Mbak. Boleh ya? Mending kita langsung berangkat deh daripada kita telat,” ujar Vino sambil tersenyum.
Aku mendengus. Percuma juga pagi-pagi Aku membuang tenaga buat berdebat sama Vino. Mending aku simpan tenagaku untuk cadangan di kantor nanti.
Mengingat kalau di kantor nanti juga masih ada satu lagi sosok yang slalu bisa menguras habis tenagaku.
.
.
.
##
Duh adek kakak beda usia ini memang sukanya ribut mulu.. Bikin gemes aja 😄😄
Kalo punya Adik seperti Vino pasti memang seru sekali ya? Selain bikin kesal tapi dia juga bisa menghibur juga kalo kita lagi bosen.
Bisa jadi teman berantem, teman curhat walaupun mungkin saran darinya nggak masuk akal. Dan pastinya, tipe adik seperti Vino ini pasti selalu rela melakukan apapun demi melindungi kakaknya..
Nggak percaya?? mending langsung cari saja Adik yang mirip Vino.. hahaha...
jangan lupa Like, Vote dan komen nya ya genkss!!
Follow juga IG Ku
__ADS_1
@nan_dria