
Yuhuu Up lagi, sebenarnya tadi itu satu part.
Cuman kepanjangan jadi aku pisah jadi dua. hahaha
Happy reading lagi yey !!
##
Aku baru saja tiba di kantor pagi ini. Karena setelah terbongkarnya hubungan antara aku dan Sam, aku meminta kepada Sam supaya kita tidak berangkat ke kantor secara bersamaan terlebih dahulu. Aku hanya tidak ingin suasana menjadi bertambah tak karuan.
Aku berjalan melewati halaman kantor seorang diri, hingga tanpa sadar aku mendengar suara beberapa orang yang tengah berbisik ke arahku.
“Oh, dia yang namanya Adelia, pacarnya Pak Sam itu.” Aku masih berusaha menahan sabar dan terus melanjutkan langkahku.
“Kok mau sih Pak Sam sama dia?”
“Kelihatannya sih dia pakai cara yang nggak bener tuh buat dapetin Bos nya, kebaca banget tuh cara murahannya.”
Siaal! Rasanya ingin aku menampar mulut mereka. Aku benar-benar sudah tidak tahan. Aku terus mempercepat langkah, hingga ada orang yang menabrakku secara sengaja. Hasilnya aku sampai terjatuh dan tersungkur ke bawah.
Shiit!!
Aku merasakan perih di bagian lututku, dan sepertinya orang tersebut berhasil membuat luka pada lututku. Aku segera berdiri dan melotot ketika melihat Mira bersama satu orang temannya berdiri sambil melipat kedua tangannya.
“Jalan pakai mata dong!” tukas ku sinis.
Mira dan temannya hanya tersenyum sinis, menatap ke arahku.
“Pacarnya Bos kok galak banget sih!” aku berusaha menahan tanganku agar tidak mendarat ke wajah si kunti kejepit pintu ini. Sabar. “Nggak nyangka ya, Mbak. Makanya selama ini elo kelihatan gak suka banget kalo gue deket sama Pak Sam. Eh ... Ternyata mau lo ganjenin sendiri.”
Arrgghh !! Siaal, Siaal !!
Mira sekarang mulai berani bicara seperti itu, bahkan dia sekarang memakai kata elo saat menyebutku. Dasar Mak Lampir!
Aku melipat kedua tanganku dan menatap tajam ke Mira. “Terserah lah Pak Sam juga suka kok gue ganjenin, buktinya gue bisa jadi pacarnya. Justru gue kasihan sama elo ...” aku semakin menatap tajam ke arah Mira. “Lo udah repot ganjen-ganjen sama dia tapi ternyata gue yang bisa dapetin hatinya.” Aku tertawa sinis. “Kayaknya lo harus ngaca! Biar bisa sadar diri atau ... mau gue bantu buat ngaca!”
Aku langsung melengos dan mengabaikan tatapan Mira yang sepertinya mulai kesal dengan perkataan ku. Aku tak menghiraukan suara teriakannya yang semakin menjadi-jadi. Aku terus berjalan masuk ke dalam.
Begitu pintu lift terbuka, aku langsung berjalan dengan sedikit tertatih karena luka yang aku dapat di bagian lututku.
“Pagi.” Aku menyapa dengan ramah ke arah teman-temanku yang ternyata sudah hadir semua. Mereka tengah berbicara lalu tersenyum kecut ke arahku. “Ngapain kalian ngomongin gue ya?” ujar ku pura-pura tersinggung sambil terus berjalan.
“Kaki lo kenapa, Mbak?” Aku tersenyum ke arah Rio, dia yang sejak kemarin sepertinya jauh lebih kalem ketika mengetahui kebenaran hubunganku dengan Sam. Dia juga tidak terlalu menghakimiku seperti yang lainnya.
__ADS_1
“Jatuh, Ri. Di sini banyak yang sirik karena gue cantik.” Kelakar ku sebelum akhirnya aku sampai di tempat dudukku.
Aku mulai menghidupkan layar komputer.
“Siapa pelakunya, Mbak? Nggak lo obatin dulu itu luka. Gue antar aja gimana?” tanya Rio.
Aku hanya tersenyum tipis ke arahnya.
“Nanti deh, gue mau copy file bentar sebelum di minta sama Bos.”
“Nggak usah sok kuat lo!” sahut Mbak Sari. “Siapa pelakunya? Lo mau diam aja?”
