My Boss Samuel

My Boss Samuel
122. Duo Mak Lampir


__ADS_3

Happy reading yay !!!


##


Aku memasuki lobi kantor yang selalu berhasil membuatku rindu pada masa-masa aku berlari-lari memasuki lobi karena terlambat. Dan masa itu akan tetap menjadi masa yang selalu aku rindukan dan menyenangkan dalam hidupku.


“Selamat siang, Bu.” Lagi-lagi Rara, resepsionis di kantor Sam ini menyapaku ramah. Aku hanya bisa mengangguk dengan wajah datar. Toh, tidak ada gunanya memikirkan hal yang sudah berlalu. Biar saja, biarin itu orang mau sok ramah sama aku, sekalian jilat juga aku tidak akan peduli.


Seperti biasa, aku akan berkunjung ke lantai tempat bekerjaku dulu. Sekedar untuk menyapa dan melepas rindu dengan teman-teman lucknut. Setelah itu baru aku pergi ke lantainya Sam.


Saat aku sampai di ruangan Sam, ternyata dia tidak berada di sana karena sedang meeting. Jadi, aku putuskan untuk menunggu di ruangannya ini. Aku sengaja membawakan bekal makan siang untuknya, karena sejak Sam suka muntah-muntah, dia hanya mau makan masakan yang aku buatkan.


Apalagi kalau mengingat kemarin, dia sama sekali tidak makan seharian karena selalu mual ketika makanan masuk ke dalam mulutnya. Dan baru mau makan setelah aku yang memasak untuknya.


Aku merasa kasihan juga sebenarnya kalau melihat Sam yang hanya berbaring malas dan lemas di atas ranjang. Jadi, mulai sekarang aku harus rajin memasak untuknya.


Hampir setengah jam aku menunggu, Sam tak kunjung kembali. Dan aku mulai merasa kebosanan sendirian di dalam ruangannya. Aku putuskan untuk berjalan-jalan di lantai lima belas ini. Aku dulu jarang sekali menginjak lantai ekslusif ini, kalau bukan Sam yang sering mengajakku meeting ke lantai ini.


Maklum, kacung di larang masuk tanpa kepentingan.


Aku berbelok memasuki koridor sebelah kanan ruangan, beberapa orang menyapaku ramah, beberapa terlihat sibuk bekerja. Tiba-tiba saja rasa ingin buang air kecilku yang selalu kambuh setiap jam ini datang. Aku segera melangkah ke toilet.


“... Namanya Pak Samuel.” Aku mengerutkan kening sambil membenarkan dress yang aku pakai. Terdengar percakapan yang menyebut-nyebut nama Sam di luar sana.


“Ganteng banget, kalau tahu pimpinan perusahaan ini ganteng dan blasteran bule begitu, sudah dari dulu gue kerja di sini.”


“Dulu kan yang mimpin bapak-bapak, kakeknya Samuel katanya. Baru hampir dua tahun ini Samuel yang mimpin.”


Aku keluar dari bilik toilet dan mendapati dua wanita tengah membenahi make up di depan wastafel.


“Tapi katanya pemimpin yang dulu cakep juga, walaupun sudak kakek-kakek, ya bisalah di jadiin sugar daddy.” Perempuan dengan blazer hitam itu memoleskan lipstik yang berwarna merah ke bibirnya.


Aku berdiri di sana, mencuci tangan dalam diam sambil mendengarkan.


“Tapi sayangnya Samuel Gavin itu sudah punya istri.” Ujar perempuan yang satunya.


“Ah masa?” perempuan blazer hitam itu menatap temannya lekat. “Kok gue nggak tahu?”


“Elaaah, kemana aja lo! Dulu pas Samuel ketahuan pacaran beritanya bikin heboh satu gedung ini tahu nggak? Bahkan sampai masuk ke akun gosip juga kok, masa lo nggak tahu?” temannya itu hanya menggeleng. “Bahkan ni ya gosipnya, istrinya yang sekarang itu dulu dapetin Samuel dengan cara yang nggak baik. Secara dia dulu Cuma bawahannya alias ... kacung. Sekarang mana ada sih Bos yang super tampan begitu kepincut sama kacungnya sendiri kalau enggak di kasih apa-apa.”


“Gila, parah, parah!” perempuan blazer hitam itu menyimpan kembali lipstiknya. “Kasihan banget Pak Samuel di bodohin cewek kayak gitu. Pasti istrinya itu cewek matre. Gila! Nggak kebayang deh sekarang hidup kacung itu kayak apa? Pasti senang banget deh bisa morotin duit suami terus.” Mereka berdua tertawa bagai mak lampir.


Aku menelan ludah dengan susah payah sambil mencoba menyabarkan diriku sendiri.


“Tapi katanya sampai sekarang Samuel belum punya anak, katanya istrinya mandul gitu.”

__ADS_1


Ashdkfghnkekhfks-anjriiit!! Enggak lihat apa ini perut udah mulai buncit begini?


Aku menyeka tanganku yang basah dengan tisu, sebelum muncul keinginan untuk menampar mulut mereka.


