
Selamat hari Minggu semua.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen nya!
Share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
“Mbak.” Panggil Tiwi dan aku langsung menoleh.
Kebetulan di ruangan ini hanya ada dan Tiwi saja, sementara Mbak Sari, Mas Angga dan Rizal ada rapat dadakan dengan divisi keuangan.
“Kenapa?” Sahutku, lalu Tiwi beranjak dari kursinya dan memilih duduk di kursi Mbak Sari.
“Rabu besok ada acara apa enggak?” aku langsung memutar kursi ke arah meja Mbak Sari.
“Kayaknya sih enggak, Wi, kenapa memangnya?” Ya selama Sam tidak membuat acara dadakan pastinya jadwalku akan selalu longgar.
Memangnya apa lagi yang ingin aku lakukan jika sedang tidak bersama dengan Sam. Padahal dulu pas jadi jomblo tiap waktu ada aja yang ingin aku kerjakan untuk mengisi waktu luang. Tapi entahlah, semenjak menjadi pacar Sam, aku merasa hidupku langsung bergantung penuh padanya. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika Sam tidak main ke rumahku atau mengajak jalan untuk kencan.
Apa ini efek karena setiap hari selalu bertemu dengannya? Dari berangkat ke kantor sampai pulang aku pasti selalu menghabiskan waktu dengan Sam.
Ah, aku tak menyangka kalau pengaruh Sam begitu sangat besar dalam keseharian ku.
Bucin!
“Mau nggak nginap di rumah gue? Rabu besok nyokap sama bokap gue katanya mau ke Bandung jenguk nenek gue yang sakit. Pasti adik gue bakalan ikut, gue nggak mau di rumah sendiri, Mbak. Apa gue nginep aja di rumah lo?” Tiwi mengedip-ngedip kan matanya ke arahku.
Aku menggaruk belakang telingaku sesaat lalu tersenyum. “Gue ke rumah lo aja deh, lagian gue juga pengen ngerasain menginap di rumah teman.” Tutur ku.
“Memangnya lo belum pernah, Mbak?” tanya Tiwi.
“Pernah tapi dulu jaman SMP dan udah lama banget kan.” Tiwi mengangguk-angguk.
Lalu tiba-tiba Mbak Sari, Mas Angga dan Rizal muncul dari balik pintu lift.
“Mampuus! Terpaksa gue harus kerja dari awal lagi kan.” Baru juga kelar meeting tetapi sepertinya Mbak Sari sudah tidak bisa menahan keluh kesahnya.
Ya aku tahu sih, bagaimana tidak mengeluh. Anggaran untuk event promosi ternyata salah hitungan. Padahal sudah hampir sembilan puluh persen berjalan.
Untung itu bukan tugasku.
##
Tiada angin ataupun mendung, tidak juga bertepatan dengan hari-hari spesial, dan kami juga tidak merencanakan hal apapun malam ini. Tetapi tiba-tiba Sam mengajakku pergi ke salah satu taman kota. Hm ... Apa ini yang namanya ngedate dadakan?
Awalnya aku menolak, takut saja kalau sampai ada anak kantor yang nongkrong juga di sana. Tetapi Sam terus saja memaksa.
Kalau sang raja sudah berkehendak, sang kacung bisa apa?
Aku duduk di sebuah bangku menunggu Sam membelikanku minuman dingin. Aku sengaja menyuruhnya untuk membeli minuman, lagian siapa suruh mengajakku ke tempat seperti ini. Apalagi ini masih sekitar jam delapan, tentu saja ini masih masuk dalam kategori waspada.
Beberapa menit kemudian Sam datang dengan membawa sebuah kantong plastik berwarna hitam yang dia dapat dari abang-abang penjual minuman di seberang jalan. Kok aku jadi ingin tertawa ya melihat Sam menenteng kantong plastik kecil tersebut. Dia lalu mengeluarkan dua buah minuman dingin beserta camilan.
“Terima kasih.” Ujarku dengan tersenyum.
Jelas aku merasa berterima kasih karena Sam sudah bersedia aku kerjai. Padahal aku juga tidak haus-haus banget.
Sam tersenyum lalu membukakan tutup botol minumanku. Sudah di kerjai masih saja baik, dasar!
__ADS_1
“Sepi ya ternyata.” Kata Sam sembari melihat sekeliling.
“Jelaslah ini kan hari biasa.” Aku meneguk minumanku lalu meletakkannya di sebelah tempat dudukku.
Biasanya taman seperti ini hanya ramai jika malam minggu saja. Tahu sendiri kan kalau di luar sana masih banyak sekali pasangan yang suka cari tempat gratisan buat pacaran. Jelas tempat ini menjadi salah satu alternatifnya. Tempat yang nyaman dengan lampu remang-remang. Hm ... Cocoklah!
