My Boss Samuel

My Boss Samuel
15. Perubahan Atmosfer


__ADS_3

Hai... jangan bosen untuk mampir baca ya...


Ceritanya masih panjang lho..


Jangan lupa, Like, Vote dan komen nya guys!!


Happy reading !!


##


“Angga ke ruangan saya, sekalian bawa berkas print yang saya minta kemarin.” Begitulah ucapan Pak Sam saat ia baru saja keluar dari lift. Wajahnya sih tampak datar saja, namun auranya itu lho sesuatu banget.


Tentu saja itu langsung mengagetkan kami, secara aktifitas kami di pagi hari tak jauh-jauh dari gosipin orang dan membicarakan hal yang masih menjadi tabu. Bahkan aku saja belum sama sekali menyalakan komputerku, apalagi membersihkan meja kerjaku.


Padahal sejak kedatangan Pak Sam dia sudah berpesan, kalau dia tidak suka melihat meja dan tempat kerja anak buahnya berantakan. Baginya itu mencerminkan sikap yang tidak disiplin dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri.


Kalau sampai dia menemukan keteledoran sedikit karena ulah kita, fix hukuman yang akan berkata.


Sebenarnya sampai sekarang aku juga masih bertanya-tanya, kok bisa sih ada cowok se perfect dia.


Ibarat orang ngupil, ngupilnya harus sampai ke dalem biar sampai dapet tuh yang nyelip-nyelip di pojokan.


“Duh, jantung gue rasanya udah mau loncat aja lho barusan.” Ucap Rizal yang tengah menghidupkan komputernya.


“Untung Sam nggak terlalu fokus ke arah kita, mana meja gue masih berantakan gini lagi.” Kata Mbak Sari.


“Makanya kalian harus contoh gue dong.” Aku, Rizal dan Mbak Sari menoleh ke arah Tiwi. Dan bocah itu sudah stand by dengan senyum andalannya, yang di kata mirip Lisa black pink.


Aku hanya mencebik, “ tuh orang ganteng lho padahal. Tapi kok nyeremin banget, ya?” Sahut ku sembari menyalakan komputer juga, lalu beralih membereskan meja.


“Gue heran deh, kenapa setiap cewek gampang banget terpikat dengan tampang, padahal yang ganteng belum tentu baik.” Sahut Rizal.


“Dih, bilang aja lo ngiri! Sok-sok an bilang begitu. Terus kalo yang ganteng gak baik, apa kabar sama yang muka pas-pasan kayak lo?” Tudingku pada Rizal.


“Jahat banget sih, Del.” Rizal cemberut, “kan yang ngomong lo sendiri kalo Pak Sam itu kayak setan.”


“Ya... itu nggak ada hubungannya dengan yang lo maksud barusan, kan?” Aku masih ngeyel dengan Rizal.


Rasanya nggak terima saja kalo aku harus mengalah berdebat dengan dirinya.


“Wah ... bau-baunya ada yang udah klop nih, sampai gak mau mengakui omongannya yang tempo hari.” Kini Aku menatap ke Mbak Sari yang dari gerak-geriknya sudah bersiap untuk mengeluarkan hipotesis tabunya.


“Wah, berarti saingan gue beneran berat dong” Tiwi ikut berkomentar.


Aku semakin mengerutkan jidatku dalam. Apa sih maksud mereka?


“Nah... mending lo mundur aja, Wi. Kasihan gue sama lo.” Rizal berucap sok menasehati, “sebelum lo sakit hati sama temen sendiri!” imbuhnya yang berhasil membuatku kesal.


“Hahaha ... setuju gue.” Mbak Sari terbahak, “bisa aja mungkin besok-besok Adelia bakalan langsung nembak dan ngajak kencan, Sam.”


Aku menyanggah, “mana ada?? Helloo ... sekali-kali mulutnya di suruh belajar gih biar bisa ngomong sesuai fakta.”


“Mungkin memang belum sekarang faktanya, gue kan tadi ngomongnya besok-besok, ya kan?” Tiwi dan Rizal mengangguk dengan perkataan Mbak Sari.


“Jangan pada ngaco deh! Nggak mungkin gue begitu, seolah gue gak punya harga diri banget sampai segitunya.” Ucapku sedikit sensi.


“Nggak ada yang gak mungkin di dunia ini, Mbak.” Tiwi mengingatkan.


“Lo nyumpahin gue? Lo beneran ikhlas kalo gue pacaran sama Pak Sam?” Aku benar-benar sudah muak dengan pembicaraan ini.


“Ya gimana ya, masalahnya kan kita nggak tau bagaimana hati berkonspirasi buat jatuh cinta.” Ujar Tiwi yang berhasil membuatku tercengang.


What the ****!! Pembicaraan macam apa ini? Kok serasa terdengar serius sekali ya.

__ADS_1


Ini sudah nggak benar, “sejak kapan lo jadi fans garis keras Fiersa Besari?”


Rizal terbahak, “ya namanya juga jatuh cinta. Nebaknya sesulit nebak jumlah butiran debu yang berhamburan dan tersesat tak tau arah jalan pulang.”


