
Happy reading !
***
Demi apa coba aku pagi-pagi begini sudah harus berangkat ke kantor? Ya ... siapa lagi kalau bukan demi Bos Kampretku itu tuh. Aku berdiri tak jauh dari Pak Sam yang tengah sibuk dengan sambungan telefon di ponselnya. Setelah panggilannya terputus, Pak Sam berjalan mendekatiku lalu mengajakku masuk ke dalam mobilnya.
Benar sekali ... Mobil miliknya.
“Loh, nggak pakai mobil kantor, Pak?” Tanyaku dengan heran.
“Memangnya kenapa? Kamu tidak mau berada di satu mobil dengan saya? Terus kamu mau pilih naik mobil kantor, begitu?”
Ya ampun sensi banget sih kayak testpack. Aku cuma bertanya biasa lho padahal.
“Bukan begitu ..." Aku menghela nafas untuk mengalah. “Ya sudah terserah Bapak aja." Aku pun akhirnya masuk ke mobil sport nya lagi untuk yang kedua kalinya.
Pikirku, jika kami menggunakan mobil kantor kan bisa ada sopir yang akan mengantar perjalanan kami. Tapi jika Pak Sam memilih untuk naik mobil pribadinya ya, itu artinya aku benar-benar harus berduaan saja di dalam mobil bersama dengan Pak Sam.
***
Tepat pukul 8 pagi, aku dan Pak Sam baru sampai di tempat lokasi setelah hampir 2 jam perjalanan karena sedikit macet. Dan asal kalian tahu, selama 2 jam perjalanan tadi merupakan momen ter-awkward di sepanjang hidupku. Ini 2 jam lho aku harus berduaan dengan Pak Bos di dalam mobilnya. Rasanya aku benar-benar bisa jadi batu kalau harus berada di dalam mobil itu lebih lama pagi.
Tidak ada percakapan sama sekali. Aku dan Pak Sam hanya saling diam. Eh, tapi Pak Sam sempat sih menanyaiku beberapa pertanyaan. Dan aku juga hanya bisa menjawabnya singkat karena merasa terlalu canggung.
Hasilnya, aku keluar dari mobil dengan keadaan gerah, sangat gerah sekali. Mungkin intensitas panas di mobil Pak Sam menjadi sangat kuat kalau penumpangnya adalah orang sepertiku.
“Kamu nanti tolong catat hal-hal yang bisa kita gunakan untuk bahan promosi ya, Del.” Kata Pak Sam.
Aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti Pak Sam masuk ke cabang kantor baru perusahaan kami.
Sampai di dalam Pak Sam sudah di sambut oleh beberapa orang yang juga memakai setelan jas rapi seperti dirinya. Mungkin mereka adalah orang yang akan menjadi pimpinan di cabang ini.
Kami saling berjabat tangan, lalu mulai berkeliling dan berakhir di ruang meeting untuk membahas pembukaan kantor. Karena ini terbilang masih baru pastinya semua penyelenggaraan pembukaannya akan di tugas kan sepenuhnya dari kantorku yang selaku kantor induk.
Sekedar informasi, kantor yang ada di Bogor ini nantinya tidak akan memproduksi barang yang sama dengan kantorku saat ini. Jika FASHION NOVA bergerak di bidang pakaian, maka di sini akan memproduksi perabotan atau alat-alat rumah tangga. Dan jika ada cabang baru lagi kemungkinan akan memproduksi barang-barang elektronik dan banyak lagi. Kurang lebih seperti itulah yang aku tahu dari pembahasan meeting tadi.
***
Cukup lama aku dan Pak Sam berada di kantor itu. Sampai pukul 12 siang kami baru selesai rapat dan berkeliling gedung.
“Kamu mau langsung kembali ke kantor?” Pertanyaan itu keluar ketika aku sedang membereskan berkas meeting.
“Menurut bapak? Memangnya kalau saya minta pulang ke rumah aja nggak apa-apa nih?” Aku menjawab dengan tersenyum. Berharap apa yang aku katakan menjadi kenyataan.
Pak Sam menatapku dengan satu alis terangkat. Dan tentunya hal tersebut langsung membuat senyum di bibirku memudar.