“Terus kenapa tadi kamu nggak mau aku ajak ke sini?” Sam menaikkan satu alisnya ke arahku.
Aku berdehem pelan sebelum akhirnya aku menjawab. “Gak apa-apa tuh.”
Lebih baik aku menjawab seperti itu dari pada aku berkata jujur tentang alasanku. Nanti bisa-bisa malah menimbulkan perdebatan lagi.
Aku masih diam menunggu kalau saja Sam ingin mengatakan sesuatu. Tetapi sepertinya Sam juga sama diam nya denganku. Mungkin sudah hampir lima menit lebih kita terdiam dan bergelut dengan pikiran sendiri.
Ayolah, tidak mungkin kan ke taman ini hanya untuk diam sambil melihat dan mendengar orang lain pacaran. Ah, dasar!
“Sam.” Akhirnya aku memutuskan bersuara terlebih dahulu sebelum leherku benar-benar kering. “Um ... Itu soal omongan kakek waktu itu.”
Sam menoleh ke arahku. “Kenapa?” tanya nya.
“Kamu beneran nggak mau gantiin posisi kakek?” aku langsung kembali mengatupkan bibirku takut kalau apa yang aku ucapkan salah.
Salah dugaan.
Sam justru tersenyum. “Bukannya aku nggak mau, aku hanya belum siap aja. Memangnya kamu pikir memimpin perusahaan itu mudah?” aku pun menggeleng.
Ya, mana aku tahu. Yang aku tahu hanya menjadi kacung perusahaan selama empat tahun lebih.
“Sebenarnya sudah lama kakek memaksaku, sejak ... kepulanganku dari London. Saat itu kakek sangat berharap sekali aku mau menggantikan posisinya.” Imbuh Sam.
“Memangnya selain kamu enggak ada yang bisa gantiin kakek?” jujur aku sangat penasaran. Saat itu aku ingin sekali bertanya ke kakek tapi rasanya seperti tidak sopan saja.
Sam menggeleng. “Sebenarnya kakek pernah menyuruh Papa hanya saja ... Papa juga tidak mau. Mungkin Papa merasa tidak enak, secara Papa hanya menantu dari kakek dan apalagi Mamaku juga sudah tiada.” Aku langsung mengusap lengan Sam ketika ia mengatakan hal tentang Mamanya lagi, aku takut saja kalau hal tersebut akan mempengaruhi mood Sam saat ini.
“Jadi benar-benar hanya kamu harapan satu-satunya?” tanyaku lagi.
“Ya, sebenarnya Aroon juga bisa. Hanya saja dia belum begitu menguasai masalah bisnis perusahaan. Dia baru belajar, dan nggak mungkin kakek langsung percaya begitu saja dengan menyerahkan jabatan ke Aroon. Kakek itu orang yang sangat teliti dalam segala hal, dia tidak akan mengambil suatu keputusan yang akan berakibat fatal.” Jelas Sam. Ya, artinya memang benar-benar tidak ada kandidat yang lain kan selain dirinya. Hm ... pakai panjang lebar.
Aku terkekeh pelan. Benar juga, aku melihat sisi Aroon yang selalu konyol lalu apa jadinya kalau dia menjadi pemimpin perusahaan.
“Awalnya aku juga nggak mau bekerja di perusahaan kakek. Tapi aku kasihan juga sama kakek, akhirnya aku memutuskan masuk ke perusahaannya.” Aku mengangguk-anggukan kepalaku.
“Terus kenapa kamu pilih masuk menjadi Bos ke divisi promosi? Kenapa kamu nggak langsung menjabat jabatan lain yang lebih tinggi. Sekelas direktur atau menjadi asisten kakek?” tanyaku panjang lebar, biar saja aku sudah sangat penasaran sejak lama sebenarnya tepatnya sejak mengetahui kalau Sam adalah cucu kakek Robert.
Coba bayangkan, Sam bisa saja kan langsung menempati posisi yang tinggi di perusahaanku bekerja saat ini. Ya walaupun masih dalam tahap belajar setidaknya ada pengecualian dong untuk cucu sang pemilik perusahaan. Tetapi dia malah lebih memilih menjadi Bos di bagian divisi promosi, dengan jabatan Manager.
Sam menggeleng pelan lalu menatapku. “Aku nggak mau orang melihatku sebagai cucu kakek. Aku ingin belajar dari bawah, dan kenapa aku masuk ke divisi promosi? Ya, karena aku ingin mengetahui terlebih dahulu bagaimana produk kita bisa begitu berkembang dengan pesat. Aku jadi penasaran bagaimana cara kakek mempromosikan produknya.”
“Jadi di Perusahaan benar-benar tidak ada yang tahu kalau kamu cucu kakek Robert?” wah, hebat sekali sandiwara Sam kalau memang tidak ada yang tahu tentang latar belakangnya. Mungkin sebaiknya kita memberi penghargaan khusus untuk Sam.
