
Tuh, aku up lagi loh ...
Ini gara-gara Adel sana Sam yang bikin aku ikut bahagia, wkwkwk.
Jadi aku pengen up terus kan.
Happy reading lagi yey !!
##
Pukul lima sore acara resepsi pernikahan kami yang di gelar di Elino hotel milik Ayah Reino, Nusa Dua. Juga diadakan secara tertutup. Hanya di hadiri kerabat terdekat dari keluargaku maupun keluarga Sam. Selesai acara ijab qobul pagi tadi, aku dan keluargaku hanya punya waktu istirahat sekitar dua jam sebelum akhirnya terbang ke Nusa dua, untuk menghadiri acara resepsi kedua yang di gelar keluarga Sam.
Kenapa tidak di hari berikutnya saja? Memang tidak. Aku dan Sam sudah menyepakati ini semua. Bukankah lebih cepat selesai itu lebih baik. Kata Sam biar sekalian capeknya.
Konsep untuk resepsi di sini adalah Casual Romantic, dengan ribuan lampu yang mengelilingi area resepsi, nuansa kayu dan bunga warna-warni yang bertebaran di mana-mana.
Aku memakai gaun malam yang masih berwarna putih dan Sam juga hanya mengenakan kemeja putih yang di gulung hingga ke siku dan celana panjang berwarna krem.
“Anakku ... memanglah benar cinta bukanlah segalanya Tetapi tanpa cinta segalanya pun tak akan ada.” Papa berdiri di atas stage, terlihat gugup dan matanya berkaca-kaca. Hari sudah mulai senja dan Matahari mulai tenggelam.
“Anakku ... Kalian berhak memilih siapapun yang menurut kalian terbaik sebelum kalian menikah dengan membuka mata lebar-lebar. Namun, tutuplah rapat mata kalian setelah menikah, hanya dengan melihat satu sama lain. Tetaplah saling mencintai selama-lamanya. Percayalah bahwa kalian memang dua makhluk yang memang di takdirkan bersama selamanya.” Air mataku kembali menetes. Sosok Papa yang selama ini kukenal selalu terlihat humoris dan santai itu seharian tadi terlihat berbeda dari biasanya.
“Aku orang pertama yang memeluknya, bukan kamu. Aku adalah orang pertama yang menciumnya, bukan kamu. Aku orang pertama yang mencintainya, bukan kamu.” Papa mulai menyeka air matanya dan pandangannya terus menatap Sam.
“Tapi aku berharap kamu adalah orang yang bisa bersamanya selamanya. Dan jika suatu hari nanti kamu tidak mencintainya lagi, jangan katakan itu kepadanya. Sebagai gantinya, katakan itu kepadaku . Aku akan datang untuk memberimu pelajaran dan ... Membawanya pulang.” Ujar Papa lalu langsung turun dari stage sambil mengusap pipinya.
Aku menghampiri Papa dan memeluknya erat. “Terima kasih, Papa.” Bisik ku di dalam pelukannya.
Papa tidak mengatakan apapun namun dia mengeratkan pelukannya di tubuhku. Memelukku dalam dekapan hangat yang selalu berhasil membuatku tenang dalam kondisi apapun itu.
Sam duduk di kursi tinggi yang ada di atas stage, memegang sebuah gitar di tangannya.
“Saya tidak bisa merangkai kata-kata yang romantis. Tapi saya hanya ingin mengatakan kepada wanita yang duduk di sana.” Sam tersenyum lembut menatapku. “Mulai hari ini, percayalah bahwa apapun yang terjadi ke depannya, aku akan selalu ada di sisi kamu. Dalam kondisi apapun itu.” Ujarnya tersenyum.
Dia berhasil membuatku ikut tersenyum dengan pipi merona. Aku duduk bersama Mama, Papa dan Vino.
“This song for you. Mrs. Samuel Gavin.” Sam tersenyum singkat dan mulai memetik gitar di ikuti tepuk tangan dari para tamu.
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous i couldn't speak
In that very moment
__ADS_1
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as i live i love you
Will have and hould you
You look so beautiful in white
And from now 'till my very last breath
This day i'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight ...
(Sumber lagu : Shane Filan, judul - Beautiful in white)
Aku tersenyum mendengar suaranya bernyanyi. Sam jarang sekali ingin bernyanyi di depan orang ramai seperti ini. Tapi untuk malam ini, dia bernyanyi untukku.