“Mau jalan-jalan dulu?” Tawarnya ketika kita berjalan keluar dari ruang meeting.
“Ah, nggak usah, Pak. Nanti kalau ketahuan kita nggak langsung kembali ke kantor bisa kena marah saya.” jawabku secepat kilat untuk menghindari hal yang tidak-tidak. Tahu sendiri kan Bosku ini suka membuat keputusan sendiri.
“Siapa yang mau marah sama kamu? Kan saya bos kamu.” Pak Sam menatapku, aku justru malah bingung mau menjawab apa. Benar juga dia kan atasanku. Duh, jadi bingung mau cari alasan apa lagi?
“Nanti kalau Pak Sam di marahin gimana?” Aku harus tetap membuat alasan.
“Nggak ada yang berani marah sama saya,” jawabnya santai.
Memang Pak, bisa perang dunia ketiga deh kalau ada orang yang berani marahin Bapak. Apalagi kalau itu tanduk sudah keluar.
“Kita ke kebun Raya Bogor dulu, gimana? saya belum pernah ke sana.”
Tuh kan ... mulai deh bikin keputusan sendiri. Aku berdecak kesal melihat Pak Sam yang sudah berjalan mendahuluiku. Aku meremat-remat tangan lalu aku hadapkan ke arah Pak Sam.
Eh, tiba-tiba Pak Sam menoleh ke belakang. Aku yang hampir ketahuan meluapkan kekesalan pada Pak Sam langsung berpura-pura menggaruk kepalaku sembari melihat-lihat sekeliling.
“Kamu ngapain masih di situ? Ayo!” Kata Pak Sam saat diriku tak kunjung melangkahkan kaki dari tempatku.
__ADS_1
“Iya, Pak,” ujarku pasrah.
***
Dan di sinilah kami. Akhirnya, kami berdua sampai di kawasan Kebun Raya Bogor. Berhubung ini bukan hari weekend jadi kawasan di sekitar Kebun Raya Bogor tidaklah begitu ramai, seperti pada hari-hari libur biasanya.
“Pak ...” Panggilku saat Pak Sam masih sibuk mengemudi. “Saya boleh makan siang dulu? Lapar nih, Pak.” Aku tersenyum ke arah Pak Sam.
“Iya saya tahu, kamu pikir yang lapar kamu saja.” Ucap Pak Sam.
Aku cuma bertanya lho, kok ngegas sih?
Akhirnya kami berdua memutuskan untuk makan soto mie. Aku kira Bosku ini tidak akan setuju dengan pilihan menu makan siang yang aku usulkan, tapi ternyata dia iya-iya saja.
“Pak, saya pakai Stiletto begini Bapak tega ngajak saya jalan keliling Kebun Raya Bogor? Kasihan kaki saya, Pak.” Ucapku sedikit merengek di sela-sela aktivitas makan kami.
“Gampang, nanti kita cari sepatu buat kamu. Biar nanti bisa nyaman kalau jalan.” Ujar Pak Sam santai.
Sebenarnya bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kembali ke kantor agar tidak terjebak terlalu lama dengan kondisi seperti ini.
Dengan terpaksa, setelah acara makan siang kami selesai, aku mengikuti Pak Sam yang berjalan mencari toko sepatu di pasar kampung Melayu. Untung saja hari ini aku memakai rok mini flare skirt jadi masih terlihat nyambung lah kalau aku padukan dengan sepatu sneakers. Dan kalian tahu, semuanya di bayarkan oleh Pak Sam, dari makan sampai beli ini sepatu.
Dan akhirnya kami pun benar-benar masuk ke Kebun Raya Bogor, setelah Pak Sam berhasil mendapatkan tempat parkir untuk mobilnya.
“Pak Sam, kita sudah seperti anak TK aja sih? Masa jalan-jalan ke sini. Mau ngapain? Belajar mengenal tanaman langka?” Aku melirik Pak Sam sambil tersenyum meledek.
“Siapa bilang, buktinya itu ...” Pak Sam menunjuk dengan dagunya. “Di sana banyak sekali gerombolan orang dewasa. Bahkan, sejak tadi saya sama sekali belum menjumpai rombongan anak TK.”