“Ada, sebagian petinggi perusahaan sudah mengetahuinya.” Aku langsung membulatkan bibir sambil mengangguk pelan.
Gagal dong masuk nominasi pemeran sandiwara terhebat. Ck!
“Kenapa enggak masuk divisi keuangan saja? kamu kan malah bisa melihat data keuangan perusahaan seberapa untung dan ruginya perusahaan kita.” Tukas ku. Namun Sam malah tersenyum.
Apa yang di dalam kepalanya sekarang?
“Sejujurnya ... Aku sedikit malas kalau harus berurusan dengan yang namanya angka.” Aku menaikkan kedua alisku tinggi. Really? seorang Samuel yang super perfect ternyata ada kelemahan soal perhitungan juga ya. Hm, baru tahu aku. “Dan kalau aku masuk ke divisi lain, mungkin saat ini aku malah langsung mau ketika kakek menyuruhku untuk menggantikan posisinya dan~” Sam menghentikan kalimatnya.
“Dan apa?” desakku penasaran.
__ADS_1
“Dan aku nggak akan pernah bertemu dengan kamu.” Ekspresi ku dari yang begitu ingin tahu kini perlahan mulai berubah bingung.
Apa maksud Sam?
“Salah satu hal yang aku syukuri setelah aku masuk dan menjadi Bos di divisi promosi adalah bertemu denganmu.” Rasanya jantungku mulai bekerja dua kali lipat dari sebelumnya. “Dan salah satu alasan aku masih menunda untuk menggantikan posisi kakek adalah ... Karena aku masih ingin menikmati moments bekerja denganmu sedikit lebih lama lagi.”
Aku merasakan ada sesuatu yang menggelitik di dalam dadaku dan ini sungguh geli. Kenapa Sam berkata seperti itu? Aku tak bisa menahan senyumku. Harusnya aku tak boleh tersenyum karena sama saja gara-gara aku Sam jadi menolak permintaan Kakeknya. Tapi ... Aku terharu juga mendengar jawaban dari Sam. Ada perasaan senang yang bercampur aduk di dalam hatiku.
Ah!
Aku meraih kedua tangan Sam lalu menggenggamnya erat. “Jangan karena aku apa yang seharusnya menjadi masa depan kamu jadi terhambat.”
Sam menggeleng. “Kamu juga masa depanku, Adelia.”
Apa katanya? Hah? Apa Sam ingin membuat jantungku benar-benar keluar dari tempatnya.
Aku langsung melepas genggaman tanganku begitu saja. Sudah cukup Sam membuatku Ge-eR malam ini, kalau seperti ini terus aku yakin sebentar lagi kepalaku akan meledak.
Huft.
“Dan alasan yang lainnya karena aku memang belum siap saja. Aku hanya tinggal menunggu siap dan menunggu seseorang yang selalu bersedia mendukung kesiapan ku.” Sam menatapku secara dalam. “Aku menunggu seseorang yang bersedia menemaniku mulai dari awal aku melangkah, memberiku semangat dan keyakinan ketika aku sudah menghadapi dunia yang baru.”
Tunggu dulu, kemana arah pembicaraan Sam ini. Apa dia sudah keluar dari topik pembicaraan awalnya tadi? Kok jantungku berasa semakin berdebar ya.
Sam meraih kedua tanganku lalu menggenggamnya erat. Perlahan wajahnya mulai mendekat ke arahku, dan mataku tak bisa berpaling sedetik pun dari sorot matanya.
Sam memiringkan kepalanya dan satu tangannya bergerak menuju wajahku.
Semakin dekat.
“Sam ...” panggilku pelan. “Tempat umum.”
Sam langsung berhenti lalu mengedipkan matanya sebanyak dua kali, setelah itu ia menarik tubuhnya lagi ke belakang. Dia kembali membenarkan posisi duduknya begitu pun aku. Kami terdiam, dan entah kenapa suasana menjadi terasa sangat canggung sekali bagiku.
Aku mencoba berdehem pelan untuk mengusir kecanggungan.
“A-aku hanya ingin mengambil daun yang menempel di rambutmu.” Ujar Sam yang langsung memecah keheningan.
Daun?
Mataku langsung membulat dan dengan cepat aku segera meraba-raba rambutku dan ... Benar, ternyata ada sebuah daun kering yang menempel di sana. Hah, aku langsung membuang nafas secara kasar lalu meremas daun kering tersebut sampai hancur.
Daun sialaan!
Kamu sudah membuatku malu, aarrggah!
Aku mau pulang saja. Mama!
.
.
.
.
.TO BE CONTINUED....
##
__ADS_1
Ada yang pernah Ge-eR terus malu juga ketika lagi berduaan? Hm ... Aku sih hanya bisa menertawakan saja. Hahaha.