My Boss Samuel

My Boss Samuel
36. Tidak Romantis


__ADS_3

Aku balik lagiihh..


maaf ya baru bisa up..


Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!!


sahare juga boleh kalo kalian suka..


Happy reading !!


##


Jam sudah hampir menunjuk waktu pulang. Dan tentunya aku makin terlihat gusar dan panik mengingat ucapan Pak Sam pagi tadi. Apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus mencari alasan agar bisa menghindar darinya? Atau langsung ku tinggal pulang saja sebelum Pak Bos keluar.


“Kenapa, Del?” Tanya Mas Angga yang sepertinya menyadari kepanikanku.


“Hah?” Aku otomatis kaget. “Anu Mas ... perut gue nggak enak banget rasanya.” Tentu saja aku harus berbohong.


“Bulanan ya, Mbak?” Kini Tiwi ikut bertanya.


“Nggak tau juga, tapi emang hampir tanggalnya sih.” Wah jadi keterusan nih bohongku kalo begini caranya.


Aku masih berusaha memikirkan solusi untuk menyelamatkan diriku. Namun seperti sudah berada di jalan buntu, aku sama sekali tak punya ide. Yang ada malah ucapan Mama tadi pagi yang melintas begitu saja dalam benakku yang membuatku semakin bingung.


Belum sempat kegusaran dan kebingunganku hilang. Aku kembali di buat terkejut oleh Pak Sam yang keluar dari dalam ruangannya. Tunggu dulu, jangan-jangan Pak Sam sengaja keluar ruangan lebih dulu supaya bisa menahanku di parkiran nanti. Pikiran anehku mulai melayang tak karuan. Dan ternyata Pak Sam malah berdiri di tengah-tengah ruangan ini.


“Giliran mau pulang awal aja semua sudah beres. Beda banget kalo di suruh lembur.” Ucap Pak Sam saat sudah berdiri menyandar di meja Mas Angga yang kebetulan memang mejanya paling depan.


Dan itu berarti Pak Sam berdiri tepat di depanku karena letak mejaku tepat di belakang Mas Angga.


“Ya jelas lah, Sam. Semangat empat lima kita otomatis bangkit dong kalo denger kata pulang awal.” Sahut Mbak Sari yang di ikuti tawa yang lainnya.


Kecuali aku!


Aku nggak tau harus bersikap seperti apa? Dan dugaanku kali ini sepertinya benar, kalo Pak Sam memang sengaja menunggu jam pulang bersama kami. Dan alasannya pasti karena tak ingin membiarkan aku kabur begitu saja.


“Pak, boleh dong kalo pulang awal begini di traktir gitu. Supaya mempererat ikatan Bos sama anak buah.” Usul Rizal


“Nah ... kalo itu benar banget, Zal, gue setuju. Tinggal nunggu Sam nya nih sanggup apa enggak.” Mbak Sari melirik Pak Sam sembari tersenyum.


“Ck, dasar lo Sar, Zal. Kerjaannya minta traktiran mulu.” Mas Angga menatap ke arah Mbak Sari dan Rizal. “Gue kan juga mau.”


Ah dasar!! Mereka semua sama saja. Tentunya hal tersebut menyulut tawa kami kembali. Dan kali ini aku berusaha ikut tertawa untuk menutupi apa yang sedang aku rasakan.


“Kalian semua memang sama saja, racun. Kalo kalian begitu apalah daya gue. Gue kan jadi nggak punya pilihan lain. Selain mau juga dong.” Sahut Tiwi.


Lagi-lagi ucapan Tiwi kembali membuat semua tertawa. Receh dan riwuh!! seperti itulah kami.


Mungkin hanya devisi kami yang mempunyai kadar keramaian yang tak kalah dengan ramainya pasar. Padahal kalo di ingat-ingat Bos kita itu galaknya nauzubillah begitu.


Ayo teruskan lagi ucapan tidak jelas kalian, syukur-syukur jam pulangnya bisa di undur sesaat.


“Angga, Sari, Rizal sama Tiwi sudah menyuarakan pendapatnya. Tinggal satu yang belum.” Dan tentunya ucapan Pak Sam berhasil membuat semua mata tertuju ke arahku. Aku menelan ludahku dengan sedikit susah payah. Lalu aku tatap Pak Sam yang tengah tersenyum ke arahku. Sialan, sepertinya Bos kampret ini memang sengaja memancingku. “Adelia, gimana menurut kamu?”


Aku menatap sekeliling dan mendapati semua mata dengan wajah penuh binar menatap ke arahku. Dasar jiwa missqueen kalian semua!!


“Saya ... ikut ajalah, toh nggak ada pilihan lain kan? Bisa kena hujat nanti kalo pilihan saya beda sendiri.” Ucapku sembari menatap Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan Tiwi secara bergantian.


“Nah siip! makasih loh, Del, atas kesadarannya.” Buset mulutnya pengen di gampar tuh. “Jadi kapan nih Sam?” Tanya Mbak Sari antusias.


Namun belum sempat Pak Sam memberikan jawaban. Kami semua langsung menyadari kalo ini sudah jam pulang. Dan tentunya jawaban Pak Sam harus tertunda karena jam pulang.