Aku lalu menatap Vino. “Jangan bandel ya kalo gue nanti udah nggak ada di rumah. Awas lo kalo nyusahin Mama sama Papa.” Aku menjitak kepala Vino.
Vino berdecak. “Kapan sih Vino bandel? Lo tu yang bandel, gue kasihan sama Mas Sam punya istri bawel kayak lo, Mbak.” Aku malah tertawa mendengar gerutu Vino.
Vino menatap Mama dan Papa secara bergantian, lalu menatapku. “Serahin sama gue, Mbak. Percaya sama gue, gue bakal jagain Mama sama Papa walaupun nyawa Vino yang bakal jadi taruhannya.” Lebay sih, tapi entah kenapa aku ingin mewek mendengarnya.
Adik tengil ini ternyata juga sudah besar. Ah, aku pasti akan merindukan pertengkaran-pertengkaran kecil dengan Vino.
Aku mendengar suara bising di sekitar sini, dan apa yang aku lihat sangatlah tidak masuk akal. Sebuah helikopter mendarat tepat di landasan helikopter milik Hotel Elino, semua tamu yang hadir bertepuk tangan ketika Helikopter tersebut mendarat. Lalu pandanganku tertuju ke arah Tante Nurma dan Tante Indah yang sejak tadi sulit mengalihkan tatapan dari landasan helikopter yang ada di unjung taman. Dan yang membuat mata mereka nyaris meloncat keluar adalah sebuah helikopter yang kini sudah terparkir cantik di sana bertuliskan namaku, Adelia Gavin. Begitulah nama yang ada di sana.
Hadiah tersebut adalah pemberian saudara Kakek Robert, yang bernama Jacob atau yang mulai sekarang harus ku panggil Opa Jacob. Kakek dari Raffael, Kai, Mas Tristan dan Veronica yang selama ini berada di Singapura. Dan ternyata beliau hari ini menyempatkan pulang ke Indonesia untuk membawakan hadiah pernikahan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi setidaknya hadiah itulah yang mampu membungkam mulut Tante Nurma maupun Tante Indah.
Apalagi kata Opa Jacob Helikopter tersebut di beli atas namaku sendiri. Aku yakin Tante Indah akan pingsan di tempatnya. Coba katakan berapa harga Helikopternya? Seratus juta? Hah nggak ada apa-apanya.
••
Aku dan Sam bergerak mengikuti irama yang mengalun. Gaun yang kugunakan ini sedikit terbuka, memamerkan bahuku secara keseluruhan.
“So ...” Sam berujar pelan sambil memeluk pinggangku.
“Hm.” Aku bergumam di dadanya.
“Nyonya Adelia, hm?” Goda Sam di telingaku lalu menggigitnya pelan.
__ADS_1
“Ya, Tuan Samuel Gavin.” Ujar ku terkekeh geli. Sam menunduk, menyusupkan kepalanya di leherku dan mengecupnya di sana.
“I can hardly wait for tonight.” Bisik nya sensual dan mampu membuat jantungku berdebar secara tidak normal. Sam menggigit leher dan bahuku pelan dengan giginya.
Oh My God! Napas ku mulai terengah sekarang!
“Masih banyak orang, woy!” tiba-tiba Aroon datang dan berteriak di sampingku. Aku dan Sam menoleh, aku tertawa sedangkan Sam merengut masam.
“Bisa nggak jangan ganggu orang yang lagi senang. Nggak ada kerjaan banget.” Ujar Sam ketus.
Aroon tersenyum menggoda. “Kalau aku bilang nggak bisa gimana? Lagian aku emang nggak ada kerjaan.”
“Damn you! Karena ini hari bahagiaku jadi aku akan membiarkan kamu tetap hidup.”
Aroon tersenyum lagi, lalu menepuk bahu Sam. “Makanya baru aja aku mau mengingatkan hal itu. Karena ini hari bahagia kamu jadi ... Boleh dong kalau aku dansa dengan Adel?”
Sam melotot tajam.
“Go away!” usir nya sambil mendorong bahu Aroon menjauh.
Aroon hanya tertawa sambil mengedipkan satu matanya padaku. Dan hal tersebut berhasil membuat Sam mengumpat kesal.
Ya ampun, kelakuan mereka ini.
Ternyata setelah aku lepas dari teman lucknut nggak tahunya sekarang malah dapat saudara lucknut juga.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED....
##
Jangan lupa Like dan Vote nya!!
__ADS_1
Kalau pengen aku lanjutin lagi. hahahaha...