
Yuhuu come back again.
Masih semangat kan?
Langsung saja jangan lupa Like, Vote dan Komen!!
Di share apalagi boleh syekalee.
Happy reading !!
##
Papa langsung berdiri dan menyambut kedatangan Sam dan keluarganya di dampingi oleh kerabat yang lain. Kini semua anggota keluarga Sam sudah masuk ke rumahku dan beberapa ada yang berada di luar karena memang rumahku tidak cukup menampung banyak orang.
Mendadak perasaanku menjadi begitu tegang, terlebih ketika acara sudah di mulai. Lalu suami Budhe Yanti menyuruhku dan Mama untuk menyusul ke ruang tamu, di mana acara lamaran berlangsung. Perasaanku mulai tegang kembali ketika aku dan Mama berjalan menuju tempat duduk yang sudah di sediakan di sebelah Papa. Bahkan aku sampai meremas jari Mama untuk menyalurkan perasaan yang sedang aku rasakan saat ini.
Tetapi perasaan itu seketika sirna ketika aku sudah duduk dan berhadapan dengan seorang laki-laki yang hari ini akan melamar ku. Hal pertama yang di lakukan Sam ketika tatapan kami bertemu adalah tersenyum. Astaga ... Senyumnya seketika langsung menenangkan hatiku seolah dari senyuman tersebut Sam ingin berkata 'tenang sayang'. Ayolah, Sam saja bisa terlihat tenang begitu kamu juga harus bisa, Del. Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan, setelah itu aku mencoba membalas senyum yang Sam berikan.
Aku duduk dengan jantung berdebar ketika menunggu pranata acara membacakan susunan acara satu persatu.
Dan sampailah di acara keluarga Sam di persilahkan menyampaikan maksud dan tujuannya datang kepada kedua orang tuaku pada sore hari ini. Dan Kakek Robert lah yang akan mewakili tujuan Sam datang ke sini. Memangnya siapa lagi, Papanya Sam mana bisa.
Sebelum kakek Robert memulainya, ia terlebih tersenyum dan menyapa Papa dan Mama serta seluruh anggota keluargaku. Sikap kakek Robert benar-benar menggambarkan sosok pimpinan yang berwibawa sekali.
“Pada hari ini, saya beserta keluarga hadir di tengah-tengah keluarga Bapak Pramono dan Ibu Ratna, tiada lain dalam rangka bersilaturahmi agar saling mengenal lebih dekat antara satu dan yang lainnya. Selanjutnya, saya juga ingin menyampaikan tujuan dari cucu pertama saya yaitu Samuel Devano Gavin. Yang telah lama mengenal putri Bapak Pramono dan Ibu Ratna yang bernama, Adelia Rinjani.” Kakek Robert tersenyum ke arahku.
“Maka dari itu, izinkan saya mewakili cucu saya, Samuel Devano Gavin. Membawa niat tulus untuk meminang putri Bapak dan Ibu, Adelia Rinjani, untuk menjadi istri dan teman hidup dari pada cucu saya, Samuel Devano Gavin. Saya mewakili cucu saya, mengharapkan Bapak dan Ibu berkenan dan menerima lamaran ini.” Kini kakek Robert menyerahkan sepenuhnya jawaban tersebut kepada Papa.
Papa berdehem sejenak lalu menatap mataku sambil meremas pelan jemariku. “Anakku, Adelia Rinjani.”
“Iya, Pa.” Jawabku singkat.
“Hari ini, Samuel Devano Gavin beserta keluarganya datang ke sini untuk meminang mu menjadi istrinya dan menjadi teman hidupnya. Apakah kamu mau dan sanggup menerima lamarannya?” Papa kembali meremas jemariku.
Aku menatap balik mata Papa dengan mantap. “Bismillahirrahmanirrahim ... Saya mau dan sanggup menerima lamaran dari Samuel Devano Gavin.” Aku beralih menatap mata Sam yang saat ini tengah berbinar bahagia.
“Sam, seperti apa yang sudah kamu dengar dari putriku. Lamaran kamu sudah di terima dan di sanggupi oleh, Adelia.” Ucap Papa sambil menatap Sam lalu menatap kakek Robert.
Alhamdulillah ... Sekarang aku baru bisa bernafas dengan begitu lega. Aku dan Sam saling melempar senyum malu-malu ketika semuanya berjalan dengan lancar.
Acara selanjutnya adalah bertukar cincin dan penyerahan seserahan yang keluarga Sam bawa hari ini yang di lanjut foto bersama. Setelah itu aku bertugas untuk mengenalkan Sam ke seluruh anggota keluargaku yang hadir pada hari ini. Kehadiran Sam tentu di sambut baik oleh keluargaku, apalagi setelah mereka benar-benar mengetahui latar belakang Sam. Bahkan Tante Nurma dan Tante Indah sangat antusias sekali berkenalan dengan Sam.