“Bukannya lo masih marah sama gue?” aku bertanya datar. Semua orang tengah marah padaku, kecuali Rio.
Mbak Sari, Rizal, Tiwi, dan Mas Angga marah karena merasa di bohongi olehku. Aku bukan membohongi mereka, mereka saja yang bodoh mau-mau saja di tipu, Ck!
“Ya marah, tapi gue nggak tega lihat lo begini.” Ujar Mbak Sari.
“Iya, Del. Dari kemarin banyak banget yang ngomongin elo, gue yang udah menganggap lo sebagai adek jujur gue nggak terima.” Imbuh Mas Angga yang membuatku tersenyum.
“Bener banget, kemarin gue juga denger ada yang ngomongin jelek tentang lo, Mbak. Rasanya gue nggak terima banget!” Tiwi berjalan ke mejaku lalu merangkul tubuhku. “Setidaknya gue juga senang kok kalo ternyata calon istrinya Pak Sam itu elo.” Dia tersenyum.
Ya jelas harus senang dong. Mau bagaimanapun juga tetap aku yang bakalan jadi istri sah nya Sam.
Aku menatap mereka satu persatu lalu tersenyum. “Makasih ya ... Makasih udah ngebela gue.”
“Nggak usah makasih, emang udah seharusnya kita begini. Kita kan teman, susah senang kita hadapi bersama.” Ujar Mas Angga.
“Gue setuju! Dan mari kita hadapi mulut-mulut keparaat itu bersama!!” ucap Mbak Sari dengan penuh menggebu-gebu.
Akhirnya aku bisa merasa lega, karena kehadiran mereka yang selalu ada di setiap aku membutuhkan.
Hingga tanpa kami sadari Sam sudah keluar dari dalam lift dan berjalan ke arah kami.
“Kalian sedang apa?” tanyanya ketika melihat semuanya tengah berkumpul di depan mejaku.
“Eh, Pak Sam. Pagi Pak.” Sapa Rizal ramah dan Sam hanya menaikkan sebelah alisnya.
Aku berusaha menyembunyikan luka di lututku dari Sam. Karena aku tidak ingin dia tahu dan malah mengkhawatirkanku.
“Sam.” Aku langsung melotot ke arah Mbak Sari yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu tentang diriku.
“Kenapa?” Sam malah semakin curiga lalu menatapku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
“Lutut Mbak Adel terluka, Pak.” Ujar Rio polos.
“Hah?!” Sam langsung menatap ke arahku.
Astaga!! Sepertinya besok aku harus membimbing bocah itu agar bisa memahami situasi.
Bukannya aku tidak ingin menceritakan ke Sam. Tetapi aku sadar bagaimana diriku saat ini, seperti apa diriku di depan orang-orang kantor. Aku hanya tidak ingin gosip yang buruk semakin menyebar luas. Aku tidak ingin Sam ikut terlibat dan memperburuk keadaan.
Sam tengah berjongkok di depanku, sedangkan aku duduk di kursi kerjaku. Dia dengan telaten mengobati lukaku karena aku menolak untuk di ajak ke klinik kesehatan.
Dan tentu saja ini adalah sebuah pemandangan langka bagi teman-temanku. Seorang Samuel Devano Gavin, bos setan yang super kampret melakukan hal seperti ini dengan diriku.
“Besok nggak usah minta berangkat sendiri. Aku jemput!” ujar Sam ketika melepas perekat pada hansaplas.
“Tapi gimana kalo gosip semakin menyebar? Nanti aku semakin nggak nyaman, Sam. Kalau orang-orang terus membicarakan hal yang tidak-tidak. Dan juga mengenai peraturan perusahaan yang melarang karyawan mempunyai hubungan melebihi rekan kerja. Mereka pasti~”
“Del.” Sam menatapku lekat. “Aku yang akan memikirkan itu, bukan kamu.”
Mata Mbak Sari dan Rizal hampir meloncat keluar. Mas Angga terbelalak. Tiwi dan Rio ternganga lebar mendengar nada lembut yang pertama kali mereka dengar keluar dari mulut Sam. Bagi mereka ini mungkin hal yang sangat mengejutkan dan super duper langka. Untung saja mereka tidak kelepasan untuk menjerit secara berjamaah.
Ck, bikin senyum dalam hati aja.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Jangan lupa Like dan Vote nya !!
yang banyak ya.. wkwkwkwkwk.
__ADS_1