
Happy reading !!
##
Pak Sam membuka pintunya dengan membawa beberapa laporan di tanganya. Sorot mata tajam andalannya yang di padukan dengan wajah dinginnya itu menatap kami semua dengan penuh kilat amarah. Ia mulai melangkah, langkah yang bak malaikat pencabut nyawa.
Dan itu benar-benar sukses membuat jantungku berhenti seketika. Jangan cabut nyawaku terlebih dahulu, tolong! Cabut yang lain saja dulu.
"Tiwi,Tiwi... kamu ini bikin laporan berdasarkan apa sih? khayalan kamu?!" Sebenernya mau tertawa mendenger ucapan Pak Sam. Tapi dosa nggak, ya?
Pak Sam membanting laporan ke meja Tiwi.
Kemudian ia kembali berjalan, kali ini berjalan ke arah meja mbak Sari.
"Kamu juga, Sar! Kalo buat laporan itu yang teliti! setiap halaman kok typo semua!"
Laporan melayang lagi ke meja Mbak Sari.
Pak Sam lalu berdiri di tengah-tengah ruangan dengan melipat kedua tangannya.
"Saya sudah bilang kan, kerja itu yang teliti jangan suka kerja berulang! Kalian nggak capek apa?!" Capek kali Pak kalo di suruh tidur aku mah milih tidur.
"Promosi baru ini harus lebih baik dari yang kemarin." Saat itu tatapan Pak Sam jatuh ke arahku.
"Adelia ..." Jantungku terasa akan copot ketika mendengar namaku terpanggil. Rasanya seperti kembali ke masa sekolah. Dimana aku dan orangtuaku maju ke depan untuk mengambil nilai raport.
"Tolong kamu kerjakan laporan punya Tiwi."
"Tapi kan saya sudah buat laporan lain. Sudah setengah jalan ini, Pak." Ucapku berusaha mempertahankan pekerjaanku.
"Memang kamu yakin yang kamu buat itu sudah benar?"
Wadefak! meremehkan pekerjaan ku nih Bos kampret.
Aku melirik Mas Angga yang tengah menutup mulutnya dengan tangan, aku yakin dia pasti mau menertawakanku.
"Ya... kan sayang aja, Pak! Sia-sia dong sudah setengah jalan di suruh buat yang baru dan mengulang dari awal." Sabar Adelia, orang sabar jodohnya ganteng kayak Park Seo Joon.
"Lebih baik mengulang tapi benar. Dari pada sok-sok an tapi salah!" Aduh kejam banget mulutnya.
"Terserah deh, Pak." Ucapku mutung. Percuma aku membantah, si Bos akan selalu punya seribu cara agar aku menuruti perintahnya.
"Tiwi, kasih laporan kamu ke Adelia. Dan, Adelia kasih laporan kamu ke Tiwi." Aku langsung menatap ke arah Pak Sam. Sedikit kaget juga, aku kira tadinya di suruh double kerja lagi. Ternyata cuma di suruh tukeran.
Yah... terlanjur kesal, yang tadi sudah di hitung dosa nggak ya? karena sudah berprasangka buruk ke atasan.
Tiwi berjalan ke arah mejaku memberikan laporanya dan menerima file laporan ku.
"Gila! gue belum pernah bikin laporan ini." Bisik Tiwi.
Sumpah seketika aku ingin tertawa.
"Sabar ya, berdoa yang banyak. Katanya udah mandi kembang." Balasku sambil berbisik juga.
"Siapa yang nyuruh ngobrol?!" Bentak Pak Sam, membuat Tiwi langsung berlari kembali ke mejanya.
"Saya tunggu hari ini juga!"
Lalu ia kembali ke ruangannya dan membanting pintunya dengan cukup keras.
Aku hanya diam mencoba menetralisir detak jantung ku yang menggila karena baru saja berhadapan dengan setan kampret itu. Namun, aku juga bisa bernafas lega karena ternyata nyawaku masih selamat.
"Ya allah... Suka heran deh gue sama, Sam. Nggak ada angin atau badai apapun. Tiba-tiba muncul langsung marah aja setelah itu baik lagi ke ruangannya." Oceh Mbak Sari.
"Bunglon kali, Sar. Suka berubah-ubah." Mas Angga tertawa menatap mbak Sari.
Aku membuka laporan yang di buat Tiwi, astaga di coret semua. Saat ku perhatikan lebih lanjut akhirnya tawaku tak bisa ku bendung .
"Heh, Kenapa, Del? kesurupan ya? Tadi diem aja, sekarang ketawa-ketawa nggak jelas."
Aku semakin tertawa sambil memutar badan ke arah Mbak Sari.
"Lihat nih laporan, Tiwi." Rizal yang penasaran pun langsung berlari ke meja Mbak Sari juga. Kemudian Mbak Sari dan Rizal tertawa bersama.
__ADS_1
"Ya elah kunyuk, pantes aja Pak Sam marah. Khayalan lo tingkat tinggi, sih." Ucap Rizal sambil berjalan kembali ke mejanya.
