My Boss Samuel

My Boss Samuel
75. Curhatan Kakek Robert


__ADS_3

Selamat siang semua.


Terima kasih untuk yang selalu setia mendukung


Dan menanti kelanjutan novel ini.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen!!


Share apalagi boleh bwanget.


Happy reading !!


##


Aku menggeliat di atas tempat tidur, rasanya baru saja mataku terpejam tetapi alarm ponselku sudah berbunyi. Aku mencoba membuka kedua mataku dan aku berhasil melakukannya. Jadi mataku tidak bengkak kan? Untung saja sebelum tidur aku ingat untuk mengompres mataku menggunakan es batu. Ternyata khasiatnya benar-benar ampuh. Coba saja kalau aku lupa, pasti hari ini aku akan memilih berdiam diri seharian di kamar ini dan meratapi bengkak yang melanda mataku.


Dan soal kepulangan ku ke Jakarta, aku ... Membatalkannya, hehe. Berhubung masalah dengan Sam aku anggap sudah selesai ya jadinya kepulangan kami juga harus kembali sesuai jadwal dong.


Sam sudah menungguku di depan kamar lalu mengajakku sarapan begitu aku selesai mandi. Padahal dia bisa menunggu di bawah tidak perlu repot naik ke atas, kenapa dia selalu mau melakukan hal yang merepotkan sih? Ketahuan Bucin nya kan sekarang.


Hari ini terlihat seperti biasanya, kami kembali bercengkrama ria sembari menikmati sarapan pagi ini. Seolah kejadian semalam tak pernah terjadi di sini. Aku tidak tahu apakah kakek Robert, Papa Carlisle, Bunda Eliza maupun Ayah Azka mengetahuinya atau tidak. Tetapi selama mereka tidak bertanya berarti jawabannya aku anggap tidak tahu, ya semoga saja.


Selama acara makan tiba-tiba Natalie dan Destian berdiri. Kira-kira mereka akan melakukan apa?


“Perhatian semuanya, hari ini saya dan istri saya akan membawa kabar yang gembira.” Terlihat sorot penuh binar dari mata Destian. Aku menatap Sam dan dia balas menatapku sambil tersenyum.


“Hari ini Natalie, istriku yang tercinta akhirnya ... Positif hamil.” Semua terkejut dan pastinya bahagia. Bunda Eliza langsung berdiri dan memeluk Natalie bahkan aku melihat Bunda sudah menitikkan air matanya.


“Serius kak?” tanya Tasya.


Natalie mengangguk lalu merogoh sesuatu dari saku piyamanya, sebuah testpack yang terlihat jelas dua garis merah.


Rasanya aku ikut bahagia sekali. “Selamat ya, Nat.” Ucapku ketika Natalie kembali duduk.


“Akhirnya cucu pertama kakek.” Aku lihat kakek juga menitikkan air mata.


Ternyata pernikahan Natalie dan Destian sudah berlangsung hampir tiga tahun dan akhirnya penantian mereka membuahkan hasil. Bisa-bisanya ya aku kemarin berpikir yang tidak-tidak pada Natalie, padahal dia dan Destian terlihat bahagia sekali.


“Selamat ya, Nat.” Sam akhirnya juga ikut memberikan selamat dan Natalie pun menyambutnya dengan senang.


“Terima kasih.” Natalie mengusap-usap perutnya yang masih terlihat ramping itu. “Uncle Sam cepetan nikah ya, biar aku punya teman main. Oh iya, uncle Aroon juga.” Ucapan Natalie berhasil membuat seisi meja makan tertawa.


Tak ku sangka aku bisa terlibat dalam perayaan moments special di keluarga ini. Ikut merasakan kebahagiaan dan haru mereka. Aku berharap selamanya akan seperti ini.


Selesai acara makan aku memilih berbincang dengan Natalie, Tasya dan juga Bunda Eliza di kolam belakang. Cukup lama hingga aku memutuskan untuk beranjak dan mencari keberadaan Sam. Dua kali ke sini membuatku mulai hafal dengan tata letak yang ada di rumah ini. Aku memutuskan berjalan ke halaman depan karena Sam tak ada di dalam.


Lalu aku melihat mobil Sam berhenti di depan bangunan samping rumah ini. Bukankah itu ruangan kakek Robert kenapa Sam berhenti di situ?


Aku pun memutuskan untuk mendekat ke arahnya. Kakek keluar dengan membawa dua buah kantong plastik besar, apa yang mereka beli.


“Sam!” panggilku, terlihat Sam dan kakek Robert langsung kaget begitu mengetahui kehadiranku. “Kalian dari mana?”


Tidak menjawab.


Sam langsung menarik ku masuk di ikuti oleh kakek Robert lalu berhenti di ruang tamu bangunan samping rumah ini. Sam dan Kakek Robert meletakkan kantong plastiknya ke atas meja. Dan astaga ... Apa yang aku lihat benar-benar membuatku terheran-heran.


