
Selamat Hari Sabtu semuanya..
Hadir lagi nih cerita Sam dan Adelia buat menemani malam Mingguan kalian..
Jangan lupa Like, Vote dan Komen!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Kehamilan sembilan bulan adalah masa-masa yang paling berat. Aku semakin sensitif, mudah marah dan juga mudah lelah. Bahkan Sam sampai mengurangi waktunya di kantor dan meminta tolong kepada Aroon untuk mengambil alih pekerjaannya untuk sementara waktu. Dia sekarang lebih sering berada di rumah dan memilih untuk menemaniku.
Menurut Dokter Lala, hari perkiraan kelahiranku adalah sekitar lima hari lagi. Semakin mendekati waktu yang dokter sebutkan, aku semakin merasa gugup. Dan tentunya Sam juga semakin siaga, jika aku berteriak sedikit saja pasti dia langsung cemas dan panik.
Aku semakin mengurangi aktivitasku di rumah, aku memperbanyak senam yoga yang di sarankan dokter Lala untuk memperlancar proses persalinan. Semua kegiatan yang biasanya aku lakukan, kini di ambil alih oleh Sam. Bahkan sejak dia selalu berada di rumah, rutinitas untuk memandikan kucing dan membersihkan kandangnya pun juga rela Sam lakukan.
Padahal, sebenarnya itu adalah tugas Raffael setiap Minggu. Entahlah, sepertinya Sam mulai rajin.
Aku tengah membantu Bibi memotong sayuran ketika tiba-tiba aku merasakan sakit perut, sangat nyeri dan mules.
“Aaaww.” Aku langsung meringis sambil memegangi perutku.
Bibi yang tengah memasak pun langsung mematikan kompor dan mendekatiku. “Kenapa, Bu?”
“Sakit, Bi, perut saya.” Aku kembali meringis. “Padahal ini belum waktunya tapi rasa sakit ini sepertinya saya mau melahirkan.” Keringat mulai membasahi dahiku.
“Iya, Bu, air ketubannya sudah pecah.” Ucap Bibi yang mendadak ikut panik.
“Sam!” aku langsung berteriak memanggil suamiku pastinya.
“Bapak Sam, Ibu Adelia mau melahirkan.” Bibi membantuku berdiri.
Sam langsung datang begitu aku berteriak memanggilnya, dia terlihat menatap ke bawah dan aku yakin Sam pasti melihat air yang mengalir dari kakiku. Dia mendekatiku dengan wajah panik.
“Kenapa?” Tanya Sam sambil memegangi tubuhku dan menyuruh Bibi untuk menghubungi Mama terlebih dahulu.
“R-rumah sakit.” Kening Sam tampak berkerut ketika mendengar kata Rumah Sakit. “Rumah Sakit, Sam! Aku mau melahirkan!”
__ADS_1
Sam tampak kaget, dia menatap kakiku lagi yang sejak tadi terus mengeluarkan cairan bening, tidak banyak, tapi terlihat merembes di kakiku.
“T-tapi dokter Lala bilang ...”
“Ambil perlengkapan yang udah aku siapkan!” Perintahku cepat sambil mencoba mengatur nafasku. Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan ke Sam, karena saat ini perutku sudah sangat sakit.
“Oke.” Sam segera melangkah menuju ruang tamu.
“Sam! Di kamar! Kamu ngapain ke situ?”
“Heh?!” Sam menoleh dan segera berbalik menuju kamar.
Aku tahu, Sam pasti sangat panik sama paniknya denganku. Tapi aku harap dia bisa jauh lebih tenang di bandingkan diriku, aku sudah menyiapkan perlengkapan persalinan ku sejak dua hari yang lalu di kamar. Sam sudah kembali dari kamar dengan membawa tas yang sudah aku siapkan, dompet dan kunci mobilnya.
“Ayo.” Sam segera berlari menuju pintu samping dapur yang terhubung dengan garasi mobil dengan membawa tas itu.
“Sam! Ya ampun!” aku berteriak dari dapur.
Sam kembali masuk ke dalam berlari mendekatiku. Apa yang dia lakukan? Bisa-bisanya dia meninggalkanku di dapur ini. Kalau aku masih punya tenaga sudah pasti aku pukul kepalanya.
“Ayo.” Ucap Sam. Dia membantuku berjalan menuju garasi, membuka pintu mobil dan membantuku masuk.
“Samping kamu nggak ada?” Sam malah balik bertanya.
“Nggak ada!” aku memejamkan mata sambil terus berusaha mengatur nafasku. Sam benar-benar mau membuat tenagaku habis di sini.
Terlihat Sam tengah mencari-cari tas yang ia bawa tadi.
“Sam, jangan panik.” Ujarku kemudian.
“Iya.” Jawabnya singkat, namun tetap saja raut wajah paniknya tak bisa ia sembunyikan.
Mungkin yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya untuk tidak panik? Ini adalah hal baru bagi kami berdua, persalinanku yang pertama. Tentu saja mau bagaimanapun kami berdua tetap sama paniknya.
“Pak, ini tasnya?” Bibi mengangkat sebuah tas dari tong sampah yang ada di dekat garasi.
“Iya itu tasnya. Ah, siaal ... Bagaimana bisa tas itu ada di sana.” Gerutu Sam sambil melempar kembali tas itu ke dalam mobil.
“Kenapa kamu malah buang tasnya, Sam?” Aku menatap Sam sambil meringis menahan nyeri yang sejak tadi menyerang perutku.
__ADS_1
“Aku nggak buang tas nya ke tempat sampah, Del. Tadi aku melemparnya ke dalam mobil.”
Aku tidak berniat untuk bicara lagi, aku kembali memejamkan mata dan menunggu Sam mengemudikan mobilnya. Tapi sudah beberapa detik mataku terpejam, Sam belum juga menyalakan mobilnya. Aku kembali membuka mata dan melirik Sam yang saat ini tengah bingung seperti tengah mencari-cari sesuatu.
“Tunggu apalagi? Ayo jalan!” ujarku setengah berteriak.
“Tunggu!” Sam keluar dari mobil dan menatap sekeliling.
“Kamu kenapa sih? Aku bisa melahirkan di sini loh!” aku berteriak kencang dari dalam mobil.
“Kunci mobilnya mana?” Sam bertanya sambil menatapku. “Tadi aku sudah hidupin mobil, tapi aku lupa mobil yang mana.”
“Astaga, kampreeet!” Aku menjerit. Dengan terpaksa aku harus melangkah keluar mobil lagi dan berjalan tertatih-tatih. Ada lima mobil di garasi ini dan bisa-bisanya Sam lupa mobil mana yang sudah ia hidupkan. “Bibi!”
Bibi segera berlari tergopoh-gopoh ke arahku. “Kenapa, Bu?”
“Kunci mobil ini mana?” aku menunjuk mobil yang ada di depan kami.
“Loh, itu yang di tangan Bapak bukannya kunci mobil?”
Aku dan Sam secara bersamaan menatap tangannya, di mana kunci mobil berada. Aku lalu menatap Sam dengan nafas tersengal, aku segera membuka pintu mobil dan menutup pintunya kembali dengan keras ketika aku sudah duduk di dalam.
“Tunggu apa lagi!” aku berteriak marah saat Sam masih berdiri menatap kunci mobil yang ada di tangannya.
Haruskah dia semenyebalkan itu di saat darurat seperti ini??
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TO BE CONTINUED....