Aku masih tertawa sembari membuka-buka laporan yang ku pegang saat ini. Hmm... Tiwi mau ngelawak tapi salah tempat nih.
"Ya... Habisnya, gue kan nggak tau cara menentukan harga. Ya biar kita untung, gue kasih harga mahal aja, dong." Ucap Tiwi dengan wajah polos tanpa berdosa sedikitpun. Benar-benar khas pemikiran bocah.
"Heh! Di kata mau kasih harga di warung emak lo!"
Tiwi cemberut menatap mas Angga.
"Kan ada aturanya, Tiwi. Hitung dulu rata-ratanya berdasar harga pasar. Jangan asal kasih segini, gue yakin kalo yang jualan lo bakalan gak laku." Ucapku mencoba memberi nasehat, karena memang aku yang sudah biasa mengerjakan tugas ini.
##
Siang hari aku dan teman-teman makan di cafe dekat kantor. Mumpung dompet masih lumayan tebel lah.
"Mbak gue pusing bikin laporan lo." Tiwi memanyunkan bibirnya sambil mengaduk-aduk minumanya.
"Heh, buat yang benar dan teliti. Awas lo! Kalo sampe salah, nanti di kasih lagi ke gue." Omelku.
"Tapi pusing, Mbak. Gue lebih milih terjun ke lapangan aja deh."
"Halah, Kemarin di suruh ke lapangan bilangnya, aduh panas bisa hitam nanti kulit gue." Ucap Rizal menirukan gaya ucapan Tiwi.
Aku hanya tertawa sembari menyeruput minumanku.
"Ya begitulah, Zal. ABG labil yang pubernya belum tuntas." Kata Mbak Sari yang berhasil mendapat cubitan dari Tiwi.
"Kayaknya nanti kita bakal lembur semua deh."
Mas Angga yang dari tadi diam kini ikut bersuara setelah meminum jusnya.
"Pastinya, Mas. Harapan gue buat mulai cari gebetan baru kandas sudah." Ucapku berlagak pasrah dengan wajah memelas.
Ya bagaimana lagi, pekerjaanku memang berhasil menyita hampir seluruh waktuku. Di bandingkan dengan waktu di rumah malah lebih banyak waktu yang ku habiskan di kantor.
"Nggak usah di cari, Del. Dari dulu udah di depan mata juga."
Rizal memasang wajah sok cool sambil membenarkan kerah kemejanya.
"Saran gue, Del. Berhubung gak ada waktu buat cari gebetan, mending lo pepet aja si Sam." Mbak Sari terkekeh sangat puas.
Aku hampir saja menyemburkan minumanku ke arahnya. Untung saja aku masih bisa menahan keterkejutanku.
"Terima kasih ya, Mbak. Semoga doa lo di ijabah, amin." Ucapku sambil melirik tajam ke Mbak Sari.
Setelah selesai makan siang kami kembali ke kantor dan mulai kerja lagi. Lembur lagi, hadoh!
Tepat sore hari, terlihat Bu Riska selaku Manager keuangan di kantor kita keluar dari dalam lift. Ku kasih tau ya... Bu Riska itu umurnya sudah kepala tiga. Tapi, belum menikah sama sekali. Sebenarnya sih manis orangnya, berkulit sawo matang dengan lesung pipit di pipinya.
Yang bikin kesal itu gayanya yang sok-sokan macam princess Syahrini gitu. Apalagi kalo dandan, dempul sama lipstiknya kalo cuma di lap nggak bakal hilang deh, kayaknya harus di gosok dulu pakai sikat biar bisa hilang. Padahal menurutku, kalo Bu Riska lebih natural sedikit aja pasti malah kelihatan lebih cantik.
Di tambah lagi kalau pakai baju suka aneh-aneh. Sudah tau badan montok, kalo pake baju sama rok pasti yang ketat-ketat.
Di sini yang paling suka godain Bu Riska ya si Rizal.
Bu Riska berjalan ke arah ruangan Pak Sam. Saat melewati kami dia terlihat memasang senyum andalannya.
"Sore Bu Riska." Tuh kan, apa kataku si Rizal mulai ganjen liat begituan. Apalagi saat ini kemejanya ketat banget sampai membuat dadanya terlihat menyembul.
"Kira-kira kalo gue dandan begitu, masih laku lagi nggak, ya?" Bisik Mbak Sari saat Bu Riska sudah masuk ke ruangan Pak Sam.
"Sadar, Sar. Body udah kendor juga sok-sok an lo!" Mbak Sari melotot ke arah mas Angga.
"Kuping lo keluyuran aja sih, Ngga. Suka nguping kalo orang lagi ngobrol." Mbak Sari berdiri,
"siapa bilang gue kendor? masih oke begini, cuma perut aja yang melar nggak mau kempes. Maklumlah, udah brojolin 2 bocah. Tapi gue korsetin juga udah sip kok, nggak kalah sama yang perawan."
Aku hanya bisa tertawa mendengar omongan Mbak Sari. Gawat kalo gue di kalahin sama dia nih.
"Kalo muka sih gue masih kasih toleran, Mbak. Tapi, kalo body ..." Rizal menatap Mbak Sari dari atas sampai bawah. "Mana ada perawan perut mbleber begitu?"