Isi dari kantong plastik itu ternyata hanyalah snack keripik kentang, persis dengan snack kesukaan Sam.

__ADS_1


“Jangan bilang Bunda ya kalau aku dan kakek beli ini?” alisku berkerut menatap Sam. Aku tak paham maksudnya.


“Iya, Del, jangan beritahu Eliza kalau kakek dan Sam membeli ini. Nanti Eliza bisa marah-marah sama kakek dan juga Sam.” Imbuh kakek dan alisku semakin berkerut.


Oke, sekarang aku mengerti. Ternyata dua orang pria dewasa dan paruh baya ini sama-sama penyuka snack keripik kentang. Waoo!


“Memangnya kenapa kalau Bunda tahu?” tanya ku penasaran.


Kakek yang sudah berhasil membuka satu bungkus keripik kentangnya langsung terdiam lalu menatapku. “Katanya ini enggak sehat, kakek dan Sam di larang makan keripik kentang terlalu banyak. Padahal kan enak ya, Sam? Makanya kita harus diam-diam belinya.” Kakek Robert melirik Sam dengan senyum jenaka lalu tanpa menunggu aba-aba kakek Robert langsung memasukkan keripik kentang itu ke dalam mulutnya.


“Kek, itu rasa favorite Sam.” Aku langsung melongo ke arah Sam. Mereka ini kenapa sih, ini hanya snack biasa kenapa bisa membuat dua pria ini bertingkah seperti anak kecil.


“Kakek hanya minta satu bungkus, Sam.” Sam memilih untuk tak menanggapi kakek Robert lagi. Dia juga langsung mengambil satu bungkus snack keripik kentangnya.


Sepertinya Sam juga sudah ngiler banget pengen makan.


Begitu Sam membuka snacknya dia langsung menyodorkannya padaku. Tetapi aku hanya menggeleng, bukanya tidak suka. Tetapi hanya dengan melihat mereka dengan lahapnya makan sudah cukup membuatku merasa kenyang.


Kakek berhasil menghabiskan satu bungkus snack tersebut tanpa sisa. “Simpan buat kakek ya, Sam, jangan di makan sendiri.” Sam hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu kakek berdiri mengambil minuman setelah itu masuk ke ruangannya.


Karena penasaran aku pun menyusul kakek ke dalam ruangannya, apalagi saat itu aku melihat di ruangan kakek ada saru rak khusus buku-buku bacaan ya semacam novel.


“Adelia boleh masuk kan, kek.” Kataku meminta ijin.


“Loh, boleh dong. Yang enggak boleh masuk itu Cuma pencuri.” Sahut kakek dengan nada jenaka.


“Kalau Adel mau mencuri gimana?” godaku sembari berjalan ke rak buku yang ku maksud tadi.


Kakek mendengus, “kalau kamu mau mencuri apa sih, Del. Paling Cuma Sam kan yang mau kamu curi. Ambil aja anak itu kakek malah senang kok.” Jawab kakek enteng.


Hm ... Kok kesel ya dengarnya, tepat sasaran sekali.


“Loh kamu suka membaca juga ternyata.” Aku hanya mengangguk. “Cari apa yang kamu suka, boleh kamu bawa pulang kalau kamu suka membaca.”


Aku meringis ke arah kakek. “Terima kasih, kek.”


Aku lalu memilih-milih buku yang lainnya dan tanpa sengaja aku menemukan sebuah dokumen pembangunan sebuah universitas.


“Ini punya kakek?” aku membawa dokumen tersebut ke meja di mana kakek Robert duduk sekarang.


“Ini dokumen dua tahun yang lalu. Sebenarnya ini hanya berupa yayasan yang kakek dirikan bersama teman kakek.” Kakek Robert membuka dokumen tersebut. “Tujuan kakek membangun ini agar nanti kalau kakek pensiun kakek masih punya pekerjaan. Ya biar enggak jadi pengangguran banget.”


Aku terkekeh, ternyata pola pikir kakek tak beda jauh dari Sam, sama-sama susah di tebak. Jadi keluarga Sam selain mempunyai Perusahaan besar, mereka juga mempunyai bisnis hotel dan di tambah mempunyai sebuah yayasan universitas swasta. Hm ... Apalagi ya yang belum ku ketahui.


“Kakek sebenarnya sudah ingin pensiun, Del. Tapi Sam beralasan belum siap terus. Selain Sam siapa lagi yang bisa kakek andalkan, hanya dia harapan kakek satu-satunya. Padahal kan kakek sudah pusing mengurus perusahaan itu. Kakek ingin segera menikmati masa pensiun kakek.” Aku melihat kakek Robert melirikku sekilas dan saat aku membalas lirikannya, kakek Robert langsung memasang ekspresi sedih.


Tunggu dulu, kenapa ini?


