My Boss Samuel

My Boss Samuel
118. Hasil Dari Sebuah Do'a


__ADS_3

Hallo semua...


Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya.


Di share apalagi boleh syekalee.


Tetap dukung saya selalu.


Happy reading !!


##


“Gimana kalau coba periksa?” Tanya Sam sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi keningku.


Aku menggeleng.


Sudah lama aku menyerah dengan segala sesuatu berbau kehamilan.


“Aku nggak mau kecewa, rasanya sakit.” Bahkan persediaan testpack di rumah saja sudah aku bakar habis.


Aku hendak bergerak lagi.


“Bukan berarti kita menyerah kan?” Sam menahan tanganku, menatapku lekat. “Takut kecewa bukan berarti kita berhenti berharap.”


Aku menggeleng dengan mata yang tiba-tiba terasa panas. “Aku nggak mau berharap, nggak mau sakit, nggak mau kecewa, Sam.” Isak ku pelan.


“Kita coba tes hari ini, apapun hasilnya, nggak akan mengurangi perasaan aku ke kamu. Kamu nggak akan terpuruk sendiri, aku nggak akan biarin itu.” Ujarnya menghapus air mataku dengan ibu jarinya.


“Ya udah, nanti aku suruh Bibi buat beli testpack.” Aku mengalah hanya karena tidak mau melihat wajah Sam memelas.


Tiba-tiba Sam merogoh saku celananya dan menyerahkan bungkusan testpack padaku. Aku melirik ke arahnya. “Dari tadi kamu kantongin ini?”


Dia mengangguk dan menyengir. “Jaga-jaga siapa tahu kamu setuju buat tes, aku juga tahu semua persediaan sudah kamu bakar.”


Aku memutar bola mata sambil menerima bungkusan itu dari tangannya. “Kalau aku nggak setuju, kamu pasti nggak akan berhenti buat rayu aku.”


Dia terkekeh malu. “Namanya juga usaha.”


Astaga! Lihat dia, menggemaskan sekali. Jarang lho aku bisa melihat wajahnya memerah seperti itu jika bukan karena sedang klimaks.


Aku memeluk lehernya dan mengecup bibirnya berkali-kali. “Tukang perintah.” Ledekku padanya.


Dia mengecup bibirku. “Pembangkang.” Balasnya menggigit bibir bawahku gemas.

__ADS_1


“Nyebelin.” Aku menggigit lehernya lalu tertawa.


“Cengeng.” Balasnya sambil tertawa.


Aku memukul bahunya lalu bangkit berdiri, aku sudah benar-benar tidak tahan lagi untuk buang air kecil.


••


Aku membawa alat itu ke hadapan Sam tanpa berniat mengintip hasilnya sama sekali. Begitu selesai aku gunakan tadi langsung aku tutup kembali. Aku terlalu takut untuk melihatnya seorang diri.


“Nih.” Aku duduk di samping Sam yang sedang makan buah di meja makan.


Dia seketika menjauhkan piringnya, meraih alat itu membukanya dan menatapnya serius.


“Hasilnya apa?” aku bertanya ragu.


“Kamu belum lihat?” dia menoleh saat aku menggeleng.


Wajahnya datar, tidak ada ekspresi apapun. Dan hal itu sudah cukup membuatku mengerti, aku tidak akan sakit hati. Aku tidak akan kecewa. Aku sudah berjanji. Dan lebih baik kalau aku tadi tidak menanyakan pertanyaan itu saja.


Tapi kenapa pipiku basah ya?


“Sayang.” Sam jarang memanggilku seperti itu.


Aku mengangguk, mengerti maksud dari panggilannya.


Tapi yang aku lakukan ketika sampai di kamar adalah menangis. Aku memeluk bantal sambil terisak. Aku benci menjadi cengeng seperti ini.


“Kenapa menangis?” Sam memelukku dari belakang. Aku hanya diam sambil memejamkan mata. Tidak ada niat untuk menjawabnya. “Waktu kita masih panjang.” Ujarnya mengecup puncak kepalaku.


“Hm.” Aku hanya bergumam dengan nafas tersengal.


“Masih ada beberapa bulan lagi sebelum anak kita lahir. Kamu masih punya waktu beberapa bulan lagi, Sayang. Jadi ... Cengeng, jangan habiskan air mata kamu sekarang, nanti stoknya habis sebelum waktunya.” Ujarnya berbisik di telingaku.


Aku terdiam seketika, menatap jendela yang ada di depanku. Sam bilang apa?


Aku membalikkan tubuh dan menatap Sam yang kini tengah tersenyum geli.


“Kamu bilang apa?!”


“Kamu cengeng.” Ledeknya dan seketika aku memukul-mukul dadanya kencang untuk meluapkan apa yang aku rasakan saat ini. Ini sungguh bukan lelucon kan?


Sam menunjukkan hasil testpack itu padaku. Dan seketika aku kembali menangis kencang. Menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Sam sambil memegang testpack tersebut.

__ADS_1


Aku tidak tahu bagaimana menjabarkannya, tapi aku berterima kasih kepada Tuhan. Ya Tuhan, aku benar-benar berterima kasih.


“Jadi cengeng.” lagi-lagi Sam memanggilku dengan nama itu. “Berhentilah menangis. Aku bisa bayangkan secengeng apa anak kita nanti kalau kamunya aja seperti ini.”


Aku memukul dadanya kencang lalu menggigit bahunya sambil tersedak tawa dan juga air mata.


Ya Tuhan, mungkin aku bukan orang yang sempurna dan tidak akan pernah menjadi sempurna. Tapi saat ini, aku merasa hidupku sudah sangat sempurna. Engkau mengizinkanku menjadi seorang wanita yang sempurna. Mempunyai suami yang sangat baik dan kini tengah mengandung anaknya. Terima kasih, Tuhan ... Terima kasih.


“Hai, Daddy.” Aku menyentuh lembut pipi Sam.


Sam mengerjap, setitik air mata jatuh mengenai tanganku. Dia menunduk, mengecup telapak tanganku dan menangis dalam diam. Akhirnya kini aku punya nama panggilan yang tepat untuk Sam. Iya, 'Daddy'.


Kami tidak lebay, tapi memang kami menangis bahagia. Aku dan Sam benar-benar bahagia karena kini di dalam perutku tengah tumbuh sosok malaikat kecil yang sudah lama kami nantikan.


Sebuah perjuangan yang tak akan pernah membohongi hasilnya. Aku bahkan sempat menyerah dan lelah. Namun, ternyata di saat aku mulai merasakan lelah dan menyerah, Tuhan, memberikan apa yang aku dan Sam harapkan. Memberikan hasil dari segala usaha dan doa-doa kami selama ini.


Terkadang, Tuhan memang tampak lambat dalam mengabulkan semua keinginan umatnya.


Tapi, satu hal yang kini aku yakini, bahwa Tuhan itu menjangkau pikiran umatnya lebih dari yang mereka tahu.


Berdoa dan berusaha adalah kuncinya.


Never give up. No pain no gain!!


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....


##


Kita doakan sama-sama para ibu-ibu pejuang garis dua, semoga dapat segera mendapatkan garis duanya yang selalu di nantikan.

__ADS_1


Jangan menyerah tetap berusaha, semoga Tuhan mengabulkan segala do'a dan tahun ini bisa hamil.


Amiin. 😇


__ADS_2