Kalah omong lagi, Gusti apa salah hamba-Mu ini? Sampai harus menghadapi orang seperti Pak Sam.
“Kamu pernah ke sini?” Pak Sam kembali membuka suara.
“Pernah lah dulu, sewaktu kecil. Kalau weekend Papa saya sering ngajak ke sini buat liburan.” Jawabku asal.
Aku mulai mengamati penampilannya dari atas sampai bawah. Orang yang aku sebut Bos itu kini hanya memakai kemeja putihnya saja yang lengannya sudah ia gulung hingga ke siku, karena tadi sebelum turun dari mobil aku melihat Pak Sam melepas jasnya.
Kok kalau di lihat-lihat Keren banget ya, ganteng lagi. Andai tidak ngeselin.
“Langsung saja deh, Pak. Bapak mau lihat apa di sini? Bunga bangkai?” Celetukku dengan sengaja.
“Tidak juga. Yang penting kita jalan-jalan saja.”
“Maksudnya?” Aku mengerutkan dahi.
Pak Sam langsung kembali melanjutkan perjalanannya, dan meninggalkanku yang masih diam menatap kepergiannya.
Kalau aku tinggal pulang duluan sopan tidak sih? angkat tangan aku sama ini orang, sumpah. Alhasil, aku harus sedikit berlari untuk menyusulnya.
“Kita lihat semuanya aja, ya? Tanggung sudah sampai di sini juga.” Ucap Pak Sam dengan santainya.
What the hell!! yang benar aja, aduh bisa segede kentongan ini betisku.
“Kalau sampai sore kita masih disini, memangnya nggak apa-apa, Pak? Kita kan harus balik ke kantor dulu, Pak.” Protesku, berharap dengan itu Pak Sam akan berubah pikiran.
“Kamu kok protes terus sih dari tadi, Del? Saya Bos kamu lho. Saya baru tahu ada anak buah yang suka protes seperti kamu.” Kata Pak Sam yang tampaknya mulai sedikit kesal.
Aku mengepalkan tangan dan aku buat gerakan menonjok-nonjok Pak Sam dari belakang. “Habisnya Bapak selalu ngasih tugas sembarangan. Terus, suka juga membuat keputusan sendiri. Kan ngeselin.”
“Memangnya saya begitu, ya?”
Pak Sam tiba-tiba berhenti, dan tentu membuat aku yang berjalan tepat di belakangnya langsung menabrak punggungnya begitu saja. Ngerem tidak pakai aba-aba ini orang.
“Astagfirullah ...” Ucapku setengah teriak. Kira-kira kalau aku istigfar orang ini bisa hilang tidak ya? Secara dia kan kayak setan.
Pak Sam membalikkan badan, dia menatapku yang tengah mengelus-elus jidat dengan sebelah alis terangkat.
__ADS_1
“Sakit ya?” Ya salam pakai tanya lagi, sabar Adelia. “Makanya sini jangan jalan di belakang saya, memangnya saya ini tour guide kamu apa?” seketika Pak Sam menarik tanganku.
Aku tertegun dengan sikapnya. Apalagi saat aku menyadari, setelah menarikku ia juga langsung mengaitkan jarinya di sela-sela jari tanganku. Maksudnya apa coba mau bikin aku pingsan? Sekalian aja gebuk pakai kayu.
“Ini apa Pak?” Tanyaku polos, sembari mengangkat tangan kami yang saling bertautan.
“Tangan.”
Mulutku langsung ternganga mendengar jawaban Pak Sam. Dia ngelawak atau gimana sih? Aku baru hendak membuka mulutku saat Pak Sam sudah lebih dulu melanjutkan perkataannya.
“Supaya kamu tidak hilang. Supaya kamu bisa jalan di samping saya terus.”
Semacam panah menusuk hatiku. Tapi tidak sakit, malahan mendebarkan. Aku tidak tahu harus menjawab apa? Jantungku berdegup keras dengan hati berdebar kencang. Perasaan apa ini? Aku sedang tidak melihat hantu kan? aku jadi tidak enak, tapi sumpah genggaman tangannya terasa nyaman sekali di sela jemariku.