Aku terdiam, memikirkan semua perkataan kami barusan. Namun aku lebih kepikiran lagi dengan perkataan Rizal dan Tiwi yang mendadak berfaedah sekali. Otak mereka apakah sudah kembali normal?


##


“Gawat nih, gara-gara acara launching produk di majuin gue di buat pusing terus seharian ini sama si Sam.” Keluh Mas Angga.


Ya, pagi tadi Mas Angga meeting dengan Pak Sam sampai jam istirahat siang. Nggak tau deh yang di bahas apaan, yang jelas selepas meeting sampai sore ini Mas Angga terlihat sibuk sekali.


“Wah, lo nanti lembur sendiri dong, Ngga.” Mbak Sari mulai kompor.


Tak mau kalah, Rizal pun ikut berkomentar. “Kalo bonusnya gede jangan lupa traktir kita ya, Mas. Ingat gini-gini kita juga berperan penting dalam aspek keberhasilan pekerjaan lo.”


“Idih najis, berperan penting apaan. Setahu gue sejak tadi kalian Cuma ngompor-ngomporin gue doang. Gitu ya, kelakuan orang yang mau minta traktiran, gak tau diri!” Pedas sekali mulut Bapak satu ini, sepertinya salah satu anak buah setan Pak Sam mulai menempeli Mas Angga.


“Hahaha ... Bener Mas, emang tuh Rizal suka nggak tau diri!” Aku terbahak keras.


Rizal tiba-tiba beranjak dari kursinya lalu berjalan ke arah mejaku, “duh kok kalo ketawa makin gemesin aja sih.” Kata Rizal sembari mencubit pipiku dengan keras.


“Sakit woy, lepasin kampret!” Bukanya di lepasin tapi Rizal malah tertawa.


“Lucu banget sih, gue bawa pulang yuk!” Aku melotot sembari berusaha melepaskan tangan Rizal dari pipiku.


Bertepatan dengan itu Pak Sam keluar dari ruangannya. Rizal segera melepas tangannya lalu memasang senyum manisnya. Duh... memang benar najis ini orang.


Aku mengusap-usap pipiku yang masih terasa sakit akibat ulah Rizal.


“Adelia, nanti kamu lembur sama Angga.” Ucap Pak Sam datar tanpa ekspresi.


Aku yang masih memegangi pipiku berusaha protes, “lho Cuma berdua, Pak? Nggak sekalian semuanya?”


“Saya minta nya kamu sama Angga.” Pak Sam menaikkan satu alisnya, “ngapain harus semuanya, bikin ribet!”


Hingga akhirnya suara tawa dari Rizal, Tiwi dan Mbak Sari pun meledak setelah Pak Sam masuk ke dalam lift.


Ini sudah pukul delapan malam, Aku dan Mas Angga masih setia duduk di depan komputer. Dan Pak Sam tentunya masih angkrem di ruangannya.


“Mas, gue laper nih.” Aku melirik Mas Angga sambil memegangi perut.


“Tadi di ajak makan nggak mau, sekarang giliran laper ribut.” Tepat sasaran sekali sih kalo ngomong.


Aku sedikit cemberut. “Ya, tadi kan belum laper, Mas. Mana ini belum tau mau pulang jam berapa lagi.”


Tiba-tiba Pak Sam keluar dari ruangannya. Seketika bola mataku tertuju ke penampilan Pak Bosku yang terlihat sudah tak serapi pagi tadi. Rambutnya sudah sedikit acak-acakan. Dasinya sudah sedikit melonggar di tambah dengan lengan kemeja birunya yang sudah terlipat hingga ke siku. Jujur ya, kenapa Bos kampret itu tetap kelihatan keren dan ganteng sekali walaupun sudah malam begini? Bahkan penampilannya sekarang pun sama sekali tak mengurangi kadar kegantengan Pak Sam, yang ada malah nambah.


“Kalian sudah makan belum?” Pak Sam menaikkan alisnya, menatap ke arah ku dan Mas Angga.


“Adel tuh Sam yang belum, baru aja dia ribut kelaperan.” Aku meringis ke arah Mas Angga yang seolah menjadikan aku umpan.


“Benar, Del?” Tanya Pak Sam.


“Ah, iya, Pak. Tapi gak apa-apa kok saya masih kuat menahan sampai pulang.” Bohong banget, padahal cacing di perutku sejak tadi sudah berasa dangdutan.


Pak Sam tersenyum tipis, “saya percaya kalau kamu bisa menahan lapar. Tapi saya nggak mau di tuduh sebagai atasan yang kejam gara-gara membiarkan anak buah saya pingsan kelaparan.”


Nge-fly boleh nggak sih? Itu kalimat terbaik yang pernah di ucapkam Pak Sam selama di kantor ini. Dan itu untukku. Aww ... pengen terbang!


“Bener tuh, nggak usah sok kuat lo ,Del. Gue tau cacing dalam perut lo itu udah meronta-ronta minta makan.” Aku mencebik ke arah Mas Angga.


“Ye, apaan sih, Mas?” Ucapku nyolot.