__ADS_1


Pak Sam tersenyum ketika Mbak Sari, Mas Angga, Rizal dan Tiwi mengucap pamit pulang padanya. Dan aku lihat mereka sudah sampai di depan lift. Aku menghirup nafas kemudian menghembuskannya sebelum aku memutuskan berdiri dari tempat dudukku.


Aku berusaha tak menghiraukan keberadaan Pak Sam dan berniat menyusul anak-anak ke dalam lift. Tapi, saat langkahku sampai di depan Pak Sam dia langsung berbisik memanggilku.


“Del ...” dan aku seketika langsung mengetahui maksudnya. Aku menatap ke arah lift dan anak-anak sudah masuk ke dalam lift semua lalu pintu lift tertutup.


Aku tak menghiraukan ucapan Pak Sam dan memilih berjalan malas ke arah lift. Tidak tau saja Bos kampret ini kalo kepalaku tengah banyak dengan pikiran-pikiran yang sangat menggangguku.


“Mau makan dulu?”


Aku menoleh ke belakang tepat di mana Pak Sam mengikuti langkahku. “Terserah Bapak.”


Selama acara makan tak banyak hal yang kita bahas dan bicarakan. Aku tahu sebenarnya Pak Sam selalu memancing arah pembicaraannya ke hal yang ia inginkan. Tetapi, aku juga selalu berhasil untuk mengalihkannya.


Nah ... betapa serasinya kita, saling melengkapi kan? Hahaha


Iya melengkapi pasangan gesrek.


Selesai makan bersama kemudian Pak Sam melajukan kembali mobilnya. Aku sempat berpikir kalo Pak Sam akan mengantar aku pulang dan mengurung niat untuk meminta jawaban dariku. Tetapi, Pak Sam malah mengarahkan mobilnya ke kawasan wisata Kota Tua Jakarta.


Dengan masih menggunakan setelan baju kerja lengkap, Pak Sam mengajakku turun.


“Pak, jangan ke sinilah. Berasa salah kostum banget saya.” Rengekku


“Memangnya kenapa? Nggak akan ada yang peduli, lagian kita juga nggak kenal sama mereka.” Ujar Pak Sam.


Nah ini nih perbedaan mendasar antara pola pikirku dengan Pak Sam. Pola pikir Pak Sam itu memang sangat identik dengan kebarat-baratan, berbeda denganku. Melihat ku yang tak kunjung turun dari mobilnya, Pak Sam lalu memutar jalannya dan membukakan pintu untukku.


Dia mengulurkan tangannya saat pintunya terbuka. Tuh, katanya tidak suka romantis. Tapi sikapnya sweet banget loh. Apa aku yang terlalu Baper?


Tangannya menggandeng tanganku saat kami mulai berjalan. Tentu saja perlakuan Pak Sam memicu detak jantungku lebih mengeras. Tidak tau apa sejak tadi aku menahan rasa aneh saat dekat dengannya? Sekarang malah seenaknya aja mau bikin jantungku mau copot.


Kami terus berjalan menyusuri kawasan ini dengan langkah perlahan sembari melihat-lihat sekeliling. Ini bukan hari weekend tetapi tempat ini masih ramai saja dengan aktifitas nongkrong kaum anak muda. Di malam hari lampu-lampu Kota Tua tampak lebih eksotis dan mistis. Tentunya menambah kesan bagi penikmatnya.


“Kamu suka tempat ini di malam hari?” aku menatap Pak Sam lagi dengan alis berkerut.


mungkinkah dia berusaha membuatku tak merasa gugup. Atau apakah dia bisa merasakan tanganku gemetar dalam genggamannya?


“Umm ... suka banget, Pak. Lampu-lampu yang menghiasi sepanjang jalan ini menurut saya malah semakin menambah kesan klasik pada malam hari. Dan kalo kata anak-anak sih makin syahdu.” Aku tertawa dengan ucapanku sendiri.


Pak Sam menghentikan langkahnya, lalu menaikkan satu alisnya. “Gimana kalo mulai malam ini kamu jangan panggil saya Pak?”


“Loh, terus saya harus panggil apa?” tanyaku bingung.


Pak Sam tersenyum. “Panggil Sam saja.” Lanjutnya singkat.


“Tapi kan saya sudah pernah bilang, Bapak itu atasan saya. Jadi, mana bisa saya panggil dengan sebutan nama?” Aku teringat dulu Pak Sam juga pernah meminta hal semacam ini. Dan tetap saja jawabanku belum berubah.


Pak Sam menghentikan langkah kami tepat di depan Museum Fatahillah. Kemudian Pak Sam membalikkan tubuhnya tepat menghadap ke arahku. Debaran dan perasaan itu muncul lagi, dan ini bukan momen yang pas untuk pingsan. Aku merasakan jantungku semakin terpompa keras saat Pak Sam menggenggam kedua tanganku.


“Mulai malam ini kamu harus bisa panggil saya dengan sebutan nama.”


Aku mengerutkan alisku. “Harus? Memangnya kenapa?”