Padahal tadi mereka sudah menghina kalau Sam memberiku berlian KW. Sungguh menyebalkan bukan, Ck!
“Nak Sam ternyata cucunya pemilik perusahaan besar itu ya?” tanya Tante Nurma.
Apa katanya ‘Nak Sam'? Hah, rasanya ingin sekali aku melihatkan rekaman ketika dia bilang soal berlian KW tadi. Sumpah dongkol banget.
“Iya, Tante.” Jawab Sam singkat.
“Itu saudara-saudaranya ya, wah ... Sama-sama cantik dan tampan semua ya.” Imbuh Tante Indah.
“Terima kasih.” Sam masih saja mau menanggapi duo nyinyir ini.
Aku celingak-celinguk mencoba mencari keberadaan seseorang yang bisa menolongku dan Sam saat ini. Dan tepatlah pandanganku tertuju ke Vino yang sepertinya juga sedang melihat ke arahku.
__ADS_1
Aku hanya memberinya isyarat kedipan mata saja dia langsung paham dan mendekat ke arahku.
“Masih single semua saudaranya?” tanya Tante Indah.
Belum sempat Sam menjawab Vino sudah lebih dulu menyela dan hal tersebut mampu membuatku bernafas lega. “Selamat ya, Mas, sebentar lagi bakalan jadi abangnya Vino.” Sam terkekeh mendengar ucapan Vino. “Boleh nggak Vino peluk calon abang Vino?” aku hampir saja tertawa mendengar permintaan Vino.
Ya Allah, kenapa hamba mempunyai adik yang nyeleneh sekali?
“Buat apa, Vin, lo jangan buat malu gue dong.” Bisik ku ke telinga Vino.
“Ya elah, Mbak, siapa tau dengan memeluk Mas Sam kegantengan Vino makin bertambah.” Ucap Vino. Hah ... Ingin sekali aku pukul wajah nyebelin itu.
“Sini, sini ... Kalau udah ganteng jangan jadi play boy ya?” ucap Sam yang langsung membuat Vino malu.
Vino menggaruk belakang telinganya sambil tersenyum. “Ke sana aja yuk, Mas, di sini banyak ibu-ibu. Bahaya kalau nanti jadi pengen di peluk juga sama Mas Sam.”
Aku pura-pura berdehem dan menutup mulut dengan tangan untuk menyembunyikan senyumku. Pasalnya Vino mengatakan hal tersebut sambil melirik ke arah Tante Nurma dan Tante Indah. Hm ... Sepertinya Vino harus aku kasih hadiah karena sudah berhasil membawa Sam keluar dari lingkaran Ibu-ibu nyinyir.
Sudah hampir magrib dan acara masih berlangsung, sepertinya keluargaku dan keluarga Sam tengah sibuk memperkenalkan diri masing-masing. Aku sudah cukup puas mengobrol dengan keluarga Sam dan saudara-saudaraku. Dan lagi pula aku sudah merasa sangat gerah sekali di dalam rumah. Lalu aku memutuskan untuk naik ke lantai dua, tepat saat aku melangkahkan kakiku ke tangga aku melihat Sam menatap ke arahku dengan satu alis terangkat. Aku hanya berpura-pura tak peduli dan memilih melanjutkan langkahku. Setelah aku sampai di balkon rumahku aku melihat Sam sudah menyusul di belakangku.
Aku tersenyum dalam hati.
“Kenapa ke sini?” tanyanya.
“Hm ... Gak apa-apa malas saja dengan keramaian, gerah.” Aku duduk di bangku balkon rumahku. “Apalagi menanggapi omongan Tante-Tante ku, kamu jangan ambil pusing dengan pertanyaan mereka tadi ya Sam.” Sam malah tertawa.
“Enggak apa-apa kok, ya walaupun sedikit malas juga sih. Untungnya kamu mengajak ke sini.” Ujar Sam.
Aku mengerutkan alis ke arahnya. “Siapa yang mengajak? kamu yang ngikutin aku kali.” Ucapku tak terima.
Tidak benar! Apa jangan-jangan Sam tadi juga berpikiran kalau aku sengaja menggodanya lagi supaya kami bisa berduaan. Duh, malunya.
“Sam ...” panggil ku pelan.
“Apa?” Sam kini menatapku.
“Soal seserahan tadi ... kamu benar-benar menanggapi serius omonganku malam itu ya.” Sam mengangguk santai. “Dan termasuk mobil itu juga.” Aku menunjuk ke mobil yang aku maksud dan lagi-lagi Sam mengangguk dengan santai. “Astaga, Sam!”
