
Tuh kan, aku gak bohong.
Langsung ku lanjut nih, aku kasih bonus part lagi haha.
Jangan Lupa Like dan Vote nya!!
Happy reading !!
##
Dia masih memegang knop pintu dengan wajah tak berdosa nya.
“Aku enggak ganggu kan?” dia memasang cengiran nya. “Aku terpaksa harus ke sini, karena semua sudah kumpul tinggal kalian aja.”
Aku langsung menundukkan wajahku dan menyeka sisa air mata yang masih menempel di pipiku.
“Kan bisa ketuk pintu dulu, Kai.” Sam mendesah dan Kai malah tertawa tanpa merasa berdosa.
Tak sadarkah jika dia baru saja merusak sebuah moments dari dua orang pasangan yang baru saja berbaikan. Huh!
“Oke, Kai tunggu ya, lima menit jangan pakai lama.” Ucapnya lalu pergi begitu saja.
Apakah perbuatan Kai bisa di kategorikan perbuatan berdosa?
“Dia ngajak kemana?” tanyaku.
“Loh, bukanya tadi dia ngajak pesta ya.” Ah iya aku baru ingat jam berapa sekarang, apa pesta Kai belum kelar juga.
Aku melirik jam sudah menunjuk di angka setengah dua belas malam. Astaga, sudah selarut ini dan aku tadi menghabiskan waktu selama hampir dua jam untuk menangis. Gila! Benar-benar gila.
Sebuah rekor baru dalam hidupku. Pasalnya aku belum pernah menangis selama itu. Dulu aja pas putus cinta bahkan aku tak menangis sama sekali yang ada malah benci dan puas.
“Yuk!” ajak Sam.
“Tapi ...” Sam langsung menarik ku sampai berdiri.
“Kamu tetap cantik kok.” Ucapnya. Ah, kenapa Sam tahu apa yang sedang aku pikirkan dasar menyebalkan.
“Walaupun dengan mata sembab.” Tanyaku lagi, aku tak mau jika Sam hanya membohongiku.
“Iya, walaupun dengan mata sembab, rambut berantakkan dan baju yang kusut.” Aku meringis mendengar ucapan Sam, jangan jujur begitu juga kali. “Kamu akan tetap jadi Adelia yang cantik di mataku.”
Uh, gombal teroos!
Aku memukul lengan Sam lalu dia terkekeh setelah itu kembali merapatkan bibirnya kembali. Sepertinya dia mulai bisa menepati janjinya.
##
Aku melihat Aroon, Kai, Tasya, Destian dan Natalie sudah duduk melingkar mengepung api unggun yang sepertinya memang bisa menghangatkan tubuh itu. Aroon langsung berdiri untuk menyambut kedatanganku dan juga Sam.
“Sudah selesai syuting dramanya?” celetuk Aroon yang entah kenapa langsung membuat semuanya tertawa.
“Udah lah, aku udah lihat endingnya kok.” Imbuh Kai.
“Yah, kok nhgak ngajak aku sih, Kai. Padahal aku pengen banget bales Sam dan teriak ke dia SUKURIN!” entah kenapa ucapan Aroon bisa membuat semuanya kembali tertawa.
Dasar Kampret semuanya!
“Tenang, Del. Mulai saat ini aku akan mengawasi Sam kalau sampai dia berani berbuat hal aneh lagi ... Siap-siap tangan ini mendarat ke wajahnya.” Ucap Destian sambil mengatungkan kepalan tangannya ke arah Sam.
“Aku juga, Del. Aku pastikan yang terbaik buat kamu, bukan elo ya!” Aroon mencibir ke arah Sam
Dan lagi-lagi semua kembali tertawa. Tentu tidak denganku dan juga Sam, sejak tadi kami berdua hanya diam melihat mereka tertawa.
Mana mungkin aku bisa ikut tertawa saat ini. Mataku aja masih sembab begini, sadar dirilah aku.
“Udah ah, kasihan kak Adel lho.” Tasya tersenyum ke arahku dan aku hanya bisa menggaruk tengkuk ku. “Kita mulai nyanyi aja.” Pinta Tasya.
