
Sesuai janji ya aku up lagi nih ...
Ada yang udah takbiran belum nih?? hihi.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen !!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Sam masih tidak mau bicara bahkan saat aku kembali ke kamar untuk mandi setelah bermain voli di pantai bersama saudara-saudaranya tadi. Dia tengah berbaring di atas ranjang dengan dua bungkus keripik kentang berukuran besar sambil menonton TV. Bahkan sejak aku masuk ke kamar dia sekalipun tak menoleh dan apalagi menyapaku.
Memangnya aku peduli? Kalau dia bisa ngambek seperti bocah, kenapa aku tidak? Lagipula ini sudah terlalu sering, jadi sekali-kali harus aku kasih pembalasan.
“Kamu nggak mau makan malam?” aku bertanya ketika keluar dari kamar mandi. Berjalan ke arah lemari untuk memilih pakaian dalam yang akan aku kenakan.
Kini semua pakaian-pakaian itu sudah tertata rapi kembali di dalam lemari. Aku sedikit tersenyum ketika membayangkan Sam yang sedang kesal terpaksa harus menata pakaiannya lagi di dalam lemari. Harusnya aku menaruh kamera tersembunyi biar tahu gimana ekspresinya tadi.
“Hm.” Sam hanya bergumam.
Kini dia tengah bersila di atas karpet bulu, memegang stick dan bermain video game.
“Masih ngambek?” aku bertanya sambil melempar handuk yang melilit tubuhku ke atas ranjang.
Sam menoleh, menatapku lekat yang tengah memakai celana dalam. Aku pura-pura tidak melihat matanya yang menatapku lapar. Aku sengaja berlama-lama ketika hendak mengaitkan bra di punggungku.
“Kalau kamu masih mau di sini, aku mau turun ke bawah buat makan malam.” Aku berjalan kesana kemari hanya dengan pakaian dalam. Membiarkan gaun santai ku tergeletak begitu saja di atas ranjang.
Aku berdiri menghadap kaca sambil menyisir rambut yang basah.
“Kenapa belum pakai baju?” ujarnya menyindir.
“Kenapa memangnya?” aku menatapnya dari cermin.
“Ck!” Sam berdecak sambil kembali bermain game. Aku hanya tersenyum geli dan semakin berlama-lama menyisir rambut.
“Kamu beneran nggak mau makan nih?” aku bertanya sambil duduk di tepi ranjang, memakai body lotions.
“Nanti.” Jawabnya datar dan melirikku dengan ujung matanya.
Aku pura-pura tidak melihat itu dan terus memakai body lotions. Sumpah ya gelagat Sam benar-benar menggemaskan.
“Pakein di punggung bisa nggak?” aku duduk begitu saja di pangkuannya dan menyerahkan botol lotions ku padanya.
Sam meraihnya, lalu mulai mengoleskan lotions itu ke punggungku dengan gerakan lembut.
“Kamu sengaja?” bisik nya sambil membuka kaitan bra di punggungku. Lalu hidungnya menyusuri bahuku dan tangannya membelai payudaraa ku.
Siaal, dia malah menggodaku. Niatku kan hanya menggodanya kalau akhirnya aku ikut tergoda kan gimana gitu ya.
__ADS_1
“Nggak.” Aku hendak berdiri, tapi Sam memeluk perutku dan mendudukkan aku ke pangkuannya lagi.
“Kamu sengaja.” Tuduhnya lagi sambil mengecup bahu lalu naik ke leher.
Mataku terpejam menikmati sensasi yang Sam berikan. Ah, aku benar-benar tidak bisa menolak sentuhannya.
“Bukannya kamu masih ngambek?” aku bertanya geli.
“Ck.” Dia berdecak. Melepaskan bra dari dadaku dan menghadapkan tubuhku padanya. Dia bersandar di sofa dan aku duduk di atas pangkuannya. “Kamu tahu kan kalau aku sedikit bermasalah dengan emosi?” dia bertanya sambil mengecup dadaku.
“Hm.” Aku hanya bergumam saat bibirnya mengecup leherku dan bermain-main di sana. “Yang aku tahu kamu itu posesif.” Aku memeluk lehernya lebih erat saat lidahnya menjilat telingaku.
“Kamu milikku. Ingat itu.” Ujarnya melepaskan kaosnya melalui kepala lalu mengecup dadaku dan menjilat nya. “Aku nggak suka kamu di sentuh orang lain, siapapun itu. Termasuk saudaraku sendiri. Aku nggak suka berbagi.” Bisik nya menghisap puncak payudaraa ku yang sudah menegang.
Aku tersenyum, lalu menggigit bibir bawahku membiarkan Sam melepaskan celana dalam ku. “Aku juga nggak suka berbagi.” Ujar ku saat dia ikut melepaskan celananya dan melemparnya begitu saja ke sembarang arah.
Lidah Sam terus bermain dengan puncak payudaraa ku. Dan dalam satu gerakan cepat, dia menyusup ke dalam ku tanpa aba-aba. Aku nyaris berteriak karena ulahnya, rasanya antara sakit dan nikmat. Dia kembali mengecup bibirku lalu memegangi pinggangku dan membantuku bergerak secara perlahan.
Masih dengan posisi duduk di atas karpet bulu, bersandar pada sofa. Sam mengerang saat aku mulai bergerak di atas pangkuannya. Aku memeluk lehernya erat, menjilat nya hingga tubuh Sam bergetar dan dia mengeram.
Nafasnya memburu saat aku terus mengecupi lehernya. Aku langsung tersentak ketika Sam tiba-tiba menarik ku untuk bangun, aku pikir kami akan pindah ke atas ranjang, tapi ternyata Sam menekan tubuhku ke sofa dengan posisi membungkuk. Dan dia langsung kembali menyusup dari belakang.