Pak Sam mengangkat kedua tanganku lalu meletakkannya tepat di dadanya.


Oh Tuhan ... Dapat aku rasakan jelas kalau ritme detak jantung Pak Sam sama kerasnya dengan jantungku. Jadi selama ini bukan aku saja yang merasakan hal seperti ini? Aku semakin berdebar saat tatapan netra kami saling bertemu dan saling menyorot intens.


“Karena malam ini nggak akan ada lagi yang namanya Pak Sam sebagai atasan, dan Adelia sebagai anak buah.” Aku berusaha menelan ludahku untuk membasahi tenggorokanku yang terasa mengering. “Malam ini hanya ada kita, yaitu aku dan kamu.”


Aku membeku mendengar ucapan Pak Sam. Ini memanglah bukan hal romantis yang selalu aku dambakan dalam hidupku. Benar-benar bukan!

__ADS_1


Tapi, ucapan Pak Sam barusan mampu membuat seluruh tubuhku kaku dengan detak jantung yang kian mengeras. Wajahku mulai memanas menahan sebuah gejolak aneh yang sejak tadi berusaha aku tahan. Ada perasaan asing yang menjalar ke seluruh tubuhku yang tidak pernah aku rasakan pada siapapun sebelumnya. Lucunya, ini sangat menggelitik seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku.


“Pak ... eh, maksudku Sam. Haruskah pernyataanmu itu terjawab.” Ujarku pelan dan cenderung malu-malu.


Pak Sam terkekeh pelan. “Iya ... dan aku mau dengar jawaban iya dari kamu.”


“Loh kok maksa?”


“Aku nggak maksa. Aku hanya yakin kalo kamu pasti jawab iya.” Dih Ge-eR. Dan anehnya malah membuat wajahku semakin panas menahan malu dan senyum yang ingin mengembang ini.


“Memangnya kamu tanya apa kok harus aku jawab iya?” aku hanya berusaha mengulur waktuku saja supaya detak jantungku kembali normal.


Tapi sepertinya malam ini Pak Sam tak akan membiarkan detak jantungku berdetak normal, sebelum ia mendapat apa yang ia inginkan. Ia langsung membungkukkan kepalanya agar pandangan kami sejajar. Kemudian Pak Sam mencium punggung tanganku.


“Will you marry me?” tanyanya yakin.


Aku sempat syok. Apa mungkin Pak Sam benar-benar ingin membuatku pingsan?


Aku lalu menggeleng dengan kekehan pelan. Perasaan ini benar-benar aneh.


“Nikah?” tanyaku sambil senyuman. “Ini terlalu cepat.”


“Pacar?” Pak Sam masih menatapku.


Aku menahan nafasku seperkian detik sembari menatap wajah Pak Sam. Wajah itu terlihat sangat tulus tanpa keraguan.


“Ya?” ucapku ragu dengan gerakan mengangguk-anggukan kepalaku.


“Apa? Nggak jelas.” Goda Pak Sam dan tentu saja membuat aku semakin malu.


Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan perasaan bahagia yang entah datang tiba-tiba ini.


“Iya.” Jawabku dengan mantap dan jelas.


Aku merasakan perasaan bahagia itu langsung keluar begitu saja setelah kata 'iya' itu terucap. Rasa bahagia seperti melihat ratusan kembang api meledak di depan mataku. Aku tidak sedang bermimpi kan? Aku berusaha menggigit bibir bawahku lagi. Dan, ya rasanya sakit sekali.


Aku melihat Pak Sam tersenyum, terlihat jelas sekali ekspresi bahagia itu menyelimuti wajah tampannya malam ini. Kami berdua mendadak merasa canggung dan hanya senyum yang mampu kami ekspresikan. Sumpah ini sangatlah absurd, kami seperti sepasang kekasih yang baru pertama kali kencan.


Bagaimana bisa kami seperti sepasang ABG yang baru saja jatuh cinta??


Aku menarik bibirku menjadi sebuah garis lurus. Kemudian berdehem pelan.


“Jadi memang seperti ini ya rasanya di tembak oleh seorang Samuel Devano Gavin.” Aku mencoba membuang kecanggungan di antara kami. “Benar-benar nggak romantis.” Imbuhku dengan senyum kecil.


Lalu aku berniat berjalan mendahului Pak Sam, sebelum langkahku akhirnya terhenti oleh sebuah teriakan yang membuat kedua mataku terbelalak.


“Adelia Rinjani, aku cinta kamu.”


Dengan cepat aku membalikkan langkahku.


Aku langsung menutup wajah dengan telapak tanganku. Cukup buat aku jatuh cinta saja Pak jangan buat aku malu. Aku mulai merasa menjadi tontonan orang-orang yang ada di sini. Dengan cepat aku menarik tangan Pak Sam dan mengajaknya pergi saat itu juga.


Mama ... Adelia sudah nggak jomblo lagi!!


##


Haaa... Leganya lihat mereka jadian...


udah nggak sabar lihat keromantisan mereka yang lagi anget-anget tayi ayam wkwkwkwk..


salam dari penulis amatir ❤️

__ADS_1


__ADS_2