__ADS_1
Kai dan Aroon bersiap memetik gitarnya namun dengan cepat Sam merebut gitar yang ada di tangan Aroon. Aroon sedikit terkejut dan hendak mengumpat ke arah Sam.
Apa mereka benar-benar tak bisa rukun sampai sekarang ya?
“Aku mau pesta berdua aja.” Ujar Sam yang mengundang sorak dari semuanya. Sam tak peduli, jelas dia kan rajanya es.
Sam menggandengku berjalan sedikit menjauh dari yang lainnya. Seperti yang ia katakan dia hanya ingin berdua, lalu dia menyuruhku duduk membelakanginya setelah itu Sam duduk membelakangiku juga. Saat ini hanya punggung kami yang saling menempel, duh kayak mau syuting video klip ya. Ck!
“Dingin, hm?” tanyanya sembari menoleh. Kurasakan hidung Sam menyentuh telingaku dan hal tersebut berhasil membuatku langsung salah tingkah.
“Ng ... Enggak kok, aku nggak dingin.” Kataku gugup. Aku jujur untuk hal ini karena aku memang sudah tak bisa membedakan apa itu dingin dan yang bukan ketika sudah berada di dekat Sam.
Dia selalu punya cara untuk membuatku melupakan segala hal yang ada di sekitarku sehingga pusat perhatianku hanya fokus tertuju padanya. Aku merasakan Sam sekilas mencium tengkukku, hangat dan merinding. Aku menggigit bibir bawahku pelan untuk menyembunyikan perasaan menggelitik yang mulai menjalar ke seluruh tubuhku.
“Sam.” Panggilku, “Apa kamu dan Aroon benar-benar tak bisa akur?” imbuhku.
Sam terkekeh pelan, “siapa bilang? Bisa kok. Tapi hanya untuk hal tertentu.”
Apa maksudnya aku jadi semakin penasaran.
“Kalian kan bukan anak kecil lagi.” Ujar ku.
“Memang, tapi Aroon selalu menyebalkan. Dia sekarang mulai berani marah dan melawanku, makanya aku sebal. Apalagi tadi, dia berani sekali pegang tangan kamu. Harusnya sudah aku buat patah tangan itu.” Celoteh Sam yang terdengar ngawur bagiku.
“Heh!” gertakku. “Enggak boleh begitu, ingat dia itu saudara kamu.”
“Terus kamu percaya kalau aku bakalan membuat tangan Aroon patah sungguhan?” aku benar-benar bingung dengan maksud Sam. Tadi bukanya dia yang bilang sendiri kalau ingin mematahkan tangan Aroon. “Itu nggak akan mungkin terjadi, Del.” imbuhnya
Lalu kami berdua sama-sama diam. Aku diam karena ingin memahami maksud Sam barusan, tapi kalau Sam kenapa dia ikutan diam? Aneh. Tapi kami terdiam cukup lama hingga akhirnya Sam kembali bersuara.
“Kamu mau nyanyi?” bukanya menjawab tetapi aku malah tertawa pelan mendengar pertanyaan dari Sam.
“Memangnya kamu pernah dengar aku nyanyi?” aku berbalik tanya.
“Hm ... Belum pernah, kalau begitu sekarang kamu nyanyi ya biar untuk pertama kalinya aku bisa mendengar suara mu bernyanyi.” Cih, aku mencubit pinggang Sam sedikit keras.
Lalu aku lihat kelompok Aroon sudah mulai heboh sambil tertawa ria.
“Terus gunanya aku bawa gitar untuk kita berdua ini untuk apa, Del.” Aku mulai kesal dengan Sam, sepertinya dia terobsesi banget ya ingin mendengar suaraku ketika bernyanyi. Nanti kalau telinganya sakit asal nyalahin lagi.
Ck, dasar human!
“Buat formalitas mungkin.” Celetukku, “kenapa enggak kamu aja yang nyanyi sih, Sam.”
Ada hening sesaat.
