My Boss Samuel

My Boss Samuel
32. Gosip


__ADS_3

Happy reading!!


##


Aku dan yang lainya tengah sibuk dengan tugas masing-masing. Namun aktivitasku terpaksa harus ku hentikan saat Pak Sam tiba-tiba berdiri di tengah-tengah kami.


“Nanti kalian boleh pulang jam delapan. Tapi, dengan syarat, laporan yang hari ini sudah harus selesai. Terus tolong taruh di meja saya.” Jelas Pak Sam.


“Dan maaf... hari ini saya nggak bisa ikut lembur, saya ada urusan pribadi. Jadi, semangat ya buat kalian.” Imbuh Pak Sam sembari tersenyum.


Tumben lunak banget rahangnya dan tumben sekali pakai ijin segala karena mau pulang duluan. Eh... tapi aku jadi penasaran dengan urusannya, urusan apa ya? Apa jangan-jangan urusan yang di ceritain tempo lalu. Yang katanya kalau Papanya mau ke Indonesia. Ah mbuhlah, bukan urusanku.


Aku menatap Pak Sam masuk ke ruangannya, kemudian kembali keluar lagi dengan menenteng jas dan tas kerjanya. Berjalan dengan senyum tipis ke arah kami hingga sosoknya menghilang di balik pintu lift.


“Sstt...” Rizal memberi isyarat setelah Pak Sam pergi.


“Apa?” sahut Mbak Sari.


Dari baunya sudah tercium. Kalo mereka berdua sudah saling tanggap pasti ujung-ujungnya berakhir dengan sebuah gosip tabu.


“Kalian penasaran nggak sih, sama urusan Pak Sam. Kira-kira urusan apa ya sore-sore begini?”


Aku mencibir, “gue nggak penasaran tuh, terserah Pak Sam lah gue juga nggak peduli.”


“Eh... tapi gue juga penasaran lho.”


“Halah kalo elo gue nggak kaget, Sar. Apa sih yang nggak buat lo penasaran? Semua yang lo lihat menurut gue mengundang rasa penasaran lo terus.” sahut Mas Rizal yang membuatku dan Tiwi tertawa.


“Apa sih Ngga, sewot amat lo sama gue.” Kesal Mbak Sari, “apa salahnya sih? Lagian emang aneh kan, Sam nggak pernah lho ijin pulang sore begini. Atau jangan-jangan dia mau,?” Mbak Sari menggantung kalimatnya.


Aku yang tadinya nggak penasaran mendadak menjadi penasaran setengah mati. Cuma gara-gara ucapan Mbak Sari lho ini, yang memang kelewat racun banget. Mungkin mulutnya itu mengandung semacam jenis narkotika yang bisa membuat kita semua ke canduan dengan ucapannya.


“Duh, jangan di gantung dong, Mbak. Lo mau bikin gue nggak bisa tidur malam ini.” Desak Tiwi yang ku anggap mewakili perasaanku saat ini.


Mbak Sari kembali menatap kami satu persatu dengan sorot mata serius. “Jangan-jangan Sam mau lamaran.”


“Hah?” aku langsung membungkam mulutku setelah terkejut.


“Santuy Mbak Adel, gue juga kaget kok. Tapi gue bisa kaget sendiri nggak usah lo wakilin.”


Wakilin gundulmu Wi!

__ADS_1


“Gue heran deh sama lo, Mbak. Lo dapat pikiran aneh-aneh begitu dari mana sih? Jujur selama pertemanan kita ini gue masih belum bisa memahami sumber kekuatan pikiran aneh lo itu di dapat dari mana.”


“Nah... kalo ini gue setuju banget sama lo, Del.” Sahut Mas Angga mendukungku.


Emak satu ini memang sangat kelewat aneh, tingkat hipotesisnya benar-benar sudah ke lewat batas.


“Ya, gue kan Cuma berpendapat.” Bela Mbak Sari.


“Tapi kalo nggak ada bukti dan yang lebih parah kalo sampai kedengaran orang lain. Nanti jatuhnya fitnah lo.” Ucapku sok menasehati.


“Kok gue merasa lo kayak nggak ikhlas gitu ya, Del, denger kabar Pak Sam mau lamaran.” Aku langsung menoleh ke arah Rizal. Jangan lupakan manusia satu ini, karena mulut dan pikirannya sama persis dengan Mbak Sari.


“Ya Allah, siapa yang bilang nggak terima sih. Gue Cuma bilang fitnah kalo nggak ada bukti, bambang!.” Aku mencoba menahan kesabaranku.


“Tuh kan ngegas...”


Aku menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. “Emang susah ya ngomong sama tutup bolpoin yang di kasih nyawa. Sabar... sabar Gusti...” aku menekan kata terakhirku sembari memencet tombol keyboardku dengan keras.