Rizal tertawa terbahak.
__ADS_1
"Tenang aja, Mbak Sari. Nanti gue ajak ke dokter kecantikan gue, buat ngatasin lemak membandel." Tiwi mengacungkan jempolnya ke arah Mbak Sari.
"Tuh, jadi temen itu kayak Tiwi dong. Kasih solusi gak kayak lo." Mbak Sari menunjuk Rizal dan Mas Angga dengan kesal.
Aku mah ketawa sajalah. Takut keblabasan kalo ikut nimbrung. Sudah sekitar setengah jam berlalu Bu Riska belum juga keluar. Dalam hatiku mulai bertanya-tanya, apa yang sedang mereka bahas tumben lama sekali?
"Ssstt ... Kok Bu Riska belum keluar ya, Mbak?" Aku melirik mbak Sari.
"Kenapa memangnya, lo gak terima?" Tutur Mbak Sari tanpa filter sedikitpun.
"Mulut lo, Mbak." Aku memanyunkan bibir. Orang tanya kok di jawab tanya juga.
"Jangan-jangan ... mereka ada apa-apanya." Mbak Sari mulai mengeluarkan kesimpulannya sendiri.
"Semuanya aja lo tuduh ada apa-apanya, ratu gosip lo, Mbak." Sahut Rizal sambil melihat layar komputer di mejanya.
Kali ini aku setuju dengan ucapan Rizal. Setidaknya lebih nalar di banding ucapan Mbak Sari.
"Ya begitu, dia mah tujuan kerja cuma buat gosip." Ucap Mas Angga melirik ke arah Rizal lalu tertawa.
"Enggak mungkin lah! Masa selera Pak Sam kayak gitu." Ucap Tiwi membela.
"Tau apa lo?" tanyaku.
"Ya, feeling aja sih." Jawab Tiwi enteng.
"Halah, feeling lo itu kurang meyakinkan, kebanyakan ngayal lo." Ujarku lalu tertawa ketika melihat ekspresi Tiwi.
Beberapa menit kemudian Bu Riska keluar di ikuti Pak Sam yang berjalan di belakangnya. "Kalo begitu saya permisi ya, Pak."
Ucap Bu Riska manis banget ngalahin gula.
"Iya... silahkan." Pak Sam membalas senyum Bu Riska.
Aku sedikit berdecak. Sama anak buah saja nggak pernah manis begitu, sama orang model Bu Riska saja sok manis banget sih, Pak. Kan aku jadi iri!
"Bu Riska, nggak mampir dulu ngobrol-ngobrol." Ingin rasanya ku pukul muka Rizal setelah mendengar ucapannya. Fasih banget sih kalo di suruh merayu.
"Nanti gangguin kerja kalian, gimana?" Bu Riska menjawab centil lalu tersenyum. "Saya duluan, ya."
Bu Riska lalu masuk ke dalam lift.
Ku lihat Pak Sam masih setia berdiri di depan pintu hingga pintu lift tertutup. Ck! itu bentuk perhatian atau apa ya?
"Sepertinya ada yang baru saja dapat yang segar-segar, nih?" Celetuk Rizal sembari melirik ke arah Pak Sam.
"Es buah kali ah seger." Sahutku sedikit tertawa.
"Bukan es buah, tapi durian montong." Ucap Mbak Sari tak mau kalah dengan gerak memajukan dadanya.
Tentu saja kelakuan Mbak Sari membuat ku dan yang lainnya tertawa renyah.
"Apa kalian ini? Kerja dulu, bercanda terus." Ucap Pak Sam. Namun ku lihat ada sedikit senyum di sudut bibirnya.
####
"Ah, Akhirnya selesai juga." Mbak Sari meregangkan tangannya lalu membereskan barang di mejanya.
"Gue juga nih. Tapi, kali ini gue ikhlas deh lembur sampai jam segini. Setelah sekian bulan akhirnya kita bisa libur 2 hari kan besok." Aku pun juga memasukkan ponselku ke dalam tas dan membereskan mejaku.
"Del, mumpung libur 2 boleh lah jalan berdua."
Rizal berdiri di depan mejaku dengan cengiran khasnya.
"Jangan mau, Del. Nanti makannya di suruh bayar sendiri lho."
Ucap mas Angga mengompor-ngompori.
"Sudah gitu pulang nya di suruh naik ojek sendiri lagi. Takut bensin habis buat bolak-balik." Imbuh Mbak Sari di ikuti kekehannya.
Duh... kadang suka kasihan juga sama Rizal kalo di hujat habis-habisan begitu. Tapi kok ya banyak benarnya juga dengan apa yang di ucapkan sama Mbak Sari dan Mas Angga.
"Salah gue apa sih? namanya belajar ngirit buat masa depan nggak ada salahnya, kan?" Rizal berusaha membela diri.
__ADS_1
"Nggak salah kok, yang salah itu cuma elo nya yang kebangetan." Aku tertawa lalu berdiri dan berjalan ke ke arah lift.
Liburan i'm coming....