“Hei.” Aku menoleh sambil mengelap tanganku. “Ambilin tisu dong.” Perempuan blazer hitam itu menatapku. Dan aku hanya menatapnya datar. “Lo budeg apa gimana?” dia melotot padaku.


Sabar.


Aku hanya menatap mereka datar sambil melangkah keluar dari toilet, sebelum aku mencelupkan kepala mereka ke dalam closet.


“Anjiir, jadi kacung aja belagu. Berapa gaji lo? Paling Cuma bisa buat beli lipstik gue!”


Aku berhenti melangkah dan menoleh, perempuan blazer hitam itu juga melotot ke arahku. Sebelum aku keluar, aku memberi dua jari tengahku pada mereka, dan tentu saja seketika mereka mengumpati ku.


Dia bilang apa? Kacung? Tolong ya, itu gelar ku yang sudah hampir dua tahun lalu. Sekarang itu gelar ku menantu konglomerat alias sultan. Mereka tidak lihat apa pakaian yang aku gunakan ini hasil rancangan Dior? Kalau aku mau, aku lepas dress ini sekarang juga, terus aku sumpelin ke mulut perempuan tadi. Biar dia tahu kalau dress ku ini lebih dari cukup untuk membeli seratus lipstiknya, bahkan sampai satu counter sekalian.


“Del.” Aku menatap Sam yang baru keluar dari ruangan meeting. Aku hanya mengacuhkannya dan masih terus melangkah menuju ruangannya. “Adelia.” Sam menyusul ku. “Kamu kenapa?”


Aku masih terus melangkah dengan langkah kesal. Kalau dia bertanya kenapa? Aku sekarang sedang kesal karena baru saja ada dua perempuan ****** yang mengatai aku kacung dan juga menuduhku mandul.


“Adelia, kamu dengar?” aku melintasi ruangan yang begitu luas dimana kubikel-kubikel karyawan berada.


Semuanya melirik ke arahku yang terus saja berjalan cepat dan Sam yang tengah mengejar ku. Aku melirik ke belakang dimana ada beberapa orang yang juga keluar dari ruang meeting itu, plus dua mak lampir toilet yang tadi menggosipi ku.


“Berisik!” sentakku kesal.


Sam menghela nafas sambil berhenti melangkah.


“Sayang!” Dia berteriak memanggilku hingga bukan hanya aku saja yang kaget, tapi seluruh penghuni lantai lima belas ini juga kaget setengah mati.


Aku berhenti melangkah dan menoleh ke belakang, tatapanku tertuju ke arah dua mak lampir toilet yang kini tengah menutup mulut mereka dengan mata melotot seperti hendak meloncat keluar.


Aku bersidekap menatap Sam.


“Kamu kenapa?” Sam berdiri di depanku dan mengecup keningku.


Lagi-lagi aku mendengar banyak suara terkesiap, karena untuk pertama kalinya seorang Samuel Gavin bersikap seperti ini di depan karyawannya.


“Sebel.” Jawabku singkat.


Sam meraih pinggangku, sepertinya dia lupa dimana dia berada. Dia bersikap seolah-olah hanya ada kami berdua di lantai ini.


“Kenapa? Jangan sebel terus, kasihan anak kita, capek ngadepin emosi Mommy nya.” Sam mengusap perutku lembut.


Aku hanya merengek masuk ke dalam pelukannya, mataku masih menatap dua mak lampir toilet yang sepertinya sedang menjerit-jerit dalam hati dan hampir mati berdiri.

__ADS_1


“Lapar.” Bisikku mengalungkan kedua lengan ke leher Sam dengan sengaja.


Biarkan saja kami menjadi tontonan, kapan lagi mereka akan melihat Bos setan mereka bersikap tidak seperti biasanya? Berterima kasihlah padaku yang sudah memberi tontonan secara gratis ini.


“Makan di luar?” Sam mengusap punggungku.


Aku menggeleng. “Aku bawain kamu makan siang.”


Sam mengecup bibirku sekilas, dia terlihat begitu senang. Lalu mengecupnya lagi beberapa kali sebelum membawaku melangkah ke dalam ruangannya. Dan seakan baru tersadar, dia berhenti melangkah dan menatap ke sekelilingnya.


Wajahnya berubah datar dan dingin seketika.


“Kalian lihat apa?! Kerja!”


Tentu semua orang langsung buru-buru duduk di kursi masing-masing dan mulai kembali sibuk bekerja. Duh, rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar kalimat perintah andalan Sam itu keluar dari mulutnya. Dan sekarang aku kembali mendengarkannya, benar-benar membuatku rindu akan masa-masa kita kerja bersama dulu.


Aku tersenyum menang dalam pelukan Sam sambil menatap dua mak lampir toilet yang kini mencuri-curi pandang ke arahku.


Bye-bye mak lampir ganjen!


.


.


.


.


.


.


.


.


TO BE CONTINUED....



##


Akhirnya wajah garang Sam muncul lagi nih, haha.


Ada yang kangen??

__ADS_1


__ADS_2