“Sam bisa mendengarnya, kek!” Seru Sam dari luar.


Uuppss!


“Itu Sam~” kakek langsung menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri agar aku diam sejenak.


“Anak itu memang suka sensi kalau mendengar kakek membahas soal perusahaan.” Bisik kakek Robert yang malah membuatku terkekeh.


“Masa sih kek?” Aku jadi penasaran mendengar cerita kakek Robert.

__ADS_1


“Serius kakek enggak bohong. Sam itu memang benar-benar keras kepala, dia enggak mau menyenangkan hati kakeknya sendiri, walau sedikit saja.” Kakek mengucapkan kalimat tersebut dengan sedikit lebay dan tentu membuatku semakin terkekeh. “Kakek kan ingin seperti teman-teman kakek yang lainnya hanya tinggal menikmati masa pensiun. Bersantai di rumah, membaca koran sambil meminum kopi. Sam tega sekali kan, Del, sama kakek.” Imbuh kakek. Dan lagi-lagi memasang ekspresi sesih.


Jujur, bukanya merasa kasihan tetapi justru aku malah ingin tertawa.


“Iya kek, tapi jangan menyumpahi Sam yang tidak-tidak ya.” Candaku.


“Mending kakek sumpahin biar mau menggantikan kakek. Anak itu sepertinya memang harus kakek paksa sedikit lebih keras lagi.” Tanpa aku dan kakek Robert sadari ternyata Sam sudah berdiri dan menyandarkan tubuhnya di ujung pintu.


“Kan tadi Sam sudah bilang. Sam bisa mendengarnya, kek.” Aku dan kakek langsung kaget lalu melotot ke arah Sam.


Mau di kantor mau di rumah Sam tetap seperti setan yang suka muncul secara tiba-tiba.


##


Sudah cukup masa liburan ini aku habiskan bersama dengan Sam dan keluarganya. Saatnya aku kembali ke rumahku, aku sudah sangat merindukan kamarku tercinta. Walaupun kamar Sam jauh lebih nyaman tetapi tetap saja tak bisa mengalahkan kenyamanan kamarku sendiri. Terutama kasurku, yang sudah bertahun-tahun bersedia menjadi sandaran saat aku lelah menghadapi kejamnya dunia.


Ck! Lebay ya.


Sam mengantarku sampai di depan gerbang rumahku. Dan aku tak berniat untuk mengajak Sam mampir karena ini sudah malam, ini semua gara-gara jam keberangkatan pesawatnya mundur sampai dua jam jadi aku sampai di Jakarta sedikit lebih malam. Dan lagi pula pasti dia juga capek, aku pun juga capek. Apalagi kita besok sudah harus bekerja lagi.


“Nanti biar aku yang bilang sama Mama dan Papa kalau kamu langsung pulang.” Ucapku agar Sam mau segera pulang.


“Hm.” Hanya itu yang di ucapkan Sam.


Aku mendengus pelan lalu segera melepas seat beltku. Aku langsung terkejut begitu Sam menarik tengkukku dan memajukan tubuhnya hingga akhirnya benda kenyal dan lembut itu menempel tepat di atas bibirku.


Oh My God!


Mataku masih membulat karena mendapat serangan mendadak yang di lakukan manusia bernama Sam ini. Sebenarnya ini bukan hal yang pertama lagi bagiku, namun entahlah Sam sepertinya selalu bisa membuat aku terkejut dengan ulahnya.


Perlahan namun pasti, aku mulai memejamkan mata lalu membalas ciuman yang Sam berikan, mumpung tidak ada yang melihat ya semoga saja.


Sam menciumku dengan sangat pelan dan lembut seolah ada makna yang ingin ia sampaikan di balik ciuman yang di berikannya. Lalu Sam menggigit pelan bibir bawahku hingga aku membuka mulut dan membiarkan lidah Sam masuk. Sam mengeksplore seluruh rongga mulutku dengan penuh rayuan.


Tentu ini adalah hal yang selalu kami rindukan.


Lambat laun, pagutan lembut itu terasa lebih menuntut. Sam semakin menekan tengkuk dan mendekap pinggangku, membawa tubuhku semakin mendekat ke tubuhnya.


Kalau semua ini tidak segera aku hentikan pasti nanti akan berujung panjang. Tapi aku juga tak kuasa menahan setiap cumbuan yang Sam berikan. Seperti ada daya magnet yang menarikku begitu kuat hingga aku tak kuasa melepaskannya. Sampai akhirnya ciuman kami terlepas dengan sendirinya, mengingat kalau paru-paru kami harus tetap terisi oleh pasokan oksigen.


Nafas kami saling memburu.


Sam lalu tersenyum dan mendaratkan kecupan panjang di keningku sebagai tanda perpisahan untuk malam ini.


“Good night, sayang. Sampai bertemu besok.”


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TO BE CONTINUED....



__ADS_2