“Kenapa? Bukanya kamu yang minta.” Aku langsung melotot ke arah Sam.
Bukanya hari itu aku sudah bilang kalau aku tak benar-benar serius dengan ucapanku. Kenapa dia seperti ini sih?
Jalan pikiran Sam benar-benar berhasil membuatku geleng-geleng.
“Sam aku pikir kamu paham kalau aku hanya bercanda hari itu. Dan ... Ini semua terlalu berlebihan Sam.” Akhirnya aku harus mengatakan ini juga.
“Berlebihan bagaimana?” tanya Sam tak mengerti.
“Ya, berlebihan. Kamu gak perlu memberiku seserahan seperti tadi dan mobil itu juga.” Aku menunjuk lagi ke arah mobil berwarna putih yang begitu mencolok bahkan dari atas balkon rumahku. “Itu juga terlalu berlebihan, kamu lihat sendiri lah mobil itu gak pantas berada di rumahku. Apalagi aku hanya mempunyai satu garasi.” Jelasku panjang lebar.
Aku yakin sekali setelah hari ini keluargaku akan menjadi trending topik di jalan kompleks ini. Bukan hanya di sini tapi di anggota keluargaku pasti juga tak akan kalah trendingnya. Sam mana bisa mengerti dengan apa yang menjadi pikiranku sejak tadi, dan hampir membuatku pusing seperti ini.
Tanpa terduga, Sam langsung menarik ku ke dalam pelukannya lalu mengusap lembut kepalaku. Entah kenapa, walau Sam tak bisa mengerti dengan apa yang aku pikirkan tetapi dia selalu berhasil membuatku tenang. Dan secara perlahan semua pikiran itu luruh begitu saja ketika Sam semakin mengeratkan pelukannya.
“Siapa yang bilang berlebihan? Aku tulus memberikan semua ini ke kamu, Del. Bahkan bagiku ini masih belum seberapa, ini masih belum cukup untuk membuktikan perasaan yang aku punya untuk kamu. Kamu pantas menerima ini semua, aku tulus dan kamu jangan pernah menolak apapun yang sudah aku berikan ke kamu.” Ujar Sam.
__ADS_1
“Tapi ...” Sam meletakkan jari telunjuknya ke atas bibirku.
“Aku mau dengar kamu bilang iya dan menerima semua pemberian dariku.” Imbuhnya.
Aku masih ragu akan menjawab apa. Sam benar-benar membuatku kehilangan kata-kata. Sebenarnya aku masih merasa sungkan dan tidak enak tetapi kalau aku bersikeras menolaknya akan berakhir sama saja, semua sudah terlanjur. Dan kalau aku tetap memaksa yang ada Sam malah marah. Dan kemarahan Sam tentu hal yang paling aku takutkan.
“Terima kasih.” Ucapku kemudian.
Tangan Sam menempel di pipiku kemudian mengusapnya. “Aku juga berterima kasih.”
“Untuk?” tanyaku bingung.
“Untuk semuanya.” Lalu Sam tersenyum dan sedetik setelah itu Sam berhasil mendaratkan sebuah kecupan tepat di atas bibirku. Aku tersenyum malu karena sikapnya. “Terima kasih, Adelia.”
Lalu secara perlahan dia kembali mencium bibirku lagi, begitu dalam dan lembut. Seolah dari ciuman itu Sam bisa mengalirkan perasaan yang ia miliki sekarang mengalir padaku.
Semoga saja tidak ada orang yang akan naik ke lantai dua untuk mencari keberadaanku dan juga Sam. Biarkan aku dan Sam menikmati moments bahagia ini sejenak hanya untuk berdua saja.
Sam melepas ciumannya lalu mengusap bibirku dengan ibu jarinya. “One step closer, Adelia.”
Aku menghentikan gerakan ibu jari Sam, setelah itu ku cium punggung tangannya.
“Ya, one step closer.”
Sam menarik tengkukku dan pertemuan antara bibir kami terjadi lagi. Sam terus memagut bibirku secara lembut tanpa menghiraukan semburat oranye yang mulai menyorot keberadaan kami. Menggigit pelan bibirku lalu menyelipkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Mengeksplore seluruh rongga mulutku dengan penuh rayuan dan tuntutan.
Sam memang akan selalu berhasil menggodaku dan aku selalu tak bisa menolaknya.
Ada yang tak tenggelam ketika senja datang, yakni Rasa. Senja mengajarkan kita bahwa apapun yang terjadi hari ini pasti akan berakhir indah.
Seperti yang aku rasakan saat ini. Ya ... Aku berharap semua juga akan berakhir indah dan berjalan sebagaimana mestinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
Bonus gambar kebaya lamarannya Adelia. 😁
__ADS_1
salam cinta dariqueeh penulis amatir ❤️