Wajahku terbenam di sofa saat dia bergerak tak terkendali di belakangku, menghujam dalam dan cepat tanpa jeda. Gerakan liarnya nyaris membuat nafasku terputus-putus. Sam terus menekan tubuhku dan menggigit bahuku. Tak butuh waktu lama baginya untuk membuatku mendapatkan kenikmatan hingga aku mengerang kencang. Tapi tak cukup sampai di sana, Sam terus menghujam liar.
Aku sudah nyaris lemas di tempatku saat dia terus memberiku kenikmatan tanpa henti. Sam menarik bantal sofa dan membawanya ke atas karpet. Menarik diri dan membaringkan aku di sana.
Dia tersenyum melihat aku yang sudah nyaris lemas di tempat, wajahnya sudah memerah dan berkeringat. Bayangkan, aku baru saja bermain voli selama hampir satu jam di pantai, dan kini tidak ada tenaga yang tersisa. Apalagi Sam masih tampak jauh dari kata selesai.
Sam kembali menyusup dan bergerak di atas ku, membawa kedua kakiku untuk melingkari pinggangnya. Dia menyusupkan wajah di leherku, kembali bergerak tak terkendali dan cepat. Yang bisa aku lakukan hanyalah memejamkan mata sambil menikmati apa yang dia berikan padaku. Ini sungguh nikmat.
Pria ini benar-benar tak terkendali kalau sedang bercinta. Tapi siaalnya, aku menyukai setiap sentuhannya dan menyukai caranya memujaku. Meski dia terus bergerak liar, tapi dia selalu memastikan bahwa aku menikmati semua itu.
Kami berakhir di ranjang setelah dua jam kemudian. Aku benar-benar kehabisan tenaga, berbaring telentang sedangkan Sam tengah memainkan rambutku dengan jemarinya.
“Aku lapar, Sam. Tapi aku nggak sanggup buat turun ke bawah.” Bisik ku sambil berguling ke atas dada bidangnya.
“Mau makan di kamar aja?”
Aku menggeleng. Aku tidak suka makan di dalam kamar karena tidak terbiasa.
“Ya udah ayo mandi. Kita makan di bawah.” Dia meraih tubuhku dan menggendongku menuju kamar mandi.
“Mandi beneran ya. Aku udah nggak sanggup lagi.” Ajar ku lemas.
Sam terkekeh. “Iya mandi beneran.”
Setengah jam kemudian aku dan Sam sudah berkumpul dengan keluarganya, makan di restoran hotel. Mereka pura-pura tidak menyadari rambutku yang basah dan bersikap seperti biasa. Bahkan mereka juga pura-pura tidak melihatku bahwa tadi Sam menggendongku dan baru menurunkan aku saat keluar dari lift.
Di meja sudah tersedia beberapa jenis hidangan, aku segera mengisi piring Sam terlebih dahulu setelah itu baru mengisi piringku sendiri.
Hotel ini masih tertutup untuk umum meski anggota keluargaku sudah tidak ada lagi di sini, kecuali Mama dan Papa yang saat ini masih menikmati liburan dengan para orang tua lainnya.
__ADS_1
“Ehem.” Semua melirik ke sumber suara, Raffael mulai tersenyum usil sambil menatap yang lainnya. Dan saat itu juga perasaanku mulai tidak enak. “Gue punya tebak-tebakkan nih?”
“Apa nih? Bukan tebak-tebakan buah manggis kan?” sahut Aroon antusias.
Sam memilih untuk tak menghiraukan kedua saudaranya yang mulai heboh di meja makan ini. Dia terus menikmati makanannya.
“Ada yang basah tapi ... Bukan jemuran. Apa hayo?” Aku hampir tersedak ketika Raffael dan yang lainnya mulai terkikik.
“Gue tahu, jawabannya pasti peng ...” Destian tersenyum menggoda. “Pengait kan.”
Semua tertawa mendengar jawaban Destian, sedangkan aku dan Sam masih terlihat diam.
“Salah!” sahut Raffael cepat. “Yang benar itu ram ...” aku melotot ketika dia menatapku. “Rambutan yang kehujanan.”
Semua tertawa lagi dan kali ini aku mencoba ikut tersenyum bersama mereka. Klise sekali cara mereka menyindir rambut basahku.
“Bisa diam nggak? Kalau makan itu diam.” Ujar Sam datar.
“Duh yang seharian tadi ngambek, sekarang udah ada suaranya.” Aroon menggoda sambil mengunyah makanan.
Sam melotot. “Shut Up!” bentaknya kesal. Dan yang lainnya tertawa mengejek.
“Diam deh, pengantin barunya nanti marah lho.” Ledek Mas Tristan dan membuat Sam semakin geram.
Sebenarnya Sam itu sadar tidak sih? Semakin dia terlihat kesal, semakin gencar pula sepupu-sepupunya itu menggoda. Dia bodoh sekali selalu termakan pancingan mereka. Ck, dia cerdas untuk hal-hal lain, tapi untuk hal sepele ini saja dia selalu tertipu.
Selesai makan malam, kami berkumpul di teras belakang hotel di mana kursi santai berjejer menghadap pantai. Aku meringkuk di atas sofa dan Sam duduk di sampingku, sambil memijat kakiku yang terada pegal. Ini tanpa aku suruh lho ya ...
Yang lain juga tampak bersantai di sofa masing-masing. Bahkan Natalie dan Destian saling berpelukan di sofa mereka dengan Destian yang sesekali mencuri kecupan di bibit istrinya sambil mengusap perut besar Natalie.
Apa perutku nanti juga akan sebesar itu ya?
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
__ADS_1
Oh ya aku mau mengucapkan selamat hari raya idul adha semuanya 😘 mohon maaf lahir batin ya 🤗