##


Keesokan harinya aku melihat ada yang aneh dengan gerak-gerik Mbak Sari dan Rizal. Terutama saat Pak Sam berjalan melewati kami. Sebenarnya aku ingin sekali menegur aksi mereka, tapi aku nggak mau kalau mereka sampai mengira yang tidak-tidak.


Sampai akhirnya mereka memulai percakapannya sendiri.


“H’oh, Mbak. Padahal dari tadi udah gue inceng jarinya tapi malah nggak ada.” Sahut Rizal


“Kalian ngomongin cincin apa sih?” nah ini Tiwi memang selalu mewakili perasaanku.


“Ya cincin lamaran Sam lah.”


“Hus...” sela Mas Angga sembari menatap Mbak Sari. “dari pada lo gosip terus mending nanti tanya ke Sam langsung. Kalo lo nggak berani biar gue aja.”


“Gue dukung lo, Mas.” Sahutku cepat.


Seperti pucuk di cinta ulam pun tiba. Pak Sam yang baru saja keluar dari dalam ruangannya langsung di cegat oleh pertanyaan Mas Angga.


“Mau kemana Sam?”


“Mau ke bawah sebentar, memangnya kenapa Ngga?” jawab Pak Sam.


Mas Angga melirik Mbak Sari dan Rizal terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraannya. “Gimana ya? Gini Sam kemarin nggak sengaja aku denger gosip tentang kamu.”

__ADS_1


Aku seketika menahan tawa saat melirik ke arah Rizal dan Mbak Sari. Aku yakin dalam hati mereka pasti sangat mengutuk mulut Mas Angga.


“Gosip apa, Ngga?”


“Denger-denger sih, kemarin pas kamu ijin pulang sore katanya mau lamaran.”


Reaksi tak terduga dari Pak Sam membuat kami semua bengong. Pak Sam malah tertawa mendengar perkataan Mas Angga. Duh, bisa juga ya Pak Sam tertawa begitu di depan kami. Aku mendadak tersenyum sendiri.


“Kata siapa memangnya?” tanya Pak Sam


“Rizal sama Sari.” Parah jujur banget mulut Mas Angga.


Pak Sam melirik ke arah Rizal dan Mbak Sari. Terlihat jelas ekspresi mereka menahan malu. Kena batunya juga mereka.


Pak Sam tersenyum sesaat sebelum memulai bicara. “Kemarin saya nggak lamaran kok, kemarin saya jemput Papa saya di Bandara.”


Tuh kan bener feeling ku. Pasti soal Papanya, ah gara-gara Mbak Sari aku sedikit terkecoh.


“Tuh Sar, Zal... bukan lamaran lho ya.”


“Hehe... maaf ya, Sam.” Mbak Sari meringis ke arah Pak Sam.


Rasanya ingin ngakak sekali, melihat tingkah Rizal dan Mbak Sari seperti maling kepergok. Duh cepet pergi dong Bos, aku pengen ngakak nih.


Dan hari ini aku kembali lembur lagi, tapi sekarang sudah tak sampai larut seperti kemarin-kemarin. Satu persatu tugas kami sudah di setujui oleh Pak Sam. Ya iya lah masa kita nggak tau diri banget jadi anak buah ngerjain tugas nggak beres-beres.


Hanya tinggal satu tugas lagi yang belum di setujui. Dan aku langsung bisa menebak siapa yang akan ke jatah menyelesaikan tugas tersebut. Dan tebakkan ku terasa benar setelah di dukung oleh pernyataan dari sang suhunya.


“Tolong selesaikan tugas ini ya, Del. Saya percaya kamu bisa selesaikan tepat waktu.”


“Kenapa Bapak percaya banget, sih?” ucapku sensi.


“Jangan begitu dong, Del, secara otomatis bukan hanya Pak Sam aja lho yang percaya. Kita semua juga percaya kalo lo bisa.” Aku menyorot tajam ke arah Rizal. Ke kampretanya kelihatan banget kalau pas kondisi seperti ini.


“Kenapa nggak lo aja sih, Zal?”


“Sorry Del... untuk yang satu ini gue nggak bisa. Tenang aja gue bantuin lo lewat doa kok. Kalo perlu gue cium mau nggak?”


Aku membuat ekspresi muntah kehadapan Rizal. “sorry, Zal, gue nggak ada waktu buat mandi tujuh kali.”


Dan semua tertawa setelah melihat ekspresi Rizal yang mendadak kecut seperti ketek sopir angkot. Wkwkwkwk..

__ADS_1


##


Maafkan kalau bab ini rada gimana gitu.. karena sesungguhnya diriku sedang tak ada ide menulis, sedang tak enak badan. Tapi karena aku sayang sama Pak Sam dan Adelia jadi aku paksa buat nulis.. hehe jangan lupa dukungannya ya !!


__ADS_2