Apa mungkin Sam juga tidak bisa bernyanyi? Aku mulai tertawa dalam hati. Sam kan memang bukan pria romantis, mana mungkin dia mau bermain gitar sembari bernyanyi untukku.
“Kamu suka lagu apa?” tanyanya kemudian.
“Hah?” aku sedikit terkejut, “apa aja.” Ujarku kemudian. Karena aku memang tak begitu mengikuti arus musik lagu yang sedang trend saat ini. Sejujurnya akhir-akhir ini aku lebih sering mendengarnya musik slow rock lawas sih.
Sam mulai memetik gitarnya, perasaan yang dia mainkan adalah gitarnya tapi kok yang bereaksi hatiku ya. Duh, jangan baper ah!
Malu sama air matamu tadi, Del.
Aku dengar Sam mulai bernyanyi dan soal suara jangan di tanya. Kalau aku bisa terbang mungkin aku langsung melayang begitu saja menembus langit untuk meluapkan perasaan yang membuncang ini ketika mendengar Sam bernyanyi. Atau mungkin kalau urat maluku sudah putus aku pasti akan langsung guling-guling sambil teriak-teriak di pantai saat ini. Tapi itu tidak akan mungkin pernah terjadi. Tidak akan!
Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh...
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh...
Ku berharap engkaulah
__ADS_1
Jawaban segala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku...
Sam begitu handal memetik gitarnya sambil bernyanyi, dan suaranya benar-benar mampu meluruhkan hatiku hingga tak tersisa. Meleleh banget akutu.
Aku langsung menoleh ketika lirik selanjutnya suara Sam begitu menusuk di telingaku.
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahan ku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku....
(Lagu: Naff, akhirnya ku menemukanmu)
Sam terus melanjutkan nyanyiannya dan aku kembali memposisikan diri seperti semula. Bolehkah aku merasa bahagia sekarang?
Aku semakin menyandarkan diriku ke punggung Sam lalu mataku perlahan terpejam, menikmati setiap alunan petikan gitar dan suara nyanyian dari Sam.
Hm.
Terkadang memang hanya butuh waktu satu detik untuk dapat mencintai seseorang, hal tersebut sering sekali di sebut dengan cinta pandangan pertama. Memang secepat itu cinta terjadi.
Sementara untuk melupakannya sering sekali membutuhkan waktu hingga seumur hidup.
Kalaupun nanti aku berniat meninggalkan Sam, mungkin aku juga akan membutuhkan waktu seumur sisa hidupku guna melupakannya. Tapi aku tak pernah berharap itu menjadi kenyataan.
Kadang memang dia memang menyebalkan dan aku juga membencinya.
Tetapi.
Sam tetaplah Sam.
Sam yang selalu bisa membuatku jatuh cinta hingga sejatuh-jatuhnya ke dalam hatinya. Sam yang selalu berhasil menarik ku lagi ke dalam pelukannya, Sam yang aku yakini akan selalu mencintaiku apa adanya.
‘Sam, i love you.’ Lirihku dalam hati.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Jadi genks, apa yang di alami Sam bisa di sebut dengan gangguan obsesi yang berlebihan. Dalam dunia kedokteran ada kok penyakit tersebut, kalau ada yang punya kerabat atau teman dokter silahkan di tanya hehe...
biasanya penderita akan merasa terobsesi dengan satu orang bahkan berusaha mengendalikannya seolah orang tersebut sudah menjadi miliknya. Penyebab pastinya tidak bisa di tentukan.
Tetapi mengingat Sam pernah mengalami peristiwa buruk dalam hidupnya yaitu kehilangan sosok ibunya yang selalu memberinya kasih sayang secara berlebihan terus tiba-tiba meninggalkanya. Mungkin itu salah satu penyebabnya.
Ya kira-kira seperti itu kesimpulannya yess.... Paham kan? Paham aja ya biar gak rempong. Wkwkwkwk.
__ADS_1
Dan sebenarnya aku pengen banget nambahin audio pas bagian nyanyi tadi tapi sayangnya, aplikasinya tidak mendukung eeiimm.. hiks,
salam cinta dariku, ❤️