Cukup lama kami berjalan dengan posisi bergandengan tangan. Please, jangan samakan aku dengan truck gandeng. Tampaknya kami telah sampai di lokasi tanaman atau apalah sebutannya aku juga tidak tahu. Yang pasti aku mulai melihat banyak pepohonan di sekitar sini.
“Pak Sam bisa lepasin tangan saya sebentar?” kataku sambil menyengir. Aku sudah tidak kuat lagi rasanya aneh banget. Pengen pingsan, Ya Allah.
“Kamu capek?” Aduh jangan begitulah, Pak. Kan aku jadi ingin mimisan.
“Iya, Pak. Kita udah jalan berapa kilo nih.” Ucapku sekenanya.
Untung saja aku tadi membeli minuman dingin saat melewati penjual-penjual yang stand di beberapa lokasi.
“Jangan berlebihan. Masa baru jalan segini aja sudah capek. Kamu jarang olah raga, ya?”
“Mau olah raga gimana sih, Pak? Waktu saya selalu habis di kantor. Paling biasanya olah raga saya cuma lari-lari, itupun kalau saya terlambat datang ke kantor.” Jawabku lalu tertawa.
Aku kemudian berjalan hendak duduk di bangku yang tersedia. Entah karena tanahnya yang tak rata dan berbatu atau apalah, yang jelas saat aku injak aku hampir tergelincir dan terjatuh. Dan kalian tahu apa yang selanjutnya terjadi?
Dengan cepat Pak Sam yang tengah berdiri di belakangku langsung menangkap tubuhku. Jujur aku sangat tersentak saat sadar dengan apa yang terjadi.
Aku merasa seakan dunia berhenti berputar untuk membiarkan momen ini terjadi sedikit lebih lama. Semua pusatku terjatuh ke dalam sorot mata Pak Sam yang tengah menatapku. Mata biru yang indah itu terus menatapku tanpa henti.
aku tak bisa mengontrol degup jantungku dan debaran hatiku.
Dan aku rasa Pak Sam juga merasakan hal serupa, karena telingaku tepat menempel di dadanya. Sehingga, aku dapat mendengar jelas kalau detak jantung Pak Sam sedang berdegup keras sama halnya dengan detak jantungku. Kami hanya saling pandang dan diam seolah tak peduli kalau dunia ini sebenarnya masih berputar.
“Maaf.” Ucapku seraya menegakkan tubuh.
Aku berusaha menyadarkan diriku dari semua ini. Mana mungkin aku bisa selarut itu dengan kejadian barusan. Aku merasakan jantungku masih berdetak tak karuan, aku mencoba menarik nafas panjang. Setelah itu aku duduk di bangku, membuka botol minumku dan meneguknya hingga tersisa sedikit.
“You must be carefully.” Suara lembut Pak Sam membuatku semakin merasa aneh.
Sumpah demi apapun ini perasaan yang aaneh Seseorang tolong sadarkan diriku ini!
“Hei, kenapa melamun?” Pak Sam berhasil mengagetkanku.
Entahlah, kejadian barusan benar-benar membuat kepalaku terasa kosong dan hanya penuh dengan tanda tanya.
“Em ... N-nggak kok, Pak.” Elakku cepat, “Cuma lagi mikir aja kalau tadi Bapak nggak nolongin saya, pasti saya sudah berakhir di UGD sekarang.” Ucapku asal karena memang saat ini kepalaku terasa blank sekali.
“Adelia nggak usah berlebihan deh.” Pak Sam tersenyum. Haduh ... please jangan senyum dulu biarkan jantungku ini kembali normal terlebih dahulu. “Kamu cuma tergelincir batu, bukan jatuh dari atas pohon.”
“Ya siapa tahu? Yang namanya nasib kan tidak ada yang tahu, Pak.”
Pak Sam kembali membuat jantungku berdebar tak karuan ketika ia menatapku dengan tatapan yang lekat sembari menyentuh punggung tanganku.
“Please, don't talk it anymore. You must be safe, i'll take care of you.” Ucapnya dengan tatapan yang terlihat begitu meyakinkan.
.
.
.
###
Ini masih proses re-edit ya guys!
jangan lupa follow IG KU
@nan_dria
__ADS_1