__ADS_1


“Ayo buruan Del, saya juga laper soalnya.” Ajak Pak Sam, dan akhirnya aku ikut dong. Secara memang sudah lapar sekali, tadi juga Cuma bohong kok kalo aku sok kuat.


“Titip minuman satu, ya?” Ucap Mas Angga sebelum aku berjalan ke arah lift.


##


“Enaknya makan apa?” Tanya Pak Sam saat kami keluar dari kantor.


Lah serius nanya ke aku nih, “kalo bisa yang berat aja, Pak. Soalnya sudah malam juga.”


“Berat? Batu mau?” Pakai ngelawak nih Bos Kampret, “ke kafe itu mau nggak?” Tunjuk Pak Sam ke kafe yang sudah sering aku datangi juga.


“Boleh, Pak. Kebetulan di situ menunya juga bervariasi.” Ujarku.


Aku dan Pak Sam berjalan kaki ke kafe tersebut, karena memang kafe tersebut hanya terletak di seberang kantor.


Sampainya di kafe aku dan Pak Sam duduk di salah satu meja di dekat jendela. Berhubung ini jam lembur, otomatis suasana kafenya sudah terbilang sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang makan di sini dan itupun bisa di hitung dengan jari.


Tunggu dulu, kenapa perasaan ku mendadak gugup begini ya? Apalagi di tambah alunan musik romantis yang jadi pengiring acara makan ku di sini.


Sudah sejak kami membuat pesanan sampai akhirnya pesanan tersaji. Aku tidak berani bicara dengan Pak Sam. Dan tampaknya Bos ku itu juga tengah terlihat sibuk dengan ponselnya.


“Kamu nanti pulang naik apa, Del?” Pertanyaan itu keluar saat aku mulai menyendok makanan ku. Aku lihat Pak Sam sudah menaruh ponselnya ke atas meja.


“Belum tau, Pak. Kalau sampai malam mungkin nebeng Mas Angga aja mumpung bareng.” Ujarku lalu menyuap makanan ke dalam mulutku.


“Memangnya kalian searah?” Pak Sam menatapku lalu menyendok makanannya.


“Nggak juga sih, tapi biasanya Mas Angga juga sering nganterin saya kok.” Pak Sam terlihat mengangguk-angguk. “Sebenarnya, yang searah itu justru si Rizal."


“Berarti kamu sering dong bareng Rizal?”


“Ah nggak sering-sering amat kok, Pak.” Aku meminum jusku, sebelum menyambung perkataanku. “Dia kan banyak urusan, Pak. Saya mana mau ngintilin dia.”


“Kamu sama Rizal pacaran?” Aku melotot ke arah Pak Sam dengan keadaan hampir tersedak. Ini kok jadi ngomongin hal tidak jelas begini ya. Namun, jujur aku tidak bisa menahan tawaku saat mendengar pertanyaan Pak Sam.


“Bapak ada-ada aja sih.” Aku masih tertawa keras, “memangnya saya sama Rizal kelihatan seperti pasangan gitu, ya?”


“Ya ... sepertinya begitu, kalau saya lihat kalian seperti ada kecocokan.” Aku makin terbahak saja dengan ucapan Pak Sam.


“Pak, mungkin itu Cuma ikatan kecocokan karena kita memiliki selera humor yang sama. Bapak jangan asal nuduh, ah.” Elak ku masih dengan tertawa.


“Saya nggak asal nuduh, saya hanya ...” Aku menatap Pak Sam yang masih menghentikan ucapan nya. “Saya hanya ingin mengkonfirmasi saja.”


“Lagian konfirmasi buat apa sih, Pak? Memang ada atasan yang suka gosipin saya sama Rizal.” Lagi-lagi aku masih tertawa dengan ucapan Bos ku ini.


“Bukan.”


“Terus?” Aku berusaha menghentikan tawaku untuk menyimak perkataan Pak Sam dengan serius.


“Ya konfirmasi saja, buat ...” Aku tersenyum menatap Pak Sam, “buat saya sendiri.”


Ini mulutku yang tadinya sudah bersiap-siap untuk tertawa lagi mendadak tertutup rapat. Seperti satu piring penuh makanan masuk ke dalam mulutku sekaligus. Ada rasa seret-seretnya gimana gitu, yang bikin aku kesusahan menelan ludah sekaligus bernafas. Apa aku perlu mengorek kuping biar bisa mendengar jelas ucapan Pak Sam barusan?


••


“Nih, kopi dari Pak Bos.” Aku menyodorkan segelas cup kopi ke meja Mas Angga.


“Nggak sekalian sama makanannya?” Mas Angga bertanya sambil nyengir.


“Yee, di kasih hati malah minta tayi lo, Mas.” Aku berjalan ke arah mejaku.


“Mana ada dari hati langsung ke tayi, Del. Btw, kok agak lama sih kalian? Gue kira kalian pulang duluan.” Mas Angga mulai meneguk kopinya.

__ADS_1


Aku sedikit gelagapan dengan pertanyaan Mas Angga, “oh tadi lumayan antri.” Dustaku.


Tentu saja, mana mungkin aku jujur dan menceritakan hal yang baru saja mampu mengubah atmosfer antara aku dan Bosku yang bernama Samuel itu.


__ADS_2